“Cukup-cukup, Yumna! Kamu itu boros banget sih jadi perempuan! Perasaan baru kemarin aku kasih uang, kok sekarang udah habis lagi?”

Aku menatap telapak tangan Laras yang terulur di depanku. Kukunya dihias mengilap, gelang emas tipis melingkar di pergelangan tangannya, sementara di belakangnya motor baru yang cicilannya dibayar dari uang yang seharusnya membeli susu Sekar berdiri gagah di bawah matahari.

Anehnya, kemarahanku mendadak menghilang.

Bukan karena aku menyerah, melainkan karena pada detik itu aku akhirnya tahu apa yang harus kulakukan.

Aku tersenyum tipis.

“Duitnya ada.”

“Nah, gitu dong.” Laras mengibaskan rambutnya. “Dari tadi bikin orang nunggu.”

Aku mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu dari dalam amplop, lalu menyerahkannya kepadanya.

Laras langsung menghitung.

“Lho, kok cuma lima ratus ribu?”

“Karena itu bagianmu bulan ini.”

Wajahnya berubah.

“Maksud Mbak apa? Mas Fahri bilang satu juta buat aku, empat juta buat Ibu.”

“Aku tidak pernah menyetujui pembagian itu.”

Laras tertawa pendek seolah baru mendengar lelucon paling bodoh.

“Mbak siapa memangnya? Itu kan uang Mas Fahri.”

“Dia suamiku. Uang itu penghasilan keluarga kami. Ada kebutuhan anak yang harus didahulukan.”

Laras memasukkan uang lima ratus ribu ke dalam tasnya dengan gerakan kasar.

“Jangan sok ngatur, Mbak. Sejak kapan istri pengangguran punya hak bicara soal gaji suami?”

Kata pengangguran itu menghantam bagian diriku yang selama bertahun-tahun kupendam.

Aku menatapnya lurus.

“Sejak istri pengangguran itu berhenti bekerja karena diminta kakakmu mengurus rumah dan anaknya.”

“Alasan.”

“Dulu, saat Fahri belum mendapat pekerjaan tetap, siapa yang membayar uang muka kontrakan ini?”

Laras diam sesaat.

“Siapa yang menanggung biaya persalinan Sekar saat tabungan kakakmu tidak cukup?”

“Itu kan masa lalu.”

“Siapa yang menjual gelang pemberian ibunya supaya Fahri bisa ikut pelatihan kerja di Jakarta?”

Laras memutar bola mata.

“Aku nggak tahu dan nggak mau tahu. Pokoknya uang Ibu mana?”

“Aku akan memberikannya langsung kepada Ibu setelah aku melihat tagihan berobat dan kebutuhan rumah yang katanya menghabiskan empat juta setiap bulan.”

Wajah Laras menegang.

“Mbak menuduh Ibu bohong?”

“Aku cuma ingin melihat buktinya.”

“Keterlaluan!”

Laras berbalik hendak pergi, tetapi aku segera memanggilnya.

“Laras.”

Dia menoleh dengan tatapan tajam.

“Aku akan kembali bekerja.”

Laras tertawa keras.

“Mbak? Kerja? Dengan tampang kusut begitu? Surat izin perawat Mbak saja mungkin sudah mati.”

“Hampir kedaluwarsa, belum mati.”

Senyumnya perlahan lenyap.

Aku melanjutkan dengan suara tenang, “Mulai bulan depan, jangan harap aku menjadi kurir uang untuk kalian lagi. Kalau kalian butuh sesuatu, bicara langsung dengan Fahri. Aku akan mengurus kebutuhanku dan Sekar sendiri.”

Laras mendekatkan wajahnya kepadaku.

“Mbak pikir Mas Fahri bakal mengizinkan?”

Aku menggenggam gagang pintu.

“Aku tidak meminta izin.”

Kututup pintu tepat di depan wajahnya.

Dari luar, Laras mengumpat sambil menelepon seseorang. Aku tidak peduli. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kakiku tidak gemetar.

Aku segera mengambil ponsel dan menghubungi satu nama yang sudah lama tidak kusapa.

Mira.

Dia adalah sahabatku ketika kami bekerja di klinik bersalin lima tahun lalu. Dulu kami hampir selalu mendapat jadwal malam yang sama. Setelah aku menikah dan berhenti bekerja, aku perlahan menjauh karena malu mengakui keadaan rumah tanggaku.

Telepon baru tersambung setelah dering ketiga.

“Yumna?”

Suara Mira terdengar terkejut.

“Iya, Mir. Maaf tiba-tiba menghubungi.”

“Ya Allah, kamu ke mana saja? Nomormu masih sama, tapi pesan-pesanku nggak pernah dibalas.”

Aku menunduk, menahan rasa bersalah.

“Aku malu.”

“Malu kenapa?”

Aku memandangi Sekar yang sedang menyusun balok mainannya di lantai.

“Mir, klinik tempatmu bekerja masih butuh perawat?”

Mira terdiam sesaat.

“Kamu mau kerja lagi?”

“Iya.”

“STR-mu bagaimana?”

“Masih aktif tiga bulan lagi. Aku bisa langsung mengurus perpanjangannya.”

“Di klinikku kebetulan ada perawat yang mengundurkan diri. Tapi jadwalnya bergilir. Kadang malam.”

“Aku siap.”

“Yumna, kamu serius?”

Air mataku mulai menggenang, tetapi kali ini bukan karena lemah.

“Aku serius. Aku harus menyelamatkan diriku dan anakku.”

Nada suara Mira berubah lembut.

“Datang besok pagi. Bawa semua berkasmu. Aku bicara dengan kepala klinik hari ini.”

Setelah telepon ditutup, aku merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari dalam diriku.

Harapan.

Namun harapan itu belum sempat tumbuh utuh ketika suara motor Mas Fahri terdengar berhenti di depan rumah menjelang sore.

Pintu dibuka dengan keras.

Mas Fahri masuk bersama Laras dan ibu mertuaku.

Ibu mengenakan gamis mahal berwarna marun, tas bermerek tergantung di lengannya, dan gelang emas bertumpuk di pergelangan tangannya. Dia sama sekali tidak tampak seperti janda sakit-sakitan yang membutuhkan empat juta rupiah untuk biaya berobat.

“Yumna!” bentak Mas Fahri. “Kamu apakan Laras?”

Aku berdiri di dekat meja makan.

“Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Kamu cuma kasih dia lima ratus ribu dan menahan uang Ibu?”

“Aku menyimpan uangnya untuk kebutuhan rumah.”

Ibu mertua langsung memukul meja dengan telapak tangannya.

“Dasar perempuan nggak tahu diri! Uang anakku mau kamu kuasai semua?”

“Bu, saya tidak menguasai semuanya. Saya hanya meminta kebutuhan Sekar dipenuhi lebih dulu.”

“Sekar, Sekar, Sekar terus! Anak kecil makan apa sih? Nasi lembek sama sayur juga hidup!”

Dari sudut ruangan, Sekar memeluk bonekanya erat-erat.

Aku berdiri di depannya, melindunginya dari suara-suara keras itu.

“Sekar cucu Ibu.”

“Jangan mengajari saya!”

Mas Fahri mengulurkan tangan.

“Mana uang empat setengah juta itu?”

“Aku akan pakai dua juta untuk beras, listrik, popok, susu, sepatu Sekar, dan perpanjangan STR-ku.”

Mas Fahri membeku.

“Perpanjangan STR?”

“Aku mau bekerja lagi.”

“Siapa yang mengizinkan?”

“Aku tidak butuh izin untuk menggunakan ijazahku sendiri.”

Wajahnya memerah.

“Kamu mau kerja terus siapa yang urus Sekar? Siapa yang masak? Siapa yang bersihin rumah?”

“Aku bisa mencari penitipan anak yang dekat dengan klinik. Soal rumah, kita bisa berbagi tugas.”

Laras terkekeh.

“Berbagi tugas katanya. Mas Fahri pulang kerja capek masih disuruh nyapu?”

Aku menatapnya.

“Suamimu juga tinggal di rumahmu, bukan? Kenapa dia tidak membayar cicilan motornya sendiri?”

Laras langsung menutup mulut.

Mas Fahri maju satu langkah.

“Pokoknya kamu nggak boleh kerja. Aku nggak suka istriku keluyuran.”

“Bekerja di klinik bukan keluyuran.”

“Aku bilang tidak boleh!”

“Aku tetap akan bekerja.”

Tangannya terangkat. Aku spontan mundur sambil menutup tubuh Sekar.

Namun sebelum tangannya menyentuhku, sebuah suara terdengar dari pintu depan yang masih terbuka.

“Turunkan tanganmu, Fahri.”

Kami semua menoleh.

Seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan kemeja abu-abu sederhana dan membawa map hitam.

Aku mengenalnya.

Pak Hendra, pemilik rumah kontrakan kami.

Mas Fahri menurunkan tangannya.

“Pak Hendra? Ada apa?”

Pak Hendra masuk dengan wajah serius.

“Saya datang untuk membicarakan rumah ini.”

Mas Fahri mendadak gelisah.

“Kalau soal sewa, bulan depan saya bayar.”

Pak Hendra mengernyit.

“Sewa apa?”

Kami semua saling berpandangan.

Pak Hendra membuka mapnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

“Rumah ini sudah lunas dibeli tiga tahun lalu.”

Aku merasa darah berhenti mengalir.

“Dibeli?” tanyaku pelan.

“Iya. Atas nama Fahri.”

Aku menoleh kepada suamiku.

Wajahnya pucat.

Pak Hendra melanjutkan, “Dulu dia meminta saya merahasiakannya dari keluarga. Katanya ingin memberi kejutan kepada istrinya setelah sertifikat selesai diproses. Tapi sampai sekarang biaya balik nama belum dibayar. Saya sudah berkali-kali menghubunginya.”

Aku menatap Mas Fahri, mencoba memahami.

“Jadi rumah ini bukan kontrakan?”

Mas Fahri tidak menjawab.

Pak Hendra menggeleng.

“Bukan. Uang muka pembelian waktu itu tiga puluh juta. Sisanya dicicil selama dua tahun. Sudah lunas enam bulan lalu.”

Kepalaku berdengung.

Tiga puluh juta.

Aku teringat tabungan yang kuberikan kepada Mas Fahri sebelum berhenti bekerja. Uang itu kukumpulkan bertahun-tahun dari gajiku sebagai perawat. Fahri mengatakan uang tersebut digunakan untuk membayar uang muka kontrakan dan modal mencari kerja.

“Uang muka rumah ini,” suaraku bergetar, “dari mana?”

Mas Fahri menelan ludah.

Ibu mertuaku tiba-tiba menyela.

“Ya dari uang Fahri sendiri, lah!”

Pak Hendra membuka catatan pembayaran.

“Pembayaran pertama ditransfer dari rekening atas nama Yumna Azzahra.”

Ruang tamu mendadak sunyi.

Aku memejamkan mata sejenak. Jadi uangku bukan sekadar dipakai tanpa izin. Fahri juga menyembunyikan kepemilikan rumah agar aku terus merasa tidak punya apa-apa.

“Kenapa kamu bohong?” tanyaku.

“Aku bisa jelasin.”

“Jelaskan sekarang.”

Mas Fahri melirik ibunya.

“Aku cuma nggak mau kamu besar kepala karena merasa ikut membeli rumah.”

Aku hampir tidak percaya mendengarnya.

“Ikut membeli? Itu uang tabunganku seluruhnya!”

“Tapi cicilannya aku yang bayar!”

“Dengan gaji keluarga kita.”

Ibu mertua maju membela anaknya.

“Sudahlah, yang penting rumah itu atas nama Fahri. Jadi kamu jangan berharap macam-macam.”

Pak Hendra mengangkat selembar dokumen lain.

“Maaf, Bu. Sertifikat jual beli sementara mencantumkan nama Fahri dan Yumna sebagai pembeli bersama. Itu permintaan Fahri sendiri saat akad awal.”

Mas Fahri menunduk.

Aku menatapnya lama.

Mungkin dulu, di awal pernikahan, masih ada bagian dalam dirinya yang menganggapku pasangan. Namun entah sejak kapan, rasa bersalah itu berubah menjadi kebohongan, lalu kebohongan berubah menjadi kekuasaan.

Pak Hendra menyerahkan salinan dokumen kepadaku.

“Bu Yumna berhak mengetahui ini.”

Setelah Pak Hendra pergi, ibu mertua langsung merampas dokumen itu dari tanganku.

“Jangan senang dulu! Kamu tetap istri Fahri. Apa pun milikmu ya milik suamimu.”

Aku merebutnya kembali.

“Dan menurut logika Ibu, apa pun milik Fahri juga milikku, bukan?”

Ibu terdiam.

Laras memandang kakaknya dengan wajah panik.

“Mas, uang Ibu gimana?”

Kalimat itu membuatku tertawa. Di tengah terbongkarnya kebohongan sebesar ini, yang dipikirkan Laras tetap uang.

Mas Fahri menatapku dengan rahang mengeras.

“Berikan uang itu. Kita bahas masalah rumah nanti malam.”

“Tidak.”

“Aku suamimu.”

“Dan aku bukan bendahara keluargamu.”

Mas Fahri meraih lenganku, tetapi kali ini aku menepisnya kuat-kuat.

“Jangan sentuh aku.”

Sekar menangis dan memanggilku. Aku segera menggendongnya.

“Mulai hari ini, uang yang tersisa akan kupakai untuk kebutuhan Sekar dan perpanjangan STR. Kalian bertiga silakan pulang.”

Ibu mertuaku tertawa sinis.

“Kamu mengusir kami dari rumah anakku?”

Aku mengangkat dokumen di tangan.

“Dari rumah yang uang mukanya kubayar.”

Mereka akhirnya pergi setelah Mas Fahri berjanji akan mengantarkan uang kepada ibunya malam nanti. Sebelum keluar, ia menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan.

Marah, malu, sekaligus takut.

Malam itu Mas Fahri tidak pulang.

Aku tidak mencarinya.

Keesokan paginya, Mira menjemputku dan Sekar. Wawancara di klinik berlangsung lebih baik dari yang kubayangkan. Kepala klinik masih mengingat namaku karena dahulu aku pernah membantu menangani keadaan darurat saat listrik padam.

Aku diterima dengan masa percobaan satu bulan.

Gajinya tidak besar, tetapi cukup untuk memulai hidup baru.

Mira juga membantu mencarikan tempat penitipan anak yang dikelola oleh sepupunya, hanya dua rumah dari klinik.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, semuanya terasa seperti pintu yang mulai terbuka.

Tiga hari kemudian, Mas Fahri pulang.

Wajahnya kusut. Bajunya sama seperti saat ia pergi.

“Aku mau bicara.”

Aku sedang menyiapkan berkas perpanjangan STR di meja makan.

“Bicaralah.”

“Ibu masuk rumah sakit.”

Tanganku berhenti.

“Sakit apa?”

“Tekanan darahnya naik setelah kejadian kemarin.”

Meski hubungan kami buruk, aku tetap merasa khawatir.

“Sekarang bagaimana kondisinya?”

“Sudah stabil.”

Aku mengangguk.

Mas Fahri duduk di seberangku.

“Ibu butuh uang.”

Aku menatapnya.

“Berapa?”

“Sepuluh juta.”

“Untuk biaya rumah sakit?”

Mas Fahri tidak langsung menjawab.

Aku sudah mengenal gerak-geriknya. Tatapan yang menghindar, jari-jari yang mengetuk meja, napas yang tidak teratur.

“Fahri, untuk apa sepuluh juta?”

Ia meremas rambutnya.

“Laras punya utang pinjaman online.”

Aku tercekat.

“Berapa totalnya?”

“Dua puluh delapan juta.”

Aku tertawa getir.

“Jadi Ibu tidak masuk rumah sakit karena aku.”

“Dia syok setelah penagih datang ke rumah.”

“Dan kalian ingin aku menyerahkan uang kebutuhan Sekar untuk membayar utang Laras?”

“Aku sudah kasih semua uangku bulan ini ke Ibu. Tapi kurang.”

