“Yang sabar ya, Esma…” Suara lembut itu datang dari salah satu tetangga yang sudah seperti keluarga sendiri. Beberapa saudara juga ikut menepuk pundaknya, mencoba menguatkan.

Pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun dengan rambut disanggul sederhana. Ia mengenakan blus putih dan celana panjang hitam. Wajahnya masih tampak anggun meski garis-garis usia terlihat jelas di sekitar matanya.

Perempuan itu menatap Esma dari ujung kepala hingga kaki.

“Ya? Cari siapa?” tanyanya.

Esma menelan ludah. “Maaf, Bu. Apakah ini rumah Ibu Suryani?”

“Saya Suryani.”

Jawaban itu membuat dada Esma semakin sesak. Ia meremas tali tasnya, berusaha menahan kegugupan.

“Nama saya Esma. Saya putri dari Ibu Sinta Rahmah.”

Wajah Suryani seketika berubah. Matanya melebar, sementara tangannya yang masih memegang gagang pintu tampak gemetar.

“Sinta?” bisiknya. “Kamu anaknya Sinta?”

Esma mengangguk.

Suryani tidak langsung mempersilahkannya masuk. Ia menatap wajah Esma lama sekali, seakan sedang mencari jejak seseorang yang pernah sangat dikenalnya. Kemudian, tanpa diduga, mata perempuan itu berkaca-kaca.

“Masuklah,” katanya pelan.

Ruang tamu rumah itu luas dan tertata rapi, tetapi terasa dingin. Tak ada foto keluarga di dinding, hanya beberapa lukisan dan lemari kayu berisi buku-buku tua. Suryani meminta Esma duduk, lalu memanggil seorang asisten rumah tangga untuk membawakan teh.

Esma meletakkan ponselnya di atas meja.

“Ibu saya meninggal dua hari lalu,” ucap Esma.

Suryani menutup mulutnya. “Innalillahi…”

Ia menunduk lama. Air matanya jatuh tanpa suara.

Esma tak menyangka perempuan yang baru pertama kali ditemuinya itu akan menangis sedalam itu. Ia mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan pesan terakhir dari ibunya.

“Ini wasiat Ibu. Beliau meminta saya menemui Ibu dan mencari Nizar Ocean.”

Suryani membaca pesan itu perlahan. Wajahnya berubah semakin pucat.

“Jadi Sinta tetap menyimpan janji itu sampai akhir,” gumamnya.

“Janji apa, Bu?”

Suryani mengangkat pandangan. “Dulu, ketika kami masih muda, saya dan ibumu pernah berjanji akan menikahkan anak kami. Tapi itu hanya ucapan dua sahabat yang sedang bercanda tentang masa depan. Saya tidak pernah menyangka Sinta akan benar-benar menjadikannya wasiat.”

Esma terdiam. “Berarti Ibu tidak pernah membicarakannya dengan Nizar?”

Suryani belum sempat menjawab ketika terdengar langkah kaki dari lantai atas.

Seorang pria turun sambil berbicara melalui telepon. Ia mengenakan kemeja biru gelap dengan lengan digulung sampai siku. Posturnya tinggi, wajahnya tegas, dan tatapannya tajam. Esma langsung mengenalinya dari foto yang dikirim ibunya.

Nizar Ocean.

Pria itu menghentikan langkah ketika melihat Esma.

“Siapa?” tanyanya singkat.

Suryani berdiri. “Nizar, ini Esma. Putri Tante Sinta.”

Nama itu tampaknya tidak berarti apa-apa baginya. Ia hanya mengangguk sopan.

Suryani kemudian menyerahkan ponsel Esma kepadanya. “Baca.”

Nizar membaca pesan itu. Semakin lama, rahangnya semakin mengeras.

“Ini tidak masuk akal,” katanya dingin.

“Nizar,” tegur Suryani.

“Aku tidak mengenalnya, Bu. Dan aku tidak akan menikah hanya karena pesan dari seseorang yang bahkan tidak pernah kutemui.”

Ucapan itu terasa seperti tamparan bagi Esma. Ia segera berdiri.

“Saya juga tidak datang untuk memaksa,” katanya, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. “Saya hanya ingin menyampaikan wasiat Ibu saya.”

Nizar menatapnya tanpa ekspresi. “Kalau begitu, tugasmu sudah selesai.”

“Nizar!” suara Suryani meninggi.

Esma mengambil ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. Rasa malu membakar wajahnya.

“Terima kasih sudah menerima saya, Bu. Saya permisi.”

Ia melangkah cepat menuju pintu. Namun sebelum sempat keluar, tubuhnya tiba-tiba limbung. Pandangannya menggelap. Suara Suryani yang memanggil namanya terdengar semakin jauh sebelum semuanya benar-benar lenyap.

Ketika membuka mata, Esma mendapati dirinya berada di sebuah kamar. Kepalanya terasa berat. Di dekat tempat tidur, Suryani duduk dengan wajah cemas.

“Kamu pingsan karena kelelahan dan belum makan,” katanya. “Dokter sudah memeriksamu. Kamu harus istirahat.”

Esma mencoba bangun. “Saya harus kembali ke Jakarta.”

“Kamu tidak mungkin pergi dalam keadaan seperti ini.”

“Saya tidak ingin merepotkan.”

“Kamu tidak merepotkan saya.” Suryani menggenggam tangannya. “Ibumu pernah menyelamatkan hidup saya. Setidaknya biarkan saya merawat anaknya malam ini.”

Esma menatapnya bingung. “Menyelamatkan hidup Ibu?”

Suryani menarik napas panjang. Ia bercerita bahwa bertahun-tahun lalu, saat mereka masih kuliah, Suryani pernah mengalami kecelakaan serius. Sinta mendonorkan darah dan mendampinginya selama masa pemulihan. Namun setelah menikah dan pindah kota, hubungan mereka perlahan terputus.

“Sinta adalah satu-satunya orang yang tetap bersamaku saat keluargaku hampir kehilangan segalanya,” ujar Suryani. “Saya berutang lebih dari sekadar nyawa kepadanya.”

Malam itu, Esma tinggal di rumah tersebut. Ia mendapatkan kamar tamu di lantai dua. Meskipun lelah, ia tidak bisa tidur. Penolakan Nizar terus terngiang di kepalanya.

Menjelang tengah malam, terdengar suara pintu dibuka. Esma keluar kamar dan melihat Nizar baru pulang. Pria itu berhenti ketika menyadari Esma berdiri di ujung lorong.

“Kamu masih di sini?” tanyanya.

“Ibu kamu meminta saya menginap.”

Nizar menghela napas. “Dengar, saya minta maaf kalau tadi bicara terlalu kasar. Tapi saya sudah punya kehidupan sendiri.”

“Saya mengerti.”

“Saya juga sedang bertunangan.”

Esma terkejut, tetapi berusaha menyembunyikannya.

“Kalau begitu, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan,” jawabnya.

Esma kembali ke kamar, sementara Nizar berdiri memandang punggungnya. Untuk pertama kalinya, ada keraguan di matanya.

Keesokan paginya, Esma bersiap pulang. Namun ketika turun ke ruang makan, ia mendengar suara perempuan yang berbicara dengan nada tinggi.

“Jadi dia perempuan yang datang membawa wasiat itu?”

Seorang perempuan muda berdiri di samping Nizar. Penampilannya elegan, dengan gaun krem dan tas mahal. Ia memperkenalkan diri sebagai Celine, tunangan Nizar.

Celine menatap Esma dengan senyum tipis.

“Kamu datang jauh-jauh dari Jakarta untuk menagih pernikahan?” tanyanya.

“Saya datang untuk memenuhi pesan ibu saya.”

“Bukankah itu sama saja?”

“Celine, cukup,” ujar Nizar.

Namun Celine justru mendekat. “Saya hanya ingin memastikan dia tidak salah paham. Nizar akan menikah dengan saya dua bulan lagi.”

Esma menatap Nizar. Pria itu tidak membantah.

“Saya tidak akan mengganggu hubungan kalian,” kata Esma. “Saya akan pulang hari ini.”

Suryani yang baru memasuki ruangan langsung menyela. “Tidak. Esma belum boleh pulang.”

Celine mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Karena ada sesuatu yang harus saya selesaikan.”

Suryani kemudian membawa mereka ke ruang kerja. Ia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah kotak kayu tua. Di dalamnya terdapat surat-surat lama, foto, dan satu dokumen yang dibungkus kain.

“Sinta mengirimkan ini kepada saya dua puluh tiga tahun lalu,” katanya. “Dia meminta saya membukanya hanya jika Esma datang.”

Nizar menatap ibunya tajam. “Kenapa Ibu tidak pernah bilang?”

“Karena saya pikir Esma tidak akan pernah datang.”

Suryani menyerahkan amplop itu kepada Esma. Di bagian depan tertulis namanya dengan tulisan tangan sang ibu.

Esma membuka surat itu dengan jemari gemetar.

Esma, jika kamu membaca surat ini, berarti Ibu sudah tidak ada dan kamu telah bertemu Nizar. Ibu tahu kamu mungkin marah. Namun perjodohan ini bukan tentang memaksamu menikah. Ibu hanya ingin kamu datang ke rumah itu agar sebuah kebenaran akhirnya terbuka.

Esma berhenti membaca. Napasnya tercekat.

Ia melanjutkan.

Kamu bukan anak kandung Ibu. Dua puluh empat tahun lalu, Ibu menemukanmu di depan rumah sakit setelah seorang perempuan melahirkan dan meninggalkanmu. Perempuan itu adalah kakak Suryani, Ratih.

Ruangan mendadak sunyi.

Suryani menutup matanya, menahan tangis. Nizar menatap ibunya dengan wajah tak percaya.

Surat itu menjelaskan bahwa Ratih hamil saat masih sangat muda. Keluarga besar menolak bayi itu karena takut nama mereka tercemar. Sinta, yang saat itu bekerja sebagai perawat, membawa Esma dan membesarkannya sebagai anak sendiri. Ratih kemudian pergi ke luar negeri dan tak pernah kembali.

“Jadi…” suara Esma bergetar. “Saya datang ke sini bukan untuk menikah?”

Suryani menggeleng sambil menangis. “Kamu adalah keponakan saya.”

Nizar membeku. Celine memandang mereka satu per satu dengan wajah pucat.

Esma merasa lantai di bawah kakinya seolah runtuh. Seluruh hidupnya berubah hanya dalam beberapa lembar kertas. Ibu yang selama ini ia kenal ternyata bukan ibu kandungnya. Dan lelaki yang diminta menikah dengannya ternyata masih memiliki hubungan keluarga.

“Kenapa Ibu saya menulis saya harus menikah dengannya?” tanya Esma.

Suryani menunjukkan bagian belakang surat. Di sana ada kalimat tambahan.

Maafkan Ibu karena menggunakan kata pernikahan untuk memaksamu datang. Ibu tahu, tanpa alasan yang kuat, kamu tidak akan pernah mencari mereka. Jangan menikah dengan Nizar. Carilah siapa dirimu, tetapi ingatlah, keluarga bukan hanya tentang darah. Keluarga adalah orang yang memilih untuk tetap tinggal.

Esma menangis. Bukan hanya karena terkejut, tetapi karena akhirnya memahami ketakutan ibunya. Sinta tahu Esma tidak akan datang jika hanya diminta mencari keluarga kandung. Ia juga tahu waktunya tidak banyak.

Suryani memeluk Esma. “Maafkan kami. Seharusnya saya mencarimu sejak dulu.”

Esma tidak langsung membalas pelukan itu. Terlalu banyak rasa sakit yang harus dipahaminya.

Di tengah keheningan, Celine tiba-tiba mengambil tasnya.

“Kalau begitu masalahnya selesai,” katanya. “Dia bukan calon istrimu.”

Namun sebelum pergi, ponselnya jatuh dari meja. Layarnya menyala dan menampilkan percakapan dengan seseorang bernama Daniel. Nizar tanpa sengaja melihat potongan pesan yang berbunyi tentang pemindahan dana perusahaan dan rencana kabur setelah pernikahan.

Wajah Nizar berubah.

“Celine, apa ini?”

Celine buru-buru mengambil ponselnya. “Bukan urusanmu.”

Nizar merebutnya dan membaca pesan-pesan lain. Ternyata selama ini Celine dan Daniel, kepala keuangan perusahaan Nizar, telah mencuri uang secara bertahap. Pernikahan itu hanya bagian dari rencana agar Celine mendapatkan akses lebih besar terhadap aset keluarga.

Celine mencoba menyangkal, tetapi bukti percakapan terlalu jelas. Ia akhirnya meninggalkan rumah dengan marah setelah Nizar mengatakan akan melaporkan semuanya kepada polisi.

Setelah kepergiannya, Nizar duduk terpaku. Dalam satu pagi, ia kehilangan tunangan dan menemukan seorang sepupu yang selama ini tidak pernah ia ketahui.

Ia menatap Esma dengan rasa bersalah.

“Saya minta maaf,” katanya. “Saya menilaimu sebelum mengenalmu.”

Esma menghapus air matanya. “Saya juga datang dengan banyak ketakutan.”

Hari itu, ia tidak langsung kembali ke Jakarta. Suryani memintanya tinggal beberapa hari agar mereka bisa mencari informasi tentang Ratih. Dari dokumen lama, mereka menemukan bahwa Ratih ternyata telah kembali ke Indonesia tiga tahun sebelumnya dan tinggal di sebuah panti perawatan di Salatiga.

Mereka pergi ke sana bersama-sama.

Di sebuah kamar sederhana, Esma akhirnya bertemu perempuan yang melahirkannya. Ratih sudah sakit dan sulit berbicara, tetapi ketika melihat Esma, air matanya langsung mengalir.

“Kamu mirip Sinta,” bisiknya.

Kalimat itu justru membuat hati Esma tenang. Ia tidak marah. Ia juga tidak merasa harus segera memanggil Ratih dengan sebutan ibu.

Ia hanya duduk di samping ranjang dan menggenggam tangannya.

“Saya sudah punya seorang ibu,” kata Esma lembut. “Namanya Sinta Rahmah. Tapi saya datang untuk mendengar cerita Ibu.”

Ratih menangis semakin keras.

Beberapa bulan kemudian, Esma memutuskan pindah ke Semarang. Bukan untuk menikah dengan Nizar, melainkan untuk memulai hidup baru. Ia tetap mengajar dan secara rutin mengunjungi Ratih bersama Suryani.

Hubungannya dengan Nizar pun berubah menjadi persahabatan yang hangat. Mereka sering bertengkar kecil seperti saudara yang baru belajar mengenal satu sama lain. Nizar membantu Esma mengurus dokumen keluarga, sementara Esma membantu Nizar bangkit setelah pengkhianatan Celine.

Pada peringatan seratus hari wafatnya Sinta, mereka kembali ke Jakarta dan berdiri di depan makamnya.

Esma menaburkan bunga melati di atas tanah yang kini mulai ditumbuhi rumput.

“Ibu berhasil,” bisiknya. “Esma akhirnya menemukan mereka.”

Nizar berdiri di sampingnya. “Tante Sinta tidak benar-benar menjodohkan kita. Dia hanya merancang pertemuan paling rumit yang pernah ada.”

Esma tersenyum di tengah air mata.

“Karena Ibu tahu aku keras kepala.”

Angin berembus lembut, membawa aroma bunga dan tanah basah. Untuk pertama kalinya sejak kepergian Sinta, Esma tidak hanya merasakan kehilangan. Ia juga merasakan kehadiran sang ibu melalui orang-orang yang kini berdiri di sekelilingnya.

Wasiat itu memang dimulai dengan sebuah kebohongan tentang pernikahan. Namun dari kebohongan kecil itulah, Esma menemukan kebenaran terbesar dalam hidupnya.

Ia belajar bahwa darah dapat menjelaskan dari mana seseorang berasal, tetapi kasih sayanglah yang menentukan di mana seseorang benar-benar pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang