🚨 DICERAIKAN DAN DIUSIR DARI RUMAH MEWAH? SAYA JUSTRU SENANG! MEREKA TIDAK TAHU BAHWA SAYA ADALAH KUNCI KELANCARAN BISNIS TERBESAR PRESIDEN KOMISARIS! 🚨

PART 2

Saya tidak bergeming.

Saya hanya bersedekap dada, menyaksikan kebodohan yang akan segera menghancurkan kehidupan Rendra sendiri.

Dia pikir menghancurkan ranjang itu adalah cara terbaik untuk mempermalukan saya dan memuaskan Clarissa.

Semua pekerja rumah tangga dan satpam saling berpandangan, ragu-ragu. Mereka tahu siapa saya—seorang wanita yang selalu bersikap baik dan sopan kepada siapa pun di rumah ini.

“Apa yang kalian tunggu?!” bentak Rendra semakin keras.

“Atau kalian mau saya pecat semua sekarang juga?!”

Di bawah ancaman Rendra, dengan wajah penuh ketakutan, dua satpam melangkah maju mendekati ranjang terapi ortopedik istimewa tersebut.

Clarissa tersenyum puas dari balik punggung Rendra, menikmati momen kemenangannya.

“Tunggu sebentar.”

Suara saya yang tenang memecah ketegangan, membuat semua gerakan terhenti seketika.

Rendra menatap saya dengan tatapan tajam.

“Sudah saya bilang, Maya! Jangan banyak alasan!”

“Saya tahu apa yang akan terjadi setelah ini,” jawab saya dingin, menatap lurus ke mata Rendra.

“Ranjang ini memiliki sistem kontrol cerdas yang terkoneksi langsung dengan server data kesehatan Pak Haryo.”

Rendra tertawa mengejek.

“Hanya ranjang tempat tidur, tidak perlu membual seolah-olah itu alat canggih NASA!”

“Pukul lima sore ini adalah jadwal terapi aroma mingguan Pak Haryo bersama saya,” lanjut saya tanpa mempedulikan ejekan Rendra.

“Sistem ranjang ini mencatat data kualitas tidur dan durasi istirahat saya sebagai indikator kelayakan saya melakukan terapi. Jika dalam waktu satu jam ke depan sistem ini mendeteksi guncangan atau pembongkaran paksa, sinyal alarm darurat akan langsung terkirim ke tablet pribadi Pak Haryo.”

Wajah Clarissa mendadak pucat pasi.

Rendra terdiam, matanya menyipit tanda mulai berpikir serius, namun egonya masih terlalu tinggi.

“Jangan mencoba menakuti saya dengan nama Pak Haryo! Saya sudah berkecimpung di dunia bisnis lebih lama dari kamu!”

“Silakan buktikan sendiri kalau tidak percaya,” tantang saya, lalu mengeluarkan ponsel dari saku dan berjalan mundur dua langkah.

Rendra menghela napas panjang, dipenuhi keraguan.

Dia memang membenci saya, tapi dia juga sangat mengetahui kedekatan saya dengan Pak Haryo dan betapa pentingnya posisi saya bagi kelangsungan bisnisnya.

Pak Haryo tidak pernah mentolerir kesalahan sekecil apa pun, apalagi gangguan pada jadwal terapinya.

Namun, karena sudah terlanjur memberikan perintah dan didesak oleh Clarissa, Rendra akhirnya tetap nekat.

“Hancurkan ranjang ini dengan hati-hati, jangan sampai merusak bagian kontrolnya!” perintah Rendra mengubah strategi.

“Kalau ada yang berani melapor ke Pak Haryo, saya akan buat hidup kalian hancur di Jakarta!”

Di bawah tekanan ganda Rendra, para pekerja rumah tangga akhirnya perlahan-lahan mulai melepaskan baut dan mengangkat kasur terapi dari rangkanya.

Ruangan itu dipenuhi suara decitan besi dan ketukan kayu yang keras.

Clarissa berjalan mendekat ke arah saya dengan tatapan meremehkan.

“Mbak Maya, jangan berpikir dengan mengandalkan nama Pak Haryo, kamu bisa terus menindas kami,” bisik Clarissa pelan di samping saya.

“Mbak Maya mungkin bisa berbohong kepada Pak Haryo, tapi di rumah ini, saya adalah nyonyanya.”

Saya membalas tatapan Clarissa dengan senyum tipis.

“Clarissa, kamu tahu kenapa Pak Haryo memberikan ranjang ini kepada saya?”

Clarissa menatap saya dengan mata penuh pertanyaan.

“Karena jika bukan saya yang menggunakannya, nyawa seseorang bisa dalam bahaya.”

Tepat setelah saya mengucapkan kalimat tersebut, sebuah suara dering sirene yang sangat keras dan nyaring terdengar dari dalam kamar utama.

“Bip… bip… bip… PERINGATAN! GANGGUAN SISTEM! SISTEM DARURAT TELAH DIAKTIFKAN!”

Sebuah tablet besar yang dipasang di samping ranjang menyala dan menampilkan peringatan merah menyala.

Layar tablet tersebut langsung tersambung dengan panggilan video dari asisten pribadi Pak Haryo.

Rendra panik. Dia langsung memerintahkan para pekerja berhenti bekerja dan menghadap layar tablet yang terus berdering memekakkan telinga.

Rendra tahu, ini adalah pertaruhan masa depan seluruh bisnis dan reputasinya.

“Angkat teleponnya,” perintah saya kepada Rendra dengan nada tegas, “atau kamu akan menyesal seumur hidupmu.”

Rendra dengan tangan gemetar mengulurkan jari dan menekan tombol jawab.

Terpampang di layar adalah Pak Haryo, duduk di ruang kerjanya dengan wajah dingin dan tatapan mematikan, didampingi oleh tim dokternya yang terlihat panik.

“Rendra! Apa yang terjadi?!”

Suara Pak Haryo bergema ke seluruh penjuru ruangan dengan nada yang penuh amarah.

“Mengapa alarm darurat dari ranjang Dr. Maya aktif tepat satu jam sebelum jadwal terapi saya?!”

Seluruh ruangan menjadi hening.

Rendra tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka kaku.

Saya berjalan ke depan, mendekati kamera tablet tersebut.

“Maaf Pak Haryo, sedikit gangguan kecil di kamar saya,” ucap saya sopan namun tegas.

Wajah Pak Haryo langsung berubah menjadi sangat khawatir saat melihat kondisi ranjang yang telah dibongkar.

“Dr. Maya, apa yang mereka lakukan padamu?!”

“Rendra sedang pindah tangan kamar tidur, Pak. Ranjang ini dianggap tidak layak oleh istri barunya,” jawab saya jujur.

Pak Haryo memukul mejanya dengan keras.

Rendra! Kamu benar-benar bodoh!” bentak Pak Haryo kepada suami saya di layar tablet.

“Ranjang itu adalah aset medis pribadi saya! Saya mengirimkan Dr. Maya ke rumahmu agar dia dapat beristirahat dengan baik demi kesehatan saya!”

“Jika kondisi Dr. Maya terganggu sedikit saja, kualitas terapi saya akan menurun drastis!”

“Seluruh proyek investasi, pendanaan, dan jabatanmu di perusahaan akan saya cabut seketika!”

Rendra gemetar dan terpuruk di lantai.

“Pak… Haryo… saya… saya tidak tahu… saya mohon…”

Saya menatap Rendra yang kini sangat ketakutan dengan tatapan iba.

“Pak Haryo, jangan terlalu keras padanya,” kata saya mencoba menenangkan.

“Mungkin ini kesalahpahaman kecil.”

“Kesalahpahaman apalagi?!” bentak Pak Haryo.

“Dr. Maya, segera kemasi barang-barangmu dan keluar dari rumah itu malam ini juga!”

Rendra mendongak dengan panik.

“Pak Haryo, jangan! Saya akan membiarkan Maya tetap tinggal!”

Pak Haryo menatap saya dengan lembut.

“Dr. Maya, jangan khawatir. Saya akan mengirimkan mobil dan pengawal pribadi saya untuk menjemputmu dan menyiapkan akomodasi yang lebih baik untukmu malam ini.”

“Saya juga akan menghentikan semua kerjasama bisnis dengan Rendra karena mereka telah melecehkan konsultan medis saya.”

Saya tersenyum tipis, akhirnya mendapatkan apa yang saya butuhkan: Kebebasan mutlak.

“Terima kasih Pak Haryo. Saya akan segera bersiap-siap.”

Saya menutup telepon, mengakhiri mimpi buruk Rendra dan Clarissa dalam sekejap.

Suasana rumah hening mencekam.

Rendra dan Clarissa tidak mampu berkata-kata.

Saya melangkahkan kaki keluar dari kamar utama menuju paviliun belakang dengan tenang, meninggalkan Rendra yang kini berhadapan dengan konsekuensi perbuatannya.

Saya tidak pernah peduli dengan rumah mewah ataupun posisi istri konglomerat.

Yang saya butuhkan hanyalah tidur yang nyenyak tanpa gangguan siapa pun, apalagi harus bangun pukul lima pagi.

Dan sekarang, berkat Rendra dan Clarissa, saya akhirnya bisa hidup dengan tenang tanpa drama rumah tangga yang menyebalkan.

Ini adalah akhir yang manis bagi saya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang