“Kimi, Karin, dengar dulu. Ini nggak seperti yang kalian lihat,” Markus akhirnya membuka suara sambil membenahi kerah kemeja mahalnya. Suaranya terdengar dipaksakan tetap tenang. “Gue cuma lagi…”

Karina menggenggam buket bunga itu begitu erat hingga beberapa kelopaknya mulai rontok ke lantai. Air matanya terus mengalir tanpa mampu ia tahan. Pertanyaannya menggantung di udara, membuat suasana restoran yang semula riuh berubah menjadi sunyi.

“Markus… kenapa harus Ata? Kenapa harus sahabat gue sendiri?”

Markus menatap Karina beberapa detik. Untuk pertama kalinya sejak keributan itu pecah, wajah pria yang selalu percaya diri itu kehilangan kesombongannya. Namun sebelum ia sempat menjawab, Ata justru berlutut di depan Karina.

“Karin… maafin aku…”

Tamparan keras langsung mendarat di pipi Ata.

Semua orang tersentak.

Karina menarik napas panjang. Tangannya gemetar hebat.

“Jangan panggil aku Karin lagi.”

Ata menangis semakin keras.

“Aku nggak pernah niat nyakitin kamu.”

“Nggak pernah niat?” Karina tertawa pahit. “Kamu nginep di apartemen tunanganku berkali-kali. Kamu bohong tiap aku tanya. Kamu pura-pura nemenin aku pilih gaun pertunangan, padahal diam-diam kamu tidur sama Markus. Terus sekarang bilang nggak pernah niat?”

Setiap kalimat Karina menusuk lebih dalam daripada tamparannya.

Markus akhirnya menarik Ata berdiri.

“Udah cukup.”

Belum sempat Markus melanjutkan ucapannya, Kimi tertawa pelan.

“Gue baru sadar satu hal.”

Semua mata beralih kepadanya.

“Kalian bahkan masih saling lindungin.”

Tatapan Kimi berubah dingin.

“Lucu ya. Dua orang yang selingkuh malah sibuk nyalahin keadaan.”

Markus mengepalkan tangan.

“Lo nggak tahu apa-apa.”

“Oh ya?”

Kimi mengeluarkan ponselnya.

“Gue emang nggak tahu semuanya.”

Ia membuka sebuah video.

“Tapi temen gue tahu.”

Video itu langsung diputar.

Terlihat jelas rekaman CCTV dari lobi apartemen Markus.

Tanggalnya terpampang enam bulan lalu.

Ata masuk ke apartemen Markus pukul delapan malam.

Keluar pukul sembilan pagi.

Video berikutnya.

Dua minggu setelahnya.

Lalu sebulan berikutnya.

Berkali-kali.

Wajah Ata memucat.

Karina merasa seluruh tubuhnya mati rasa.

Berarti semua ini bukan kesalahan sesaat.

Bukan khilaf.

Bukan karena kesepian.

Sudah berlangsung sangat lama.

“Udah selesai?” tanya Markus dingin.

“Belum.”

Kimi memutar rekaman suara.

Suara Markus terdengar sangat jelas.

“Ata, tenang aja. Karina terlalu polos buat curiga. Lagian Kimi juga lebih sering di perbatasan daripada di rumah.”

Rekaman berhenti.

Sunyi.

Karina menoleh perlahan ke arah Markus.

Tatapan yang dulu penuh cinta kini hanya menyisakan kehampaan.

“Jadi… selama ini aku cuma bahan ketawaan?”

Markus menutup mata.

Ia tahu semuanya sudah berakhir.

Namun tiba-tiba ia justru tertawa kecil.

“Tahu apa yang lucu?”

Semua orang menatapnya.

“Gue memang selingkuh.”

Ia menoleh ke Karina.

“Tapi gue sebenarnya nggak pernah cinta sama lo.”

Kalimat itu menghantam Karina jauh lebih keras daripada pengkhianatan yang baru saja ia ketahui.

“Dari awal pertunangan ini cuma keinginan orang tua.”

“Ayah lo punya jaringan bisnis.”

“Ayah gue butuh itu.”

“Itu aja.”

Air mata Karina berhenti mengalir.

Rasa sakitnya justru berubah menjadi kehampaan.

“Terus Ata?”

Markus tersenyum tipis.

“Ata beda.”

“Aku benar-benar cinta sama dia.”

Kalimat itu membuat Ata justru mundur satu langkah.

“Mark…”

Markus menggenggam tangan Ata.

“Gue capek sembunyi.”

“Aku mau kita nikah.”

Semua orang mengira Ata akan bahagia.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Ata perlahan melepaskan genggaman Markus.

“Aku nggak bisa.”

Markus mengernyit.

“Maksud lo?”

“Aku memang sayang sama kamu.”

“Tapi aku nggak pernah mau jadi istri yang lahir dari pengkhianatan.”

Markus membeku.

“Aku kira… setelah semuanya terbongkar… kita bisa mulai dari awal.”

Ata menggeleng sambil menangis.

“Kalau seseorang bisa mengkhianati perempuan yang sudah menemani bertahun-tahun, apa jaminannya suatu hari nanti kamu nggak akan ngelakuin hal yang sama ke aku?”

Kalimat sederhana itu membuat Markus kehilangan kata-kata.

Kimi memperhatikan semuanya tanpa ekspresi.

Luka di hatinya belum sembuh.

Namun untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat penyesalan sungguhan di wajah Ata.

Karina tiba-tiba melangkah ke arah meja.

Ia mengambil cincin emas sederhana milik Kimi.

Cincin yang tadi dilempar begitu saja.

Karina mengusap debu di permukaannya.

“Cincin ini indah.”

Kimi menoleh.

“Karena dibuat dari niat yang tulus.”

Karina mengangguk pelan.

“Sayang… orang yang harus menerimanya nggak pernah menghargainya.”

Ia mengembalikan cincin itu ke tangan Kimi.

“Jangan pernah buang cinta yang lahir dari ketulusan.”

Kimi menggenggam cincin itu erat.

Ia hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa.

Manajer restoran akhirnya datang bersama petugas keamanan.

“Maaf, Bapak dan Ibu. Kami harus meminta semuanya menyelesaikan masalah di luar.”

Kimi langsung berjalan menuju pintu.

Karina mengikuti di belakangnya.

Tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh lagi.

Di luar restoran, hujan turun sangat deras.

Karina berdiri di bawah kanopi.

Entah kenapa ia tertawa kecil.

“Aneh ya.”

Kimi menoleh.

“Hari ini harusnya jadi malam paling bahagia.”

“Ternyata malah jadi malam paling jujur.”

Kimi ikut tersenyum tipis.

“Kadang Tuhan nggak menyelamatkan kita dengan memberi apa yang kita minta.”

“Kadang Dia menyelamatkan kita dengan menunjukkan siapa yang harus kita tinggalkan.”

Karina mengangguk.

Mereka berdiri dalam diam.

Dua orang asing.

Dua hati yang baru saja hancur pada malam yang sama.

Beberapa minggu berlalu.

Pertunangan Markus dan Karina resmi dibatalkan.

Keluarga kedua belah pihak sempat berusaha menutup berita itu, tetapi video keributan di restoran sudah lebih dulu viral.

Reputasi Markus di perusahaan keluarganya mulai runtuh.

Investor mempertanyakan integritasnya.

Ayahnya murka.

Beberapa proyek besar dicabut.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Markus merasakan bahwa uang tidak bisa membeli kembali kepercayaan.

Sementara itu, Ata memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Ia pindah ke kota lain.

Tidak ada yang tahu ke mana.

Ia hanya meninggalkan sepucuk surat untuk Karina.

“Aku tahu maafku tidak akan pernah cukup. Aku kehilangan sahabat terbaik yang pernah Tuhan kirimkan. Semoga suatu hari nanti kamu bisa benar-benar bahagia, meski bukan karena aku.”

Karina membaca surat itu tanpa meneteskan air mata lagi.

Ada luka yang memang tidak bisa dihapus.

Hanya bisa diterima.

Enam bulan kemudian.

Karina mulai bekerja sebagai arsitek di sebuah perusahaan baru di Surabaya.

Hidupnya perlahan kembali normal.

Suatu sore ia menghadiri acara donasi pembangunan sekolah untuk anak-anak di wilayah perbatasan.

Saat itulah ia kembali bertemu seseorang.

Kimi.

Pria itu baru pulang dari penugasan.

Seragamnya masih sama.

Tatapannya tetap tenang.

Namun senyumnya kini jauh lebih hangat.

“Kebetulan banget.”

Karina tersenyum.

“Atau memang takdir.”

Mereka tertawa bersama.

Percakapan yang awalnya hanya lima menit berubah menjadi dua jam.

Tidak ada rayuan.

Tidak ada janji.

Hanya dua orang yang saling memahami rasa kehilangan.

Hubungan mereka tumbuh perlahan.

Sangat perlahan.

Setahun kemudian, Kimi mengajak Karina ke sebuah bukit kecil menghadap laut di Sulawesi saat matahari hampir tenggelam.

Ia mengeluarkan kotak beludru yang sama.

Kotak yang pernah menjadi simbol patah hati.

“Kali ini…”

Kimi menarik napas panjang.

“…aku nggak mau salah kasih.”

Karina tersenyum sambil menahan air mata.

“Kamu yakin?”

Kimi mengangguk.

“Aku belajar satu hal.”

“Berlian paling mahal sekalipun nggak akan berarti kalau diberikan kepada orang yang salah.”

“Sebaliknya…”

Ia membuka kotak itu.

“Cincin sederhana ini bisa jadi harta paling berharga kalau dipakai oleh orang yang tepat.”

Karina mengulurkan tangan kirinya.

Dengan tangan sedikit gemetar, Kimi menyematkan cincin itu.

Tidak ada pesta mewah.

Tidak ada kamera.

Tidak ada tamu penting.

Hanya debur ombak, langit jingga, dan dua hati yang sama-sama pernah dikhianati.

Beberapa meter dari mereka, seorang fotografer wisata yang sedang memotret pemandangan tanpa sengaja mengabadikan momen itu.

Foto tersebut kemudian memenangkan lomba fotografi nasional dengan judul “Kesempatan Kedua”.

Banyak orang menganggap foto itu indah karena cahaya matahari yang sempurna.

Namun hanya Kimi dan Karina yang tahu makna sebenarnya.

Kesempatan kedua tidak pernah datang untuk menghapus luka masa lalu.

Ia datang untuk membuktikan bahwa luka tidak harus menentukan akhir dari kehidupan seseorang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang