Layar ponselku gelap tepat ketika tubuh Ibu jatuh di depan kandang.
“Ibu!”
Aku berteriak begitu keras sampai suaraku memantul di dinding kamar sempit di Taiwan. Tanganku gemetar saat mencoba menelepon Pak Seno kembali. Panggilan pertama tidak tersambung. Panggilan kedua hanya berdering panjang. Pada panggilan ketiga, akhirnya suara Pak Seno terdengar, bercampur teriakan orang-orang dan kepakan ayam yang masih kacau.
“Pak, bagaimana Ibu?”
“Pingsan, Nduk. Napasnya pendek. Bayu sedang cari mobil.”
“Jangan tunggu Bayu!” kataku. “Pakai mobil siapa saja. Bawa ke rumah sakit sekarang!”
“Aku sudah telepon tetangga yang punya mobil bak terbuka.”

“Jangan pakai bak terbuka, Pak. Cari mobil yang tertutup. Udara malam dan asap bisa memperparah keadaannya.”
Suaraku terdengar tegas, tetapi seluruh tubuhku gemetar. Aku berdiri di tengah kamar tanpa tahu harus berbuat apa. Ribuan kilometer memisahkanku dari rumah. Aku punya uang di rekening, punya ponsel, punya koneksi internet, tetapi tidak punya tangan untuk mengangkat tubuh Ibu.
Dari seberang terdengar Bayu membentak.
“Kenapa harus rumah sakit besar? Bawa ke puskesmas saja!”
Pak Seno menjauhkan telepon sebentar, lalu membalas dengan suara keras, “Kalau cuma kelelahan, silakan! Tapi ibumu habis menghirup asap dan punya riwayat sesak!”
Aku membeku.
“Riwayat sesak?” tanyaku. “Sejak kapan?”
Pak Seno terdiam.
“Pak?”
“Sudah beberapa bulan.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
“Kenapa tidak ada yang memberi tahu aku?”
“Bu Sari melarang.”
Aku memejamkan mata. Jadi selama ini Ibu sakit. Dan mereka sengaja menyembunyikannya. Bukan karena ingin melindungiku, aku yakin. Mereka hanya takut aku akan bertanya terlalu banyak. Takut aku mengetahui uang yang kukirim untuk kebutuhan rumah ternyata tidak dipakai sebagaimana mestinya.
“Pak, kirim lokasi rumah sakit begitu sampai,” kataku. “Aku akan hubungi pihak rumah sakit langsung.”
Setelah panggilan berakhir, aku duduk di lantai. Napasku sendiri terasa sesak. Di luar jendela, hujan tipis membasahi deretan bangunan abu-abu. Lampu kota Taiwan berkilau dingin. Orang-orang di bawah berjalan sambil membawa payung, tidak tahu bahwa di sebuah kamar lantai tujuh, seorang perempuan sedang menahan diri agar tidak hancur.
Aku menatap foto lama di meja kecil dekat ranjang. Foto itu diambil delapan tahun lalu, sebelum aku berangkat menjadi pekerja migran. Aku berdiri di antara Ibu dan Bayu. Ibu tersenyum lebar. Bayu merangkul bahuku. Saat itu aku percaya keluargaku adalah alasan aku harus kuat.
Sekarang aku tidak yakin apakah mereka pernah mencintaiku atau hanya mencintai apa yang bisa kuberikan.
Ponselku berbunyi.
Rani menelepon.
Aku mengangkatnya.
Suara tangisnya langsung pecah. “Mbak, Ibu dibawa ke Rumah Sakit Harapan Bunda.”
“Bagaimana kondisinya?”
“Belum sadar.”
“Bayu di mana?”
Rani terdiam terlalu lama.
“Rani?”
“Mas Bayu masih di kandang.”
Aku menegakkan tubuh. “Apa?”
“Dia bilang harus menghitung ayam yang mati.”
Untuk beberapa detik, aku tidak mampu berkata-kata. Ibunya tidak sadar, tetapi Bayu memilih menghitung kerugian.
“Rani, dengar aku. Kamu ikut Ibu ke rumah sakit?”
“Iya. Aku bersama Pak Seno.”
“Jangan tinggalkan Ibu sendirian. Aku akan telepon rumah sakit.”
“Mbak…” suara Rani mengecil. “Aku minta maaf.”
“Untuk apa?”
Rani terisak. “Untuk semuanya.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Ada apa, Rani?”
“Aku sebenarnya mau bilang dari dulu. Tapi Mas Bayu mengancam akan menceraikanku.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Bilang apa?”
Rani menarik napas panjang. “Uang yang Mbak kirim selama ini tidak semuanya dipakai untuk kandang.”
Aku sudah menduga kebohongan. Namun tetap saja, mendengarnya langsung terasa seperti pisau yang dimasukkan perlahan ke dada.
“Berapa?”
“Aku tidak tahu pasti. Tapi Mas Bayu membeli mobil bekas atas nama temannya. Dia juga sering bermain judi online. Waktu kalah, dia mengambil uang pakan. Lalu dia bilang ke Ibu harga pakan naik.”
Aku menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara.
Rani melanjutkan dengan terbata-bata. “Ibu tahu. Awalnya Ibu marah. Tapi Mas Bayu bilang semua akan kembali kalau panen berhasil. Setelah itu Ibu diam.”
“Dan keguguranmu?”
Rani menangis semakin keras.
“Itu juga karena dia?”
“Dia tidak memukulku,” katanya cepat, seolah masih ingin membela suaminya. “Tapi malam itu kami bertengkar. Aku meminta dia berhenti berjudi. Dia menendang kursi dan membanting pintu. Aku terkejut, lalu jatuh di kamar mandi.”
Aku merasa seluruh ruangan berputar.
“Kenapa kamu tidak pergi?”
“Aku tidak punya siapa-siapa.”
“Kamu punya aku.”
“Tapi aku ikut berbohong kepadamu.”
Aku menahan air mata.
“Kesalahanmu tidak membuatmu pantas diperlakukan seperti itu.”
Rani terdiam. Di kejauhan terdengar suara petugas rumah sakit memanggil keluarga pasien.
“Aku masuk dulu, Mbak.”
“Kabari aku setelah dokter keluar.”
Panggilan berakhir.
Malam itu aku tidak tidur.
Aku menelepon rumah sakit, mentransfer uang muka, mengirim foto identitas Ibu, dan berbicara dengan dokter jaga. Ibu mengalami serangan sesak berat yang dipicu asap dan kepanikan. Tekanan darahnya sangat tinggi. Dokter menduga ada masalah jantung yang selama ini tidak ditangani dengan baik.
Menjelang subuh, Pak Seno mengirim pesan.
Ibu sudah sadar.
Aku langsung melakukan panggilan video.
Wajah Ibu muncul di layar dengan selang oksigen di hidung. Kulitnya pucat. Untuk pertama kalinya, perempuan yang selalu tampak keras itu terlihat sangat kecil.
“Ibu,” kataku.
Matanya bergerak ke arah layar.
“Ratih?”
“Iya, Bu.”
Ibu menatapku lama. Lalu, tanpa mengatakan apa-apa, air matanya mengalir.
Aku tidak pernah melihat Ibu menangis sejak Ayah meninggal.
“Jangan banyak bicara dulu,” kataku. “Istirahat.”
“Maafkan Ibu.”
Dua kata itu membuat semua pertahananku goyah.
Namun aku tidak ingin lagi mudah luluh.
“Maaf untuk apa?”
Bibir Ibu bergetar. “Untuk uangmu. Untuk membela Bayu. Untuk membiarkanmu bekerja sampai bertahun-tahun sementara kami di rumah hanya menunggu kiriman.”
Aku diam.
“Ibu takut kehilangan Bayu,” lanjutnya. “Setelah ayahmu meninggal, Ibu selalu merasa anak laki-laki harus dijaga karena dia yang akan meneruskan keluarga. Ibu pikir kamu lebih kuat. Kamu selalu bisa mencari jalan.”
Aku tersenyum pahit. “Karena aku kuat, berarti aku boleh terus dilukai?”
Ibu menangis.
“Bukan begitu.”
“Tapi itu yang terjadi.”
Ia menutup mata. Napasnya terdengar berat.
“Aku tidak akan bicara panjang sekarang,” kataku. “Ibu sembuh dulu. Setelah itu kita selesaikan semuanya.”
Pagi harinya, aku mengajukan cuti mendadak kepada majikanku. Perempuan tua yang kurawat selama lima tahun menggenggam tanganku ketika aku menjelaskan keadaan.
“Pulanglah,” katanya dalam bahasa Mandarin yang lembut. “Keluarga yang retak tidak bisa diperbaiki lewat layar.”
Dua hari kemudian, aku tiba di Indonesia.
Tidak ada yang menjemputku di bandara selain Pak Seno.
Ia berdiri di dekat pintu kedatangan dengan kemeja lusuh dan sandal jepit. Begitu melihatku, ia tersenyum lega.
“Kamu kurusan, Nduk.”
Aku memeluknya. “Terima kasih sudah menjaga Ibu.”
Dalam perjalanan pulang, Pak Seno menceritakan sesuatu yang membuatku semakin waspada. Sehari setelah Ibu masuk rumah sakit, Bayu menjual sebagian ayam hidup dengan harga murah kepada pengepul dari kecamatan sebelah. Ia mengaku membutuhkan uang untuk membayar biaya rumah sakit.
“Tapi biaya rumah sakit sudah aku kirim,” kataku.
“Itu yang membuatku curiga.”
Sesampainya di rumah sakit, Rani langsung memelukku. Tubuhnya jauh lebih kurus daripada yang kulihat melalui video. Di bawah matanya ada lingkaran gelap.
Bayu berdiri di ujung lorong.
Wajahnya kaku ketika melihatku.
“Kamu pulang juga,” katanya.
Aku menatapnya. “Kamu menjual ayam?”
“Itu urusan kandang.”
“Kandang itu dibangun dari uangku.”
“Aku yang mengelola.”
“Mengelola atau menghabiskan?”
Wajahnya memerah. “Jangan sok paling berjasa hanya karena kerja di luar negeri.”
Aku membuka ponsel dan menunjukkan bukti transfer selama tujuh tahun. Jumlahnya lebih besar daripada harga rumah sederhana di desa kami.
“Kalau aku tidak berjasa, kembalikan semuanya.”
Bayu tertawa pendek. “Kamu pikir semua uang itu masih ada?”
“Justru karena tidak ada, aku pulang.”
Rani berdiri di belakangku. Tangannya gemetar, tetapi kali ini ia tidak menunduk.
“Mas, cukup,” katanya.
Bayu menoleh tajam. “Kamu diam!”
“Tidak,” jawab Rani. “Aku sudah terlalu lama diam.”
Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari tasnya. Buku itu berisi tanggal, jumlah uang yang diambil Bayu, utang kepada pemasok, pembayaran judi online, dan penjualan ayam tanpa sepengetahuan Ibu.
Bayu bergerak hendak merebut buku itu, tetapi Pak Seno berdiri di depannya.
“Jangan sentuh dia.”
Suasana lorong rumah sakit mendadak tegang.
Aku menatap Bayu. “Aku sudah menghubungi pemasok, pengepul, dan kepala desa. Semua catatan ini akan diperiksa.”
“Kamu mau mempermalukan keluarga sendiri?”
“Tidak. Aku sedang menghentikan orang yang mempermalukan keluarga ini.”
Bayu mengepalkan tangan.
Saat itulah pintu kamar Ibu terbuka.
Ibu berdiri dengan bantuan perawat. Wajahnya masih pucat, tetapi tatapannya tegas.
“Bayu,” katanya pelan. “Kembalikan kunci kandang.”
Bayu tampak terpukul. “Mak?”
“Kembalikan.”
“Mak membela Ratih?”
Ibu menatapnya dengan air mata menggenang. “Ibu terlalu lama membelamu. Sampai Ibu tidak sadar bahwa yang Ibu lindungi bukan anak, tapi kesalahan.”
Bayu menggeleng cepat. “Aku melakukan semuanya untuk keluarga.”
“Kamu berjudi untuk keluarga?” tanya Rani.
“Kamu menjual ayam diam-diam untuk keluarga?” tambahku.
Bayu melihat ke kanan dan kiri seperti mencari seseorang yang masih mau percaya kepadanya.
Tidak ada.
Akhirnya ia melempar kunci kandang ke lantai.
“Ambil semuanya!” bentaknya. “Kalian pikir kandang itu akan bertahan tanpa aku?”
Ia pergi meninggalkan lorong.
Tiga minggu setelah itu, semuanya terbongkar.
Bayu memiliki utang besar kepada beberapa orang. Mobil yang dibelinya ternyata sudah digadaikan. Sebagian uang penjualan ayam digunakan untuk menutup utang lama, sisanya hilang di aplikasi judi.
Namun kejutan terbesar datang dari Pak Seno.
Ia menyerahkan sebuah map cokelat kepadaku.
“Ini surat tanah kandang,” katanya.
Aku membukanya dan menemukan nama pemilik yang tidak pernah kuduga.
Namaku sendiri.
“Ayahmu yang mengurusnya sebelum meninggal,” jelas Pak Seno. “Dia tahu kamu yang paling banyak berkorban. Dia berpesan agar surat ini diberikan kalau keadaan sudah benar-benar tidak bisa diselamatkan.”
Aku membaca surat tulisan tangan Ayah yang diselipkan di dalam map.
Ratih, kalau suatu hari rumah ini membuatmu merasa seperti orang asing, ingatlah bahwa rumah bukan tempat yang hanya meminta pengorbanan. Rumah seharusnya menjadi tempatmu dihargai.
Tanganku gemetar.
Ternyata Ayah sudah melihat semuanya jauh sebelum aku menyadarinya.
Aku tidak menjual kandang itu.
Aku juga tidak menyerahkannya kembali kepada Bayu.
Aku mengubahnya menjadi usaha bersama yang dikelola secara terbuka. Pak Seno menangani operasional. Rani mengurus keuangan setelah mengikuti pelatihan sederhana. Sebagian keuntungan digunakan untuk kebutuhan Ibu dan membayar utang usaha yang benar-benar sah.
Bayu tidak diusir.
Namun ia tidak lagi memegang uang atau mengambil keputusan. Jika ingin kembali bekerja, ia harus menjalani konseling, melunasi utangnya sendiri, dan berhenti berjudi.
Ia memilih pergi ke kota.
Enam bulan kemudian, aku kembali ke Taiwan untuk menyelesaikan kontrakku. Kali ini aku pergi bukan sebagai anak yang harus menyelamatkan semua orang, melainkan sebagai perempuan yang akhirnya tahu batas antara mencintai dan membiarkan diri dipakai.
Sebelum keberangkatanku, Ibu memelukku lama di teras rumah.
“Dulu Ibu selalu takut kehilangan anak laki-laki,” katanya. “Ternyata karena terlalu takut, Ibu hampir kehilangan anak perempuan yang paling setia.”
Aku tidak langsung menjawab.
Luka tidak hilang hanya karena satu permintaan maaf.
Tetapi untuk pertama kalinya, aku merasa Ibu benar-benar melihatku.
Bukan sebagai sumber uang.
Bukan sebagai anak kuat yang bisa menanggung semuanya.
Melainkan sebagai Ratih.
Di bandara, sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah berbulan-bulan tidak menghubungiku.
Bayu.
Isinya hanya sebuah foto.
Ia berdiri di depan sebuah bengkel kecil, mengenakan seragam kerja. Di bawah foto itu ada satu kalimat.
Aku belum pantas minta maaf. Tapi kali ini aku akan belajar hidup dari hasil tanganku sendiri.
Aku menatap pesan itu cukup lama, lalu mematikan layar.
Aku tidak tahu apakah Bayu benar-benar akan berubah.
Aku juga tidak tahu apakah keluarga kami akan pernah kembali utuh.
Namun aku akhirnya memahami sesuatu.
Keluarga bukan alasan untuk terus bertahan dalam ketidakadilan. Memaafkan bukan berarti menyerahkan kembali kendali kepada orang yang sama. Dan menjadi baik bukan berarti harus terus membiarkan diri terluka.
Kadang-kadang, cara terbaik menyelamatkan keluarga adalah dengan berhenti menyelamatkan mereka dari akibat perbuatan mereka sendiri.
