Aku menggeleng panik sambil mencengkeram celana suamiku.

Aku hanya bisa menunduk ketika sopir dan kondektur saling berpandangan dengan tatapan penuh iba.

Beberapa detik kemudian, kondektur itu menghela napas panjang.

“Naik saja dulu, Mbak. Duduk di depan. Nanti urusan ongkos belakangan.”

Aku mengangguk berkali-kali. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Sudah terlalu lama aku diperlakukan seperti barang, sampai-sampai kebaikan sekecil itu terasa begitu asing bagiku.

Bus perlahan meninggalkan terminal kecil di desa. Dari balik jendela, aku melihat langit yang masih gelap. Di kejauhan, semburat merah mulai muncul di ufuk timur. Entah mengapa, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa masih ada harapan.

Aku memeluk map berisi dokumen-dokumen pentingku erat-erat. KTP, kartu keluarga lama, akta kelahiran anakku, surat nikah, dan beberapa berkas yang selama ini disembunyikan Muhid. Semua itu kini berada di tanganku.

“Mbak, minum dulu.”

Aku tersentak. Kondektur menyodorkan sebotol air mineral.

“Terima kasih.”

Ia duduk di kursi seberang.

“Kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang terjadi?”

Aku terdiam cukup lama.

“Aku harus menemukan anakku.”

“Itu saja?”

Aku mengangguk.

“Aku sudah kehilangan segalanya. Jangan sampai aku kehilangan dia juga.”

Pria itu tidak bertanya lagi.

Perjalanan menuju Jakarta terasa sangat panjang. Di sepanjang jalan, bayangan wajah anakku terus memenuhi pikiranku.

Dimas.

Anakku memang lahir dengan kondisi fisik yang berbeda dari anak-anak lain. Sejak kecil ia sering diejek. Namun bagiku, Dimas adalah alasan aku bertahan hidup.

Muhid justru menganggap Dimas sebagai beban.

Kalimat itu masih terngiang jelas.

“Kalau bukan karena anak itu, hidupku pasti sudah enak.”

Aku dulu selalu mengira ia sedang marah sesaat.

Sekarang aku sadar, ternyata ia memang tidak pernah mencintai anak kami.

Sesampainya di Terminal Pulo Gebang, aku turun dengan tubuh lelah. Jakarta begitu ramai. Kendaraan berlalu-lalang tanpa peduli siapa yang sedang menangis atau kehilangan.

Aku langsung menuju rumah sakit yang dulu disebut Muhid.

Namun ketika aku menyebut nama Dimas di bagian informasi, petugas menggeleng.

“Maaf, Bu. Tidak ada pasien dengan nama itu.”

Aku memeriksa kembali semua rumah sakit yang mungkin.

Satu.

Dua.

Tiga.

Hasilnya sama.

Dimas tidak ada.

Kakiku lemas.

Aku terduduk di kursi ruang tunggu.

Apa Muhid berbohong lagi?

Tiba-tiba seseorang memanggilku.

“Niken?”

Aku menoleh.

Seorang perempuan berseragam perawat menatapku cukup lama.

“Kamu benar Niken?”

Aku mengangguk pelan.

Perempuan itu langsung mendekat.

“Aku Rani. Kita pernah satu SMP.”

Butuh beberapa detik sampai aku mengenalinya.

“Rani?”

“Iya.”

Ia memelukku tanpa bertanya apa pun.

“Mukamu… kenapa bisa seperti ini?”

Air mataku kembali jatuh.

“Aku mencari anakku.”

Rani membawaku ke ruang istirahat perawat.

Setelah mendengar seluruh ceritaku, wajahnya berubah serius.

“Niken, aku rasa kamu jangan mencari sendiri.”

“Aku tidak punya siapa-siapa.”

“Ada.”

Rani mengambil ponselnya.

“Aku kenal seseorang di lembaga perlindungan perempuan. Mereka biasa menangani kasus seperti ini.”

Sore itu juga aku bertemu dengan seorang pengacara bernama Fajar.

Ia membaca semua dokumen yang kubawa.

“Luar biasa.”

Aku bingung.

“Ada apa?”

“Suamimu membuat kesalahan besar.”

“Maksudnya?”

Fajar menunjukkan surat nikah kami.

“Lihat tanggal ini.”

Aku mengangguk.

“Lalu lihat dokumen tanah warisan orang tuamu.”

Aku baru sadar.

Semua aset peninggalan ayahku ternyata masih atas namaku.

Muhid selama ini tidak pernah berhasil memindahkan kepemilikannya.

“Berarti…”

“Berarti dia selama ini hanya memanfaatkanmu agar mau menandatangani surat-surat.”

Aku teringat berkali-kali dipaksa membubuhkan cap jempol pada kertas kosong.

Untungnya aku selalu menolak.

Fajar tersenyum tipis.

“Itulah sebabnya kamu masih hidup.”

Aku membeku.

“Maksudnya?”

“Kalau semua aset sudah berpindah tangan, mungkin nasibmu akan jauh lebih buruk.”

Darahku terasa dingin.

Selama ini aku mengira semua penderitaan itu terjadi karena kemiskinan.

Ternyata semuanya tentang harta.

Hari berikutnya, Fajar mengajakku melapor ke polisi.

Awalnya aku takut.

Muhid pasti akan mencariku.

Namun ketika aku mengingat wajah Dimas, aku menguatkan diri.

Laporan diterima.

Penyelidikan dimulai.

Beberapa hari kemudian, polisi menemukan gudang tempat aku melarikan diri.

Bangunan itu sudah hangus terbakar.

Muhid menghilang.

Tetangga mengatakan ia kabur malam itu juga.

Namun ada satu informasi yang membuatku kembali memiliki harapan.

Seseorang pernah melihat Muhid membawa seorang anak ke sebuah rumah kontrakan di Bekasi.

Polisi segera bergerak.

Aku ikut bersama mereka.

Jantungku berdegup sangat keras saat mobil berhenti di depan rumah sederhana bercat hijau.

Pintu diketuk.

Tak lama kemudian terbuka.

Muhid berdiri di sana.

Tatapan kami bertemu.

Wajahnya langsung pucat.

“Niken…”

Belum sempat ia menutup pintu, polisi sudah menahannya.

Ia mencoba melawan.

Namun gagal.

Aku berlari masuk ke dalam rumah.

“Dimas!”

Tak ada jawaban.

Aku mencari ke setiap ruangan.

Kosong.

Hatiku kembali hancur.

Tiba-tiba terdengar suara kecil dari belakang.

“Ibu?”

Aku membalikkan badan.

Seorang anak kurus duduk di kursi roda.

Matanya berkaca-kaca.

“Ibu…”

Aku langsung memeluknya sekuat tenaga.

Dimas menangis tanpa suara.

“Ibu datang… Ibu benar-benar datang…”

Aku tidak mampu berkata apa-apa.

Selama berbulan-bulan ternyata ia dikurung di rumah itu.

Tetangga mengira Muhid adalah ayah tunggal yang merawat anak sakit.

Tak seorang pun tahu kenyataan yang sebenarnya.

Saat polisi menggeledah rumah itu, mereka menemukan beberapa dokumen palsu, buku tabungan atas nama orang lain, serta daftar transaksi mencurigakan.

Ternyata Muhid bukan hanya menipu keluarganya sendiri.

Ia juga tergabung dalam jaringan yang memalsukan identitas dan mengambil alih aset orang-orang yang lemah.

Namaku ada dalam daftar calon korban berikutnya.

Aku menatap Muhid yang diborgol.

Untuk pertama kalinya sejak menikah dengannya, aku tidak merasakan takut.

Yang tersisa hanya rasa kasihan.

Ia telah kehilangan kemanusiaannya jauh sebelum kehilangan kebebasannya.

Beberapa bulan kemudian, persidangan selesai.

Muhid dijatuhi hukuman penjara.

Hakim juga membatalkan seluruh dokumen yang dibuat secara melawan hukum.

Semua aset peninggalan orang tuaku kembali berada di bawah perlindunganku.

Namun kebahagiaan terbesar bukanlah rumah atau tanah yang berhasil kuselamatkan.

Melainkan Dimas.

Dengan bantuan Rani dan Fajar, Dimas menjalani terapi secara rutin.

Sedikit demi sedikit ia mulai tersenyum lagi.

Suatu sore kami duduk di taman rumah kontrakan kecil yang kini kami tempati.

“Ibu.”

“Ya, Nak?”

“Kenapa Ibu tetap mencari Dimas?”

Aku tersenyum sambil mengusap rambutnya.

“Karena seorang ibu mungkin bisa kehilangan rumah, kehilangan harta, bahkan kehilangan harapan. Tapi seorang ibu tidak akan berhenti mencari anaknya.”

Dimas memelukku erat.

Di kejauhan, matahari mulai tenggelam.

Aku sadar hidupku tidak akan pernah kembali seperti dulu.

Luka-luka itu akan selalu ada.

Namun kini luka itu bukan lagi rantai yang mengikat langkahku, melainkan pengingat bahwa seseorang bisa mengambil hampir semua yang kita miliki, tetapi tidak akan pernah mampu merampas keberanian untuk bangkit dan memilih hidup yang lebih baik.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang