“Kalau terbukti Cana memang anak kandungmu! Kalau terbukti selama ini kamulah yang telah memfitnah wanita yang hidupnya sudah kau hancurkan! Maka kau harus menyerahkan seluruh hak asuh Cana kepada Eka tanpa syarat. Eka akan mengajukan gugatan hak asuh itu. Kau juga harus mengembalikan semua aset milik Eka yang selama ini kau kuasai. Dan—”

Cana mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Bibir kecilnya bergetar saat menatap Sena dengan penuh harap.

“Om… mau jadi Ayahnya Cana?”

Pertanyaan itu menghantam hati semua orang yang berada di ruangan itu.

Sena menelan ludah. Dadanya terasa sesak melihat mata bening yang dipenuhi luka itu. Ia mengusap rambut Cana dengan lembut, lalu tersenyum tipis.

“Kalau suatu hari nanti Cana mengizinkan, Om akan selalu ada untuk menjaga Cana. Tapi sekarang, Om ingin Cana tahu satu hal. Ayah kandungmu tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah hati seseorang yang sedang tertutup oleh kebencian.”

Cana memeluk Sena semakin erat.

“Ayah benci Cana…”

“Bukan,” sela Eka sambil memeluk putrinya dari belakang. “Tidak ada satu anak pun yang pantas disalahkan atas kesalahan orang dewasa.”

Tangisan mereka bertiga membuat beberapa perawat ikut menundukkan kepala menahan haru.

Sena kemudian berdiri.

“Mulai hari ini, semua proses tes DNA akan dilakukan di rumah sakit ini dengan pengawasan langsung dariku. Sampel akan diambil dari Cana, Galih, dan Eka. Semua proses direkam. Tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke laboratorium tanpa izin.”

Ia menatap kepala laboratorium yang baru saja datang.

“Kalau ada satu prosedur saja yang dilanggar, saya akan memecat orang itu saat juga.”

Kepala laboratorium mengangguk tegas.

“Siap, Dokter.”

Berita tentang tantangan Sena kepada Galih menyebar begitu cepat. Dalam hitungan jam, media sosial dipenuhi berbagai spekulasi. Sebagian besar orang langsung menghakimi Eka karena selama bertahun-tahun Galih telah membangun citra sebagai suami yang tersakiti. Namun ada pula yang mulai mempertanyakan mengapa seorang dokter sekaliber Sena berani mempertaruhkan nama baik rumah sakitnya jika memang tidak yakin dengan kebenaran.

Sementara itu, di dalam mobil, Nabila terus menggigit bibirnya.

“Yah… aku punya firasat buruk.”

Galih mendengus.

“Kamu terlalu banyak berpikir.”

“Kalau ternyata Cana benar-benar anakmu?”

“Itu mustahil.”

“Tapi…”

“Aku bilang mustahil!”

Galih memukul setir hingga klakson berbunyi keras.

“Aku sendiri yang menuduh Eka berselingkuh karena semua bukti mengarah ke sana. Aku tidak mungkin salah.”

Nabila menoleh ke luar jendela. Jemarinya gemetar.

Ia justru tahu bahwa Galih bisa saja salah.

Karena hanya dirinya yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun lalu.

Malam itu Nabila diam-diam menelepon seseorang.

“Semua arsip lama harus hilang.”

Suara di seberang terdengar panik.

“Tapi Bu… Dokter Purwa masih hidup.”

“Kalau begitu pastikan dia tidak muncul.”

Telepon langsung diputus.

Di sisi lain kota, Dokter Purwa yang telah pensiun sedang menikmati teh hangat di teras rumahnya ketika sebuah motor berhenti di depan pagar.

Seorang pria bertopi turun perlahan.

Namun sebelum sempat mendekat, dua mobil polisi datang dari arah berlawanan.

Pria bertopi itu langsung melarikan diri.

Dokter Purwa kebingungan.

Seorang polisi menghampirinya.

“Maaf mengganggu, Dokter. Kami menerima laporan bahwa keselamatan Anda sedang terancam.”

Dokter Purwa terdiam.

Dalam benaknya, nama Nabila langsung muncul.

Keesokan harinya, proses pengambilan sampel dilakukan.

Ruang laboratorium dijaga ketat.

Galih datang dengan wajah penuh percaya diri.

“Ini akan menjadi hari kehancuranmu, Eka.”

Eka tidak menjawab.

Ia hanya menggenggam tangan Cana yang terus memeluk boneka kecilnya.

Sena memimpin seluruh prosedur.

Setiap tabung darah diberi kode, disegel, lalu dimasukkan ke dalam kotak khusus. Semua kamera merekam tanpa henti.

Ketika pengambilan sampel selesai, Sena menyerahkan semuanya kepada kepala laboratorium.

“Hasilnya keluar tiga hari lagi.”

Galih tersenyum sinis.

“Tiga hari lagi hidupmu tamat.”

Namun tiga hari itu justru menjadi mimpi buruk bagi Nabila.

Ia terus mencoba menghubungi seseorang di laboratorium.

Tak ada yang menjawab.

Ia mengirim uang.

Ditolak.

Ia mengirim ancaman.

Tidak ada balasan.

Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa rumah sakit milik Sena benar-benar tertutup rapat.

Hari ketiga tiba.

Lobi rumah sakit dipenuhi wartawan.

Galih sengaja mengundang media agar kehancuran Eka disaksikan semua orang.

“Sebentar lagi semua orang akan tahu siapa wanita pembohong itu,” katanya penuh percaya diri.

Sena keluar dari ruang rapat membawa sebuah amplop cokelat.

Seluruh ruangan langsung hening.

“Apakah semua pihak siap menerima hasil laboratorium?”

“Sangat siap,” jawab Galih sambil tersenyum.

Sena membuka amplop itu perlahan.

Matanya membaca beberapa lembar hasil pemeriksaan.

Ekspresinya berubah.

Galih tertawa kecil.

“Lihat? Bahkan kamu sendiri kaget.”

Sena menutup kembali berkas itu.

“Ada dua hasil yang perlu diumumkan.”

Galih mengerutkan dahi.

“Dua?”

“Hasil pertama.”

Sena mengangkat lembar paling atas.

“Berdasarkan pemeriksaan DNA, probabilitas hubungan biologis antara Galih dan Cana mencapai 99,9999 persen.”

Ruangan seolah berhenti bernapas.

Galih membeku.

Nabila kehilangan keseimbangan hingga hampir jatuh.

Eka langsung memeluk Cana sambil menangis lega.

Para wartawan saling berbisik.

“Kedua.”

Suara Sena kembali terdengar.

“Sesuai perjanjian yang telah disaksikan banyak orang, Galih wajib menyerahkan hak asuh Cana kepada Eka tanpa syarat, mengembalikan seluruh aset atas nama Eka, serta memenuhi semua konsekuensi yang telah disepakati.”

Galih mundur beberapa langkah.

“Tidak… ini palsu…”

Sena menyerahkan hasil laboratorium kepada beberapa wartawan.

“Silakan diperiksa.”

Galih langsung merebut berkas itu.

Semakin lama membaca, wajahnya semakin pucat.

Tangannya mulai gemetar.

“Mustahil…”

Saat itulah seorang pria tua berjalan masuk ke lobi.

Semua orang menoleh.

“Dokter Purwa…”

Sena tersenyum tipis.

“Beliau datang atas permintaanku.”

Dokter Purwa berdiri tepat di depan Galih.

“Dulu, kamulah yang memintaku menyimpan rapat seluruh prosedur bayi tabung karena tidak ingin keluargamu tahu bahwa kamu mengalami gangguan kesuburan sementara akibat pengobatan yang sedang dijalani. Semua prosedur dilakukan sesuai persetujuanmu.”

Galih menatapnya dengan mata membelalak.

“Kenapa… kenapa Dokter baru bicara sekarang?”

“Karena dulu kalian masih suami istri. Aku terikat kerahasiaan medis. Tapi setelah kamu sendiri menuduh mantan istrimu berzina di depan umum dan memberikan izin tertulis untuk membuka seluruh rekam medis demi proses hukum, kewajiban kerahasiaan itu gugur.”

Kalimat itu membuat seluruh lobi bergemuruh.

Galih terduduk lemas.

Semua tuduhannya selama bertahun-tahun ternyata lahir dari kesombongan dan prasangkanya sendiri.

Nabila perlahan mundur.

Namun Sena memanggilnya.

“Tunggu.”

Nabila berhenti.

“Apa lagi?”

Sena mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Tim keamanan rumah sakit berhasil merekam seseorang yang mencoba menyuap petugas laboratorium dua hari lalu.”

Wajah Nabila berubah pucat.

“Selain itu, polisi juga telah menangkap orang yang dikirim untuk mengintimidasi Dokter Purwa.”

Beberapa polisi langsung masuk ke lobi.

“Nabila, Anda diminta ikut bersama kami untuk pemeriksaan.”

“Tidak! Aku tidak melakukan apa-apa!”

“Tersangka sudah mengaku menerima perintah melalui telepon dari Anda.”

Nabila menoleh kepada Galih.

“Tolong aku!”

Namun Galih hanya duduk mematung.

Ia bahkan tidak sanggup mengangkat kepala.

Beberapa menit kemudian, setelah semua proses administrasi selesai, Sena menyerahkan satu map kepada pengacara Eka.

“Semua dokumen pengembalian aset sudah lengkap.”

Galih menatap Cana yang sedang menggenggam tangan ibunya.

Air mata akhirnya jatuh dari matanya.

“Cana…”

Anak kecil itu berhenti melangkah.

Galih berlutut perlahan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar menundukkan kepala.

“Ayah yang salah.”

Cana tidak langsung mendekat.

Ia hanya memandang pria yang selama ini paling ingin ia peluk.

“Ayah benar-benar minta maaf.”

Cana menoleh kepada Eka.

Eka mengangguk pelan.

Anak kecil itu berjalan mendekat, lalu memeluk Galih sebentar.

“Ayah boleh minta maaf… tapi Ayah jangan bohong lagi sama Cana.”

Kalimat sederhana itu menghancurkan benteng terakhir dalam hati Galih.

Ia menangis sejadi-jadinya di tengah lobi rumah sakit, disaksikan semua orang.

Hari itu, bukan hasil tes DNA yang paling mengubah hidup mereka.

Melainkan keberanian untuk mengakui kesalahan, karena kebenaran mungkin bisa terlambat datang, tetapi ketika akhirnya tiba, ia selalu menemukan jalannya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang