“Mbak cuma menantu di rumah ini. Makan, minum, tidur gratis… Jadi, tahu diri dong, Mbak!”
Kalimat itu menghantam dadaku lebih keras daripada rasa nyeri yang sejak tadi menjalar di pinggangku. Aku menatap ibu mertuaku dan Via bergantian. Selama tujuh tahun aku menelan semua hinaan mereka, tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa ada sesuatu yang patah di dalam diriku.
“Bu, aku yang memasak untuk keluarga ini. Aku yang membersihkan rumah, mencuci pakaian kalian semua, bahkan ikut memikirkan biaya kebutuhan rumah tangga. Apa semua itu sama sekali tidak ada nilainya?”
Ibu mertuaku hanya tertawa kecil.
“Itu memang kewajiban menantu. Jangan merasa berjasa.”

Aku memandang suamiku yang berdiri tak jauh dari pintu dapur. Arman hanya menundukkan kepala. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya untuk membelaku.
Saat itulah aku sadar.
Selama ini aku tidak sedang membangun rumah tangga. Aku hanya sedang bekerja tanpa upah.
Aku kembali mencuci piring dengan tangan gemetar. Air mataku jatuh bercampur dengan air sabun. Bayiku bergerak cukup keras di dalam kandungan seolah ikut merasakan kesedihanku.
Tiba-tiba pandanganku berkunang-kunang.
Aku mencoba bertahan.
Namun rasa sakit di perutku semakin hebat.
“Mas…”
Ember di tanganku terjatuh. Tubuhku ikut roboh ke lantai.
“Dewi!” Arman berlari menghampiriku.
Aku melihat darah mengalir di sela-sela kakiku.
Semua orang yang tadi sibuk memarahiku langsung panik.
Di rumah sakit, dokter segera membawa aku ke ruang pemeriksaan.
Arman mondar-mandir di depan pintu sambil berkeringat dingin.
Tak lama kemudian dokter keluar.
“Pasien mengalami kontraksi dini akibat kelelahan dan stres. Syukurlah bayi masih bisa diselamatkan, tapi mulai hari ini ibu hamil sama sekali tidak boleh bekerja berat. Kalau dipaksakan lagi, nyawa ibu dan bayi bisa terancam.”
Arman langsung memandang ibunya.
Namun wanita itu hanya menghela napas.
“Namanya juga orang hamil. Dokter sekarang memang suka membesar-besarkan.”
Aku mendengar semuanya.
Hatiku terasa benar-benar mati.
Beberapa hari kemudian aku diperbolehkan pulang.
Dokter memberikan surat berisi anjuran bed rest total selama minimal satu bulan.
Kupikir surat itu akan membuat keluarga suamiku berubah.
Ternyata aku terlalu berharap.
Baru dua hari di rumah, ibu mertuaku sudah berdiri di depan kamar.
“Dewi, bangun. Baju-baju sudah menumpuk.”
“Bu… dokter melarang saya banyak bergerak.”
“Ibu juga dulu hamil lima kali. Tetap kerja dari pagi sampai malam. Anak-anak Ibu sehat semua.”
Aku menggeleng pelan.
“Maaf, Bu. Kali ini saya benar-benar tidak bisa.”
Wajah ibu mertuaku langsung berubah.
“Dasar menantu malas.”
Hari demi hari suasana rumah semakin panas.
Via dan Airin sengaja membiarkan rumah berantakan.
Piring kotor menggunung.
Lantai tidak disapu.
Baju tidak dicuci.
Setiap kali ibu mertuaku marah, mereka selalu berkata,
“Itu semua gara-gara Mbak Dewi.”
Padahal aku bahkan tidak diizinkan dokter berdiri terlalu lama.
Yang paling menyakitkan justru sikap Arman.
Ia memang mulai membantu mencuci piring dan menyapu rumah.
Namun setiap selesai bekerja, ia selalu mengeluh kepadaku.
“Ternyata capek juga ya.”
Aku hanya tersenyum pahit.
Baru beberapa hari dia mengerjakan pekerjaan yang selama tujuh tahun kulakukan sendirian.
Suatu malam aku mendengar percakapan dari ruang tamu.
“Aku capek, Bu. Dewi benar-benar nggak bisa bantu.”
“Itulah kenapa Ibu dulu melarang kamu menikah sama perempuan karier. Lihat sekarang. Baru hamil saja sudah manja.”
Aku menggenggam selimut erat.
Selama tujuh tahun, aku bekerja di sebuah toko pakaian dari pagi hingga sore.
Gajiku hampir selalu habis untuk membantu kebutuhan rumah.
Tagihan listrik.
Belanja bulanan.
Biaya sekolah Airin.
Bahkan biaya kuliah Via beberapa semester juga pernah kubantu.
Tak satu pun dari mereka pernah menganggap itu sebagai pengorbanan.
Keesokan harinya, aku membuka aplikasi mobile banking.
Aku memperhatikan mutasi rekening.
Selama bertahun-tahun aku rutin mentransfer uang kepada Arman setiap awal bulan.
Jumlahnya tidak sedikit.
Aku menghela napas panjang.
Mulai bulan depan, semuanya selesai.
Sebulan kemudian aku melahirkan lebih cepat dari perkiraan.
Seorang bayi laki-laki yang sehat.
Tangisnya menjadi suara paling indah yang pernah kudengar.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Tiga hari setelah pulang dari rumah sakit, ibu mertuaku berkata,
“Kalau sudah melahirkan berarti sudah sehat. Besok mulai masak lagi.”
Aku bahkan masih kesulitan berjalan.
Tubuhku masih dijahit.
ASI-ku belum lancar.
Tetapi yang dipikirkan mereka hanyalah siapa yang akan memasak.
Aku menatap Arman.
“Mas… kali ini kamu bicara.”
Arman terdiam lama.
“Lakukan saja pelan-pelan, Wi. Biar Ibu nggak marah.”
Aku tersenyum.
Bukan senyum bahagia.
Melainkan senyum seseorang yang akhirnya berhenti berharap.
Malam itu, saat semua orang tidur, aku membuka lemari.
Aku mengeluarkan koper yang sudah lama kusimpan.
Perlahan aku memasukkan pakaian bayi.
Pakaianku sendiri.
Dokumen penting.
Buku tabungan.
Surat-surat rumah yang selama ini kusimpan dengan rapi.
Pagi harinya aku menggendong bayiku keluar dari kamar.
Ibu mertuaku melihatku.
“Mau ke mana?”
“Pulang.”
“Ini juga rumahmu.”
Aku menggeleng.
“Bukan, Bu.”
“Apa maksudmu?”
“Rumah adalah tempat seseorang dihargai. Selama tujuh tahun saya hanya dianggap pembantu.”
Via tertawa sinis.
“Paling juga dua hari balik lagi.”
Aku tersenyum tipis.
“Tidak.”
Arman langsung mengejarku sampai halaman.
“Dewi, jangan egois.”
Aku berhenti.
“Egois?”
“Iya.”
“Mas, selama tujuh tahun siapa yang bangun paling pagi?”
“Kamu.”
“Siapa yang tidur paling malam?”
“Kamu.”
“Siapa yang bekerja di luar rumah lalu tetap mengurus semua pekerjaan rumah?”
“Kamu.”
“Siapa yang membayar sebagian kebutuhan keluarga?”
“Kamu.”
“Kalau begitu, siapa sebenarnya yang egois?”
Arman membisu.
Aku naik ke mobil yang sejak tadi menunggu.
Mobil itu milik kakakku.
Sebelum pintu tertutup, aku menyerahkan sebuah map kepada Arman.
“Kalau sudah tenang, baca.”
Mobil perlahan meninggalkan rumah.
Di dalam map itu terdapat semua bukti transfer yang kulakukan selama tujuh tahun.
Jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah.
Ada juga semua kuitansi pembayaran listrik, air, cicilan motor Arman, hingga biaya kuliah Via.
Di halaman terakhir terdapat secarik surat.
“Terima kasih sudah membuatku sadar bahwa aku tidak pernah menjadi bagian dari keluarga ini. Aku memang tinggal di rumah kalian, tetapi selama tujuh tahun akulah yang ikut membiayai rumah itu. Mulai hari ini, aku memilih menjadi ibu yang dihargai anakku daripada menjadi menantu yang terus dihina.”
Baru saat itulah Arman mengetahui sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari.
Selama bertahun-tahun, ibunya selalu berkata bahwa Dewi tidak pernah membantu keuangan rumah.
Padahal semua uang yang kuberikan selalu diterima ibunya diam-diam dan tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.
Arman marah besar.
Ia meminta penjelasan ibunya.
Wanita itu akhirnya mengaku.
“Aku sengaja. Kalau kamu tahu Dewi banyak membantu, nanti kamu terlalu membelanya.”
Pengakuan itu membuat Arman terduduk lemas.
Selama ini ia telah membiarkan istrinya dihina berdasarkan kebohongan yang dibuat ibunya sendiri.
Beberapa minggu kemudian, Arman datang ke rumah orang tuaku.
Tubuhnya tampak jauh lebih kurus.
Ia membawa bunga dan mainan kecil untuk putra kami.
“Dewi… aku minta maaf.”
Aku mempersilahkannya masuk.
Ia menangis untuk pertama kalinya di hadapanku.
“Aku baru sadar setelah mengurus rumah sendiri. Aku baru tahu semua yang kamu lakukan setiap hari. Aku benar-benar gagal menjadi suami.”
Aku mendengarkannya tanpa menyela.
“Bisakah kita mulai lagi?”
Aku menatap bayi kami yang sedang tertidur pulas.
“Aku bisa memaafkanmu, Mas.”
Wajahnya sedikit berbinar.
“Tapi memaafkan bukan berarti kembali.”
Ia terdiam.
“Aku sudah terlalu lama mengajarkan anakku di dalam kandungan bahwa ibunya harus diam saat diperlakukan tidak adil. Aku tidak ingin mengajarkan hal yang sama kepada anakku setelah dia lahir.”
Air mata Arman kembali jatuh.
Ia tahu semuanya sudah terlambat.
Beberapa bulan kemudian, aku membuka usaha katering kecil bersama kakakku.
Masakan yang dulu dianggap sebagai kewajiban tanpa nilai, kini menjadi sumber penghasilanku sendiri.
Usaha itu berkembang pesat.
Aku mempekerjakan beberapa ibu rumah tangga yang membutuhkan pekerjaan.
Setiap kali mereka berkata, “Terima kasih sudah menghargai kami,” aku selalu teringat pada rumah yang pernah kutinggali.
Aku akhirnya mengerti.
Bukan semua keluarga menerima kehadiran seorang menantu sebagai anak.
Tetapi setiap perempuan selalu berhak memilih untuk tidak tinggal di tempat yang membuatnya kehilangan harga diri.
Karena menjadi menantu bukan berarti menyerahkan seluruh hidup untuk dihina. Kadang, keberanian terbesar bukanlah bertahan selama mungkin, melainkan melangkah pergi pada saat kita sadar bahwa diri kita memang pantas dihargai.
