Hujan belum juga mereda ketika Satyaraka kembali membawa payung kuning yang sempat terseret angin. Kaus kakinya telah berubah kecokelatan karena menginjak tanah basah, tetapi wajahnya tetap tenang, seolah berjalan tanpa sepatu di tengah hujan bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
Ia membuka payung itu di atas kepala Gladys, lalu berdiri sedikit menjauh agar perempuan itu tidak merasa terganggu.
“Sepatumu,” kata Gladys singkat.
“Nanti bisa saya ambil lagi.”

“Aku tidak meminta penjelasan.”
Satyaraka menunduk sebentar. “Baik, Nona.”
Gladys memandangi sepatu hitam berukuran besar yang kini membungkus kakinya. Sepatu itu jelas tidak cocok dengan gaun elegan yang ia kenakan, tetapi setidaknya membuatnya mampu berjalan tanpa terjatuh.
“Aku akan mengembalikannya setelah sampai di mobil.”
“Tidak perlu terburu-buru.”
Gladys mendengus. “Kau memang selalu menjawab seperti itu?”
“Seperti apa?”
“Seolah tidak ada apa pun di dunia ini yang bisa membuatmu marah.”
Satyaraka terdiam sesaat. “Ada.”
“Apa?”
“Orang yang menyakiti mereka yang tidak mampu membela diri.”
Jawaban itu membuat Gladys menoleh. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda di mata pria itu. Bukan ketenangan seorang pegawai yang sedang menjaga sikap, melainkan kemarahan lama yang terkubur sangat dalam.
Namun sebelum Gladys sempat bertanya, suara dering telepon terdengar dari dalam tasnya.
Nama calon suaminya muncul di layar.
Darren.
Gladys menatap nama itu selama beberapa detik sebelum mengangkat panggilan.
“Kau di mana?” Suara Darren terdengar panik. “Aku sudah mencarimu ke mana-mana.”
“Kenapa? Takut permainanmu terbongkar?”
“Gladys, dengarkan aku. Apa pun yang Amy katakan, itu tidak seperti yang kau pikirkan.”
Gladys tertawa hambar. “Lucu. Semua pengkhianat selalu mengatakan kalimat yang sama.”
“Dia yang mendekatiku.”
“Lalu kau terlalu lemah untuk menolak?”
Darren terdiam.
Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
“Aku bisa menjelaskan semuanya. Kita bicara malam ini di rumahmu.”
“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”
“Jangan bertindak gegabah. Pernikahan kita tinggal dua minggu lagi. Undangan sudah tersebar, media sudah tahu, para investor juga sudah—”
Gladys menegang.
“Investor?”
Darren buru-buru mengubah nada. “Maksudku, keluarga kita sudah mempersiapkan semuanya. Jangan mempermalukan orang tua kita hanya karena kesalahpahaman kecil.”
Kesalahpahaman kecil.
Dua kata itu menampar harga diri Gladys lebih keras daripada pengkhianatan itu sendiri.
“Kau benar,” ucapnya pelan. “Aku memang tidak boleh gegabah.”
Darren mengembuskan napas lega. “Bagus. Aku tahu kau akan berpikir dewasa.”
“Aku akan membatalkan pernikahan kita dengan cara yang sangat terencana.”
“Gladys, jangan berani-berani—”
Gladys memutus panggilan.
Ponselnya kembali berdering beberapa kali, tetapi ia langsung mematikannya.
Satyaraka berdiri di sampingnya tanpa bertanya. Sikap diamnya kali ini justru terasa lebih menenangkan daripada semua nasihat yang pernah Gladys dengar.
“Mari pulang,” kata Gladys.
Satyaraka mengangguk.
Dalam perjalanan menuju mobil, Gladys merasakan puluhan pasang mata memandang mereka. Beberapa pegawai berbisik-bisik, sebagian lainnya pura-pura sibuk dengan ponsel. Gladys tahu berita tentang pertengkarannya dengan Amy pasti sudah menyebar.
Ia baru saja masuk ke dalam mobil ketika sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Sebuah foto terlampir.
Foto dirinya berada dalam pelukan Satyaraka di tengah hujan.
Sudut pengambilannya dibuat sedemikian rupa hingga tampak intim. Di bawahnya tertulis kalimat singkat.
Putri keluarga Adiwijaya berselingkuh dengan ajudan ayahnya sesaat setelah bertengkar dengan calon suami.
Gladys mengepalkan tangan.
“Mereka cepat sekali,” gumamnya.
Satyaraka yang duduk di depan menoleh. “Ada masalah?”
Gladys menunjukkan layar ponselnya.
Wajah Satyaraka berubah serius. “Foto ini diambil dari gedung seberang.”
“Tentu saja. Dan sebentar lagi akan ada di semua portal gosip.”
“Saya akan meminta tim keamanan melacak fotografernya.”
“Tidak perlu.”
Satyaraka mengerutkan kening.
Gladys memandangi foto itu lama, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. “Biarkan mereka menyebarkannya.”
“Nona?”
“Kalau mereka ingin perang, aku akan memberi mereka perang.”
Sesampainya di kediaman keluarga Adiwijaya, Gladys langsung menuju ruang kerja ayahnya. Namun baru beberapa langkah memasuki ruang utama, ia sudah mendengar suara Darren dari balik pintu.
“Kita tidak bisa membiarkannya membatalkan pernikahan,” ujar Darren. “Kalau pernikahan gagal, kesepakatan merger ikut gagal.”
Gladys berhenti.
Suara ayahnya, Leonard Adiwijaya, terdengar berat. “Aku sudah menginvestasikan terlalu banyak uang ke perusahaan keluargamu.”
“Karena itu Bapak harus membujuk Gladys.”
“Dia tidak pernah mendengarkanku.”
“Kalau begitu gunakan ibunya.”
Gladys menahan napas.
Suara ibunya, Marissa, kemudian terdengar. “Dia pasti menurut kalau aku bilang kondisi jantungku memburuk karena masalah ini.”
Darah Gladys serasa membeku.
Ia mendorong pintu dengan keras.
Ketiga orang di dalam ruangan langsung terdiam.
Darren berdiri lebih dulu. “Gladys, aku—”
“Jangan dekat-dekat.”
Marissa menghampiri dengan ekspresi cemas. “Sayang, semua ini bukan seperti yang kau dengar.”
“Benarkah?” Gladys menatap ibunya. “Bagian mana yang salah? Bagian ketika Ibu berniat menggunakan penyakit palsu untuk memaksaku menikah, atau bagian ketika Ayah menjualku demi merger?”
Leonard bangkit dari kursinya. “Jaga ucapanmu.”
Gladys tertawa pahit. “Ucapan? Ayah masih memikirkan kesopanan setelah menjadikan hidupku sebagai alat transaksi?”
“Pernikahan ini demi masa depan keluarga.”
“Tidak. Pernikahan ini demi menutup utang perusahaan Ayah.”
Ruangan mendadak sunyi.
Darren tampak terkejut. Leonard menatap Gladys tajam.
Gladys sebenarnya hanya menebak, tetapi reaksi mereka telah mengonfirmasi semuanya.
“Jadi benar,” bisiknya.
Leonard menggebrak meja. “Kau tidak mengerti dunia bisnis.”
“Aku cukup mengerti untuk tahu bahwa saham perusahaan kita terus turun selama enam bulan terakhir. Aku juga tahu Ayah menjaminkan dua properti keluarga tanpa persetujuan dewan.”
Marissa memucat. “Dari mana kau tahu?”
Gladys menatap ayahnya. “Ayah lupa satu hal. Aku bukan lagi anak kecil yang bisa dibohongi dengan pesta ulang tahun dan hadiah mahal.”
Darren mencoba memegang lengannya. “Kita bisa menyelesaikan ini bersama.”
Gladys menepis tangannya. “Bersama siapa? Denganmu, Amy, atau Kalila?”
Nama Kalila membuat ekspresi Darren berubah.
Gladys menangkap perubahan itu.
“Apa lagi yang belum kuketahui?”
Darren menggeleng cepat. “Tidak ada.”
Namun sebelum Gladys mendesaknya, pintu terbuka. Satyaraka masuk dengan sebuah tablet di tangannya.
“Maaf mengganggu, Tuan. Ada laporan keamanan yang harus segera disampaikan.”
Leonard memelototinya. “Keluar. Ini urusan keluarga.”
Satyaraka tidak bergerak.
“Laporan ini berkaitan langsung dengan Nona Gladys.”
Gladys menatapnya. “Tunjukkan.”
Satyaraka menyerahkan tablet itu.
Di layar terlihat rekaman kamera keamanan sebuah hotel. Darren masuk ke dalam lift bersama Kalila. Rekaman berikutnya menunjukkan Amy menyusul beberapa menit kemudian.
Tanggalnya bukan hari ini.
Melainkan delapan bulan lalu.
Ada pula bukti transfer uang dari perusahaan milik Leonard ke rekening Darren, lalu dipindahkan lagi ke beberapa rekening atas nama perusahaan cangkang.
Gladys membaca semuanya dengan tangan gemetar.
“Dari mana kau mendapatkan ini?”
“Tim internal sudah menyelidiki transaksi mencurigakan selama tiga bulan.”
Leonard menatap Satyaraka dengan wajah merah padam. “Atas perintah siapa?”
Satyaraka menjawab tenang, “Atas perintah pemegang saham pengendali.”
Leonard terdiam.
Gladys juga menoleh, bingung.
Satyaraka menekan layar tablet dan membuka dokumen berikutnya. Sebuah surat pengalihan kepemilikan saham muncul.
Nama pemegang saham terbesar perusahaan Adiwijaya bukan lagi Leonard.
Melainkan Gladys Adiwijaya.
“Apa ini?” suara Gladys nyaris berbisik.
Leonard jatuh terduduk.
Marissa menutup mulutnya.
Satyaraka berkata, “Kakek Anda mengalihkan tiga puluh delapan persen saham kepada Anda sebelum meninggal. Dokumen itu disimpan melalui perwalian dan baru aktif saat Anda berusia dua puluh tujuh tahun.”
Gladys membeku.
Hari ulang tahunnya yang kedua puluh tujuh baru lewat tiga minggu lalu.
“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”
“Karena Tuan Leonard mengajukan penundaan pengumuman dengan alasan kondisi mental Anda belum stabil.”
Gladys menatap ayahnya. “Kondisi mentalku?”
Leonard tidak menjawab.
Satyaraka melanjutkan, “Namun permohonan itu ditolak dua hari lalu. Secara hukum, Anda sekarang menjadi pemegang kendali terbesar.”
Darren mundur perlahan menuju pintu.
Gladys memandangnya. “Mau ke mana?”
“Ini urusan keluargamu. Kita bicara nanti saat semuanya lebih tenang.”
“Tidak akan ada nanti.”
Darren berhenti.
Gladys berjalan mendekatinya, lalu melepaskan cincin pertunangan dari jarinya. Ia menaruhnya di atas meja, bukan melemparkannya.
“Aku membatalkan pernikahan ini.”
“Kau akan menghancurkan reputasimu sendiri.”
“Reputasi bisa dibangun kembali. Harga diri yang terus diinjak tidak.”
Darren mendekat dan berbisik tajam, “Foto kau dengan ajudan itu sudah tersebar. Orang akan mengira kau yang berselingkuh.”
Gladys tersenyum tipis.
“Biarkan.”
“Kau gila.”
“Tidak. Untuk pertama kalinya, aku justru sadar sepenuhnya.”
Ia menoleh kepada Satyaraka. “Kirim semua bukti transaksi dan rekaman ini kepada tim hukum. Bekukan akses Darren serta perusahaan keluarganya dari seluruh proyek kita.”
Darren membentak, “Kau tidak bisa melakukan itu!”
Gladys menatapnya dingin. “Aku baru saja mengetahui bahwa aku bisa.”
Darren berusaha merebut tablet dari tangan Satyaraka, tetapi dua petugas keamanan segera masuk dan menahannya.
Marissa mulai menangis. “Gladys, jangan lakukan ini. Pikirkan keluarga kita.”
Gladys berbalik menatap ibunya.
“Aku sudah terlalu lama memikirkan keluarga. Masalahnya, tidak ada seorang pun di keluarga ini yang pernah memikirkanku.”
Leonard menunduk, tetapi Gladys tidak lagi menunggu penjelasan.
Ia keluar dari ruangan.
Malam itu, berita tentang fotonya dengan Satyaraka benar-benar menyebar. Judul-judul sensasional memenuhi media sosial. Banyak orang menuduh Gladys membalas perselingkuhan Darren dengan menggoda ajudan ayahnya.
Namun dua jam kemudian, sebuah konferensi pers mendadak digelar.
Gladys muncul seorang diri di depan puluhan kamera.
Ia tidak menangis. Tidak pula berusaha terlihat kuat.
Ia hanya berdiri sebagai dirinya sendiri.
“Pernikahan saya dengan Darren Pranata resmi dibatalkan,” ucapnya. “Bukan karena foto yang beredar hari ini, melainkan karena saya menemukan bukti pengkhianatan pribadi dan penyalahgunaan dana perusahaan yang melibatkan beberapa pihak.”
Para wartawan langsung berebut bertanya.
Gladys mengangkat tangan.
“Mengenai pria dalam foto tersebut, dia adalah kepala keamanan keluarga saya yang sedang mencegah saya terjatuh karena sepatu saya patah. Foto itu dipotong untuk membangun narasi palsu.”
Ia lalu menampilkan rekaman lengkap dari kamera taman.
Video itu memperlihatkan Satyaraka menolongnya, memberikan sepatu, lalu mengambil payung.
Tak ada pelukan romantis.
Tak ada adegan mesra.
Hanya seorang pria yang membantu perempuan yang nyaris terjatuh.
Dalam hitungan menit, opini publik berbalik.
Namun Gladys belum selesai.
“Mulai malam ini, saya mengambil alih posisi ketua sementara Adiwijaya Group. Audit independen akan dilakukan. Semua pihak yang terlibat dalam penyalahgunaan dana akan diproses secara hukum, tanpa pengecualian, termasuk bila mereka adalah anggota keluarga saya sendiri.”
Keesokan paginya, Darren ditahan untuk diperiksa. Kalila diketahui menerima uang untuk mendekati Gladys dan menyebarkan informasi pribadi. Amy menyerahkan diri sebagai saksi, mengakui bahwa ia awalnya didekati Darren untuk mencari kelemahan Gladys, tetapi kemudian terjebak dalam hubungan yang tidak mampu ia akhiri.
Gladys tidak memaafkannya.
Setidaknya belum.
Beberapa luka memang membutuhkan waktu sebelum bisa disentuh kembali.
Tiga bulan berlalu.
Perusahaan perlahan stabil setelah audit besar-besaran. Leonard mengundurkan diri. Marissa memilih tinggal di luar negeri untuk menghindari sorotan media.
Satyaraka tetap bekerja, meski Gladys kini tidak lagi memanggilnya hanya untuk urusan keamanan.
Suatu sore, mereka kembali berdiri di taman yang sama. Danau buatan memantulkan cahaya keemasan matahari.
Gladys menyerahkan sebuah kotak kepadanya.
Satyaraka membukanya.
Di dalamnya ada sepasang sepatu baru.
“Pengganti sepatu yang rusak waktu itu,” kata Gladys.
Satyaraka mengangkat alis. “Sepatu saya tidak rusak.”
“Tapi kotor.”
“Sudah dicuci.”
“Terima saja. Jangan banyak bicara.”
Satyaraka tersenyum. “Baik, Nona.”
Gladys menghela napas. “Berhenti memanggilku Nona.”
“Lalu saya harus memanggil apa?”
“Gladys.”
Satyaraka memandangnya beberapa detik. “Baik, Gladys.”
Aneh. Mendengar namanya keluar dari mulut pria itu membuat dadanya terasa hangat.
Namun satu pertanyaan masih mengganggunya.
“Kenapa kau membantuku sejak awal?”
Senyum Satyaraka perlahan menghilang.
Ia menatap permukaan danau.
“Ayah saya pernah bekerja untuk kakek Anda.”
Gladys terdiam.
“Dia menemukan penyelewengan dana yang dilakukan ayah Anda bertahun-tahun lalu. Sebelum sempat melaporkannya, dia dituduh mencuri dan dipenjara.”
Gladys menahan napas.
“Dia meninggal sebelum namanya dibersihkan,” lanjut Satyaraka. “Kakek Anda tahu kebenarannya. Karena itu beliau meminta saya menjaga Anda dan memastikan saham itu jatuh ke tangan yang tepat.”
Gladys menatapnya tak percaya.
“Jadi selama ini kau mendekatiku karena pesan kakek?”
“Awalnya, ya.”
Kata itu menusuk lebih dalam daripada yang ia duga.
Gladys tertawa pahit. “Ternyata benar. Semua orang memang punya kepentingan.”
Ia berbalik hendak pergi.
Namun suara Satyaraka menghentikannya.
“Tapi saya tetap tinggal setelah tugas itu selesai.”
Gladys menoleh.
Satyaraka menatapnya lurus.
“Saya bisa pergi setelah dokumen saham diserahkan. Saya juga bisa mengundurkan diri setelah nama ayah saya dipulihkan.”
“Lalu kenapa tidak?”
“Karena untuk pertama kalinya, saya tidak sedang menjalankan tugas.”
Gladys terdiam.
Satyaraka melangkah mendekat, tetapi tetap menjaga jarak.
“Saya tidak meminta Anda mempercayai saya sekarang. Saya tahu kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diminta. Saya hanya ingin mendapat kesempatan untuk membuktikan bahwa kepedulian tidak selalu memiliki harga.”
Mata Gladys terasa panas, tetapi kali ini ia tidak membenci air mata yang muncul.
Ia teringat kalimat Satyaraka di tengah hujan.
Belum pernah melihat, bukan berarti tidak ada.
Mungkin selama ini Gladys memang selalu dikelilingi orang-orang yang salah. Orang-orang yang menganggap cintanya sebagai kelemahan, kesetiaannya sebagai kesempatan, dan kesepiannya sebagai pintu masuk.
Namun bukan berarti semua manusia sama.
Gladys mengulurkan tangan.
Satyaraka memandangnya bingung.
“Sepatunya,” kata Gladys. “Berikan padaku.”
“Kenapa?”
“Aku mau memastikan ukurannya pas.”
Satyaraka tertawa kecil, lalu menyerahkan kotak itu.
Gladys berjalan mendahuluinya menuju gedung.
Beberapa langkah kemudian, ia menoleh.
“Kau tidak ikut?”
Satyaraka tersenyum dan berjalan menyusul.
Kali ini ia tidak berada di depan sebagai pelindung, tidak pula di belakang sebagai bawahan.
Ia berjalan di samping Gladys.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gladys tidak merasa sedang dimanfaatkan, ditinggalkan, atau diselamatkan.
Ia hanya merasa ditemani.
