Suara monitor jantung berdetak pelan memenuhi ruang VIP yang nyaris tak pernah berubah selama lima tahun terakhir. Semua orang mengira Siska hanyalah tubuh tanpa jiwa, seorang perempuan kaya yang hanya menunggu ajal datang. Tidak ada yang tahu bahwa di balik kelopak mata yang tak pernah terbuka itu, kesadarannya tetap hidup. Ia mendengar setiap bisikan, setiap penghinaan, bahkan setiap rencana pembunuhan yang disusun suaminya sendiri bersama perawat yang dipercaya merawatnya.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, secercah harapan akhirnya muncul.
Dr. Kevin menggenggam tabung spesimen yang berisi tablet putih tersebut seolah sedang membawa nyawa seseorang.

“Aku akan langsung ke laboratorium.”
Dr. Seto mengangguk.
“Jangan beri tahu siapa pun. Bahkan direktur rumah sakit sekalipun. Kalau memang ada permainan di balik semua ini, kita tidak tahu siapa saja yang terlibat.”
Kevin langsung meninggalkan rumah sakit melalui pintu belakang agar tidak menarik perhatian.
Sementara itu, di sebuah restoran mewah tidak jauh dari rumah sakit, Adrian sedang duduk berhadapan dengan Sari. Keduanya tampak santai menikmati makan siang.
“Sudah diminum?” tanya Adrian pelan.
Sari tersenyum tipis.
“Seperti biasa. Tidak ada yang curiga.”
Adrian menghela napas lega.
“Tinggal beberapa minggu lagi. Setelah dosisnya dinaikkan, organ tubuhnya akan mulai gagal perlahan. Semua akan dianggap komplikasi pasien koma.”
Sari mengangguk.
“Dokumen warisan juga sudah siap?”
“Semuanya sudah diurus. Begitu dokter menyatakan Siska meninggal, seluruh aset otomatis menjadi milikku.”
Mereka saling tersenyum puas.
Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajah keduanya.
Yang tidak mereka sadari, seorang pelayan restoran diam-diam memotret mereka dari kejauhan.
Pelayan itu bukan orang biasa.
Namanya Rendra, mantan penyelidik kepolisian yang kini bekerja paruh waktu setelah pensiun dini. Ia mengenali wajah Adrian karena pernah menangani kasus penggelapan perusahaan beberapa tahun lalu, meski saat itu Adrian lolos karena kurang bukti.
Entah mengapa, naluri lamanya kembali muncul.
Ia mengirim foto itu kepada seorang teman yang masih bertugas di kepolisian.
“Simpan dulu. Perasaanku tidak enak melihat orang ini.”
Sore harinya, hasil laboratorium keluar lebih cepat dari perkiraan.
Dr. Kevin membaca laporan itu berkali-kali.
Wajahnya pucat.
“Mustahil…”
Dr. Seto mengambil laporan tersebut.
Di bagian analisis toksikologi tertulis bahwa tablet itu mengandung senyawa neurotoksin sintetis yang tidak pernah digunakan dalam terapi pasien koma. Dalam dosis kecil, zat itu tidak mematikan, tetapi mampu merusak sistem saraf secara perlahan sehingga korban tetap hidup namun kehilangan kemampuan menggerakkan tubuh.
Yang lebih mengejutkan lagi, jejak senyawa tersebut menunjukkan akumulasi penggunaan bertahun-tahun.
“Itu berarti…” gumam Kevin.
Dr. Seto menatap kosong ke arah jendela.
“Siska mungkin sebenarnya sudah bisa sadar sejak lama.”
Ruangan mendadak sunyi.
Lima tahun.
Selama lima tahun seseorang dengan sengaja mempertahankan tubuh Siska dalam keadaan lumpuh.
Kevin mengepalkan tangan.
“Ini bukan percobaan pembunuhan.”
Dr. Seto mengangguk pelan.
“Ini penyiksaan.”
Malam itu juga mereka melapor secara rahasia kepada unit kejahatan khusus kepolisian.
Komisaris Arman mempelajari seluruh bukti.
“Kita belum bisa menangkap mereka.”
Kevin langsung berdiri.
“Kenapa?”
“Kita baru punya satu tablet. Pengacara mereka akan bilang itu kesalahan prosedur. Kita butuh bukti bahwa tindakan ini sudah berlangsung bertahun-tahun.”
“Lalu?”
“Kita biarkan mereka merasa aman.”
Kevin terdiam.
Arman melanjutkan,
“Mulai malam ini kamar Bu Siska dipasang kamera tersembunyi.”
Hari-hari berikutnya berubah menjadi permainan yang menegangkan.
Sari tetap datang setiap pagi.
Ia masih memasukkan obat misterius ke mulut Siska dengan wajah penuh kepedulian.
Namun kali ini setiap gerakannya terekam.
Setiap tablet langsung diambil diam-diam oleh tim dokter setelah ia keluar.
Selama tujuh hari berturut-turut, laboratorium menemukan kandungan racun yang sama.
Bukti mulai menumpuk.
Tetapi Komisaris Arman masih belum bergerak.
“Aku ingin tahu siapa otaknya.”
Jawabannya datang lebih cepat dari dugaan.
Suatu malam Adrian datang sendirian.
Ia memastikan lorong rumah sakit sepi sebelum masuk ke kamar.
Siska mendengar langkah kaki suaminya mendekat.
Adrian duduk di samping ranjang.
“Aku capek, Sis.”
Ia tertawa pelan.
“Aku capek pura-pura jadi suami yang setia.”
Ia mengusap rambut istrinya.
“Dulu aku memang menikahimu karena uang.”
Ia menarik napas panjang.
“Ayahmu terlalu pintar. Selama kamu masih hidup, semua aset tetap atas namamu.”
Ia tersenyum dingin.
“Makanya kamu harus mati.”
Air mata mengalir pelan dari sudut mata Siska.
Sudah lima tahun ia tidak mampu menangis.
Kini tubuhnya mulai memberikan respons kecil.
Adrian tidak menyadarinya.
Ia justru melanjutkan,
“Setelah semua selesai, aku akan menikahi Sari.”
Ia mencium kening Siska.
“Terima kasih sudah membuatku kaya.”
Kalimat itu terekam jelas oleh kamera tersembunyi.
Keesokan harinya polisi bersiap melakukan penangkapan.
Namun sebelum operasi dimulai, sesuatu yang tak pernah diperkirakan terjadi.
Siska membuka jarinya.
Dr. Kevin yang sedang memeriksa denyut nadi langsung membeku.
“Dok!”
Dr. Seto berlari masuk.
Mereka menyaksikan jari telunjuk Siska bergerak pelan.
Kemudian bibirnya bergetar.
Monitor jantung menunjukkan peningkatan aktivitas.
“Dia mulai sadar!”
Tim medis segera bekerja.
Selama berjam-jam mereka menstabilkan kondisi Siska.
Menjelang malam, kelopak matanya akhirnya bergerak.
Perlahan…
Sangat perlahan…
Siska membuka mata.
Cahaya lampu membuatnya menyipit.
Air mata langsung mengalir tanpa bisa ditahan.
Dr. Kevin menunduk menahan haru.
“Selamat datang kembali, Bu.”
Suara Siska nyaris tak terdengar.
“Sudah… berapa lama…”
“Lima tahun.”
Tangisnya pecah.
Beberapa hari kemudian polisi resmi menangkap Adrian dan Sari.
Mereka berusaha menyangkal semuanya.
Namun rekaman kamera, hasil laboratorium, rekam medis, serta pengakuan Adrian yang terekam jelas membuat keduanya tidak lagi memiliki jalan keluar.
Media nasional segera memberitakan kasus tersebut.
Indonesia diguncang oleh kisah seorang perempuan yang dipenjara di dalam tubuhnya sendiri selama lima tahun demi harta warisan.
Publik marah.
Persidangan berlangsung berbulan-bulan.
Sari akhirnya mengakui semuanya.
Adrian adalah orang yang pertama kali meminta bantuan.
Ia menyuap Sari dalam jumlah sangat besar untuk mengganti obat-obatan resmi dengan racun yang perlahan melumpuhkan sistem saraf Siska.
Sebagai imbalannya, setelah Siska meninggal, Adrian berjanji akan menikahinya dan memberikan sebagian besar kekayaan keluarga.
Namun kejutan terbesar justru muncul pada hari terakhir persidangan.
Pengacara keluarga Siska menyerahkan sebuah amplop kepada hakim.
“Itu apa?” tanya Adrian panik.
Hakim membuka dokumen tersebut.
Isi ruangan langsung hening.
Ternyata lima tahun sebelum mengalami koma, Siska diam-diam telah mengubah seluruh struktur kepemilikan perusahaannya.
Bukan kepada Adrian.
Bukan pula kepada keluarganya.
Seluruh saham mayoritas telah dipindahkan ke sebuah yayasan pendidikan dan rumah sakit amal yang dibentuk atas nama kedua orang tuanya.
Selama ini Adrian hanya mengetahui sebagian kecil aset yang masih tercatat atas nama pribadi Siska.
Sebagian besar kekayaannya sebenarnya sudah tidak pernah bisa diwariskan kepadanya.
Hakim menatap Adrian.
“Jadi bahkan jika korban meninggal lima tahun lalu, Anda tetap tidak akan pernah menjadi pemilik kekayaan yang Anda incar.”
Wajah Adrian seketika kehilangan warna.
“Tidak mungkin…”
Ia terduduk lemas.
Semua pengkhianatan, semua kebohongan, semua kejahatan yang ia lakukan selama lima tahun ternyata sia-sia.
Ia telah menghancurkan hidup seseorang demi harta yang sejak awal tidak pernah bisa ia miliki.
Beberapa bulan setelah vonis dijatuhkan, Siska mulai menjalani terapi intensif.
Tubuhnya memang belum pulih sepenuhnya.
Ia masih belajar berjalan dengan bantuan alat.
Namun setiap langkah kecil terasa seperti kemenangan.
Suatu sore ia berdiri di halaman rumah sakit amal yang kini dikelola oleh yayasan keluarganya.
Anak-anak dari keluarga kurang mampu berlarian sambil tertawa.
Dr. Kevin menghampirinya.
“Apakah Ibu pernah membenci semua yang sudah terjadi?”
Siska tersenyum tipis sambil memandang langit senja.
“Dulu iya.”
“Lalu sekarang?”
“Kalau semua itu tidak terjadi, mungkin aku tidak akan pernah tahu siapa yang benar-benar mencintaiku dan untuk apa sebenarnya kekayaan ini harus digunakan.”
Ia melangkah perlahan menuju pintu rumah sakit.
Setiap langkah memang masih terasa berat.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah lima tahun hidup dalam kegelapan, langkah itu benar-benar menuju kehidupan yang baru.
