Semua orang di ruang makan itu membeku saat suara tawa Hardian terdengar dari setiap ponsel yang tergeletak di atas piring.
Video tersebut direkam dari sudut yang cukup dekat. Hardian terlihat merangkul seorang perempuan di sebuah vila, mencium keningnya, lalu berkata bahwa pernikahannya dengan Gladys hanyalah urusan bisnis.
“Setelah menikah, semuanya akan lebih mudah,” suara Hardian terdengar jelas. “Keluarga Rahardja akan masuk ke jaringan kita, sedangkan Gladys tidak akan berani melawan. Dia tidak punya siapa-siapa.”
Perempuan di sampingnya tertawa kecil.
“Kau yakin dia tidak akan tahu?”
“Kalaupun tahu, mau mengadu kepada siapa?”
Video berhenti tepat ketika wajah perempuan itu terlihat jelas.
Ruangan mendadak sunyi.

Perempuan yang duduk di sisi kanan meja tampak kehilangan seluruh warna di wajahnya. Tangannya gemetar di atas pangkuan, sementara matanya menatap Gladys seolah sedang memohon agar bumi menelannya hidup-hidup.
Namanya Felicia Mandala.
Adik kandung Hardian.
Sekaligus sahabat terdekat Gladys selama hampir sepuluh tahun.
Gladys memandangnya tanpa berkedip.
Jauh lebih menyakitkan mengetahui perempuan dalam video itu adalah Felicia daripada mendengar seluruh penghinaan Hardian siang tadi. Felicia adalah orang yang selalu menemaninya ketika keluarga Rahardja mengabaikannya. Perempuan itu pula yang membantu memilih gaun pengantin, mengatur pesta, dan berulang kali meyakinkan Gladys bahwa Hardian benar-benar mencintainya.
Ternyata semua perhatian itu hanya bagian dari sandiwara.
“Apa-apaan ini?” Bram Mandala, ayah Hardian, berdiri dengan wajah merah padam. “Matikan semuanya!”
Para pelayan tidak bergerak.
Mereka berdiri tenang di dekat pintu, seolah sudah menerima instruksi khusus.
Hardian bangkit kasar dan mengambil salah satu ponsel. Ia membantingnya ke lantai, tetapi ponsel lain terus memutar video yang sama.
“Gladys!” bentaknya. “Kau sudah gila?”
Gladys masih duduk dengan anggun. Gaun hitam sederhana yang dikenakannya membuat wajahnya terlihat semakin pucat, tetapi sorot matanya tetap dingin.
“Aku hanya membantu kalian menyampaikan kabar bahagia,” katanya. “Bukankah hubungan keluarga Mandala memang harus semakin erat?”
“Diam!” Hardian melangkah mendekat.
Namun sebelum tangannya sempat meraih Gladys, seorang pria berjas abu-abu berdiri dari sudut ruangan dan menahan lengannya.
“Jangan menyentuh klien saya.”
Hardian menoleh tajam. “Siapa kau?”
“Raka Pradipta. Pengacara Nona Gladysena Rahardja.”
Semua orang kembali terdiam.
Surya Rahardja, ayah Gladys, akhirnya meletakkan sendoknya. Sejak video diputar, ia tidak menunjukkan keterkejutan sebesar yang lain. Hanya rahangnya yang tampak mengeras.
“Gladys,” katanya dengan suara rendah, “kita bisa membicarakan ini di rumah.”
Gladys menoleh perlahan.
“Rumah?”
Satu kata itu terdengar ringan, tetapi membuat wajah Surya berubah.
“Rumah yang mana, Ayah?” lanjut Gladys. “Rumah tempat aku tumbuh sebagai orang asing? Atau rumah yang akan kalian serahkan kepadaku setelah menikah dengan laki-laki yang menganggapku barang dagangan?”
“Jaga ucapanmu,” desis Livia Rahardja, ibu tirinya. “Jangan mempermalukan keluarga di depan orang luar.”
Gladys tertawa kecil.
“Orang luar?”
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh meja.
“Di ruangan ini, aku rasa hanya aku yang tidak tahu apa-apa. Jadi mungkin akulah orang luarnya.”
Felicia tiba-tiba berdiri. Kursinya bergeser keras.
“Gladys, dengarkan aku. Ini tidak seperti yang kau pikirkan.”
Gladys menatapnya lama.
“Kalimat paling basi yang selalu diucapkan pengkhianat.”
“Aku bisa menjelaskan.”
“Baik. Jelaskan.”
Felicia membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar. Matanya mulai berair.
Hardian segera berdiri di depannya.
“Jangan menyudutkan Felicia. Ini urusan kita.”
“Tidak,” jawab Gladys. “Ini urusan semua orang yang duduk di meja ini.”
Raka mengeluarkan beberapa map dari tas kerjanya, kemudian meletakkannya di depan masing-masing kepala keluarga.
“Dokumen pertama berisi pembatalan pernikahan secara resmi,” katanya. “Dokumen kedua adalah penarikan seluruh persetujuan Nona Gladys atas kerja sama bisnis antara Rahardja Group dan Mandala Media.”
Bram tertawa sinis.
“Persetujuan Gladys? Sejak kapan dia punya wewenang?”
Raka tersenyum tipis.
“Sejak almarhumah ibunya mewariskan tiga puluh tujuh persen saham Rahardja Group atas namanya.”
Sendok di tangan Livia terlepas dan jatuh ke lantai.
Gladys menatap ayahnya.
Surya tidak membantah.
Hardian memandang dari satu wajah ke wajah lain.
“Apa maksudnya?”
“Artinya,” ujar Gladys, “tanpa tanda tanganku, kerja sama yang kalian rancang selama dua tahun tidak bisa dilakukan.”
Bram menatap Surya dengan marah.
“Kau bilang saham itu sudah berada di bawah kendalimu.”
“Secara operasional, ya,” jawab Surya tegang. “Tetapi hak persetujuan tetap milik Gladys.”
“Lalu kenapa kau tidak pernah memberitahuku?” bentak Hardian kepada Gladys.
Gladys tersenyum tipis.
“Karena kau tidak pernah bertanya tentang hidupku. Kau hanya bertanya kapan aku akan menandatangani dokumen yang diberikan ayahmu.”
Hardian mengepalkan tangan.
“Jadi ini rencanamu? Menghancurkan kerja sama hanya karena perselingkuhan?”
“Bukan.”
Gladys berdiri.
“Aku membatalkannya karena kalian menggunakan pernikahan untuk mengambil kendali atas perusahaan yang dibangun ibuku.”
Surya menatap putrinya tajam.
“Jangan membuat tuduhan sembarangan.”
Gladys mengambil ponselnya lalu menekan layar. Sebuah rekaman suara kembali terdengar.
Kali ini suara Bram dan Surya.
“Setelah mereka menikah, Hardian akan membujuk Gladys menandatangani pengalihan hak suara,” kata Bram dalam rekaman itu. “Setelah itu, Mandala Media akan mengendalikan opini publik, sementara Rahardja Group menyediakan modal.”
Suara Surya menyusul.
“Pastikan Hardian tetap terlihat mencintainya sampai semua dokumen selesai.”
Gladys menekan tombol jeda.
Tidak ada seorang pun yang berani bergerak.
Bahkan Hardian tampak terkejut. Ia menoleh kepada ayahnya.
“Ayah bilang pernikahan ini hanya untuk memperkuat bisnis.”
“Memang begitu,” jawab Bram cepat.
“Kau tidak pernah bilang aku harus mengambil hak suaranya.”
“Kau tidak perlu tahu semuanya.”
Hardian tertawa pendek, pahit.
Untuk pertama kalinya malam itu, kesombongan di wajahnya mulai retak.
Ia menatap Felicia, lalu ayahnya, kemudian Gladys.
“Kalian semua merencanakan ini di belakangku?”
Gladys mengangkat alis.
“Menarik. Baru beberapa menit menjadi korban, kau sudah terlihat tersinggung.”
Hardian menatapnya tajam, tetapi tidak membalas.
Felicia perlahan kembali duduk. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Aku memang salah,” katanya lirih. “Tapi aku tidak pernah bermaksud merebut Hardian darimu.”
Gladys menoleh.
“Lalu apa yang sebenarnya kau lakukan?”
Felicia menggigit bibir.
Bram membentak, “Jangan bicara!”
Namun Felicia justru berdiri lebih tegak.
“Cukup, Ayah.”
Suara perempuan itu masih bergetar, tetapi kali ini ada keberanian di dalamnya.
Ia menatap Gladys.
“Hardian bukan kakak kandungku.”
Semua orang terdiam.
Hardian membeku.
Felicia melanjutkan, “Aku baru tahu enam bulan lalu. Ibu memberitahuku sebelum meninggal. Hardian adalah anak dari hubungan Ayah dengan perempuan lain. Ia dibawa ke keluarga kami ketika masih bayi, lalu diperkenalkan sebagai anak kandung.”
Hardian memandang Bram seolah baru pertama kali melihatnya.
“Itu bohong.”
Bram berdiri. “Felicia, tutup mulutmu!”
“Aku sudah terlalu lama diam!” teriak Felicia. “Ayah memaksaku mendekati Hardian karena takut dia akan mengambil seluruh warisan keluarga. Ayah ingin aku merekam semua keburukannya agar bisa mengendalikannya.”
Gladys menatap Felicia dengan sorot yang sulit dibaca.
“Jadi hubungan kalian…”
“Tidak seperti yang terlihat,” jawab Felicia cepat. “Aku memang memeluknya. Aku memang membiarkan dia mengira aku mencintainya. Tetapi semua itu karena Ayah menyuruhku mencari bukti bahwa Hardian tidak pantas memimpin Mandala Media.”
Hardian mundur selangkah.
“Kau menjebakku?”
Felicia menangis.
“Awalnya, iya.”
“Awalnya?”
Felicia menunduk.
“Lalu semuanya menjadi kacau.”
Jawaban itu cukup menjelaskan bahwa perasaan palsu tersebut telah berubah menjadi sesuatu yang nyata.
Hardian tertawa pelan. Suaranya terdengar kosong.
Ia kehilangan calon istri, kekasih, keluarga, bahkan identitasnya dalam satu malam.
Namun Gladys tidak merasakan kepuasan yang ia bayangkan.
Yang tersisa hanya lelah.
Bram menunjuknya dengan marah.
“Kau pikir kau menang? Video itu akan kuhapus dari semua media. Tidak ada satu pun kantor berita yang berani menayangkannya.”
Gladys mengambil tasnya.
“Aku tidak mengirimkannya kepada media.”
Bram tersenyum meremehkan.
“Bagus. Setidaknya kau masih punya akal.”
“Aku mengirimkannya kepada para pemegang saham, klien utama, investor, dan lembaga pengawas pasar modal.”
Senyum Bram lenyap.
Raka menambahkan, “Laporan dugaan manipulasi saham dan pemalsuan dokumen juga sudah diterima pihak berwenang sore tadi.”
Surya berdiri dengan wajah pucat.
“Kau melaporkan ayahmu sendiri?”
Gladys menatapnya.
“Tidak. Aku melaporkan seorang direktur yang menyalahgunakan perusahaan milik pemegang saham.”
“Aku membesarkanmu!”
“Tidak,” jawab Gladys tenang. “Ayah hanya memastikan aku tetap hidup. Ibu yang membesarkanku, bahkan setelah dia meninggal, melalui semua perlindungan hukum yang ia tinggalkan.”
Livia mendekati Gladys.
“Kau tidak tahu apa yang sudah kami korbankan untukmu.”
Gladys menatap perempuan itu tanpa emosi.
“Aku tahu. Kalian mengorbankan kebahagiaanku, masa depanku, dan hakku demi mempertahankan kenyamanan kalian.”
Ia berbalik menuju pintu.
Hardian mengejarnya.
“Gladys, tunggu.”
Gladys berhenti, tetapi tidak menoleh.
“Aku tahu aku salah,” kata Hardian. “Tapi kita masih bisa memperbaiki semuanya. Aku bisa meninggalkan Felicia. Aku akan menikahimu. Aku akan—”
Gladys berbalik perlahan.
“Masih saja kau pikir hadiah terbesar yang bisa kau berikan kepadaku adalah dirimu.”
Hardian terdiam.
“Aku tidak butuh laki-laki yang baru menghargai seseorang setelah menyadari nilai sahamnya.”
Wajah Hardian berubah merah.
“Kau juga memanfaatkanku!”
“Tidak. Aku mencintaimu dengan tulus.” Suara Gladys untuk pertama kalinya terdengar rapuh. “Dan itu kesalahan yang tidak akan kuulangi.”
Ia melangkah pergi.
Di lobi hotel, beberapa petugas berseragam telah menunggu. Mereka masuk melewati Gladys, diikuti sejumlah wartawan yang entah mendapat kabar dari mana.
Lampu kamera menyala.
Suara pertanyaan memenuhi ruangan.
Bram mencoba menghindar. Surya berdiri mematung. Felicia menutupi wajahnya, sedangkan Hardian hanya menatap Gladys dari kejauhan.
Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu.
Tidak ada cinta di mata Gladys.
Tidak ada pula kebencian.
Hanya akhir.
Tiga bulan kemudian, Mandala Media kehilangan sebagian besar investornya. Bram ditahan atas dugaan manipulasi laporan keuangan dan pemaksaan pengalihan saham. Surya mengundurkan diri dari jabatannya setelah audit menemukan transaksi ilegal selama bertahun-tahun.
Hardian kehilangan kontrak peran utama yang selama ini ia banggakan. Beberapa rumah produksi juga membatalkan kerja sama karena reputasinya runtuh.
Felicia menghilang dari publik. Sebelum pergi ke luar negeri, ia meninggalkan sebuah surat untuk Gladys.
Aku tidak meminta maaf agar kau memaafkanku. Aku hanya ingin kau tahu bahwa dari semua kepalsuan yang kulakukan, persahabatanku denganmu adalah satu-satunya yang nyata. Justru karena itu, pengkhianatanku menjadi lebih kejam.
Gladys tidak pernah membalas surat tersebut.
Ia mengambil alih kursi komisaris utama Rahardja Group dan mengganti sebagian besar jajaran direksi. Banyak orang mengira ia melakukan semuanya demi balas dendam.
Namun pada rapat pertamanya, Gladys mengumumkan pembentukan yayasan yang membantu perempuan memperoleh bantuan hukum ketika menjadi korban tekanan keluarga, pernikahan paksa, dan manipulasi finansial.
Nama yayasan itu diambil dari nama ibunya.
Setahun kemudian, Gladys berdiri di depan makam sang ibu sambil membawa setangkai bunga lili putih.
“Aku akhirnya mengerti,” bisiknya. “Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah hancur. Menjadi kuat berarti berani membangun diri lagi setelah orang lain mencoba menghancurkan kita.”
Angin berembus lembut.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk.
Aku tahu ibumu tidak meninggal karena kecelakaan. Aku punya bukti siapa yang merencanakan semuanya.
Gladys menatap layar cukup lama.
Jantungnya berdetak keras, tetapi tangannya tetap tenang.
Ia mengetik satu jawaban.
Kirimkan lokasinya.
Beberapa detik kemudian, sebuah alamat muncul.
Gladys memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu menatap nama ibunya yang terukir di batu nisan.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Ternyata kisahnya belum selesai.
