KETIKA ISTRIKU MATI RASA (Bagian 1)

Aku selalu percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.

Itulah sebabnya selama lima tahun aku bertahan bersama Khanza, perempuan yang tidak pernah sekali pun mengeluh meski setiap bulan harus menjalani pemeriksaan kesuburan, meminum vitamin, menjaga makanan, bahkan menolak memakai riasan karena takut kandungan bahan kimianya mengganggu program kehamilan kami.

Namun pada akhirnya, aku justru menjadi orang yang paling menghancurkan hatinya.

Saat aku menggendong tubuh Khanza yang hampir pingsan menuju kamar, aku mendengar isaknya yang begitu pelan.

“Aku capek, Mas…”

Hanya empat kata.

Tetapi empat kata itu terasa lebih tajam daripada ribuan pisau.

Aku membaringkannya perlahan di atas tempat tidur. Tangannya masih menggenggam ujung bajuku seolah takut aku pergi lagi.

“Kamu istirahat dulu.”

Khanza membuka mata yang sembab.

“Dia sudah datang ke rumah ini?”

Aku mengangguk pelan.

Air mata kembali mengalir dari sudut matanya.

“Aku selalu bertanya-tanya… salahku apa?”

Aku tidak mampu menjawab.

Karena memang tidak ada salahnya.

Yang salah adalah aku.

Dokter pernah berkata peluang Khanza untuk hamil memang kecil, tetapi bukan berarti mustahil. Kami hanya perlu lebih sabar.

Sayangnya, ibuku tidak pernah mau mendengar penjelasan itu.

Baginya, lima tahun tanpa anak berarti Khanza gagal menjadi istri.

Awalnya aku terus membela istriku.

Tetapi setiap hari Ibu menangis, memohon agar aku menikah lagi demi mendapatkan cucu sebelum usianya terlalu tua.

Aku menolak berkali-kali.

Hingga suatu hari Ibu jatuh sakit.

Di ranjang rumah sakit, beliau menggenggam tanganku.

“Kalau kamu benar-benar sayang sama Ibu, nikahi Nimas.”

Kalimat itu menghancurkan pertahananku.

Nimas adalah anak sahabat lama Ibu.

Perempuan sederhana yang sejak awal mengetahui bahwa aku telah memiliki istri.

Dia pun sempat menolak.

Namun karena terus didesak kedua orang tuanya dan ibuku, akhirnya kami menikah secara siri.

Aku berjanji pada Nimas bahwa suatu hari nanti aku akan mengatakan semuanya kepada Khanza.

Tetapi keberanian itu tidak pernah datang.

Hari demi hari berlalu.

Satu bulan.

Tiga bulan.

Enam bulan.

Hingga genap satu tahun.

Sampai akhirnya Nimas hamil.

Tidak ada lagi yang bisa kusembunyikan.

Aku harus pulang membawa kenyataan yang paling menyakitkan.

Malam itu, setelah Khanza tertidur karena kelelahan menangis, aku keluar menemui Nimas.

Dia masih duduk di bangku teras.

Perutnya yang besar membuatku semakin merasa bersalah.

“Maaf.”

Nimas hanya tersenyum tipis.

“Aku tidak pernah ingin merebut tempat Mbak Khanza.”

“Aku tahu.”

“Kalau saja waktu bisa diulang, aku juga tidak ingin semua ini terjadi.”

Aku mengangguk.

Nimas memang tidak pernah bersikap seperti pemenang.

Justru dia yang paling sering meminta maaf.

Aku mengantar Nimas pulang ke rumah kontrakannya malam itu juga.

Sepanjang perjalanan kami sama-sama diam.

Beberapa hari berikutnya, rumah kami berubah menjadi sangat sunyi.

Khanza tidak lagi menangis.

Dia juga tidak marah.

Justru sikap diamnya membuatku semakin takut.

Dia tetap memasak.

Tetap membersihkan rumah.

Tetap menyiram bunga setiap pagi.

Namun tidak lagi menyapaku.

Tidak lagi bertanya apakah aku sudah makan.

Tidak lagi menungguku pulang.

Seolah aku hanyalah tamu.

Yang lebih mengejutkan, setiap pagi Khanza mulai berdandan.

Lipstik merah.

Bedak.

Eyeshadow.

Parfum.

Pakaian yang selama ini hanya tersimpan di lemari.

Aku diam-diam memperhatikannya.

Dalam hati aku sempat merasa lega.

Mungkin…

Mungkin dia sedang berusaha merebut kembali perhatianku.

Aku bahkan sempat membeli sekotak bunga mawar favoritnya.

Namun ketika kuberikan, dia hanya tersenyum sopan.

“Terima kasih.”

Tidak ada senyum hangat.

Tidak ada rasa malu seperti dulu.

Aku mulai merasa kehilangan.

Beberapa minggu kemudian, Nimas melahirkan seorang bayi laki-laki dengan selamat.

Aku datang ke rumah sakit.

Khanza tidak ikut.

Ibuku menangis bahagia sambil menggendong cucu pertamanya.

“Terima kasih, Nimas.”

Aku melihat Nimas justru menoleh ke arahku.

“Mas… sudah bicara baik-baik dengan Mbak Khanza?”

Aku hanya menggeleng.

Nimas memejamkan mata.

“Mas kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar daripada mendapatkan anak.”

Aku terdiam.

Kalimat itu terus terngiang hingga pulang.

Sesampainya di rumah, aku melihat beberapa kardus besar di ruang tamu.

Aku langsung panik.

“Khanza?”

Dia keluar dari kamar.

Wajahnya tampak sangat cantik.

Riasannya begitu rapi.

Namun tatapannya benar-benar asing.

“Ada apa ini?”

“Aku sedang beres-beres.”

“Mau pergi?”

“Iya.”

Jantungku serasa berhenti.

“Kamu bercanda?”

Dia menggeleng.

“Aku sudah menerima tawaran kerja.”

“Kerja?”

“Di Surabaya.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kamu tidak pernah bilang.”

“Kamu juga tidak pernah bilang kalau sudah menikah lagi.”

Aku langsung kehilangan kata-kata.

Dia melanjutkan dengan suara yang sangat tenang.

“Selama lima tahun hidupku hanya tentang menjadi istrimu.”

“Sayang…”

“Aku berhenti memakai makeup karena takut mengganggu program hamil.”

“Aku tahu.”

“Aku berhenti minum kopi.”

“Aku tahu.”

“Aku berhenti mengejar karier.”

Dadaku semakin sesak.

“Aku melakukan semuanya untuk keluarga ini.”

Air mata mulai memenuhi mataku.

“Lalu aku sadar… semua pengorbananku ternyata tidak cukup.”

Aku mendekatinya.

“Kita masih bisa memperbaiki semuanya.”

Dia tersenyum kecil.

“Tidak.”

“Khanza…”

“Aku sudah sembuh.”

Jawaban itu membuatku bingung.

“Sembuh?”

“Dari berharap.”

Untuk pertama kalinya aku benar-benar mengerti.

Perempuan yang berdiri di depanku bukan lagi Khanza yang dulu.

Dia bukan sedang berdandan untuk merebutku.

Dia sedang belajar mencintai dirinya sendiri lagi.

Dia berdandan karena akhirnya berhenti hidup hanya untuk memenuhi harapan orang lain.

Beberapa hari kemudian dia benar-benar pergi.

Rumah menjadi sangat sepi.

Aku mulai menyiram bunga-bunga yang dulu selalu dia rawat.

Namun satu per satu bunga itu layu.

Aku tidak pernah tahu ternyata merawat bunga sesulit itu.

Persis seperti merawat hati seseorang.

Enam bulan berlalu.

Suatu sore aku menerima undangan pembukaan sebuah galeri bunga dan dekorasi.

Nama pemiliknya membuatku membeku.

Khanza Florist.

Tanpa berpikir panjang aku datang.

Galeri itu sangat indah.

Penuh bunga segar.

Dipenuhi pelanggan.

Di tengah ruangan berdiri Khanza.

Dia mengenakan gaun putih sederhana dengan riasan yang anggun.

Wajahnya memancarkan kebahagiaan yang belum pernah kulihat selama bertahun-tahun.

Dia tertawa bersama para karyawannya.

Aku baru sadar.

Selama ini aku belum pernah benar-benar melihat senyumnya.

Dia melihatku.

Kami saling menatap beberapa detik.

Lalu dia berjalan menghampiri.

“Mas.”

“Selamat…”

“Terima kasih.”

“Aku senang melihatmu bahagia.”

Dia mengangguk.

“Aku juga.”

Aku menarik napas panjang.

“Kalau waktu bisa diputar…”

Dia tersenyum lembut sambil menggeleng.

“Jangan.”

Aku menatapnya bingung.

“Karena kalau waktu diputar, mungkin aku tidak akan pernah belajar bahwa perempuan tidak diciptakan hanya untuk menjadi ibu.”

Kalimat itu membuatku terpaku.

“Aku pikir selama ini aku gagal karena belum bisa memberimu anak.”

Dia menatap hamparan bunga di sekelilingnya.

“Ternyata aku hanya kehilangan diriku sendiri.”

Aku menunduk.

Tidak ada satu pun alasan yang bisa kuberikan.

Tidak ada pembelaan yang tersisa.

Sebelum pergi, Khanza berhenti di depan pintu.

“Mas.”

“Iya?”

“Dulu aku merias wajah supaya kamu melihatku.”

Dia tersenyum, lalu menatap pantulan dirinya di kaca etalase.

“Sekarang aku merias wajah karena akhirnya aku bisa melihat diriku sendiri.”

Aku berdiri mematung sampai sosoknya menghilang di balik keramaian.

Barulah saat itu aku benar-benar memahami satu hal yang datang terlambat.

Perempuan tidak selalu menangis karena kehilangan laki-laki yang dicintainya.

Kadang mereka menangis karena terlalu lama kehilangan dirinya sendiri.

Dan ketika akhirnya mereka berhasil menemukan kembali harga dirinya, tidak ada lagi yang bisa membuat mereka kembali, bahkan penyesalan terdalam dari seseorang yang pernah menjadi seluruh dunianya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang