Aku menahan napas di balik pintu dapur, berusaha menangkap setiap suara dari dalam kamar Ajeng. Namun percakapan mereka berubah menjadi bisikan yang sama sekali tidak bisa kudengar. Semakin sunyi keadaan di dalam sana, justru semakin besar firasat buruk yang menggerogoti pikiranku. Mereka pasti sedang menyusun sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar merebut rumah dan perusahaan milikku.
Aku memilih mundur perlahan. Saat ini aku tidak boleh gegabah. Jika mereka sampai mengetahui bahwa aku telah mendengar semuanya, seluruh rencanaku akan berantakan.
Begitu masuk ke kamar, aku langsung mengunci pintu. Tanganku gemetar saat mengambil ponsel. Aku menghubungi Pak Arif, pengacara keluarga yang juga menjadi orang kepercayaan almarhum ayahku.
“Pak, mereka mulai bergerak.”

“Apa mereka sudah tahu soal perubahan surat-surat itu?”
“Belum. Tapi mereka yakin semua aset akan segera jatuh ke tangan Wisnu.”
Di seberang telepon terdengar helaan napas panjang.
“Bagus. Berarti mereka masih memakan umpan yang kita siapkan.”
Aku menatap map cokelat yang tersimpan rapi di dalam brankas kecil. Di dalamnya tidak ada satu pun surat asli kepemilikan rumah ataupun perusahaan. Semuanya sudah kupindahkan dua bulan lalu ke kantor notaris. Bahkan kepemilikan perusahaan telah kuubah menjadi sebuah holding dengan pengawasan yayasan keluarga. Wisnu tidak akan bisa menjual ataupun memindahkan aset meskipun namanya nanti sempat tercantum sebagai direktur sementara.
Selama ini aku sengaja membiarkan mereka percaya bahwa aku adalah perempuan bodoh yang dibutakan cinta.
Padahal setiap langkah mereka sudah kuawasi.
Keesokan paginya Wisnu kembali bersikap seperti suami paling perhatian di dunia.
“Sayang, kamu kelihatan capek. Jangan terlalu banyak kerja.”
Ia menyuapiku buah potong sambil tersenyum manis.
Kalau saja aku tidak mendengar percakapannya semalam, mungkin aku masih akan percaya pada sandiwara itu.
Aku ikut tersenyum.
“Aku memang capek. Untung ada Mas yang selalu menemani.”
Wajahnya terlihat puas.
“Selalu, Sayang.”
Aku nyaris tertawa melihat aktingnya.
Beberapa jam kemudian seseorang datang ke rumah.
Pak Damar.
Pria berusia lima puluhan itu adalah manajer senior perusahaan kami. Begitu melihatnya, wajah Wisnu langsung berseri-seri.
“Nah, akhirnya datang juga.”
Ajeng dan Ibu Mertua ikut keluar menyambut dengan wajah penuh harapan.
Pak Damar sengaja menatapku lebih dulu sebelum mengangguk pelan.
“Saya datang membawa beberapa dokumen yang harus ditandatangani, Bu Fatma.”
Wisnu langsung menyela.
“Fatma sudah cerita. Semua aset akan dipindahkan ke atas nama saya.”
Pak Damar tersenyum tipis.
“Betul. Ada beberapa dokumen yang harus diselesaikan.”
Aku sengaja mengangguk.
“Iya, Mas. Duduk saja dulu.”
Aku mengambil map yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Tanpa mereka sadari, seluruh dokumen itu hanyalah pengangkatan Wisnu sebagai direktur operasional sementara. Tidak ada satu lembar pun yang memindahkan kepemilikan saham ataupun aset pribadi.
Wisnu membaca sekilas lalu langsung menandatangani.
Baginya yang terpenting hanyalah namanya tercantum.
Ajeng bahkan sampai menggenggam tangan ibunya sambil menahan senyum.
Mereka mengira kemenangan sudah di depan mata.
Setelah Pak Damar pulang, suasana rumah berubah semakin aneh.
Wisnu mulai sering menerima telepon diam-diam.
Ajeng beberapa kali keluar malam tanpa alasan jelas.
Sementara Ibu Mertua semakin sering masuk ke ruang kerjaku ketika mengira aku tidak berada di rumah.
Untungnya seluruh ruangan sudah dipasangi kamera tersembunyi.
Malam itu aku memutar rekamannya.
Terlihat jelas Ibu Mertua membongkar laci satu per satu.
Ajeng bahkan mengambil beberapa dokumen fotokopi lalu memotretnya.
Aku mengirim seluruh rekaman itu kepada Pak Arif.
“Bukti semakin lengkap.”
Balasan beliau hanya singkat.
“Biarkan mereka semakin dalam.”
Seminggu kemudian kejadian yang kutunggu akhirnya datang.
Wisnu pulang bersama Sinta.
Perempuan yang kini berstatus istri keduanya itu tampak canggung memasuki rumah.
Ajeng langsung menyambut dengan wajah masam.
Sementara Ibu Mertua memaksakan senyum.
Aku justru berjalan mendekat dan menyambut Sinta dengan ramah.
“Selamat datang.”
Sinta terlihat bingung.
“Mbak… Mbak tidak marah?”
“Aku sudah mengizinkan pernikahan kalian.”
Sinta menunduk.
Tatapannya justru dipenuhi rasa bersalah.
Hari-hari berikutnya aku mulai memperhatikan sesuatu.
Sinta berbeda dari yang kubayangkan.
Ia sering menangis diam-diam.
Beberapa kali aku melihat bekas lebam di lengannya.
Suatu malam saat semua orang sudah tidur, Sinta mengetuk pintu kamarku.
“Mbak Fatma…”
Aku mempersilahkannya masuk.
Begitu pintu tertutup, perempuan itu langsung menangis.
“Maafkan saya.”
Aku diam.
“Saya dijanjikan kehidupan yang layak. Mas Wisnu bilang Mbak sudah tidak mencintainya lagi. Katanya Mbak sendiri yang memaksa dia menikahi saya.”
Aku tersenyum pahit.
“Lalu sekarang?”
“Saya baru sadar semuanya bohong.”
Ia mengeluarkan sebuah flashdisk.
“Saya merekam semua pembicaraan mereka.”
Aku membeku.
“Mereka ingin membuat Mbak terlihat mengalami gangguan jiwa. Setelah itu Mbak akan dipaksa menandatangani surat-surat penjualan perusahaan.”
Dadaku langsung sesak.
“Tiga hari lagi mereka akan memasukkan obat tidur ke minuman Mbak.”
Tanganku mengepal.
Ternyata rencana mereka jauh lebih kejam daripada yang kuduga.
Aku menerima flashdisk itu.
“Terima kasih.”
“Mbak… saya ingin keluar dari semua ini.”
Aku mengangguk.
“Kamu akan kubantu.”
Keesokan harinya semua berjalan seperti biasa.
Ajeng sengaja membuatkan jus favoritku.
“Minum dong, Mbak.”
Aku menerimanya.
Namun diam-diam aku menukarnya dengan gelas lain saat mereka lengah.
Beberapa menit kemudian justru Ibu Mertua yang meminum jus tersebut karena mengira itu miliknya.
Tak lama kemudian wanita itu tertidur pulas di sofa.
Semua orang panik.
Wisnu langsung memarahi pembantu.
Aku pura-pura ikut bingung.
“Ada apa ini?”
Rencana mereka gagal total.
Malam itu aku membuka isi flashdisk pemberian Sinta bersama Pak Arif dan Pak Damar.
Video demi video memperlihatkan seluruh kejahatan mereka.
Percakapan soal mencuri surat rumah.
Rencana mengusirku.
Pembahasan mengenai obat tidur.
Bahkan ada rekaman ketika Ajeng berkata bahwa setelah seluruh aset berpindah, mereka akan menceraikanku dan membiarkanku hidup sebagai pengemis.
Tidak ada lagi alasan untuk menunggu.
Pagi berikutnya aku mengirim gugatan cerai.
Wisnu baru mengetahuinya saat seorang petugas pengadilan datang ke rumah.
“Apa ini?”
Ia membaca surat itu dengan wajah pucat.
“Fatma… kamu bercanda?”
Aku menatapnya datar.
“Aku tidak pernah bercanda soal pengkhianatan.”
Ajeng langsung berteriak.
“Mbak tidak bisa menceraikan Mas sekarang!”
“Kenapa tidak?”
“Karena…”
Ia terdiam.
Karena kalau perceraian terjadi sekarang, semua rencana mereka akan gagal.
Wisnu mendekat.
“Fatma, kita bisa bicara baik-baik.”
Aku tersenyum tipis.
“Baik. Kita bicara di kantor polisi.”
Wajah mereka langsung berubah.
Beberapa mobil berhenti di depan rumah.
Beberapa polisi turun bersama penyidik.
Pak Arif ikut datang membawa seluruh bukti.
Rekaman kamera.
Isi flashdisk.
Dokumen percobaan pencurian.
Laporan notaris.
Semuanya lengkap.
Ajeng mulai gemetar.
“Itu fitnah!”
Pak Arif memutar rekaman suara.
Suara Ajeng memenuhi ruang tamu.
“Pokoknya kamu harus mendapatkan harta itu supaya kita bisa mengusir Mbak Fatma.”
Tidak ada lagi yang bisa mereka bantah.
Polisi kemudian mengamankan beberapa barang bukti dari kamar Ajeng.
Di sana ditemukan salinan dokumen palsu, obat penenang, serta surat kuasa yang sudah dipalsukan tanda tanganku.
Wisnu terduduk lemas.
“Aku cuma ikut Ibu…”
Ibu Mertua langsung menunjuk Wisnu.
“Semua ide anakku!”
Ajeng ikut menangis.
“Mama yang menyuruh!”
Dalam hitungan menit mereka saling menyalahkan.
Keluarga yang selama ini terlihat kompak demi uang akhirnya hancur karena kepentingan masing-masing.
Sebelum dibawa polisi, Wisnu menatapku dengan mata merah.
“Fatma… maafkan aku.”
Aku menggeleng pelan.
“Maaf tidak bisa mengembalikan kepercayaan yang sudah kamu bunuh.”
Beberapa bulan kemudian sidang perceraian selesai.
Hakim mengabulkan seluruh gugatanku.
Seluruh aset tetap berada di bawah kepemilikanku karena tidak pernah ada proses pemindahan yang sah.
Wisnu kehilangan jabatan direktur setelah audit internal membuktikan berbagai penyalahgunaan wewenang yang dilakukannya selama menjabat sementara.
Ajeng dan Ibu Mertua harus menjalani proses hukum atas pemalsuan dokumen serta percobaan penipuan.
Sedangkan Sinta memilih memulai hidup baru. Aku membantunya mendapatkan pekerjaan di salah satu anak perusahaan kami. Ia menolak diberi uang, tetapi menerima kesempatan untuk memperbaiki hidupnya.
Suatu sore aku berdiri di balkon kantor pusat perusahaan sambil memandang langit Jakarta yang mulai memerah.
Pak Arif menghampiri.
“Menyesal?”
Aku menggeleng.
“Aku hanya menyesal pernah mengira cinta cukup untuk menjaga sebuah rumah tangga.”
Beliau tersenyum.
“Lalu sekarang?”
Aku memandang gedung yang dibangun ayahku dengan susah payah.
“Sekarang aku tahu bahwa kepercayaan adalah aset paling berharga. Ketika seseorang mengkhianatinya demi harta, yang sebenarnya hilang bukan hanya cinta, melainkan juga masa depannya sendiri.”
Di kejauhan matahari perlahan tenggelam, membawa pergi babak paling kelam dalam hidupku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi merasa menjadi korban. Aku telah menjadi perempuan yang mampu menyelamatkan dirinya sendiri, sekaligus menjaga warisan keluarganya dari orang-orang yang mengira ketulusan adalah kelemahan.