“Bukankah kamu bilang Laras hanya butuh cicilan motor?”

Mas Fahri diam.

“Selama ini uang satu juta setiap bulan dipakai untuk apa?”

“Bayar bunga.”

Aku menggeleng tak percaya.

“Sudah berapa lama?”

“Hampir setahun.”

Berarti selama hampir setahun anakku kekurangan susu karena Fahri diam-diam membayar bunga utang adiknya.

Aku menutup map di depanku.

“Aku tidak akan membayar.”

“Yumna, penagihnya mengancam akan datang ke kantor Laras.”

“Itu akibat dari keputusan Laras sendiri.”

“Dia adikku!”

“Dan Sekar anakmu!”

Suaraku menggema di ruangan.

Mas Fahri terdiam.

Aku menarik napas panjang.

“Besok aku mulai bekerja. Sekar akan masuk tempat penitipan anak. Aku akan membuka rekening sendiri. Mulai sekarang, semua kebutuhan rumah harus dibagi secara jelas.”

Mas Fahri menatapku seolah aku orang asing.

“Kamu berubah.”

“Tidak. Aku hanya kembali menjadi diriku sendiri.”

Dua minggu berlalu. Aku mulai bekerja di klinik. Hari-hari pertama terasa berat, tetapi setiap kali mengenakan seragam perawat, aku seperti menemukan kembali perempuan yang pernah hilang.

Aku belajar mengatur jadwal. Pagi-pagi sekali aku memasak, mengantar Sekar, lalu bekerja. Mira sering membantuku saat jadwal berubah.

Mas Fahri awalnya menolak melakukan pekerjaan rumah. Namun ketika aku berhenti menyiapkan makan malam untuknya, ia mulai belajar menggoreng telur sendiri.

Hubungan kami dingin, tetapi rumah tidak lagi dipenuhi teriakan.

Sampai suatu sore, seorang perempuan datang ke klinik mencariku.

Ia mengenakan pakaian kantor yang rapi. Namanya Nadia.

“Apa benar Anda istri Fahri Pratama?”

Aku mengangguk perlahan.

Nadia mengeluarkan sebuah amplop.

“Saya dari bagian audit perusahaan tempat suami Anda bekerja.”

Jantungku berdebar.

“Ada apa?”

“Kami menemukan beberapa transaksi mencurigakan. Sejumlah dana operasional perusahaan ditransfer ke rekening pribadi atas nama Laras Pratami.”

Dunia seolah berhenti bergerak.

“Berapa jumlahnya?”

“Empat puluh tujuh juta rupiah.”

Aku menutup mulut.

Nadia melanjutkan, “Fahri mengaku uang itu dipinjamkan kepada adiknya dan akan dikembalikan. Perusahaan memberi waktu tiga hari sebelum membawa kasus ini ke jalur hukum.”

Malam itu, aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan.

Mas Fahri sudah duduk di ruang tamu. Begitu melihatku, ia tahu aku telah mendengar semuanya.

“Aku bisa jelaskan.”

“Kamu mengambil uang perusahaan?”

“Aku cuma pinjam.”

“Tanpa izin?”

Ia menunduk.

“Laras bilang dia diteror. Aku panik.”

Aku memandang laki-laki di depanku. Selama ini ia selalu menyebut dirinya anak berbakti dan kakak yang bertanggung jawab. Namun ternyata semua itu bukan lagi pengorbanan. Itu ketakutan untuk berkata tidak.

“Kamu mungkin masuk penjara,” kataku pelan.

“Aku butuh bantuanmu.”

“Bantuan apa?”

“Rumah ini bisa dijual.”

Aku tertawa kecil, bukan karena lucu, melainkan karena tak percaya.

“Jadi akhirnya itu alasan kamu pulang baik-baik?”

“Kalau rumah dijual, aku bisa mengembalikan uang perusahaan.”

“Lalu Sekar tinggal di mana?”

“Kita bisa kontrak lagi.”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Yumna, ini masa depanku!”

“Dan selama lima tahun, kamu tidak pernah memikirkan masa depanku.”

Ia berlutut di depanku.

Untuk pertama kalinya, Mas Fahri menangis.

“Aku salah. Aku tahu aku salah. Tapi kalau aku dipenjara, Sekar juga akan malu punya ayah pencuri.”

Kalimat itu menusukku. Bukan karena aku ingin menyelamatkan Fahri, tetapi karena Sekar tidak seharusnya menanggung dosa orang dewasa.

Aku menatap dokumen rumah yang kusimpan di dalam map.

“Aku tidak akan menjual rumah ini.”

Wajah Fahri runtuh.

“Tapi aku akan meminjamkan uang dari hasil kredit dengan jaminan bagianku atas rumah, hanya sebesar kerugian perusahaan.”

Ia menatapku dengan harapan.

“Ada syaratnya.”

“Apa saja.”

“Kamu harus membuat pengakuan tertulis kepada perusahaan dan menerima sanksi mereka. Kamu harus berhenti mengirim uang kepada Ibu dan Laras tanpa persetujuan bersama. Gajimu masuk ke rekening keluarga, dan semua pengeluaran dicatat. Laras harus menjual motor dan barang-barang mewahnya untuk membayar utang. Ibumu juga harus berhenti memakai alasan sakit untuk meminta uang.”

Mas Fahri mengangguk cepat.

“Dan satu lagi,” kataku.

“Apa?”

“Kita akan menjalani konseling pernikahan. Kalau kamu kembali membentak, merendahkan, atau menyembunyikan uang, aku akan mengajukan perceraian.”

Ia terdiam lama.

Akhirnya, ia mengangguk.

Perusahaan tidak memenjarakan Fahri, tetapi menurunkan jabatannya dan memotong sebagian gajinya sampai utang lunas. Laras terpaksa menjual motor, tas, dan perhiasannya. Suaminya yang selama ini mengaku kesulitan akhirnya ketahuan sering berjudi daring dan pergi meninggalkannya setelah utang terbongkar.

Ibu mertua tidak berbicara denganku selama berbulan-bulan.

Aku tidak keberatan.

Setahun kemudian, aku berdiri di depan cermin dengan seragam perawat yang rapi. Wajahku masih memiliki bekas jerawat, tetapi mataku tidak lagi kosong.

Sekar berlari menghampiriku sambil membawa sepatu barunya.

“Bunda, lihat! Sepatunya muat!”

Aku berjongkok dan membantunya memasang perekat sepatu.

Di dapur, Fahri sedang menyiapkan sarapan. Ia tidak lagi bekerja di posisi lamanya, tetapi perlahan membangun kembali kepercayaan yang pernah ia hancurkan.

Hubungan kami belum sempurna. Luka-luka lama tidak hilang hanya karena permintaan maaf. Namun kini aku punya penghasilan, rekening sendiri, dokumen rumah yang aman, dan keberanian untuk pergi kapan pun aku kembali diperlakukan tidak layak.

Sebelum berangkat, Fahri menghampiriku dan menyerahkan sebuah amplop.

“Apa ini?”

“Bukti transfer cicilan terakhir ke perusahaan.”

Aku membukanya. Utangnya akhirnya lunas.

Fahri menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Terima kasih karena waktu itu kamu menolongku.”

Aku menggeleng.

“Aku tidak menolongmu.”

Ia terlihat bingung.

“Aku menolong ayah dari anakku agar berani bertanggung jawab. Selebihnya, kamu menyelamatkan dirimu sendiri.”

Aku menggandeng tangan Sekar lalu melangkah keluar.

Di depan pintu, aku berhenti dan menoleh ke ruang tamu sempit yang dahulu menjadi tempat aku menangis sambil menghitung uang sejuta untuk bertahan hidup selama sebulan.

Rumah itu masih sama.

Dindingnya belum dicat ulang. Sofanya masih lama. Meja makannya masih memiliki goresan.

Namun perempuan yang tinggal di dalamnya sudah berbeda.

Dulu aku mengira kebebasan datang ketika seseorang memberiku cukup uang.

Ternyata aku salah.

Kebebasan datang ketika aku berhenti meminta izin untuk menghargai diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang