Aku menatap layar ponsel dengan tangan gemetar.
Pesan dari Nida hanya terdiri dari satu kalimat pendek.
“Tasya, kalau kamu masih di kantor, jangan pulang dulu. Aku baru melihat seseorang yang sangat mirip Mas Rama bersama Mbak Arni di sebuah kafe.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Aku membaca pesan itu berulang kali, berharap mataku salah melihat.

Tidak mungkin.
Mungkin Nida keliru.
Mungkin hanya orang yang mirip.
Namun bayangan tentang parfum yang sama, pakaian Mbak Arni semalam, tanda merah di lehernya, dan suara yang sempat kudengar kembali berputar di kepalaku.
Aku mencoba menghubungi Mbak Arni.
Tidak aktif.
Aku menelepon Mas Rama.
“Sayang?” suara suamiku terdengar tenang.
“Mas lagi di mana?”
“Di kantor. Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Cuma mau tanya.”
“Mas lagi rapat. Nanti kita ngobrol di rumah ya.”
Telepon ditutup.
Aku menggenggam ponsel semakin erat.
Kalau memang dia di kantor, kenapa Nida mengatakan melihatnya?
Aku mengambil tas dan berkata kepada manajer produksi bahwa aku harus keluar sebentar.
Perjalanan menuju kafe terasa sangat panjang.
Saat mobilku berhenti di depan bangunan itu, aku melihat Nida sudah menungguku.
“Aku takut salah, Tasya.”
“Mana mereka?”
“Tadi duduk di pojok sana. Tapi lima menit lalu mereka keluar.”
“Yakin itu Mas Rama?”
Nida mengangguk pelan.
“Aku kenal dia. Aku pernah bertemu di pesta ulang tahunmu.”
Aku menoleh ke arah parkiran.
Kosong.
“Mobilnya?”
“Mereka naik taksi.”
Aku menarik napas panjang.
Hatiku semakin kacau.
“Maaf kalau aku membuatmu panik.”
“Tidak. Terima kasih sudah memberi tahu.”
Aku hendak kembali ke mobil ketika mataku menangkap sesuatu di lantai dekat meja pojok.
Sebuah gantungan kunci berbentuk bunga matahari.
Aku langsung mengenalinya.
Itu milik Bila.
Beberapa bulan lalu aku sendiri yang membelikannya.
Kenapa gantungan itu ada di sini?
Aku mengambilnya tanpa berkata apa-apa.
…
Sesampainya di rumah, suasana terlihat normal.
Bila sedang belajar di ruang tamu.
Mbak Arni sedang menyiram tanaman.
“Lho, Sya? Kok pulang cepat?”
“Iya. Ada pekerjaan yang selesai lebih awal.”
Aku memperhatikan wajahnya.
Tidak terlihat gugup.
Justru sangat tenang.
Aku memutuskan tidak bertanya apa pun.
Malam itu aku sulit tidur.
Begitu Mas Rama masuk kamar mandi, aku tanpa sengaja melihat ponselnya bergetar di atas meja.
Nama pengirimnya tidak disimpan.
Hanya nomor.
Isi pesannya membuatku membeku.
“Terima kasih. Hari ini hampir saja ketahuan.”
Dadaku sesak.
Aku ingin membuka percakapan itu.
Namun ponsel menggunakan sidik jari.
Mas Rama keluar dari kamar mandi.
Aku buru-buru menjauh.
“Kenapa belum tidur?”
“Belum ngantuk.”
Mas Rama tersenyum lalu memelukku.
“Akhir-akhir ini kamu terlalu banyak bekerja.”
Aku tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya, pelukan suamiku tidak lagi terasa hangat.
…
Keesokan harinya aku mengambil keputusan.
Aku menyewa seorang penyelidik pribadi.
Namanya Pak Damar.
Mantan anggota kepolisian yang kini bekerja sebagai investigator.
“Apa yang ingin Ibu ketahui?”
“Aku tidak ingin menuduh siapa pun. Aku hanya ingin tahu kebenarannya.”
“Baik.”
“Awasi suamiku… dan kakak iparku.”
Pak Damar tidak banyak bertanya.
Ia hanya menerima foto mereka.
“Tiga hari.”
“Itu terlalu lama.”
“Kalau ingin bukti yang tidak terbantahkan, kita harus sabar.”
Aku mengangguk.
Selama tiga hari itu, aku berpura-pura hidup seperti biasa.
Sarapan bersama.
Bekerja.
Mengantar Cira.
Mengobrol dengan Mbak Arni.
Tidak seorang pun tahu bahwa setiap detik aku dihantui rasa curiga.
Hari ketiga, Pak Damar datang ke kantorku.
Ia meletakkan sebuah map cokelat di atas meja.
“Saya menemukan sesuatu.”
Tanganku gemetar membuka map itu.
Beberapa foto keluar.
Foto pertama memperlihatkan Mas Rama dan Mbak Arni duduk di sebuah restoran.
Foto kedua memperlihatkan mereka masuk ke sebuah gedung apartemen.
Air mataku hampir jatuh.
Namun Pak Damar buru-buru berkata,
“Tunggu dulu. Jangan menyimpulkan apa pun sebelum melihat semuanya.”
Aku membuka foto berikutnya.
Mas Rama sedang berbicara dengan seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun.
Lalu ada foto Mbak Arni bersama wanita paruh baya yang tidak kukenal.
“Apa ini?”
Pak Damar mengeluarkan sebuah flashdisk.
“Saya juga merekam percakapan mereka.”
Aku langsung memutar rekaman itu.
Suara pertama adalah suara Mas Rama.
“Dokumen rumah harus selesai minggu depan.”
Lalu suara Mbak Arni.
“Kalau Tasya tahu sekarang, dia pasti menolak.”
Jantungku kembali berdegup keras.
Mereka memang menyembunyikan sesuatu.
Namun rekaman itu berlanjut.
“Aku ingin memberikan semuanya sebagai kejutan ulang tahunnya.”
Aku terdiam.
Mas Rama kembali berbicara.
“Rumah ini atas nama Tasya. Tapi aku ingin memindahkan pabrik baru juga atas namanya. Dia sudah bekerja terlalu keras selama ini.”
Aku memandang Pak Damar.
“Ini…”
“Masih ada lagi.”
Suara wanita tua terdengar.
“Pak Rama benar. Jangan sampai Bu Tasya tahu dulu. Semua proses hibah harus selesai.”
Aku menghela napas panjang.
Berarti…
Bukan perselingkuhan?
Namun aku masih bingung.
“Lalu kenapa mereka sering bertemu diam-diam?”
Pak Damar mengeluarkan satu foto terakhir.
“Karena mereka sedang mengurus sesuatu yang lebih rumit.”
Foto itu memperlihatkan seorang pria muda.
Wajahnya sangat mirip almarhum Mas Aldi.
“Siapa dia?”
“Namanya Dimas.”
“Siapa Dimas?”
“Adik kandung Mbak Arni.”
Aku mengernyit.
“Mbak Arni tidak pernah bilang punya adik.”
“Karena selama bertahun-tahun pria itu dipenjara.”
Aku membeku.
“Dia baru bebas dua bulan lalu.”
Pak Damar menjelaskan bahwa Dimas terlilit utang besar kepada kelompok kriminal.
Kelompok itu mengetahui Mbak Arni tinggal di rumahku.
Mereka berkali-kali datang mengancam.
Karena takut aku panik, Mbak Arni meminta bantuan Mas Rama.
Mereka diam-diam menjual beberapa aset peninggalan almarhum Mas Aldi untuk melunasi utang Dimas agar keluargaku tidak ikut menjadi sasaran.
Aku masih sulit mempercayainya.
“Lalu kenapa parfum mereka sama?”
Pak Damar tersenyum tipis.
“Saya juga sempat bingung.”
Ia menunjukkan nota pembelian.
Ternyata parfum itu adalah hadiah perusahaan yang dibagikan kepada seluruh peserta seminar bisnis tempat Mas Rama dan Mbak Arni sama-sama hadir beberapa hari sebelumnya.
“Dan tanda merah di leher?”
Pak Damar memperbesar sebuah foto.
“Mbak Arni mengalami alergi akibat kalung imitasi yang dipakai saat seminar. Saya sudah konfirmasi ke dokter klinik yang memeriksanya.”
Aku menunduk.
Air mata akhirnya jatuh.
Semua kecurigaanku ternyata salah.
Namun aku masih mengingat satu hal.
“Kalau begitu… kenapa semalam ada pesan berbunyi hampir ketahuan?”
Pak Damar tersenyum lagi.
“Itu tentang kejutan ulang tahun Ibu.”
Aku memejamkan mata.
Selama beberapa hari terakhir, aku telah menghukum orang-orang yang justru sedang berusaha membahagiakanku.
Malam itu aku pulang dengan perasaan campur aduk.
Begitu membuka pintu rumah, seluruh lampu mendadak padam.
Aku terkejut.
Lalu suara anak-anak terdengar.
“Selamat ulang tahun!”
Lampu menyala.
Ruang tamu berubah penuh balon dan bunga.
Cira memelukku.
Bila ikut tersenyum sambil membawa kue.
Mbak Arni berdiri di samping Mas Rama dengan mata berkaca-kaca.
Di halaman belakang terlihat sebuah papan bertuliskan nama perusahaan baru.
“PT Tasya Kreatif Indonesia.”
Aku menoleh ke arah Mas Rama.
“Apa ini?”
“Semua sahamnya atas namamu.”
Aku tidak mampu berkata-kata.
Mas Rama menggenggam tanganku.
“Selama ini kamu selalu menganggap usahamu hanya usaha sampingan. Padahal kamulah yang membangun semuanya. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku bangga menjadi suamimu.”
Air mataku mengalir tanpa bisa kutahan.
Aku memeluk Mbak Arni.
“Maafkan aku.”
Mbak Arni terlihat bingung.
“Kenapa minta maaf?”
“Karena aku sempat berpikir yang bukan-bukan.”
Ia tersenyum sambil mengusap punggungku.
“Kalau aku berada di posisimu, mungkin aku juga akan curiga.”
Aku menggeleng pelan.
“Seharusnya aku bertanya, bukan berprasangka.”
Malam itu aku menyadari satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh siapa pun.
Sering kali, yang menghancurkan sebuah keluarga bukanlah pengkhianatan, melainkan prasangka yang dibiarkan tumbuh tanpa keberanian untuk mencari kebenaran. Dan sejak hari itu, aku berjanji bahwa dalam rumah tangga kami, kepercayaan akan selalu berjalan berdampingan dengan kejujuran.
