“Ayo, Bu. Tampar saja. Saya enggak takut. Mau pipi kiri atau pipi kanan?”
Suasana mendadak sunyi. Bu Tinah menarik tangannya perlahan. Wajahnya memerah menahan marah. Mungkin baru kali ini ada yang berani melawannya secara terang-terangan.
“Kamu berubah sejak kapan?” desisnya.
“Sejak saya sadar diam saya selama ini cuma membuat semua orang semakin semena-mena.”
Aku menggandeng tangan Dian masuk ke rumah tanpa menoleh lagi. Di belakangku, Bu Tinah masih mengumpat, tetapi aku tak lagi peduli.
Malam itu Mas Ahmad pulang. Wajahnya kusut. Begitu masuk, dia langsung melempar tas ke sofa.
“Kamu bikin ulah lagi sama Ibu?”

“Aku cuma membela diri.”
“Ibu bilang kamu hampir mukul dia!”
Aku tertawa pelan.
“Kalau memang aku mau mukul, pasti dari dulu sudah kulakukan. Tapi kenyataannya, yang hampir memukul justru ibumu.”
Mas Ahmad mendengus.
“Sudahlah, minta maaf saja.”
Aku menatapnya lama.
“Kenapa selalu aku?”
“Karena kamu istriku.”
“Dan aku juga manusia.”
Jawabanku membuatnya terdiam beberapa detik.
“Aku capek, Yan.”
“Aku juga.”
“Jangan bikin masalah lagi.”
“Masalahnya bukan aku.”
Aku masuk ke kamar membawa Dian. Malam itu kami tidur membelakangi satu sama lain.
Keesokan paginya aku menghubungi mantan atasanku.
“Bu Yani? Wah, lama sekali.”
“Iya, Pak. Maaf mengganggu. Saya mau tanya… apakah masih ada lowongan?”
Atasanku terdengar antusias.
“Kebetulan sekali. Dua minggu lalu salah satu staf kami resign. Kami malah sempat mencari nomor Ibu.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Kalau Ibu bersedia, Senin depan langsung masuk. Posisinya masih sama.”
Air mataku hampir jatuh.
“Terima kasih, Pak.”
Hari itu juga aku mengurus semua persiapannya. Aku membeli beberapa pakaian kerja dengan uang tabunganku yang tersisa. Aku juga membuat jadwal lengkap untuk Bude Darmi tentang kebutuhan Dian.
Saat Mas Ahmad tahu aku diterima bekerja lagi, wajahnya langsung berubah.
“Kamu serius?”
“Iya.”
“Siapa yang mengurus Dian?”
“Sudah ada.”
“Enggak usah kerja.”
Aku tersenyum tipis.
“Katanya aku pengangguran.”
“Itu cuma emosi.”
“Kalau begitu, sekarang aku mau membuktikan aku bukan pengangguran.”
Mas Ahmad tak bisa berkata-kata.
Hari pertama bekerja terasa begitu mengharukan. Rekan-rekan lamaku menyambutku dengan hangat.
“Bu Yani akhirnya balik juga.”
“Kami kangen hasil kerja Ibu.”
Baru beberapa hari bekerja, aku kembali menemukan ritme yang dulu sempat hilang. Aku merasa hidup lagi. Aku bisa menggunakan kemampuan yang selama bertahun-tahun terkubur di balik tumpukan cucian dan piring kotor.
Sebulan kemudian gajiku pertama kali masuk.
Aku langsung mentransfer biaya penitipan Dian kepada Bude Darmi untuk tiga bulan sekaligus. Aku juga membeli rak buku kecil dan beberapa buku cerita untuk Dian.
Saat pulang, Dian memelukku erat.
“Ibu sekarang sering senyum.”
Kalimat sederhana itu membuat dadaku sesak.
Ternyata selama ini bukan hanya aku yang menderita. Dian juga merasakan semuanya.
Sementara itu keadaan di rumah mertua mulai berubah.
Karena aku bekerja, aku tidak lagi sempat datang setiap pagi untuk memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan melayani adik-adik ipar seperti dulu.
Bu Tinah mulai kewalahan.
Rina yang biasanya bangun siang terpaksa mencuci piring sendiri.
Via mulai belajar memasak karena tak ada lagi yang menyiapkan makan siangnya.
Setiap hari terdengar pertengkaran dari rumah sebelah.
Suatu sore Bu Tinah datang ke rumahku.
“Kamu sengaja ya?”
“Sengaja apa, Bu?”
“Sengaja bikin rumah jadi berantakan.”
Aku hampir tertawa.
“Bukannya selama ini itu memang rumah Ibu?”
“Iya.”
“Kalau begitu ya memang tanggung jawab penghuninya.”
“Tapi selama ini kamu yang mengerjakan.”
“Karena saya baik.”
Bu Tinah menggigit bibir.
“Kamu sekarang jadi pelit.”
“Bukan pelit. Saya cuma berhenti dimanfaatkan.”
Perempuan itu pulang sambil menggerutu.
Dua bulan berlalu.
Prestasiku di kantor kembali menonjol. Atasanku bahkan mempercayaiku menangani proyek besar dengan klien nasional.
Bonus pertamaku cukup besar.
Dengan uang itu aku mulai mencicil rumah sederhana di kompleks yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor.
Aku tidak memberi tahu siapa pun.
Termasuk Mas Ahmad.
Suatu malam, saat sedang makan, Mas Ahmad berkata pelan.
“Ibu minta kamu bantu lagi mulai minggu depan.”
“Aku enggak bisa.”
“Kenapa?”
“Aku kerja.”
“Sabtu saja.”
“Sabtu aku mau sama Dian.”
“Minggu?”
“Minggu juga.”
Mas Ahmad menghela napas.
“Kamu berubah.”
Aku mengangguk.
“Iya.”
“Dulu kamu selalu nurut.”
“Dulu aku mengira menjadi istri yang baik berarti mengorbankan diri sendiri.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku tahu menjadi istri bukan berarti kehilangan harga diri.”
Percakapan itu berakhir tanpa kesimpulan.
Namun sejak saat itu hubungan kami semakin dingin.
Beberapa minggu kemudian aku pulang lebih awal.
Rumah kosong.
Dian masih di tempat Bude Darmi.
Aku hendak mengambil dokumen di lemari ketika mendengar suara telepon Mas Ahmad berdering di meja.
Layar ponselnya menyala.
“Ibu.”
Aku berniat memanggilnya.
Namun tanpa sengaja terdengar suara dari speaker karena panggilan terangkat sendiri saat ponsel tersenggol map.
“Mad, uang arisan bulan ini gimana? Adikmu butuh bayar cicilan motor.”
“Nanti aku transfer, Bu.”
“Tapi uangmu kurang.”
“Nanti saya ambil dari tabungan Yani saja.”
Aku membeku.
Suara Bu Tinah terdengar lagi.
“Bagus. Memang uang istri ya uang suami.”
“Tapi jangan sampai dia tahu.”
“Dia itu terlalu polos.”
Panggilan terputus.
Tanganku gemetar.
Malam itu aku membuka buku tabungan yang selama ini jarang kuperiksa.
Aku terkejut.
Ada beberapa transaksi yang tidak pernah kulakukan.
Jumlahnya memang tidak besar sekali, tetapi rutin.
Aku langsung mencetak mutasi rekening keesokan harinya.
Benar saja.
Selama hampir tiga tahun, Mas Ahmad diam-diam memindahkan sebagian uang tabunganku.
Nilainya mencapai puluhan juta rupiah.
Dadaku terasa sesak.
Selama ini aku selalu dituduh tidak menghasilkan apa-apa.
Padahal uang hasil kerjaku dulu diam-diam dipakai untuk memenuhi kebutuhan keluarga mertuaku.
Aku membawa semua bukti itu pulang.
Malamnya aku meletakkan berkas di meja.
“Apa ini?” tanya Mas Ahmad.
“Kamu baca.”
Wajahnya perlahan berubah pucat.
“Yan… aku bisa jelaskan.”
“Aku mau dengar.”
“Itu buat bantu Ibu.”
“Pakai uangku?”
“Kita kan suami istri.”
“Kenapa diam-diam?”
Dia terdiam.
“Kenapa?”
“Aku takut kamu enggak setuju.”
“Tentu saja aku enggak setuju.”
Air mataku akhirnya jatuh.
“Mas, selama ini aku berhenti kerja demi keluarga. Aku mengurus anak kita. Aku melayani keluargamu. Aku dihina pengangguran. Aku dianggap beban. Ternyata diam-diam uangku sendiri yang dipakai menghidupi mereka.”
Mas Ahmad menunduk.
“Aku salah.”
“Salahmu bukan karena mengambil uangku.”
Dia menatapku.
“Salahmu karena membiarkan semua orang menginjak harga diriku.”
Malam itu untuk pertama kalinya sejak menikah, Mas Ahmad menangis.
“Aku benar-benar minta maaf.”
“Aku percaya kamu menyesal.”
“Kasih aku kesempatan.”
Aku menggeleng pelan.
“Kesempatan selalu aku kasih. Bertahun-tahun.”
Seminggu kemudian rumah yang kucicil selesai tahap administrasi.
Aku membawa Dian ke sana.
Rumahnya memang kecil. Hanya dua kamar, dengan halaman mungil yang cukup untuk menanam bunga.
Namun saat Dian berlari-lari sambil tertawa, aku merasa tempat itu jauh lebih luas daripada rumah besar yang selama ini kutinggali.
“Bu, ini rumah kita?”
“Iya.”
“Enggak ada yang marah-marah?”
Aku memeluknya erat.
“Enggak ada.”
“Dian suka.”
Aku tersenyum sambil menahan air mata.
Beberapa hari kemudian Mas Ahmad datang.
Dia berdiri lama di depan pagar.
“Aku boleh masuk?”
“Silakan.”
Dia melihat setiap sudut rumah kecil itu.
“Aku enggak tahu kamu sudah beli rumah.”
“Aku juga baru sadar ternyata aku mampu berdiri sendiri.”
Mas Ahmad menatap Dian yang sedang menggambar di ruang tamu.
“Aku kehilangan banyak waktu bersama anakku.”
“Kamu masih punya kesempatan. Tapi bukan dengan kembali ke cara yang lama.”
Dia mengangguk perlahan.
“Aku sudah pindah dari rumah Ibu.”
Aku terdiam.
“Aku sadar selama ini aku lebih menjadi anak daripada menjadi suami dan ayah.”
Aku tidak langsung menjawab.
Perubahan tidak bisa diukur dari kata-kata.
Hanya waktu yang bisa membuktikannya.
Beberapa bulan kemudian, Mas Ahmad benar-benar berubah. Ia menyewa rumah kecil tidak jauh dari tempat tinggalku agar mudah bertemu Dian. Ia mulai mengantar putrinya ke sekolah setiap akhir pekan, hadir saat pentas kecil di taman kanak-kanak, dan tak pernah lagi menyerahkan seluruh hidupnya pada kemauan ibunya.
Aku belum tahu bagaimana akhir hubungan kami sebagai suami istri.
Namun aku tahu satu hal.
Hari ketika aku berani berkata, “Silakan tampar saya,” bukanlah hari aku melawan mertuaku.
Hari itu adalah hari pertama aku berhenti mengkhianati diriku sendiri.
Dan sejak saat itulah, bukan hanya hidupku yang berubah.
Dian juga akhirnya tumbuh di rumah yang mengajarkannya satu pelajaran paling berharga: menghormati orang lain memang penting, tetapi menjaga harga diri sendiri jauh lebih penting daripada terus hidup demi menyenangkan mereka yang tak pernah menghargaimu.
