Aku menatap kemeja putih yang diremas Mas Faiz hingga kusut. Air sabun menetes dari ujung kain, jatuh satu per satu ke lantai kamar mandi yang lembap.
“Jawab aku!” bentaknya. “Kamu menemui laki-laki mana?”
“Aku tidak menemui laki-laki mana pun.”
“Terus pakaian ini buat apa?”
“Aku ikut ujian kerja.”
Untuk beberapa detik, kamar mandi itu mendadak sunyi. Hanya suara tetesan air dari keran rusak yang terdengar.
Mas Faiz menatapku seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang paling tidak masuk akal di dunia. Lalu ia tertawa pendek, penuh ejekan.

“Ujian kerja?”
“Iya.”
“Kerja apa?”
“Staf teknik di perusahaan konstruksi milik negara. Hari ini tahap akhir.”
Wajah Mas Faiz berubah. Bukan karena bangga, melainkan karena tersinggung.
“Kamu melamar kerja tanpa izin suami?”
“Aku sudah pernah minta izin tiga kali.”
“Dan aku sudah bilang tidak!”
“Karena Mas bilang Rara tidak boleh ditinggal. Tapi setiap hari aku juga yang mengurus rumah, memasak, mencuci, memijat Ibu, dan mencari pinjaman untuk kebutuhan sekolah Rara.”
Mas Faiz melempar kemeja itu ke lantai.
“Jangan pintar bicara! Kamu itu istriku. Tugasmu menurut.”
Aku memandangi pakaian yang tergeletak di antara busa sabun. Anehnya, kali ini aku tidak merasa takut. Selama bertahun-tahun, suara kerasnya selalu membuat tubuhku gemetar. Malam itu, yang kurasakan justru kelelahan yang sudah terlalu lama mengendap.
“Aku juga manusia, Mas.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Mas Faiz mendekat hingga tubuhku terimpit antara dinding dan bak mandi.
“Jadi sekarang kamu merasa hebat karena pernah kuliah teknik?”
“Aku tidak merasa hebat. Aku hanya ingin bekerja supaya Rara bisa sekolah.”
“Jangan bawa-bawa Rara! Aku ayahnya. Aku tahu apa yang terbaik buat dia.”
“Kalau begitu, kenapa uang sekolahnya tidak pernah Mas pikirkan?”
Rahangnya mengeras.
“Aku punya banyak kebutuhan.”
“Rokok, cicilan motor baru, nongkrong, dan mengirim uang ke teman-teman Mas?”
Tangan Mas Faiz terangkat. Aku refleks memejamkan mata.
Namun sebelum apa pun terjadi, terdengar suara kecil dari belakang pintu.
“Ayah, jangan marahi Ibu.”
Rara berdiri di lorong dengan wajah pucat. Boneka kelinci lusuh dipeluk erat di dadanya. Matanya berkaca-kaca.
Mas Faiz menurunkan tangannya, lalu berbalik dengan kesal.
“Masuk kamar!”
Rara tersentak.
Aku segera menghampirinya dan memeluk bahunya.
“Rara tidur sama Ibu malam ini.”
“Kamu jangan ngajarin anak melawan ayahnya!” bentak Mas Faiz.
Aku tidak menjawab. Aku membawa Rara masuk ke kamar, mengunci pintu, lalu duduk di lantai sambil memeluknya sampai napasnya kembali tenang.
“Ibu pergi ujian supaya bisa belikan Rara tas sekolah?” tanyanya polos.
Aku menggigit bibir agar tidak menangis.
“Iya, Sayang.”
“Kalau Ibu kerja, Rara boleh sekolah?”
“Boleh.”
“Rara mau sekolah. Rara mau bisa baca buku sendiri.”
Malam itu aku menyadari sesuatu. Selama ini aku bertahan karena takut Rara tumbuh tanpa ayah. Namun tanpa kusadari, aku justru membiarkannya tumbuh di rumah yang mengajarkan bahwa perempuan tidak pantas bermimpi, tidak layak dihormati, dan harus diam ketika direndahkan.
Menjelang subuh, setelah Rara tertidur, aku mengambil ponsel tua yang kusimpan di bawah kasur. Ada tiga panggilan tak terjawab dari Mila dan satu pesan dari nomor perusahaan.
Kami menginformasikan bahwa Anda dinyatakan lulus tahap akhir. Mohon hadir besok pukul 09.00 untuk penandatanganan kontrak kerja.
Tanganku bergetar.
Aku membaca pesan itu berulang kali sampai huruf-hurufnya tampak kabur karena air mata.
Aku diterima.
Setelah enam tahun ijazahku tersimpan dalam map berdebu, setelah enam tahun kemampuanku dianggap tidak berguna, seseorang akhirnya melihatku sebagai seorang insinyur, bukan sebagai pembantu di rumah sendiri.
Pagi harinya, aku menyembunyikan ponsel di balik lipatan pakaian. Aku berencana pergi setelah menyiapkan sarapan. Namun baru saja aku masuk dapur, Bu Narti sudah berdiri di sana dengan wajah masam.
“Semalam kamu bertengkar sama Faiz?”
Aku diam sambil mencuci beras.
“Jangan mentang-mentang punya ijazah terus merasa lebih tinggi dari suami. Perempuan kalau terlalu pintar biasanya rumah tangganya hancur.”
“Rumah tangga tidak hancur karena perempuan pintar, Bu.”
Bu Narti menatapku tajam.
“Lalu karena apa?”
“Karena tidak ada rasa hormat di dalamnya.”
Tanganku masih bergerak tenang, tetapi ucapan itu membuat wajah Bu Narti memerah.
“Kamu berani menjawab Ibu?”
“Aku hanya menjawab pertanyaan.”
Ia merampas wadah beras dari tanganku dan membantingnya ke meja. Beberapa butir beras berhamburan ke lantai.
“Keluar kamu dari rumah ini kalau sudah merasa hebat!”
Aku memandang butiran beras yang berserakan. Dulu, aku pasti langsung berlutut, memungutinya satu per satu sambil meminta maaf. Pagi itu, aku justru melepaskan celemek.
“Baik, Bu.”
Bu Narti terdiam.
Aku masuk ke kamar dan mengeluarkan tas besar yang sudah kusiapkan sejak beberapa minggu lalu. Isinya hanya beberapa pakaian, dokumen penting, ijazah, akta kelahiran Rara, dan buku tabungan yang saldonya tidak sampai tiga ratus ribu rupiah.
Rara yang baru bangun menatapku.
“Kita mau ke mana, Bu?”
“Ke rumah Tante Mila dulu.”
Aku memakaikan jaket tipis kepadanya, lalu menggenggam tangannya.
Ketika kami sampai di ruang tamu, Mas Faiz baru keluar dari kamar. Rambutnya masih berantakan, wajahnya kesal.
“Mau ke mana?”
“Pergi.”
“Pergi ke mana?”
“Ke tempat yang aman untuk Rara.”
Ia tertawa meremehkan.
“Dengan uang apa? Kamu pikir dunia di luar sana gampang? Dua hari juga kamu bakal pulang sambil nangis.”
“Aku diterima kerja.”
Tawanya berhenti.
Bu Narti keluar dari dapur dengan langkah tergesa-gesa.
“Kerja apa?”
“Staf pengendalian proyek. Mulai bulan depan.”
Mas Faiz merebut tas dari tanganku dan melemparkannya ke sofa.
“Kamu tidak boleh pergi.”
“Kenapa?”
“Karena aku suamimu.”
“Mas sendiri yang mau menceraikanku.”
“Itu cuma omongan!”
“Buat Mas mungkin cuma omongan. Buatku, itu adalah bukti bahwa selama ini aku bertahan untuk orang yang tidak pernah menghargai keberadaanku.”
Aku mengambil kembali tas tersebut. Mas Faiz mencoba menghalangi pintu, tetapi tiba-tiba terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.
Mila turun dari mobil bersama seorang perempuan berusia sekitar empat puluh lima tahun. Perempuan itu memakai blus sederhana, celana panjang hitam, dan membawa map kulit berwarna cokelat.
Wajah Mas Faiz mendadak pucat.
“Bu Selvi?”
Aku mengenali nama itu. Janda kaya pemilik toko sembako yang dibicarakan Mas Faiz dan Bu Narti kemarin.
Bu Selvi masuk tanpa tersenyum.
“Saya datang bukan untuk menemui Indah,” katanya. “Saya datang untuk menemui Faiz.”
Mas Faiz berusaha tertawa.
“Wah, kebetulan sekali, Bu. Saya sebenarnya juga mau mampir ke toko.”
“Untuk membicarakan utangmu?”
Bu Narti menoleh cepat.
“Utang apa?”
Bu Selvi membuka map dan mengeluarkan beberapa lembar bukti transfer.
“Putra Ibu meminjam seratus dua puluh juta rupiah dari saya enam bulan lalu. Katanya untuk menambah modal usaha dan akan dikembalikan dalam tiga bulan.”
Aku menatap Mas Faiz. Selama ini ia selalu mengaku sebagai laki-laki mapan, tetapi untuk membeli susu Rara saja ia berkata tidak punya uang.
“Itu investasi, Bu,” kata Mas Faiz gugup. “Bukan utang.”
“Kalau investasi, kenapa kamu menjaminkan sertifikat rumah ini?”
Wajah Bu Narti berubah.
“Sertifikat rumah?”
Bu Selvi mengeluarkan fotokopi dokumen lain.
“Dia bilang rumah ini miliknya. Dia bahkan menyerahkan salinan sertifikat dan surat persetujuan istri.”
Aku mendekati dokumen itu. Di bagian bawah terdapat tanda tangan atas namaku.
“Itu bukan tanda tanganku.”
Mas Faiz langsung merebut kertas tersebut.
“Jangan asal bicara!”
“Aku tahu bentuk tanda tanganku sendiri.”
Mila yang sejak tadi berdiri di sampingku ikut melihat dokumen itu.
“Ini pemalsuan, Ndah.”
Bu Selvi mengangguk.
“Saya sudah mencurigainya sejak minggu lalu. Karena itu saya mencari informasi tentang istrinya. Ternyata kamu teman Mila.”
Mas Faiz memandang Bu Selvi dengan panik.
“Bu, kita bisa bicarakan baik-baik.”
“Saya sudah mencoba bicara baik-baik. Tapi kemarin kamu malah menanyakan jumlah cabang toko saya dan status harta saya.”
Bu Narti terdiam kaku. Rupanya ia baru sadar bahwa seluruh pembicaraan kemarin bukan rahasia lagi.
Bu Selvi melanjutkan, “Kamu bahkan bilang akan segera menjadi duda dan menawarkan pernikahan sebagai bentuk kerja sama bisnis.”
Aku menoleh kepada Mas Faiz. Jadi, bukan hanya rencana kosong. Ia benar-benar telah menawarkan dirinya kepada perempuan lain sambil masih tinggal serumah denganku.
“Aku cuma bercanda,” katanya cepat.
“Bercanda dengan uang seratus dua puluh juta dan sertifikat palsu?” Bu Selvi mengangkat alis. “Pengacara saya sudah menyiapkan laporan.”
Bu Narti langsung mendekati Bu Selvi.
“Jangan begitu, Bu. Namanya juga anak muda, mungkin salah langkah. Soal pernikahan itu bisa dibicarakan. Faiz memang sudah tidak cocok sama Indah.”
Bu Selvi menatapnya seolah tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.
“Saya datang menagih utang, bukan mencari suami.”
Mila menahan senyum. Aku sendiri tidak merasakan kepuasan. Hanya ada kehampaan besar karena akhirnya semua kepalsuan Mas Faiz terbuka dalam satu pagi.
Mas Faiz berbalik kepadaku.
“Indah, bilang sama mereka kalau tanda tangan itu memang tanda tanganmu.”
“Bukan.”
“Kalau aku dilaporkan, kamu juga yang malu!”
“Selama ini aku sudah terlalu sering menanggung malu karena perbuatan Mas.”
“Pikirkan Rara!”
Aku menatap anakku yang berdiri di samping Mila.
“Justru karena memikirkan Rara, aku tidak akan berbohong.”
Mas Faiz mencengkeram lenganku.
“Kamu istriku!”
Bu Selvi langsung berseru, “Lepaskan dia.”
Mila menarik Rara menjauh. Aku mencoba melepaskan tangan Mas Faiz, tetapi cengkeramannya semakin kuat.
“Kalau kamu keluar dari rumah ini, jangan pernah kembali!”
Aku menatap matanya.
“Aku memang tidak akan kembali.”
Aku menarik lenganku sekuat tenaga hingga terlepas, lalu berjalan menuju pintu. Bu Narti masih berteriak di belakangku, menyebutku istri tidak tahu diri, pembawa sial, dan perempuan yang menghancurkan keluarga.
Aku tidak menoleh.
Di dalam mobil Mila, Rara duduk di pangkuanku. Begitu kendaraan mulai bergerak, ia menatap rumah itu dari jendela belakang.
“Ayah tidak ikut?”
Aku menggeleng.
“Untuk sementara, tidak.”
“Karena Ayah marah?”
“Karena Ibu dan Ayah harus belajar hidup dengan pilihan masing-masing.”
Rara tampak belum sepenuhnya mengerti, tetapi ia menyandarkan kepala di dadaku.
Hari itu aku menandatangani kontrak kerja. Gajinya tidak fantastis, tetapi cukup untuk menyewa kamar kecil, membayar sekolah Rara, dan memulai kehidupan tanpa harus meminta uang belanja kepada siapa pun.
Tiga bulan kemudian, gugatan cerai resmi didaftarkan. Dengan bantuan lembaga pendamping perempuan yang dikenalkan Mila, aku juga melaporkan pemalsuan tanda tangan serta mengajukan hak asuh anak.
Mas Faiz beberapa kali datang ke tempat kerjaku. Kadang ia marah, kadang memohon. Ia mengatakan Bu Narti sakit-sakitan sejak rumah mereka terancam disita. Ia juga mengaku hanya berutang karena ingin membuka usaha besar agar kami hidup enak.
Namun aku sudah belajar bahwa penyesalan yang muncul setelah kehilangan kendali tidak selalu berarti cinta.
Suatu sore, setahun setelah aku meninggalkan rumah itu, aku menjemput Rara dari taman kanak-kanak. Ia berlari ke arahku sambil membawa selembar kertas gambar.
“Ibu, lihat!”
Di atas kertas itu ada gambar dua orang perempuan berdiri di depan sebuah gedung tinggi. Yang satu kecil memakai tas sekolah. Yang satu lagi memakai helm proyek berwarna kuning.
“Ini siapa?” tanyaku.
“Ini Rara. Ini Ibu.”
“Kenapa Ibu pakai helm?”
“Karena Ibu pintar bikin bangunan.”
Aku tersenyum sambil menahan air mata.
Di sudut kertas, ada gambar rumah kecil dengan pintu terbuka. Di depannya berdiri seorang laki-laki sendirian.
“Itu Ayah?” tanyaku pelan.
Rara mengangguk.
“Kenapa Ayah tidak bersama kita?”
Ia berpikir sebentar, lalu menjawab dengan kepolosan yang menyesakkan dada.
“Karena Ayah belum belajar bicara baik sama perempuan.”
Aku memeluknya erat.
Beberapa hari kemudian, putusan pengadilan keluar. Hak asuh Rara diberikan kepadaku. Pemalsuan tanda tangan terbukti, dan Mas Faiz diwajibkan mempertanggungjawabkan utangnya sendiri.
Namun ada satu hal yang baru kuketahui setelah proses pemeriksaan sertifikat selesai.
Rumah yang selama ini selalu disebut Bu Narti sebagai rumah milik putranya ternyata berdiri di atas tanah yang dibeli almarhum ayahku sebagai hadiah pernikahan. Nama pemilik dalam sertifikat asli bukan Faiz atau Bu Narti.
Namaku tercetak jelas di sana.
Mas Faiz rupanya hanya memegang salinan yang pernah kuberikan untuk mengurus pajak, lalu mengubah beberapa bagian untuk meyakinkan Bu Selvi.
Pengacara bertanya apakah aku ingin mengambil kembali rumah itu.
Aku memandang sertifikat tersebut cukup lama. Di rumah itu aku pernah mencintai, berharap, kelaparan, dan dipermalukan. Di sana pula Rara belajar bahwa suara ayahnya lebih menakutkan daripada suara petir.
Aku tidak ingin kembali tinggal di sana.
Tetapi aku juga tidak menyerahkannya begitu saja.
Rumah itu akhirnya dijual secara sah setelah perkara selesai. Sebagian uangnya kugunakan untuk melunasi biaya hukum dan membangun kehidupan baru. Sisanya kupakai membeli sebuah rumah kecil dekat sekolah Rara.
Pada hari pertama kami menempatinya, Rara berlari dari kamar ke ruang tamu sambil tertawa.
“Ibu, rumah ini punya siapa?”
Aku berjongkok di depannya.
“Punya kita.”
“Tidak ada yang bisa mengusir?”
“Tidak ada.”
“Rara boleh sekolah sampai tinggi?”
Aku mengusap rambutnya.
“Setinggi yang Rara mau.”
Ia memelukku erat.
Dari jendela, cahaya sore masuk dan menyinari ruang tamu yang masih kosong. Tidak ada sofa mahal, tidak ada televisi besar, bahkan meja makan kami masih berupa kardus bekas.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupku, rumah itu terasa penuh.
Penuh dengan ketenangan, harga diri, dan masa depan.
Dulu Mas Faiz tertawa karena menganggap ijazahku tidak berguna. Ia yakin aku tidak akan mampu hidup tanpa dirinya.
Ia tidak pernah memahami bahwa perempuan yang terlalu lama dipaksa berlutut bukan berarti tidak mampu berdiri.
Kadang-kadang, ia hanya sedang menunggu alasan terakhir untuk bangkit dan berjalan pergi.
