“Jadi, kamu benar-benar ingin menceraikanku hanya demi perempuan itu, Mas?” tanyaku sambil mengamati raut wajah dan gerak-gerik seseorang yang lupa diri setelah mendadak menjadi orang kaya. Samar-samar aku mencium aroma parfum bunga yang asing dari jasnya.

Aku menarik napas panjang, lalu melangkah menuju pintu depan tanpa sedikit pun tergesa-gesa. Ketukan keras itu semakin menjadi-jadi, seolah orang di luar sana hendak merobohkan seluruh rumah kontrakan kecil yang selama ini menjadi saksi perjuanganku bersama Reno.

Begitu pintu kubuka, wajah Bu Ratna langsung menyemburiku dengan tatapan penuh kebencian. Di sampingnya berdiri Selin, mengenakan gaun bermerek dengan tas mahal yang sengaja dipamerkan. Reno berdiri sedikit di belakang mereka. Wajahnya pucat, matanya sembap, mungkin akibat mabuk semalam, tetapi kesombongan itu masih belum benar-benar hilang.

“Akhirnya bangun juga!” bentak Bu Ratna. “Menantu tidak berguna. Suami sudah jadi orang besar, kamu malah tidur seperti ratu.”

Aku hanya menatap mereka tanpa ekspresi.

“Ada perlu apa pagi-pagi begini?”

“Masih berani tanya?” Bu Ratna mengangkat sebuah map cokelat. “Hari ini juga kamu tanda tangani surat cerai. Jangan bikin Reno repot.”

Selin menyeringai tipis.

“Mbak Riana, perempuan itu harus tahu diri. Kalau sudah tidak selevel, ya mundur saja.”

Aku memandang mereka bergantian.

“Begitu ya?”

“Tentu saja,” sahut Reno akhirnya. “Aku tidak punya waktu lagi hidup dengan perempuan miskin sepertimu.”

Aku tersenyum kecil.

“Kalau begitu, masuklah. Kita selesaikan semuanya hari ini.”

Mereka tampak sedikit heran karena aku sama sekali tidak menangis ataupun memohon.

Kami duduk di ruang tamu yang sederhana. Bau muntahan semalam masih samar tercium meski Reno sudah membersihkannya.

Bu Ratna langsung meletakkan map di atas meja.

“Tanda tangan.”

Aku membuka lembar demi lembar dokumen itu dengan santai.

“Pengajuan cerai, pembagian harta nihil, tidak ada tuntutan nafkah.”

Aku mengangguk pelan.

“Lengkap juga.”

“Tentu,” jawab Reno. “Aku sudah konsultasi dengan pengacara.”

Aku mengeluarkan pena.

Semua orang memperhatikanku.

Lalu…

Aku meletakkan pena itu kembali.

“Bisa.”

Wajah Reno langsung berbinar.

“Tapi sebelum aku tanda tangan, ada satu urusan yang harus kita selesaikan.”

“Apa lagi?” geram Bu Ratna.

Aku mengambil ponsel dan mengirim satu pesan singkat.

“Hanya menunggu lima belas menit.”

Selin tertawa mengejek.

“Kamu mau panggil siapa? Tetangga? Atau teman-teman buruhmu?”

Aku tidak menjawab.

Tepat sepuluh menit kemudian, suara beberapa mobil memasuki gang sempit terdengar dari luar.

Seluruh tetangga langsung berhamburan keluar rumah.

Gang yang biasanya hanya dilewati sepeda motor kini dipenuhi tiga SUV hitam mewah.

Disusul sebuah sedan premium.

Beberapa pria berjas turun terlebih dahulu.

Lalu seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun keluar dari mobil paling depan.

Begitu melihatnya, aku berdiri.

“Selamat pagi, Pak Baskara.”

Pria itu membungkukkan badan sedikit kepadaku.

“Selamat pagi, Nona Riana.”

Reno mengernyit.

Bu Ratna saling pandang dengan Selin.

Pak Baskara masuk ke dalam rumah diikuti empat stafnya yang membawa koper aluminium dan beberapa map hitam.

