“SETELAH AKU DIPERMALUKAN DI PESTA MEWAH KELUARGA ISTRIKU, MEREKA TIDAK TAHU BAHWA PRIA YANG MEREKA HINA ITU SEBENARNYA PENERUS IMPERIUM TERBESAR DI ASIA”

Setelah aku dipermalukan di pesta ulang tahun keenam puluh Donya Agatha, semua mata tertuju kepadaku. Suara baling-baling helikopter masih meraung di udara, meniup taplak meja dan membuat gaun para tamu berkibar. Musik berhenti. Gelas-gelas kristal yang tadi beradu kini membisu di tangan para undangan.

Pria berpakaian hitam yang berlutut di depanku tetap menundukkan kepala.

“Tuan Mateo,” ucapnya sekali lagi dengan suara tegas. “Seluruh dewan direksi menunggu keputusan Anda.”

Aku menghela napas panjang.

Selama tiga tahun, aku sengaja hidup sebagai pria biasa. Aku mengantar makanan, menyewa rumah kecil, memakai pakaian murah, bahkan berpura-pura tidak memiliki siapa pun di dunia ini.

Semua itu bukan karena aku menikmati kemiskinan.

Aku hanya ingin memastikan satu hal.

Bahwa wanita yang menjadi istriku mencintaiku, bukan nama keluargaku.

Dan Chloe telah membuktikannya setiap hari.

Ia tidak pernah mengeluh saat kami makan mi instan di akhir bulan.

Ia selalu tersenyum saat aku pulang membawa uang tip yang sedikit.

Ia bahkan rela menjual perhiasan pemberian keluarganya ketika aku berpura-pura kehilangan pekerjaan.

Satu-satunya orang yang gagal dalam ujian itu adalah keluarga besarnya.

Aku memandang Chloe.

Matanya dipenuhi air mata.

“Apa… semua ini benar?” bisiknya.

Aku mengangguk pelan.

“Maaf karena aku harus menyembunyikannya.”

Belum sempat Chloe menjawab, Donya Agatha berusaha tertawa.

“Tidak mungkin. Ini pasti sandiwara.”

Ia menunjuk pria berbaju hitam.

“Berapa bayaranmu? Aku bisa memberimu dua kali lipat.”

Pria itu tidak menoleh sedikit pun.

Sebaliknya, ia mengeluarkan sebuah map hitam.

“Dengan hormat, saya adalah Direktur Keamanan Arvandra Global Holdings.”

Beberapa tamu langsung saling berpandangan.

Nama itu terdengar tidak asing.

Seorang pengusaha tua yang sejak tadi diam tiba-tiba memucat.

“Tunggu…”

Ia berdiri dengan tangan gemetar.

“Arvandra Global? Perusahaan investasi yang membeli jaringan pelabuhan, rumah sakit, maskapai, dan hotel di berbagai negara Asia?”

Pria berbaju hitam menjawab singkat.

“Benar.”

Suasana berubah drastis.

Eric menelan ludah.

“Itu… perusahaan yang nilainya ratusan triliun?”

“Lebih dari itu.”

Donya Agatha memaksa tersenyum.

“Kebetulan saja namanya sama.”

Aku mengambil sebuah kartu logam dari saku celanaku yang lusuh.

Tidak ada logo mewah.

Hanya satu lambang berbentuk burung garuda berwarna emas.

Pria berbaju hitam menerimanya dengan kedua tangan.

Beberapa detik kemudian, layar tablet yang dibawanya menampilkan identitas lengkapku.

Nama.

Foto.

Status.

Penerus utama.

Pemegang saham pengendali.

Seluruh ekspresi para tamu berubah.

Tidak ada lagi tawa.

Tidak ada lagi cibiran.

Yang tersisa hanya keheningan.

Donya Agatha mundur beberapa langkah.

“Waktu ayahku meninggal tiga tahun lalu,” kataku tenang, “aku menolak langsung mengambil alih perusahaan.”

“Para penasihat menyuruhku menikahi putri keluarga konglomerat.”

“Aku menolak.”

“Aku ingin mencari seseorang yang mencintaiku tanpa mengetahui siapa diriku.”

Aku menggenggam tangan Chloe.

“Dan aku menemukannya.”

Chloe menangis semakin keras.

“Aku marah karena kau berbohong.”

Ia tersenyum di sela air matanya.

“Tapi aku lebih marah karena mereka memperlakukanmu seperti ini.”

Ia memelukku di depan semua orang.

Pelukan itu sederhana.

Namun lebih berharga daripada seluruh kemewahan pesta.

Eric merasa harga dirinya hancur.

Ia melangkah maju.

“Kalaupun kau kaya, lalu kenapa?”

“Aku juga berasal dari keluarga pejabat.”

Aku menatapnya tanpa emosi.

“Benarkah?”

Aku mengangguk kepada asistenku.

Tablet berpindah tangan.

Beberapa dokumen muncul.

“Perusahaan ayahmu memenangkan lima proyek pemerintah.”

Eric mengangkat dagu.

“Lalu?”

“Empat di antaranya dibiayai bank yang saham pengendalinya dimiliki grupku.”

Wajah Eric langsung pucat.

“Itu belum semuanya.”

Asistenku membuka dokumen lain.

“Besok pagi seluruh fasilitas kredit perusahaan keluargamu dihentikan sesuai klausul evaluasi risiko.”

“Kalian… tidak bisa melakukan itu!”

“Aku tidak.”

Aku menggeleng.

“Departemen kepatuhan yang melakukannya.”

Eric mulai berkeringat.

Ponselnya berdering.

Ayahnya menelepon.

Begitu diangkat, suara bentakan terdengar hingga orang-orang di dekatnya bisa mendengar.

“Kamu bikin masalah dengan siapa?”

Eric tidak mampu menjawab.

Tangannya gemetar.

Ponselnya jatuh ke lantai.

Di sisi lain taman, beberapa tamu yang tadi ikut menertawakanku mulai mendekat.

“Tuan Mateo…”

“Mohon maaf.”

“Kami hanya ikut bercanda.”

Aku hanya tersenyum tipis.

“Ketika seseorang dipermalukan dan kalian memilih tertawa, kalian sudah mengambil keputusan.”

Tak seorang pun berani membalas.

Lalu aku menoleh kepada Donya Agatha.

“Aku ingin bertanya satu hal.”

Ia menatapku dengan napas memburu.

“Selama tiga tahun, apa pernah aku meminta uang keluarga ini?”

Ia menggeleng pelan.

“Apa pernah aku tinggal di rumah ini?”

“Tidak.”

“Apa pernah aku menghina Ibu?”

Air mata mulai mengalir di pipinya.

“Tidak.”

“Lalu kenapa Ibu begitu membenciku?”

Wanita itu akhirnya terduduk di kursi.

Suaranya bergetar.

“Aku… hanya takut anakku hidup susah.”

“Ayah Chloe meninggal karena bisnis bangkrut.”

“Sejak saat itu aku percaya hanya uang yang bisa melindungi keluarga.”

Aku terdiam.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat bukan seorang wanita angkuh.

Melainkan seorang ibu yang hidup dalam ketakutan selama bertahun-tahun.

Namun rasa takut tidak pernah menjadi alasan untuk menginjak martabat orang lain.

Aku menghela napas.

“Aku mengerti ketakutan Ibu.”

“Tapi bukan berarti aku membenarkan perlakuan Ibu.”

Donya Agatha menangis.

“Aku salah.”

“Aku benar-benar salah.”

Ia berdiri perlahan.

Lalu, di hadapan seluruh tamu, ia menundukkan kepala kepadaku.

“Maafkan saya.”

Semua orang terpaku.

Tidak ada yang pernah melihat wanita sekeras Donya Agatha meminta maaf kepada siapa pun.

Aku tidak langsung menjawab.

Aku melihat Chloe.

Ia menggenggam tanganku.

“Mateo.”

“Aku tidak ingin hidup dengan kebencian.”

Kalimat sederhana itu membuatku tersenyum.

Aku mengangguk.

“Aku memaafkan Ibu.”

“Tapi kepercayaan harus dibangun lagi.”

Donya Agatha mengangguk berkali-kali.

“Terima kasih.”

Semua orang mengira malam itu telah berakhir.

Mereka salah.

Asistenku kembali mendekat.

“Tuan.”

“Ada satu hal lagi.”

Aku mengernyit.

“Apa?”

“Sejak identitas Anda aktif kembali, dewan direksi menemukan sesuatu.”

Ia memperlihatkan dokumen investigasi.

Wajahku langsung berubah serius.

Ternyata selama aku menghilang, salah satu direktur senior diam-diam menggelapkan dana perusahaan dalam jumlah fantastis.

Ia mengira aku tidak akan pernah kembali.

Ia bahkan telah menyiapkan rencana mengambil alih seluruh grup.

Aku tersenyum tipis.

“Bukankah hidup memang penuh kejutan?”

Asisten itu ikut tersenyum.

“Tim kami sudah mengepung kantornya.”

Aku menatap langit malam Jakarta.

“Tidak.”

“Jangan tangkap dia malam ini.”

“Biarkan dia berpikir rencananya berhasil.”

“Besok pagi, kita ambil semuanya sekaligus.”

Asisten mengangguk hormat.

“Perintah diterima.”

Aku menoleh kepada Chloe.

“Sepertinya hidup kita akan jauh lebih sibuk.”

Ia tertawa kecil sambil menghapus air matanya.

“Asal kita tetap makan mi instan sesekali.”

Aku tertawa untuk pertama kalinya malam itu.

“Tentu.”

“Kekayaan tidak pernah membuat mi instan kehilangan rasanya.”

Beberapa bulan kemudian, berita tentang pergantian kepemimpinan Arvandra Global memenuhi media di seluruh Asia.

Direktur yang berkhianat ditangkap setelah seluruh bukti terbongkar.

Perusahaan justru mencatat pertumbuhan terbesar dalam sejarahnya.

Namun satu berita tidak pernah muncul di televisi.

Tidak ada yang tahu bahwa setiap Jumat malam, pewaris salah satu imperium terbesar di Asia masih mengenakan jaket lamanya dan mengantar makanan secara diam-diam.

Bukan karena membutuhkan uang.

Melainkan karena ia ingin terus mengingat seperti apa rasanya dipandang rendah.

Sebab seseorang yang melupakan masa ketika ia diremehkan akan mudah berubah menjadi orang yang pernah melukainya.

Dan setiap kali Chloe melihatku pulang dengan tas pengantaran di punggung, ia selalu tersenyum hangat.

Bukan karena suaminya seorang konglomerat.

Melainkan karena pria yang ia pilih sejak awal tidak pernah berubah, bahkan setelah seluruh dunia akhirnya mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang