“Beneran, Ris? Jadi kamu serius mau pisah sama istrimu?” Suara tawa Dani pecah di ruang istirahat kantor yang dipenuhi aroma kopi dan tumpukan berkas.

Aris menelan ludah. Dadanya mendadak sesak. Perubahan Alya begitu drastis hingga membuat seluruh keyakinannya runtuh. Wanita itu sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang sedang menderita karena kemiskinan atau patah hati.

Namun harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui rasa terkejut itu.

Aris segera mengangkat dagunya dan berjalan mendekati Alya dengan senyum sinis.

“Wah, hebat juga. Baru mau cerai sudah bisa dandan begini. Mobil siapa? Pinjam teman?”

Alya menoleh perlahan. Tatapannya tenang, nyaris tanpa emosi.

“Selamat pagi, Mas.”

Hanya itu.

Tidak ada amarah, tidak ada sindiran, tidak ada air mata yang selama ini selalu ingin dilihat Aris.

Sikap tenang itu justru membuat Aris semakin gelisah.

“Kenapa diam? Malu ya?”

Alya tersenyum tipis.

“Aku hanya tidak ingin membuang energi untuk hal yang tidak lagi penting.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan.

Sebelum Aris sempat membalas, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun turun dari kursi pengemudi. Penampilannya rapi dengan jas abu-abu dan kacamata tipis.

“Bu Alya, sidangnya lima belas menit lagi. Berkas sudah saya siapkan.”

Aris mengernyit.

“Siapa dia?”

“Pengacara saya.”

Aris tertawa keras.

“Pengacara? Kamu sewa pengacara? Pakai uang siapa?”

Pria itu mengulurkan kartu namanya dengan sopan.

“Saya Hendra Wijaya. Kuasa hukum Ibu Alya.”

Aris melihat nama firma hukum yang tercetak di kartu itu. Wajahnya berubah pucat.

Itu adalah salah satu firma hukum terbaik di Jakarta. Bahkan biaya konsultasi awalnya saja setara beberapa bulan gajinya.

Dalam hati Aris mulai muncul pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.

Dari mana Alya mendapatkan semua ini?

Sidang pertama berlangsung singkat.

Hakim hanya memastikan identitas para pihak dan menjadwalkan proses mediasi.

Aris datang dengan keyakinan bahwa Alya akan memohon agar rumah tangga mereka diselamatkan.

Yang terjadi justru sebaliknya.

Ketika mediator bertanya apakah masih ada kemungkinan rujuk, Alya menjawab tanpa ragu.

“Tidak ada.”

Mediator kembali bertanya.

“Apakah keputusan ini sudah dipikirkan matang?”

“Sudah. Sangat matang.”

Aris yang duduk di seberangnya mulai merasa tidak nyaman.

Biasanya setiap kali mereka bertengkar, Alya selalu menjadi orang pertama yang meminta maaf.

Hari itu, wanita itu bahkan tidak pernah sekalipun menatap matanya.

Setelah sidang selesai, Aris berusaha mengejar Alya.

“Al!”

Alya berhenti.

“Apa lagi?”

“Kamu pikir setelah cerai hidupmu bakal enak? Kamu masih harus mengurus Mutiara. Anak kita butuh biaya.”

Alya mengangguk pelan.

“Benar.”

“Nah, makanya jangan sok kuat.”

Alya mengeluarkan sebuah map biru.

“Semua kebutuhan Mutiara sudah aku siapkan.”

Aris tertawa mengejek.

“Paling cuma tabungan receh.”

Alya menyerahkan salinan dokumen itu.

Aris membaca sekilas.

Matanya membelalak.

Di sana tertulis polis pendidikan, rekening investasi, asuransi kesehatan, hingga dana pendidikan yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

“Ini…”

“Aku sudah menyiapkannya sejak dua tahun lalu.”

“Dua tahun?”

“Iya.”

Aris tidak mampu berkata-kata.

Selama ini ia selalu mengira Alya hanya ibu rumah tangga biasa.

Ia tidak pernah benar-benar peduli apa yang dikerjakan istrinya dari rumah.

Baginya, selama makanan tersedia dan pakaian bersih, urusan Alya bukan sesuatu yang penting.

Ia bahkan sering mengejek pekerjaan Alya yang setiap malam duduk di depan laptop.

“Tukang klik-klik komputer bisa dapat apa?”

Kalimat itu tiba-tiba terngiang kembali.

Alya menatapnya datar.

“Aku tidak pernah meminta hartamu. Aku hanya ingin hidup tenang.”

Lalu ia pergi.

Hari-hari berikutnya justru menjadi mimpi buruk bagi Aris.

Di kantor, Mira mulai berubah.

Awalnya ia sangat perhatian.

Kini hampir setiap hari ia mengeluh.

“Mas, kapan kita beli mobil?”

“Mas, aku nggak mau tinggal di rumah kecil.”

“Mas, kalau nanti nikah aku maunya resepsi di hotel bintang lima.”

Semua permintaan itu membuat Aris pusing.

Gajinya bahkan hampir habis untuk cicilan dan kebutuhan sehari-hari.

Belum lagi ibunya yang terus meminta uang tambahan.

Suatu siang, Dani datang sambil membawa ponsel.

“Ris, kamu lihat ini belum?”

“Apa?”

Dani menunjukkan sebuah berita di LinkedIn.

Foto Alya terpampang jelas.

Di bawahnya tertulis bahwa ia resmi bergabung sebagai Regional Artificial Intelligence Director di sebuah perusahaan teknologi multinasional yang baru membuka kantor di Indonesia.

Aris membaca ulang berkali-kali.

Gaji yang diperkirakan diterima pejabat dengan posisi seperti itu mencapai puluhan kali lipat dari penghasilannya.

Tangannya mulai dingin.

“Ini… Alya?”

“Iya. Hebat juga ya mantan istrimu.”

Beberapa rekan kantor mulai berkumpul.

“Bukannya dulu katanya dia malas?”

“Kok bisa jadi direktur?”

“Mungkin memang dari dulu pintar.”

“Ternyata yang nggak tahu itu kita.”

Kalimat-kalimat itu menusuk harga diri Aris.

Semua kebohongan yang selama ini ia ceritakan mulai runtuh satu demi satu.

Seminggu kemudian perusahaan tempat Aris bekerja mengumumkan restrukturisasi.

Divisi mereka akan digabung.

Beberapa karyawan harus diberhentikan.

Aris merasa dirinya aman.

Ia memiliki masa kerja lebih lama dibanding sebagian pegawai baru.

Namun ketika surat keputusan dibagikan, namanya justru termasuk dalam daftar pemutusan hubungan kerja.

“Dengan berat hati perusahaan harus melakukan efisiensi.”

Aris hampir tidak percaya.

Ia keluar dari ruang HR dengan langkah lemas.

Saat melewati lobi, ia melihat beberapa tamu perusahaan sedang berdiskusi dengan direktur utama.

Di antara mereka berdiri seorang wanita yang sangat dikenalnya.

Alya.

Namun kali ini semua pimpinan perusahaan justru menyambut Alya dengan penuh hormat.

“Selamat datang, Bu Alya.”

“Kami sangat senang akhirnya kerja sama ini bisa terlaksana.”

Aris berdiri mematung.

Direktur utama yang selama ini bahkan jarang menyapanya kini berjalan di samping Alya sambil tersenyum ramah.

Tanpa sengaja mata mereka bertemu.

Alya hanya mengangguk sopan.

Tidak ada kesombongan.

Tidak ada keinginan membalas dendam.

Ia bahkan tidak berhenti berjalan.

Seolah Aris hanyalah seseorang yang pernah lewat sebentar dalam hidupnya.

Perasaan itu jauh lebih menyakitkan daripada dimarahi.

Aris pulang membawa surat PHK.

Ibunya langsung panik.

“Ris, kok cepat pulang?”

“Aku di-PHK.”

“Apa?”

Beberapa hari kemudian Mira datang.

Aris berharap wanita itu akan menguatkannya.

Sebaliknya, Mira justru duduk sambil memainkan ponselnya.

“Mas…”

“Iya?”

“Aku rasa hubungan kita cukup sampai di sini.”

Aris terbelalak.

“Maksudmu?”

“Aku capek.”

“Kamu ninggalin aku?”

“Mas juga ninggalin istri sendiri, kan?”

Kalimat itu membuat Aris membeku.

Mira melanjutkan tanpa rasa bersalah.

“Aku butuh pasangan yang mapan. Sekarang Mas nggak punya pekerjaan. Aku masih punya masa depan.”

“Mira!”

Wanita itu berdiri.

“Oh ya, mulai minggu depan aku pindah ke perusahaan lain. Bos baru kami masih lajang.”

Mira pergi begitu saja.

Aris terduduk di ruang tamu.

Untuk pertama kalinya ia merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan saat sedang berada di titik terendah.

Malam itu rumah terasa sangat sunyi.

Tidak ada suara Mutiara yang berlari memanggilnya.

Tidak ada aroma masakan Alya.

Tidak ada seseorang yang menyiapkan bajunya untuk esok hari.

Barulah ia menyadari bahwa selama bertahun-tahun, semua perhatian itu ia anggap sebagai sesuatu yang memang seharusnya ia terima.

Ia tidak pernah benar-benar menghargainya.

Beberapa bulan berlalu.

Proses perceraian resmi selesai.

Hak asuh Mutiara diberikan kepada Alya dengan hak kunjung yang tetap terbuka untuk Aris.

Pada ulang tahun Mutiara yang keenam, Aris datang membawa boneka sederhana.

Ia gugup.

Takut anaknya menolak.

Namun Mutiara justru berlari memeluknya.

“Ayah datang!”

Air mata Aris hampir jatuh.

Di ruang tamu rumah baru Alya, ia melihat suasana yang hangat.

Rumah itu tidak mewah berlebihan, tetapi penuh tawa.

Beberapa foto Mutiara terpajang di dinding.

Tidak ada satu pun foto yang menunjukkan kebencian kepada masa lalu.

Ketika hendak pulang, Aris memberanikan diri berbicara.

“Al…”

Alya menoleh.

“Aku minta maaf.”

Hening beberapa saat.

“Aku benar-benar menyesal.”

Alya tersenyum kecil.

“Aku sudah memaafkanmu sejak lama.”

“Kalau begitu… apakah masih ada kesempatan?”

Alya menggeleng pelan.

“Memaafkan tidak selalu berarti kembali.”

Aris menundukkan kepala.

“Aku mengerti.”

“Aku berharap kamu menjadi ayah yang baik untuk Mutiara. Itu saja sudah cukup.”

Aris mengangguk.

Ia berjalan keluar dengan langkah pelan.

Dari halaman rumah, ia menoleh sekali lagi.

Melalui jendela, ia melihat Alya sedang tertawa bersama Mutiara sambil membantu putrinya menyusun balok-balok mainan.

Pemandangan sederhana itu justru terasa sangat indah.

Aris akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari.

Ia tidak kehilangan Alya pada hari surat gugatan itu tiba.

Ia telah kehilangan wanita luar biasa itu sedikit demi sedikit setiap kali meremehkan pengorbanannya, mengabaikan perasaannya, mempermalukannya di depan orang lain, dan memilih menghargai penampilan daripada ketulusan.

Saat ia baru menyadari nilai seorang istri, wanita itu telah berhasil membangun kehidupan baru yang tidak lagi membutuhkan dirinya.

Dan penyesalan yang paling berat bukanlah melihat mantan pasangan hidup jauh lebih sukses, melainkan menyadari bahwa kebahagiaan itu pernah menjadi miliknya, tetapi ia sendiri yang melepaskannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang