Mobil melaju meninggalkan gedung perkantoran yang selama dua tahun terakhir menjadi saksi bagaimana harga diriku perlahan-lahan dihancurkan. Dari balik kaca gelap, aku masih bisa melihat sosok Tama berdiri mematung di pelataran, sementara Ayu terus menarik lengannya agar segera pergi. Untuk pertama kalinya sejak kami berpisah, aku tidak merasakan sakit. Yang tersisa hanyalah ketenangan, karena aku tahu permainan baru saja dimulai.
Pak Maman berhenti di sebuah toko kue langganan keluargaku. Aku turun, membeli original cheesecake yang selalu menjadi favorit Papa, lalu kembali ke dalam mobil. Aroma keju yang lembut memenuhi kabin, sedikit mengurangi kepenatan di kepalaku.
“Nona baik-baik saja?” tanya Pak Maman pelan.
Aku tersenyum tipis.

“Baru sekarang saya benar-benar merasa baik.”
Pak Maman mengangguk. Ia sudah bekerja pada keluarga Lionas hampir tiga puluh tahun. Ia tahu kapan harus bertanya dan kapan cukup diam.
Setengah jam kemudian, mobil memasuki halaman sebuah rumah bergaya modern yang berdiri megah di kawasan elite Jakarta Selatan. Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Rumah itu adalah rumah yang kutinggalkan dua tahun lalu demi mengikuti Tama membangun hidup sederhana.
Dulu aku pikir cinta lebih penting daripada kemewahan.
Ternyata aku hanya meninggalkan segalanya untuk orang yang salah.
Begitu turun dari mobil, pintu rumah langsung terbuka.
“Liora.”
Suara berat itu membuat dadaku menghangat.
Papa berdiri di ambang pintu dengan rambut yang mulai memutih, tetapi wibawanya tidak pernah berubah. Di sampingnya berdiri Mama yang langsung memelukku tanpa berkata apa-apa.
Maaf.
Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirku.
Mama mengusap rambutku.
“Kamu tidak perlu minta maaf karena pernah mencintai seseorang.”
Aku tidak mampu lagi menahan air mata.
Selama dua tahun, aku selalu berpura-pura kuat.
Di hadapan keluargaku, topeng itu akhirnya runtuh.
Makan malam berlangsung hangat. Tidak ada yang membahas Tama sampai makanan selesai.
Papa meletakkan sendoknya.
“Besok kamu ikut Papa ke kantor.”
Aku mengangguk.
“Mulai saat ini kamu kembali menjadi Direktur Pengembangan Lionas Group.”
Aku terdiam.
“Pa… bukankah posisi itu sudah diisi orang lain?”
“Kosong.”
Aku menatap Papa heran.
“Sengaja Papa kosongkan. Papa selalu yakin suatu hari kamu akan pulang.”
Dadaku kembali sesak.
Selama ini aku merasa sendirian.
Padahal keluargaku tidak pernah benar-benar melepaskanku.
Malam itu, ketika aku hendak tidur, ponselku berdering tanpa henti.
Lebih dari lima puluh panggilan tak terjawab.
Semuanya dari Tama.
Aku menghapus seluruh notifikasi tanpa membaca satu pun.
Beberapa detik kemudian muncul pesan baru.
Liora, kita harus bicara. Tolong jangan seperti ini.
Aku tersenyum hambar.
Dua tahun lalu, aku mengirim ratusan pesan yang tak pernah ia balas.
Sekarang giliran dia menunggu.
Aku mematikan ponsel.
Keesokan paginya, gedung utama Lionas Group dipenuhi aktivitas. Para karyawan yang melihatku langsung membungkuk hormat.
“Selamat pagi, Nona Liora.”
Sapaan itu terdengar asing sekaligus akrab.
Aku memasuki ruang rapat utama bersama Papa.
Di sana sudah duduk seluruh jajaran direksi.
“Perkenalkan kembali,” ujar Papa tenang. “Ini putri saya, Liora Lionas. Mulai hari ini beliau kembali memimpin divisi pengembangan sekaligus menjadi wakil saya dalam beberapa proyek strategis.”
Ruangan langsung dipenuhi tepuk tangan.
Namun belum lima belas menit rapat berjalan, sekretaris masuk dengan wajah cemas.
“Pak… ada tamu yang memaksa ingin bertemu Nona Liora.”
Papa menatapku.
“Kamu mau menemuinya?”
Aku sudah tahu siapa orang itu.
“Biarkan masuk.”
Pintu terbuka.
Tama melangkah masuk dengan napas memburu.
Begitu melihat seluruh direksi berdiri menyambutku dengan hormat, wajahnya berubah pucat.
“Liora… jadi selama ini…”
“Ya,” jawabku singkat.
“Kamu keluarga Lionas?”
“Aku tidak pernah menyembunyikannya. Kamu saja yang tidak pernah benar-benar ingin mengenalku.”
Seluruh ruangan sunyi.
Tama menelan ludah.
“Aku datang untuk meminta maaf.”
Aku tersenyum.
“Untuk yang mana? Perselingkuhanmu? Penghinaanmu? Atau karena sekarang kamu baru tahu siapa aku?”
Ia membisu.
Jawaban itu sudah cukup.
Papa berdiri.
“Kalau urusan pribadi sudah selesai, silakan tinggalkan kantor kami.”
Tama masih berdiri.
“Liora… aku sungguh mencintaimu.”
Aku tertawa pelan.
“Kalau benar mencintaiku, kamu tidak akan meninggalkanku ketika aku kehilangan pekerjaan. Kamu juga tidak akan mempermalukanku di depan semua orang.”
Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya memilih pergi.
Aku mengira semuanya selesai.
Ternyata belum.
Dua hari kemudian, media bisnis ramai memberitakan bahwa perusahaan tempat Tama bekerja gagal memenangkan tender terbesar tahun itu.
Pemenangnya adalah Lionas Group.
Yang membuat berita semakin heboh adalah proyek tersebut sebelumnya dipimpin langsung oleh Tama.
Aku sama sekali tidak ikut campur.
Keputusan itu murni berdasarkan evaluasi kualitas.
Namun publik tidak mengetahuinya.
Mereka menganggap aku sedang membalas dendam.
Sore harinya Ayu datang ke kantorku.
Ia terlihat jauh berbeda.
Wajahnya pucat.
“Liora… aku ingin bicara.”
Aku mempersilahkannya duduk.
Ia langsung menangis.
“Aku salah.”
Aku tetap diam.
“Aku memang merebut Tama darimu.”
“Aku tahu.”
“Tapi sekarang dia juga mulai berubah.”
Aku mengangkat alis.
“Berubah bagaimana?”
“Dia marah-marah setiap hari. Dia terus menyalahkanku karena kehilangan proyek. Dia bilang semua ini gara-gara aku.”
Aku tidak merasa puas mendengarnya.
Yang kurasakan justru iba.
“Kenapa kamu menceritakan ini padaku?”
Ayu mengeluarkan sebuah map.
“Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
Di dalam map terdapat salinan dokumen transfer uang.
Nilainya miliaran rupiah.
Pengirimnya adalah seorang pria bernama Bastian Pradana.
Nama itu membuatku langsung menatap Ayu.
“Itu kan mantan direktur perusahaan Tama.”
Ayu mengangguk.
“Tama menerima uang itu enam bulan lalu.”
“Untuk apa?”
“Menjual data perusahaan.”
Aku membeku.
“Itu sebabnya mereka gagal tender. Manajemen mulai mencurigainya.”
Aku membaca semua dokumen dengan teliti.
Bukti transfer.
Percakapan.
Rekaman suara.
Semuanya lengkap.
“Kenapa kamu memberikannya padaku?”
Ayu tersenyum pahit.
“Karena aku baru sadar. Orang yang mengkhianati satu perempuan akan mengkhianati siapa pun.”
Malam itu aku menyerahkan seluruh bukti kepada pengacara perusahaan terkait.
Aku tidak ingin menggunakan pengaruh keluargaku.
Biarlah hukum bekerja.
Seminggu kemudian, berita penangkapan Tama memenuhi semua portal berita.
Ia ditahan atas dugaan korupsi, penyalahgunaan jabatan, dan kebocoran data perusahaan.
Teleponku kembali berdering.
Kali ini dari nomor yang tidak kukenal.
“Liora…”
Suara Tama terdengar lemah.
“Aku cuma mau bilang… aku menyesal.”
Aku tidak menjawab.
“Liora… kalau waktu bisa diputar…”
“Tidak bisa.”
Ia terdiam.
“Aku pernah memberikan seluruh hidupku kepadamu. Yang kamu lakukan hanya mengajarkanku bahwa cinta tanpa rasa hormat tidak akan pernah bertahan.”
“Liora…”
“Semoga kamu benar-benar belajar dari semua ini.”
Aku mengakhiri panggilan.
Beberapa bulan berlalu.
Lionas Group berkembang pesat.
Aku kembali menemukan diriku yang dulu, bahkan lebih kuat.
Suatu sore, Papa menyerahkan sebuah amplop.
“Apa ini?”
“Undangan pernikahan.”
Aku membuka perlahan.
Nama pengantinnya membuatku terkejut.
Ayu.
Ia akan menikah dengan pria lain.
Di balik undangan terdapat secarik tulisan tangan.
Terima kasih karena tidak membalas dendam kepadaku. Justru dari sikapmu, aku belajar bahwa harga diri seorang perempuan tidak diukur dari siapa yang memilihnya, melainkan dari keberaniannya memilih dirinya sendiri.
Aku tersenyum.
Untuk pertama kalinya, nama Tama tidak lagi menimbulkan luka.
Beberapa hari kemudian, ketika menghadiri acara amal perusahaan, seorang gadis kecil menghampiriku.
“Kak, Mama bilang Kakak itu perempuan hebat.”
“Kenapa begitu?”
“Soalnya Kakak tidak membalas orang jahat dengan menjadi jahat.”
Aku berjongkok dan mengusap kepalanya.
“Kadang kemenangan terbesar bukan ketika kita melihat orang lain jatuh.”
“Terus apa?”
“Ketika kita berhasil berdiri lagi tanpa kehilangan hati yang baik.”
Di kejauhan, matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung Jakarta.
Aku memandang langit yang perlahan berubah jingga.
Dua tahun lalu aku kehilangan seseorang yang kupikir adalah masa depanku.
Hari ini aku mengerti, ternyata kehilangan itu bukan akhir dari hidupku.
Itu hanyalah cara Tuhan mengembalikanku pada jalan yang memang sudah disiapkan sejak awal.
Dan kali ini, tidak ada lagi seorang pun yang bisa membuatku melupakan siapa diriku sebenarnya.
“Tama!” suara Ayu menggema di pelataran gedung. “Ngapain sih kamu masih ngurusin orang yang jelas-jelas sudah kamu tinggalkan? Cepat masuk! Mama dan Papa sudah nunggu kita di rumah!”
