Melisa kembali menatapku tajam.
“Mas, gimana tasku?”
Aku masih memandangi layar ponsel. Saldo rekening yang biasanya selalu membuatku percaya diri kini tinggal menyisakan angka yang bahkan tidak cukup untuk menutupi semua kewajibanku bulan ini.
“Arga!”
Suara Melisa meninggi.
“Aku lagi ngomong sama kamu.”
Aku menarik napas panjang.

“Besok aja.”
Wajahnya langsung berubah.
“Besok?”
“Iya.”
“Serius?”
Aku mengangguk pelan.
Melisa tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar sinis.
“Jangan bilang kamu benar-benar lagi nggak punya uang.”
“Bukan begitu.”
“Terus apa?”
Aku tidak menjawab.
Kasir masih berdiri dengan senyum canggung sambil memegang kotak tas yang belum jadi dibayar.
Melisa mengembuskan napas kesal, lalu meletakkan tas itu kembali ke meja.
“Kalau memang lagi susah, bilang dari awal.”
“Aku cuma lagi banyak urusan.”
“Aku nggak suka alasan.”
Aku menatapnya. Baru kali ini aku melihat ekspresi yang selama ini mungkin sengaja tidak pernah ingin kulihat.
Tidak ada rasa khawatir.
Tidak ada pertanyaan apakah aku baik-baik saja.
Yang ada hanya rasa kecewa karena keinginannya tidak terpenuhi.
Dia mengambil tas tangannya sendiri lalu berjalan lebih dulu keluar butik.
Aku mengejarnya.
“Melisa.”
Dia berhenti.
“Apa lagi?”
“Aku antar pulang.”
“Nggak usah. Aku bisa pesan mobil sendiri.”
“Aku jelasin nanti.”
Melisa tersenyum tipis.
“Arga, kamu tahu kenapa aku suka sama kamu?”
Aku diam.
“Karena kamu selalu bisa membuat semua masalah selesai dengan uang.”
Kalimat itu menghantamku keras.
“Tapi kalau sekarang uangmu habis… sebenarnya kamu masih punya apa?”
Dia berbalik pergi tanpa menunggu jawabanku.
Aku berdiri sendirian di depan butik.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Melisa, aku merasa benar-benar asing di dekat perempuan itu.
Perjalanan pulang terasa begitu panjang.
Di lampu merah, ponselku kembali berbunyi.
Nomor rumah sakit.
Jantungku langsung berdegup lebih cepat.
“Selamat malam, Pak Arga?”
“Iya.”
“Mohon maaf mengganggu. Kondisi ayah Bapak sempat menurun sekitar satu jam lalu.”
Tanganku langsung mencengkeram setir.
“Sekarang bagaimana?”
“Sudah stabil, tetapi dokter meminta keluarga segera datang.”
“Aku berangkat sekarang.”
Aku memutar kemudi tanpa berpikir lagi.
Sesampainya di rumah sakit, lorong ICU terlihat sepi.
Yang membuatku tertegun adalah sosok yang duduk di kursi plastik di depan ruangan.
Rania.
Perempuan itu mengenakan baju sederhana yang sama seperti kemarin.
Matanya sembab.
Di pangkuannya ada termos kecil dan kantong berisi pakaian ganti Ayah.
Dia bahkan tidak menyadari kedatanganku.
Aku berjalan perlahan.
“Rania.”
Dia menoleh.
Tatapan kami bertemu beberapa detik.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada senyum.
Hanya kelelahan yang sangat dalam.
“Kamu di sini?”
“Dokter telepon.”
“Kenapa mereka telepon kamu?”
Rania menjawab pelan.
“Karena dari dulu nomor darurat Ayah memang nomor aku.”
Aku terdiam.
Aku bahkan tidak tahu hal sesederhana itu.
Dokter keluar beberapa saat kemudian.
“Keluarga Pak Hadi?”
Kami berdiri bersamaan.
Dokter memandang kami bergantian.
“Tekanan darah beliau sempat turun drastis. Untung cepat ditangani.”
Aku mengangguk.
“Beliau membutuhkan terapi lanjutan. Ada beberapa obat yang harus segera ditebus malam ini.”
Dokter menyerahkan selembar resep.
Aku langsung mengambil dompet.
Saat hendak menuju apotek, Rania lebih dulu mengeluarkan amplop putih dari tasnya.
“Ini sudah saya siapkan tadi sore, Dok.”
Dokter menerimanya.
“Baik, Bu.”
Aku memandang Rania.
“Kamu sudah bayar?”
“Iya.”
“Pakai uang dari mana?”
Dia tersenyum tipis.
“Mas nggak perlu pikirkan.”
Aku menahan lengannya.
“Jawab.”
Rania menatapku beberapa saat.
“Aku jual gelang emas pemberian Ibu.”
Dadaku seperti diremas.
Gelang itu adalah peninggalan mendiang ibunya.
Selama menikah, Rania selalu berkata tidak akan pernah menjualnya dalam keadaan apa pun.
Dan sekarang…
Dia melepas satu-satunya kenangan ibunya demi ayahku.
Sementara aku…
Aku pernah mentransfer seratus lima puluh juta kepada Melisa hanya agar dia bisa berlibur ke Swiss.
Aku menunduk.
“Maaf.”
Rania perlahan melepaskan tanganku.
“Mas nggak perlu minta maaf ke aku.”
“Ran…”
“Kalau memang mau minta maaf, minta maaflah ke Ayah. Beliau selalu bangga punya anak seperti Mas.”
Kalimat itu membuatku semakin tidak sanggup menatap wajahnya.
Malam itu aku duduk di samping tempat tidur Ayah.
Tubuh lelaki tua itu terlihat semakin kurus.
Tangannya dipenuhi selang infus.
Aku menggenggam jemarinya.
“Ayah…”
Kelopak matanya bergerak pelan.
“Ga…”
Suara itu sangat lirih.
“Iya, Yah.”
“Jangan… sakiti… Rania lagi…”
Air mataku jatuh begitu saja.
Ayah bahkan sedang sakit pun masih memikirkan perempuan yang selama ini kujadikan tempat melampiaskan ego.
Aku keluar dari ruang ICU dengan mata merah.
Rania sudah tidak ada.
Yang tertinggal hanya termos kecil dan secarik kertas.
Aku membukanya.
“Besok Ayah harus makan bubur sebelum minum obat. Jangan lupa obat biru diminum jam delapan pagi.”
Tidak ada satu kata pun tentang dirinya.
Seluruh isi kertas itu hanya tentang Ayah.
Aku memejamkan mata.
Pagi harinya aku datang ke kantor lebih awal.
Begitu masuk ruang kerja, sekretarisku langsung menghampiri dengan wajah panik.
“Pak Arga, direksi meminta Bapak ke ruang rapat sekarang.”
Aku masuk.
Suasana ruangan sangat tegang.
Direktur Utama melemparkan sebuah map ke hadapanku.
“Jelaskan ini.”
Aku membukanya.
Isinya daftar transaksi perusahaan.
Mataku membelalak.
Transfer ke vendor fiktif.
Pengeluaran tanpa bukti.
Beberapa di antaranya menggunakan persetujuan digital atas namaku.
“Ini bukan saya.”
“Semua tanda tangan elektronik memakai akun Anda.”
Aku menggeleng.
“Saya tidak pernah menyetujui transaksi ini.”
Direktur menatapku tajam.
“Kalau begitu, siapa?”
Aku langsung teringat satu orang.
Selama beberapa bulan terakhir, hanya satu orang yang sering meminjam laptop kantorku.
Melisa.
Beberapa kali dia datang ke ruanganku saat jam kerja.
Bahkan dia tahu kata sandi laptopku karena pernah kuberikan saat aku sedang rapat.
Jantungku berdetak semakin cepat.
Aku segera menghubunginya.
Tidak aktif.
Aku menelepon lagi.
Tetap tidak aktif.
Aku membuka aplikasi perbankan.
Beberapa transfer besar beberapa bulan terakhir ternyata masuk ke rekening dengan nama perusahaan yang belum pernah kudengar.
Tanganku mulai gemetar.
Aku meminta izin keluar sebentar lalu langsung menuju apartemen Melisa.
Unit itu kosong.
Petugas keamanan mengenaliku.
“Pak cari Mbak Melisa?”
“Iya.”
“Beliau pindah pagi tadi.”
“Pindah?”
“Iya, semua barang sudah diangkut.”
“Ke mana?”
Petugas menggeleng.
“Nggak tahu, Pak.”
Dadaku terasa sesak.
Aku langsung teringat ucapan Melisa semalam.
“Kalau sekarang uangmu habis… sebenarnya kamu masih punya apa?”
Bukan hanya uangku yang hampir habis.
Dia juga meninggalkan semua kekacauan untuk kutanggung sendiri.
Aku terduduk di lobi apartemen.
Ponselku kembali berbunyi.
Pesan dari nomor asing.
“Terima kasih untuk semua hadiahmu selama ini. Anggap saja itu biaya karena sudah membuatku menemanimu. Jangan cari aku lagi.”
Aku menatap layar lama sekali.
Tidak ada air mata.
Hanya kehampaan.
Aku baru sadar.
Selama ini aku kehilangan seorang istri yang tulus demi mempertahankan seseorang yang hanya mencintaiku selama dompetku penuh.
Sore itu aku kembali ke rumah sakit.
Rania sedang menyuapi Ayah bubur dengan sabar.
Ayah tersenyum lemah melihatku.
“Ayo… duduk…”
Aku mendekat.
Lalu, tanpa memedulikan siapa pun yang melihat, aku berlutut di depan Rania.
Perempuan itu terkejut.
“Mas, bangun…”
Aku menggeleng.
“Selama ini aku pikir uang bisa membeli kesetiaan.”
Air mata memenuhi mataku.
“Ternyata yang kubeli hanya kepura-puraan.”
Aku menatap wajah perempuan yang telah berkali-kali kusakiti.
“Kalau masih ada sedikit kesempatan… izinkan aku memperbaiki semuanya.”
Rania tidak langsung menjawab.
Dia hanya menatapku dalam diam.
Beberapa detik kemudian, dia berkata pelan,
“Mas, luka bisa sembuh. Tapi bekasnya tidak pernah benar-benar hilang.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada makian apa pun.
Aku mengangguk perlahan.
“Aku tahu.”
“Aku belum bisa memaafkan sekarang.”
“Aku akan menunggu.”
“Belum tentu aku kembali.”
“Aku tetap akan menunggu.”
Rania memalingkan wajahnya ke arah Ayah.
“Ayah masih membutuhkan kita.”
Aku ikut menatap lelaki tua itu.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku memahami arti sebuah keluarga.
Bukan tentang siapa yang paling banyak memberi uang.
Bukan tentang hadiah mewah atau liburan mahal.
Melainkan tentang siapa yang tetap bertahan ketika semua kemewahan itu lenyap.
Hari itu aku pulang tanpa membawa Rania.
Tetapi aku pulang dengan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Kesadaran bahwa pengkhianatan terbesar bukanlah ketika seseorang memilih orang lain, melainkan ketika ia baru menyadari nilai ketulusan setelah kehilangan hampir segalanya.
