“Waktunya olahraga, Tahanan! Cepat bangun!” Suara dentuman tongkat besi yang dipukulkan ke jeruji sel membuat jantungku serasa mau melompat keluar.

Suara deru mesin mobil yang membawa Hanum menjauh perlahan menghilang di balik gerbang markas. Debu merah yang beterbangan masih menempel di wajahku, bercampur dengan air mata, keringat, dan lumpur. Di tanganku masih tergenggam sebungkus nasi goreng basi yang telah berjamur. Tanganku gemetar hebat. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar mengerti bagaimana rasanya kehilangan segalanya.

“Diam melamun? Angkat semua kayu itu!” bentak seorang petugas Provost sambil menendang tumpukan kayu di dekat kakiku.

Aku menelan ludah. Tidak ada lagi keberanian untuk membantah. Setiap kata yang keluar dari mulutku hanya akan berakhir dengan hukuman tambahan.

Hari demi hari berubah menjadi minggu. Rutinitasku hanya bekerja tanpa henti. Mengangkut pasir, membersihkan selokan, mengecat pagar, memindahkan batu, dan membersihkan kandang anjing militer. Telapak tanganku yang dulu halus kini penuh kapalan dan luka. Bahuku menghitam karena sering memikul beban berat.

Tidak ada satu pun orang yang datang menjengukku.

Sarah menghilang begitu saja.

Semua teman yang dulu selalu memujiku juga lenyap tanpa jejak.

Bahkan keluargaku sendiri hanya mengirimkan surat singkat.

“Kami sudah cukup malu. Jangan hubungi kami lagi.”

Kalimat itu terasa lebih tajam daripada pisau.

Suatu sore, ketika aku sedang membersihkan halaman belakang, seorang tahanan tua menghampiriku.

“Namamu Arga?”

Aku mengangguk pelan.

“Aku sering mendengar tentangmu.”

Aku hanya diam.

“Aku juga dulu merasa dunia ini milikku.”

Aku melirik pria itu. Rambutnya memutih, wajahnya penuh keriput, tetapi matanya sangat tenang.

“Dulu aku seorang direktur perusahaan negara. Semua orang menunduk ketika aku lewat.”

“Lalu?”

“Sekarang aku menyapu halaman.”

Aku menghela napas.

“Aku bukan orang baik.”

Pria tua itu tersenyum tipis.

“Kalau begitu, ini kesempatanmu menjadi orang baik.”

Aku tertawa sinis.

“Tidak ada yang akan memaafkanku.”

“Bukan mereka yang pertama harus memaafkanmu.”

“Lalu siapa?”

“Dirimu sendiri.”

Aku terdiam cukup lama.

Untuk pertama kalinya sejak ditahan, aku tidak memikirkan Hanum.

Aku memikirkan semua kesalahan yang pernah kulakukan.

Aku teringat wajah ibuku yang pernah memintaku memperlakukan Hanum dengan baik.

Aku mengabaikannya.

Aku teringat Hanum yang rela bangun pukul empat pagi hanya untuk memasakkan sarapan.

Aku malah memakinya.

Aku teringat kalung peninggalan mendiang ibu Hanum.

Aku mencurinya tanpa rasa bersalah.

Semua kenangan itu seperti pisau yang menusuk tanpa henti.

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Aku menangis diam-diam.

Bukan karena hukumanku.

Tetapi karena akhirnya aku sadar, selama ini aku memang pantas menerima semuanya.

Beberapa bulan kemudian, perilakuku berubah.

Aku tidak lagi melawan petugas.

Aku membantu tahanan lain yang sakit.

Aku mengajari beberapa tahanan membaca karena banyak di antara mereka yang tidak tamat sekolah.

Bahkan ketika ada petugas yang menjatuhkan berkas, aku refleks membantu memungutinya.

“Arga…”

Petugas itu memandangku heran.

“Kamu berubah.”

Aku hanya menjawab singkat.

“Mungkin saya terlambat menyadarinya.”

Berita tentang perubahan sikapku perlahan menyebar.

Namun aku tidak lagi peduli.

Aku tidak mengharapkan pujian.

Aku hanya ingin menjalani sisa hukumanku dengan benar.

Suatu pagi, Mayor Galla datang lagi ke lapangan tahanan.

Aku menunduk.

Kali ini aku tidak berteriak memanggil Hanum.

Aku hanya terus menyapu halaman.

“Arga.”

Aku menghentikan sapu.

Mayor Galla berdiri tepat di depanku.

“Kamu tidak bertanya kenapa aku datang?”

“Tidak perlu.”

“Kenapa?”

“Karena hidup saya bukan lagi urusan siapa pun.”

Mayor Galla memperhatikanku cukup lama.

“Laporan petugas mengatakan kamu menolak beberapa kali kesempatan menyuap sipir agar mendapat perlakuan khusus.”

Aku mengangguk.

“Itu benar.”

“Dulu kamu tidak akan melakukan itu.”

“Dulu saya bodoh.”

Mayor Galla tersenyum tipis.

“Ayah Hanum memperhatikan semuanya.”

Aku mengangkat kepala.

“Beliau?”

“Ya.”

Aku kembali menunduk.

“Sampaikan permintaan maaf saya.”

Mayor Galla tampak sedikit terkejut.

“Hanya itu?”

Aku menarik napas panjang.

“Saya tidak meminta beliau memaafkan saya.”

“Kenapa?”

“Karena saya tahu saya tidak pantas.”

Mayor Galla tidak berkata apa-apa lagi.

Ia hanya berbalik pergi.

Enam bulan kemudian masa hukumanku selesai.

Gerbang tahanan akhirnya terbuka.

Aku keluar hanya membawa satu tas kecil berisi pakaian lusuh.

Tidak ada yang menjemput.

Aku berjalan kaki meninggalkan markas.

Dunia ternyata berubah begitu cepat.

Orang-orang yang dulu mengenalku kini pura-pura tidak melihatku.

Aku melamar pekerjaan ke berbagai tempat.

Tidak ada yang mau menerima mantan narapidana militer.

Akhirnya aku bekerja sebagai buruh bangunan.

Setiap hari mengaduk semen, mengangkat bata, dan mengecor lantai.

Aneh sekali.

Dulu aku menganggap pekerjaan seperti ini hina.

Sekarang pekerjaan inilah yang membuatku bisa makan.

Suatu sore proyek tempatku bekerja menerima tamu penting.

Semua pekerja diminta merapikan lokasi.

Sebuah rombongan mobil mewah berhenti di depan bangunan.

Aku tidak terlalu memperhatikan.

Sampai seorang mandor berteriak.

“Semua berdiri rapi! Direktur Yayasan Hanum Foundation datang!”

Jantungku berhenti berdetak.

Aku perlahan menoleh.

Hanum turun dari mobil.

Penampilannya jauh lebih anggun daripada terakhir kali kulihat.

Di sampingnya berjalan Mayor Galla.

Namun kali ini Galla mengenakan pakaian sipil.

Di belakang mereka ada beberapa dokter dan anak-anak kecil yang mengenakan seragam sekolah.

Mandor menjelaskan bahwa gedung yang sedang kami bangun adalah pusat rehabilitasi gratis bagi veteran, anak yatim, dan keluarga prajurit yang gugur.

Aku tidak berani mendekat.

Aku terus bekerja sambil menunduk.

Tiba-tiba sebuah ember semen terguling dari lantai dua.

Seorang anak kecil berdiri tepat di bawahnya.

“Adik! Minggir!”

Tidak ada waktu.

Aku berlari sekuat tenaga.

Aku mendorong tubuh anak itu menjauh.

Ember besar itu jatuh menghantam bahuku dengan keras.

Aku tersungkur.

Rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuh.

Orang-orang berteriak panik.

“Ambulans!”

Dalam keadaan setengah sadar, aku mendengar suara yang sangat kukenal.

“Arga…”

Aku membuka mata perlahan.

Hanum berlutut di sampingku.

Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya memerah.

“Kenapa kamu melakukan itu?”

Aku tersenyum lemah.

“Dulu… aku sudah terlalu banyak menyakiti orang.”

“Anak itu bukan siapa-siapa bagimu.”

“Justru karena itu.”

Hanum tidak menjawab.

Aku melihat anak kecil tadi memeluk ibunya sambil menangis.

Entah kenapa, hatiku terasa sangat ringan.

Di rumah sakit, dokter mengatakan bahuku retak, tetapi nyawaku selamat.

Ketika aku bangun keesokan harinya, sebuah buket bunga sederhana berada di meja.

Tidak ada nama pengirim.

Hanya sebuah kartu kecil.

“Terima kasih karena akhirnya menjadi lelaki yang dulu selalu kuharapkan.”

Aku mengenali tulisan tangan itu.

Hanum.

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Beberapa hari kemudian Mayor Galla datang menjenguk.

Ia duduk di samping tempat tidur.

“Hanum tidak akan kembali kepadamu.”

Aku mengangguk.

“Saya tahu.”

“Dia akan menikah bulan depan.”

Aku tersenyum tipis.

“Semoga dia bahagia.”

Mayor Galla menatapku cukup lama.

“Aku sengaja mengatakan itu.”

“Apa maksudnya?”

“Untuk melihat apakah kamu benar-benar berubah.”

Aku mengernyit.

“Lalu?”

Mayor Galla mengeluarkan sebuah undangan.

“Bulan depan memang ada acara.”

Aku membaca perlahan.

Peresmian Rumah Sakit Hanum Foundation.

Bukan undangan pernikahan.

Aku menatap Galla.

“Hanum tidak menikah?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Itu bukan urusanmu lagi.”

Aku mengangguk pelan.

“Benar.”

Mayor Galla berdiri.

“Satu hal lagi.”

“Apa?”

“Hanum sudah memaafkanmu.”

Aku membeku.

“Tapi memaafkan bukan berarti kembali.”

Aku menutup mata.

Air mata kembali mengalir.

Kali ini bukan karena kehilangan.

Melainkan karena akhirnya aku memahami arti penyesalan yang sesungguhnya.

Beberapa tahun kemudian, aku bekerja sebagai pengawas pembangunan di yayasan sosial milik pemerintah. Gajinya tidak besar, tetapi cukup untuk hidup sederhana. Aku menggunakan sebagian penghasilanku untuk membantu keluarga prajurit yang kesulitan dan menjadi relawan mengajar anak-anak di akhir pekan.

Suatu hari, saat peresmian cabang baru rumah sakit, aku melihat Hanum dari kejauhan.

Kami saling bertatapan beberapa detik.

Tidak ada lagi kebencian.

Tidak ada lagi penyesalan yang mengikat.

Hanum tersenyum kecil.

Aku membalas senyum itu.

Lalu kami berjalan ke arah yang berbeda.

Aku akhirnya mengerti bahwa hukuman terberat bukanlah kehilangan pangkat, jabatan, atau kebebasan. Hukuman terberat adalah menyadari bahwa seseorang yang pernah mencintaimu dengan sepenuh hati kini hanya mampu mendoakanmu dari kejauhan. Namun justru dari kehilangan itulah aku belajar menjadi manusia yang sesungguhnya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak lagi mengejar kehormatan. Aku hanya ingin menjalani hidup yang layak, dengan hati yang tidak lagi dipenuhi kesombongan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang