Pintu kamar barak itu belum sempat kubuka lagi ketika terdengar suara langkah sepatu lars menghantam lantai koridor dengan irama yang teratur. Suara itu semakin dekat, semakin jelas, seolah setiap hentakannya menghitung mundur sisa kebebasanku. Dadaku naik turun. Untuk pertama kalinya sejak mengenakan seragam, aku benar-benar merasakan ketakutan.
Tok.
Tok.
Tok.
“Lettu Pandu, buka pintunya.”
Suara tegas itu membuat tenggorokanku tercekat. Aku mengenali pemilik suara tersebut. Mayor Dimas dari Detasemen Provos.

Aku menatap jendela. Lantai dua. Mustahil melompat tanpa menarik perhatian seluruh kompleks barak. Aku menatap pintu lagi, lalu ke seragam yang masih berserakan di lantai bersama micro-transmitter yang kini tampak seperti benda paling mengerikan di dunia.
“Lettu Pandu. Kami beri waktu lima detik.”
Aku memejamkan mata.
Satu…
Dua…
Tiga…
Empat…
Lima.
Pintu didobrak.
Empat personel Provos masuk dengan gerakan cepat. Mayor Dimas berdiri paling depan, wajahnya datar tanpa sedikit pun emosi.
“Lettu Pandu Prasetyo.”
Aku berusaha berdiri tegak. “Siap.”
“Anda ikut kami.”
“Apa tuduhannya?”
Mayor Dimas tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan sebuah tablet, menekan layar, lalu memutar rekaman suara.
“…Aku akan pastikan Gendis jatuh lebih dalam dari lumpur yang pernah ia tempati…”
Suara itu adalah suaraku sendiri.
Ruangan mendadak terasa begitu sunyi.
Mayor Dimas mematikan rekaman.
“Masih ingin bertanya?”
Aku tidak sanggup menjawab.
Tanganku diborgol. Bukan karena aku melawan, melainkan karena prosedur.
Saat keluar dari barak, puluhan pasang mata menatapku. Beberapa perwira muda yang selama ini sering nongkrong bersamaku hanya terdiam. Ada yang pura-pura sibuk melihat ponsel. Ada pula yang menggeleng pelan.
Tidak ada satu pun yang membelaku.
Di ruang pemeriksaan, aku baru mengetahui bahwa semua yang kulakukan sejak siang telah menjadi bagian dari operasi intelijen.
Mayor Jenderal Baskara ternyata sengaja membiarkanku pulang.
Sengaja membiarkanku berbicara.
Sengaja membiarkanku mengungkap semua kebencianku.
Aku merasa seperti ikan yang mengira berhasil lolos dari kail, padahal sedang ditarik perlahan menuju perahu.
“Siapa yang memasang alat penyadap itu?” tanyaku dengan suara serak.
Mayor Dimas menatapku beberapa detik.
“Kamu benar-benar tidak sadar?”
Aku menggeleng.
“Hari ini, saat kamu memaksa menarik tangan Saudari Gendis di lapangan upacara.”
Ingatan itu kembali.
Saat Baskara melepaskan cengkeramanku dari lengan Gendis, tangannya sempat menepuk pundakku.
Tepukan singkat.
Sangat singkat.
Aku bahkan menganggapnya sekadar bentuk penghinaan.
Ternyata saat itulah alat itu dipasang.
Aku tertawa pelan.
Tawa putus asa.
Seorang jenderal intelijen tidak membutuhkan kekerasan untuk menjatuhkan lawan. Cukup membuat lawannya merasa aman, lalu membiarkannya menghancurkan diri sendiri.
Di sisi lain kota, Gendis duduk di balkon rumah dinas tamu milik Kodam. Angin malam mengibaskan rambut panjangnya. Ia memandangi lampu-lampu kota tanpa berkata apa pun.
Baskara datang membawa dua cangkir teh hangat.
“Masih belum bisa tidur?”
Gendis menerima cangkir itu.
“Terima kasih.”
Beberapa menit mereka hanya diam.
“Apa Anda sudah menerima laporannya?” tanya Gendis pelan.
Baskara mengangguk.
“Sudah.”
“Dia ditangkap?”
“Sedang diperiksa.”
Gendis menunduk.
“Aneh ya.”
“Apa yang aneh?”
“Aku pikir kalau suatu hari Pandu mendapat balasan atas semua perbuatannya, aku akan merasa puas.”
“Lalu?”
“Ternyata tidak.”
Baskara memandang perempuan itu dengan tenang.
“Aku cuma merasa lelah.”
Suara Gendis hampir berbisik.
“Selama tujuh tahun aku selalu berpikir aku yang kurang cantik. Aku yang kurang pintar. Aku yang kurang pantas dicintai.”
Air mata jatuh perlahan.
“Ternyata bukan itu masalahnya.”
Baskara tidak menyela.
“Masalahnya adalah aku terus memaksa bertahan pada orang yang memang tidak pernah menghargai keberadaanku.”
Baskara menyerahkan sapu tangan.
“Kamu tidak kehilangan orang yang mencintaimu.”
Gendis menatapnya.
“Kamu hanya kehilangan orang yang memanfaatkanmu.”
Kalimat itu membuat dadanya sesak.
Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, ia menangis bukan karena disakiti, melainkan karena akhirnya mengerti bahwa dirinya tidak pernah salah menjadi orang baik.
Keesokan paginya, pemeriksaan Pandu berlanjut.
Satu per satu fakta mulai bermunculan.
Rekaman ancamannya.
Pengakuannya tentang motif meninggalkan Gendis demi status sosial.
Percakapannya bersama Bu Ratna yang berniat menyebarkan fitnah.
Sampai laporan keuangan yang menunjukkan ia pernah menerima sejumlah uang dari seorang pengusaha yang sedang diselidiki.
Pandu mulai panik.
“Itu cuma hadiah!”
Penyidik meletakkan sebuah map baru.
“Hadiah yang ditransfer tiga hari setelah Anda membantu mempercepat izin pengamanan proyek.”
Pandu terdiam.
Ia sadar lubang yang selama ini ia gali ternyata jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan.
Sementara itu, Bu Ratna dan Siska mulai merasakan dampaknya.
Rumah mereka didatangi beberapa wartawan.
Tetangga mulai berbisik-bisik.
Video pertengkaran di lapangan upacara yang direkam warga sudah menyebar ke media sosial.
Nama Siska ikut menjadi bahan pembicaraan.
Ia menangis sepanjang hari.
“Bu… bagaimana kalau Mas Pandu benar-benar dipecat?”
Bu Ratna tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mulai menyalahkan dirinya sendiri.
Selama bertahun-tahun ia memuji Siska setinggi langit dan merendahkan Gendis habis-habisan.
Ia menganggap kecantikan adalah modal utama seorang perempuan.
Ia percaya perempuan baik adalah perempuan yang bisa mendapatkan lelaki berpangkat.
Kini semua keyakinan itu runtuh.
Lelaki berpangkat itu justru menjadi awal kehancuran keluarganya.
Pak Harto yang sedari dulu lebih banyak diam akhirnya berdiri dari kursinya.
“Sudah cukup.”
Bu Ratna menoleh.
“Lho, Bapak mau ke mana?”
“Mencari Gendis.”
Bu Ratna langsung memegang lengannya.
“Buat apa? Dia pasti tidak mau menemui kita.”
Pak Harto menarik napas panjang.
“Selama ini aku gagal menjadi ayah.”
Matanya mulai memerah.
“Aku melihat anakku diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.”
“Aku tahu.”
“Aku diam.”
“Sekarang aku tidak ingin terlambat lagi.”
Tanpa menoleh, lelaki tua itu melangkah keluar.
Perjalanan menuju rumah dinas terasa sangat panjang.
Ketika akhirnya bertemu Gendis, ia hanya berdiri beberapa meter di depan putrinya.
Tidak ada kata-kata selama beberapa detik.
Kemudian Pak Harto berlutut.
“Gendis…”
Suara lelaki tua itu pecah.
“Maafkan Bapak.”
Gendis terkejut.
“Bapak…”
“Bapak bukan ayah yang baik.”
“Bapak tahu.”
“Bapak lihat semua penderitaanmu.”
“Tapi Bapak terlalu pengecut untuk melawan.”
Tangisan lelaki tua itu membuat mata para prajurit yang berjaga ikut berkaca-kaca.
Gendis segera mengangkat tubuh ayahnya.
“Jangan begitu, Pak.”
“Bapak tetap ayahku.”
Pak Harto menggenggam tangan putrinya erat-erat.
“Boleh Bapak memperbaiki semuanya?”
Gendis memeluknya.
“Tidak ada kata terlambat.”
Dari kejauhan, Baskara menyaksikan pemandangan itu tanpa mengganggu.
Ia tersenyum tipis.
Kadang kemenangan terbesar bukanlah ketika musuh jatuh, melainkan ketika seseorang berhasil mendapatkan kembali keluarganya.
Seminggu kemudian, sidang etik militer digelar secara tertutup.
Putusannya tegas.
Lettu Pandu diberhentikan dengan tidak hormat dari dinas militer.
Selain itu, berkas dugaan tindak pidana korupsi dan penyalahgunaan wewenang dilimpahkan kepada aparat penegak hukum.
Saat keluar dari ruang sidang, Pandu sudah tidak lagi mengenakan seragam.
Ia hanya memakai kemeja putih sederhana.
Beberapa wartawan menyorotkan kamera.
“Pak Pandu! Apa tanggapan Anda?”
Ia terus berjalan.
Tidak ada lagi langkah tegap seorang perwira.
Yang tersisa hanyalah seorang pria yang kehilangan semua hal yang dulu membuatnya sombong.
Di hari yang sama, Gendis menerima surat resmi pengangkatan sebagai kepala program pendidikan karakter di bawah yayasan yang bekerja sama dengan Kodam.
Ia menatap surat itu lama.
Dulu ia diusir karena dianggap tidak berguna.
Hari ini kemampuannya justru dipercaya untuk mendidik generasi muda.
Baskara menghampirinya.
“Selamat.”
Gendis tersenyum.
“Terima kasih.”
“Bukan karena saya.”
“Karena kamu memang layak.”
Beberapa bulan kemudian, sebuah acara penghargaan pendidikan digelar di Jakarta.
Di atas panggung, Gendis menerima penghargaan atas dedikasinya membangun sekolah-sekolah di daerah terpencil.
Ketika namanya dipanggil, seluruh ruangan berdiri memberikan tepuk tangan.
Di antara para tamu, Pak Harto menangis haru.
Bu Ratna ikut hadir.
Wajahnya penuh penyesalan.
Usai acara, ia mendekati Gendis dengan langkah ragu.
“Gendis…”
Perempuan itu menoleh.
“Aku tidak pantas meminta maaf.”
“Tapi…”
“Terima kasih karena masih mengizinkan kami datang.”
Gendis tersenyum lembut.
“Dendam tidak akan mengubah masa lalu.”
“Tapi memaafkan bisa mengubah masa depan.”
Bu Ratna menangis tanpa suara.
Di sisi lain kota, Pandu melihat siaran langsung acara itu dari layar televisi kecil di ruang kontrakannya.
Ia memandangi Gendis yang kini berdiri dengan penuh percaya diri.
Perempuan yang dulu ia hina.
Perempuan yang ia anggap tidak pantas.
Kini menjadi sosok yang dihormati banyak orang.
Ia mematikan televisi perlahan.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa yang hilang darinya bukan sekadar pangkat atau jabatan.
Yang benar-benar hilang adalah kesempatan mencintai seseorang yang selama ini selalu mencintainya dengan tulus.
Dan kesempatan seperti itu tidak pernah datang dua kali.
Di luar jendela, hujan turun perlahan membasahi kota.
Sebagian orang menganggap hujan sebagai akhir sebuah hari.
Namun bagi Gendis, hujan malam itu adalah pertanda bahwa setelah badai yang paling gelap sekalipun, langit selalu menemukan caranya sendiri untuk kembali menjadi terang.
