Saat itu aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Yang terus terngiang di kepalaku hanyalah wajah Amora dan Dini yang ketakutan. Aku rela mengorbankan apa pun asalkan mereka tidak disentuh oleh lelaki tua menjijikkan itu.
“Aku akan cari uangnya, Pak,” kataku sambil menahan tangis. “Kasih aku waktu seminggu.”
Pak Sastro tertawa mengejek.
“Seminggu? Kamu pikir dua puluh lima juta tumbuh di pohon?”
“Aku mohon.”
Ia menatapku beberapa saat, lalu menyeringai.

“Baik. Seminggu. Tapi kalau lewat satu hari saja, aku akan datang lagi. Waktu itu bukan cuma kamu yang kubawa. Adikmu juga.”
Setelah berkata begitu, ia pergi bersama dua anak buahnya.
Begitu pintu rumah tertutup, Ibu langsung menangis tersedu-sedu.
“Maafkan Ibu, Lit… gara-gara keluarga kita…”
Aku memeluk beliau erat.
“Ini bukan salah Ibu.”
Namun, sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan satu-satunya jalan yang mungkin kulakukan.
Keesokan paginya, dengan tangan gemetar, aku mengambil ponsel murahku. Nomor Mbak Wulan masih tersimpan.
Butuh waktu hampir lima menit sampai akhirnya aku memberanikan diri menekan tombol panggil.
Suara Mbak Wulan terdengar penuh harap.
“Lit?”
“Mbak… apa tawaran Mbak masih berlaku?”
Di ujung telepon terdengar keheningan beberapa detik.
“Masih.”
“Aku mau bicara.”
Satu jam kemudian, mobil hitam mereka berhenti di depan rumahku.
Mas Arsya turun lebih dulu. Wajahnya tampak muram. Sementara Mbak Wulan langsung memelukku begitu melihatku.
“Aku tahu kamu akan berubah pikiran.”
Aku melepaskan pelukannya perlahan.
“Aku berubah pikiran bukan karena ingin uang.”
“Lalu?”
“Aku butuh meminjam dua puluh lima juta.”
Mereka saling berpandangan.
Aku menceritakan semuanya, mulai dari surat utang sampai ancaman Pak Sastro.
Semakin lama aku bercerita, wajah Mas Arsya semakin dingin.
“Namanya Sastro?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk.
“Kamu kenal?”
Mas Arsya menarik napas panjang.
“Bukan kenal. Aku sedang menangani beberapa laporan tentang dia.”
Aku mengernyit.
“Ternyata dia sering memalsukan surat utang keluarga miskin. Banyak korbannya. Polisi sebenarnya sudah menyelidiki, tapi belum punya bukti yang cukup.”
Mata Mbak Wulan membelalak.
“Mas, kenapa baru cerita?”
“Aku tidak ingin membuatmu khawatir.”
Mas Arsya menatapku.
“Lit, jangan pernah menyerahkan hidupmu kepada siapa pun karena ancaman orang seperti dia.”
“Tapi keluargaku…”
“Aku akan membantu.”
Aku menggeleng.
“Aku tidak mau berutang budi.”
“Kamu tidak berutang apa pun.”
“Tapi Mbak Wulan…”
Mbak Wulan menggenggam tanganku.
“Lit, maafkan aku. Tawaran waktu itu memang egois. Aku terlalu putus asa ingin punya anak sampai tidak memikirkan perasaanmu.”
Air matanya kembali jatuh.
“Aku benar-benar minta maaf.”
Aku bisa melihat penyesalan yang tulus di matanya.
Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, aku percaya ia tidak sedang berpura-pura.
Mas Arsya kemudian mengeluarkan sebuah map.
“Besok kita ke rumah Pak Sastro. Tapi kamu harus melakukan apa yang kubilang.”
Aku mengangguk.
Keesokan harinya, Pak Sastro tampak sangat percaya diri ketika kami datang.
“Lho, cepat juga.”
Tatapannya langsung berubah saat melihat mobil Mas Arsya.
“Siapa mereka?”
“Orang yang akan membayar utang,” jawabku.
Pak Sastro tersenyum lebar.
“Bagus.”
Mas Arsya mengeluarkan amplop tebal.
“Ini uangnya.”
Pak Sastro langsung meraihnya.
“Sebentar.”
Mas Arsya menarik kembali amplop itu.
“Saya mau lihat surat aslinya.”
Pak Sastro sedikit gugup.
“Ini.”
Mas Arsya membuka surat itu perlahan.
Lalu ia tersenyum tipis.
“Menarik.”
“Apa?”
“Tanda tangan ini palsu.”
Wajah Pak Sastro berubah.
“Jangan asal bicara.”
Mas Arsya mengeluarkan kartu identitasnya.
“Saya Arsya Pradipta.”
Mata Pak Sastro membelalak.
Ia baru sadar pria di depannya ternyata seorang pengacara yang cukup dikenal di kota itu.
“Selama tiga bulan terakhir saya membantu penyelidikan beberapa korban penipuan. Dokumen yang Anda gunakan sama persis dengan dokumen pada lima kasus lainnya.”
Pak Sastro mulai berkeringat.
“Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan.”
“Benarkah?”
Mas Arsya mengeluarkan beberapa fotokopi.
“Tanda tangan sama. Nomor dokumen sama. Bahkan tinta cap yang digunakan identik.”
Pak Sastro mundur selangkah.
Saat itulah dua mobil polisi berhenti di depan rumahnya.
Beberapa petugas turun.
“Sastro, Anda ditangkap atas dugaan pemalsuan dokumen, pemerasan, dan perdagangan manusia.”
Wajah lelaki tua itu langsung pucat.
Ia menunjuk ke arahku.
“Dia bohong! Gadis itu…”
Belum selesai berbicara, tangannya sudah diborgol.
Saat dibawa pergi, ia masih sempat berteriak.
“Kalian akan menyesal!”
Aku terduduk lemas.
Kakiku benar-benar kehilangan tenaga.
Mas Arsya membantu membangunkanku.
“Semuanya sudah selesai.”
Aku menggeleng pelan.
“Belum.”
“Apa maksudmu?”
“Aku tetap punya masalah.”
Mereka menatapku bingung.
“Aku tetap miskin.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.
Aku menatap kedua orang tuaku yang berdiri di depan rumah dengan pakaian lusuh.
“Aku ingin mengubah hidup mereka.”
Mbak Wulan mengusap air matanya.
“Lita… maukah kamu menerima bantuan kami?”
“Bantuan seperti apa?”
“Bukan menjadi istri kedua.”
Ia tersenyum pahit.
“Aku sadar betapa bodohnya aku waktu itu.”
Ia mengeluarkan sebuah map.
“Aku ingin membiayai kuliahmu.”
Aku tercengang.
“Tidak ada syarat apa pun.”
Mas Arsya mengangguk.
“Kamu pernah bilang ingin membuka usaha atau kuliah. Wulan ingin membantumu mewujudkan itu.”
“Tapi kenapa?”
Karena kami hampir menghancurkan masa depanmu.”
Aku terdiam lama.
Dalam hidupku, aku jarang melihat orang kaya mengakui kesalahan mereka.
“Kalau aku menerima… apakah kalian merasa utang kalian lunas?”
Mbak Wulan tersenyum sambil menggeleng.
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin melakukan satu hal yang benar.”
Aku akhirnya menerima beasiswa itu.
Beberapa bulan kemudian aku resmi kuliah di fakultas hukum sambil bekerja paruh waktu.
Mas Arsya sering memberiku buku-buku hukum.
Sedangkan Mbak Wulan mulai aktif menjadi relawan di yayasan perempuan dan anak.
Hubungan kami berubah menjadi seperti keluarga.
Namun hidup kembali memberiku kejutan.
Suatu sore, saat aku sedang belajar di perpustakaan kampus, teleponku berdering.
Nomor rumah sakit.
Aku langsung panik.
Ketika tiba di sana, kulihat Mbak Wulan duduk di lorong sambil menangis.
“Mas Arsya kecelakaan?”
Ia menggeleng.
“Bukan.”
“Lalu?”
Dengan tangan gemetar ia menyerahkan hasil pemeriksaan.
Aku membaca tulisan itu perlahan.
Positif hamil.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kamu…”
Ia mengangguk sambil menangis.
“Dokter bilang kehamilanku sudah dua bulan.”
Aku langsung memeluknya.
“Alhamdulillah.”
“Tapi…”
“Apa?”
“Aku takut ini mimpi.”
Dokter kemudian keluar sambil tersenyum.
“Kehamilannya sehat.”
Mbak Wulan menangis semakin keras.
Mas Arsya datang beberapa menit kemudian.
Begitu mendengar kabar itu, ia memeluk istrinya tanpa berkata apa-apa.
Aku melihat air mata mengalir di pipinya.
Untuk pertama kalinya aku melihat lelaki setegar itu menangis.
Sembilan bulan kemudian, seorang bayi laki-laki lahir dengan selamat.
Mbak Wulan memintaku menjadi ibu baptis secara adat keluarga mereka, sebagai simbol bahwa aku adalah bagian dari perjalanan yang mengubah hidup mereka.
Di hari yang sama, Mas Arsya menyerahkan sebuah map kepadaku.
“Apa ini?”
“Buka saja.”
Di dalamnya terdapat sertifikat tanah dan bangunan kecil di dekat pasar.
“Aku tidak bisa menerima ini.”
“Bisa.”
“Mas…”
“Itu bukan hadiah.”
“Lalu?”
“Itu investasi.”
Aku masih bingung.
Mas Arsya tersenyum.
“Kamu pernah bilang ingin membuka usaha.”
Air mataku kembali jatuh.
Setahun kemudian, bangunan kecil itu berubah menjadi toko sembako sekaligus agen pembayaran yang ramai dikunjungi warga desa.
Ayah tidak lagi menjadi buruh harian.
Ibu membuka warung kecil di depan toko.
Amora dan Dini bisa bersekolah tanpa takut putus di tengah jalan.
Suatu sore, ketika aku sedang menata barang dagangan, seorang perempuan tua datang menghampiriku.
Ia memperkenalkan diri sebagai adik kandung almarhum kakekku.
Selama puluhan tahun ia tinggal di luar kota.
Ia membawa sebuah kotak kayu tua.
“Ini peninggalan ayahmu.”
Di dalamnya ada kuitansi pelunasan utang asli, lengkap dengan cap dan tanda tangan Pak Sastro puluhan tahun lalu.
Aku memandang kertas itu sambil tersenyum pahit.
Seandainya dokumen ini datang lebih cepat, mungkin kami tidak perlu melalui semua penderitaan itu.
Namun kemudian aku menatap keluargaku yang sedang tertawa di depan toko.
Aku sadar, terkadang hidup mempertemukan kita dengan orang-orang yang salah agar kita akhirnya menemukan orang-orang yang tepat.
Hari itu aku membakar salinan surat utang palsu milik Pak Sastro, lalu menyimpan kuitansi pelunasan asli sebagai pengingat bahwa harga diri tidak pernah bisa dibeli dengan uang, dan bahwa keberanian untuk memilih jalan yang benar sering kali menjadi awal dari kehidupan yang benar-benar baru.