Gang kecil itu kini dipenuhi bisik-bisik warga.

“Itu siapa?”

“Kayaknya orang penting.”

“Kok hormat sekali sama Riana?”

Pak Baskara memandang Reno.

“Apakah Anda Saudara Reno?”

“Iya… saya Reno.”

“Saya Baskara, Direktur Legal Sanusi Group.”

Ruangan mendadak sunyi.

Nama Sanusi Group bukan nama asing.

Perusahaan itu memiliki hotel, pusat perbelanjaan, rumah sakit, perkebunan, hingga puluhan perusahaan nasional.

Bu Ratna mulai tampak gugup.

“Lalu… ada urusan apa?”

Pak Baskara membuka koper aluminium.

Beberapa dokumen langsung disusun rapi di atas meja.

“Kami datang untuk menyelesaikan beberapa persoalan hukum.”

Reno tertawa kecil.

“Kalau soal investasi restoran saya, nanti bisa bicara dengan sekretaris saya.”

Pak Baskara bahkan tidak menoleh.

“Saya rasa Anda salah paham.”

Beliau mengambil sebuah sertifikat.

“Restoran Grand Arunika berdiri di atas tanah milik Sanusi Group.”

Senyum Reno perlahan menghilang.

“Lalu?”

“Modal pembangunan sebesar dua miliar rupiah juga berasal dari Sanusi Group.”

Reno menggeleng.

“Itu uang istri saya.”

Pak Baskara mengangguk.

“Benar.”

Beliau kemudian memandangku.

“Karena Nona Riana adalah ahli waris utama keluarga Sanusi.”

Suara napas orang-orang di ruangan seolah berhenti.

Selin membeku.

Bu Ratna sampai menjatuhkan tasnya.

“Apa?”

Pak Baskara menyerahkan beberapa dokumen kepadaku.

“Seluruh dokumen pewarisan sudah selesai diverifikasi.”

Beliau kemudian menoleh kepada Reno.

“Selama ini Nona Riana sengaja menyembunyikan identitasnya atas permintaan almarhum kakeknya.”

Reno menatapku tidak berkedip.

“Kamu… bercanda?”

Aku menggeleng pelan.

“Aku sudah ingin memberitahumu saat peresmian restoran.”

“Tidak mungkin…”

Pak Baskara membuka map berikutnya.

“Ini salinan akta saham.”

Beliau menunjukkan satu per satu.

“Kepemilikan hotel.”

“Perusahaan logistik.”

“Rumah sakit.”

“Perkebunan.”

“Pabrik tekstil.”

“Lahan restoran Anda.”

Seluruhnya atas nama…

Riana Sanusi.

Reno terduduk lemas.

“Tidak…”

Pak Baskara melanjutkan tanpa sedikit pun mengubah nada bicara.

“Selain itu, berdasarkan perjanjian investasi, Saudara Reno hanya menjabat sebagai CEO operasional selama pemilik modal menghendaki.”

“Apa maksudnya?”

“Itu berarti…”

Pak Baskara menoleh kepadaku.

“Nona Riana berhak memberhentikan Anda kapan saja.”

Aku berdiri perlahan.

“Pak Baskara.”

“Ya, Nona.”

“Saya mencabut seluruh kuasa operasional Saudara Reno mulai detik ini.”

“Baik.”

Pak Baskara langsung mengeluarkan surat resmi.

“Dengan ini jabatan Saudara Reno sebagai CEO Grand Arunika dicabut efektif hari ini.”

Reno langsung bangkit.

“Tidak bisa!”

“Bisa.”

“Itu restoran saya!”

Aku menatap lurus ke matanya.

“Benarkah?”

“Aku yang membangun!”

“Dengan uang siapa?”

Reno terdiam.

“Aku yang mencari investor!”

“Investor yang ternyata adalah aku.”

“Tapi…”

“Aku juga yang pura-pura menggadaikan rumah peninggalan ibuku agar harga dirimu tetap terjaga.”

Ruangan menjadi semakin sunyi.

Air mata mulai memenuhi mata Reno.

“Kamu kenapa tidak pernah bilang?”

Aku tersenyum pahit.

“Aku ingin dicintai karena diriku.”

“Bukan karena hartaku.”

“Tapi ternyata begitu kamu merasa berhasil, aku justru menjadi perempuan pertama yang ingin kamu buang.”

Bu Ratna tiba-tiba berlutut di depanku.

“Riana… Ibu salah…”

“Maafkan Ibu…”

“Kamu tetap menantu Ibu.”

Aku melangkah mundur.

“Dulu saat Ibu menghinaku sebagai perempuan mandul dan miskin, apakah Ibu pernah berpikir aku juga manusia?”

Bu Ratna menangis.

Selin yang sejak tadi diam akhirnya maju.

“Mbak… aku tidak tahu…”

Aku memandangnya datar.

“Kamu tahu Reno sudah menikah.”

Selin menunduk.

“Itu sudah cukup.”

Tak lama kemudian beberapa petugas keamanan restoran datang bersama seorang manajer.

“Selamat pagi, Bu Riana.”

Manajer itu membungkuk hormat.

“Kami menerima surat pergantian pimpinan.”

Aku mengangguk.

“Mulai hari ini saya mengambil alih pengelolaan.”

“Siap, Bu.”

Reno mencoba mendekat.

“Riana… beri aku kesempatan.”

Aku tersenyum tipis.

“Kesempatan?”

“Iya.”

“Aku menyesal.”

“Aku khilaf.”

“Aku masih mencintaimu.”

Aku mengeluarkan amplop putih dari tas.

“Ini.”

Reno menerimanya dengan tangan gemetar.

Surat cerai.

Namun bukan surat yang dibawanya.

Melainkan surat gugatan cerai yang sudah lebih dulu kusiapkan sejak semalam.

“Aku hanya mendahuluimu.”

Wajah Reno benar-benar hancur.

“Tolong… jangan tinggalkan aku.”

“Kita mulai lagi dari nol.”

Aku menggeleng.

“Dulu kita memang memulai dari nol.”

“Tapi sekarang yang kembali ke nol hanya kamu.”

Aku berbalik menuju pintu.

Sebelum masuk ke mobil, aku sempat melihat Reno terduduk di lantai kontrakan yang dulu begitu ia hina.

CEO yang semalam begitu bangga kini bahkan kehilangan jabatan sebelum sempat menikmati kursinya.

Selin pergi tanpa pamit.

Bu Ratna menangis sambil memanggil-manggil namaku, tetapi aku tidak lagi menoleh.

Mobil perlahan meninggalkan gang sempit itu.

Pak Baskara duduk di sampingku.

“Nona, sebenarnya Anda bisa menghancurkan mereka sejak awal.”

Aku memandang keluar jendela.

“Kalau begitu, saya tidak akan pernah tahu siapa yang benar-benar tulus.”

Beberapa bulan kemudian, Grand Arunika resmi dibuka kembali di bawah manajemen baru.

Seluruh karyawan lama tetap dipertahankan.

Gaji mereka dinaikkan.

Program beasiswa untuk anak-anak pegawai diluncurkan.

Sebagian keuntungan restoran digunakan untuk membantu para buruh perempuan yang kehilangan pekerjaan.

Suatu sore, saat aku sedang meninjau dapur restoran, seorang pegawai datang menghampiri.

“Bu Riana.”

“Ada apa?”

“Di luar ada seorang pria yang ingin bertemu.”

Aku melihat ke arah pintu kaca.

Reno berdiri sendirian mengenakan seragam kurir pengantar barang. Tubuhnya jauh lebih kurus. Tidak ada lagi jas mahal ataupun mobil mewah.

Tatapan kami bertemu beberapa detik.

Ia tersenyum kecil, lalu menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan sebelum berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Aku tidak memanggilnya.

Bukan karena masih membenci.

Melainkan karena akhirnya kami sama-sama memahami satu hal.

Kekayaan mampu membeli rumah, jabatan, bahkan restoran mewah.

Namun kepercayaan yang telah dikhianati tidak akan pernah bisa dibeli kembali dengan uang sebanyak apa pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang