Sinta menahan tawanya ketika melihat Ardian menurunkan Ajeng di depan gedung kantor dengan sepeda motor. Kemeja pria itu kusut, rambutnya berantakan, sementara Ajeng terus mengomel sambil merapikan riasannya melalui kamera ponsel.
“Lihat wajah suami kita,” bisik Hana dari kursi penumpang. “Seperti baru kalah perang.”
“Bukan kalah perang,” sahut Sinta sambil mematikan mesin mobil. “Dia baru merasakan sedikit akibat dari perbuatannya sendiri.”
Keduanya turun hampir bersamaan. Begitu melihat mereka, wajah Ardian langsung berubah merah.
“Kalian mengikuti aku?” tanyanya dengan nada tinggi.

Sinta menatapnya datar. “Jangan terlalu percaya diri, Mas. Aku memang ada urusan di gedung ini.”
“Urusan apa? Kamu bahkan bukan pegawai di sini.”
Sinta tidak menjawab. Ia hanya melewati Ardian dan masuk ke dalam lobi bersama Hana. Beberapa pegawai yang mengenalnya sebagai istri pemilik perusahaan segera menundukkan kepala dengan canggung. Selama ini, Sinta jarang datang. Ardian selalu mengatakan bahwa istrinya tidak memahami urusan bisnis dan hanya menghabiskan waktu di rumah.
Ajeng berjalan mendekati Ardian dengan wajah kesal.
“Bapak bilang istri Bapak tidak pernah datang ke kantor.”
“Saya juga tidak tahu kenapa dia ada di sini.”
“Jangan-jangan dia mau mengawasi kita.”
Ardian mendengus. “Biarkan saja. Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa.”
Di lantai tujuh, Sinta memasuki ruang rapat utama. Seorang pria berkemeja putih yang kemarin terlihat bersamanya di hotel telah menunggu. Namanya Bima Pratama, pengacara korporasi sekaligus auditor independen yang ditunjuk untuk menyelidiki keuangan perusahaan Ardian.
“Semua dokumennya sudah siap, Bu Sinta,” ujar Bima.
Hana menatap tumpukan berkas di atas meja dengan penasaran. “Jadi pria yang bersama Mbak di hotel kemarin adalah pengacara?”
“Iya. Kami bertemu dengan beberapa investor di ruang konferensi hotel. Aku sengaja merahasiakannya karena belum ingin Ardian tahu.”
“Tapi kenapa Mbak sampai menyelidiki perusahaan ini?”
Sinta mengembuskan napas panjang. “Karena perusahaan ini tidak sepenuhnya milik Ardian.”
Hana terdiam.
Sinta membuka sebuah map berwarna hitam. Di dalamnya terdapat akta pendirian perusahaan, surat kepemilikan saham, serta perjanjian investasi yang ditandatangani bertahun-tahun lalu.
“Modal awal perusahaan berasal dari ayahku,” jelas Sinta. “Ketika Ardian baru memulai usaha, dia tidak punya apa-apa. Ayahku memberikan modal dengan syarat empat puluh persen saham ditempatkan atas namaku. Aku tidak pernah mencampuri perusahaan karena percaya pada suamiku.”
“Mas Ardian tahu?”
“Tentu saja. Tapi setelah ayahku meninggal, dia mulai bertindak seolah-olah perusahaan ini miliknya sendiri. Dia mengira aku tidak memahami dokumen bisnis.”
Bima menggeser beberapa lembar laporan ke hadapan mereka.
“Dalam dua tahun terakhir, ada aliran dana dalam jumlah besar ke rekening pribadi Ibu Riana dan tiga anak perempuannya,” katanya. “Jumlahnya hampir dua belas miliar rupiah.”
Hana membelalakkan mata. “Dua belas miliar?”
“Sebagian dicatat sebagai biaya operasional, pembelian bahan baku, dan pembayaran konsultan. Namun perusahaan penerima ternyata tidak memiliki kegiatan usaha yang jelas. Beberapa bahkan baru didirikan beberapa hari sebelum transaksi dilakukan.”
Sinta mengepalkan tangan. Selama ini, Ardian berulang kali mengatakan tidak memiliki uang untuk kebutuhan rumah tangga. Ia bahkan membiarkan Sinta menggunakan tabungan pribadi untuk membayar listrik, kebutuhan dapur, dan biaya pengobatan ketika sakit. Namun pada saat yang sama, miliaran rupiah mengalir ke keluarga Riana.
“Aku tidak peduli jika dia membantu ibunya,” ujar Sinta lirih. “Tapi dia menelantarkan istrinya, mempermalukanku, lalu membawa perempuan lain masuk ke rumah. Sekarang aku tahu semua itu bukan karena dia kekurangan uang. Dia hanya merasa aku tidak pantas menerima apa pun.”
Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka.
Ardian berdiri di sana bersama Ajeng. Wajahnya dipenuhi kemarahan.
“Apa yang kalian lakukan di ruang rapat saya?”
Bima berdiri dengan tenang. “Saya Bima Pratama, kuasa hukum Ibu Sinta.”
“Kuasa hukum?” Ardian menoleh kepada istrinya. “Jadi benar kamu bermain di belakangku?”
Sinta bangkit dari kursinya. “Aku tidak bermain di belakangmu. Aku sedang melindungi hakku.”
“Hak apa?”
Sinta mendorong akta kepemilikan saham ke arahnya.
Ardian membaca beberapa baris, lalu tertawa mengejek.
“Dokumen lama seperti ini tidak berarti apa-apa. Aku yang membesarkan perusahaan ini.”
“Tanpa modal ayahku, perusahaanmu tidak pernah berdiri.”
“Ayahmu memberikannya sebagai bantuan kepada menantunya.”
“Bukan bantuan. Itu investasi, dan kamu menandatangani perjanjiannya.”
Wajah Ardian menegang. Ia membalik lembar demi lembar dengan gerakan kasar.
“Aku bisa memecat siapa pun yang membiarkan kalian masuk ke ruangan ini.”
“Tidak bisa,” jawab Bima. “Mulai pagi ini, sebagian kewenangan direksi dibekukan sampai audit selesai. Surat pemberitahuannya sudah dikirim kepada komisaris dan para pemegang saham.”
Ardian melempar map itu ke meja.
“Kamu pikir kamu bisa mengambil perusahaanku?”
Sinta menatapnya tanpa gentar. “Aku tidak berniat mengambil milikmu. Aku hanya mengambil kembali milikku.”
Ajeng yang sejak tadi diam perlahan mundur menuju pintu. Namun Sinta segera memanggilnya.
“Tunggu, Ajeng. Kamu juga perlu berada di sini.”
“Saya tidak tahu apa-apa, Bu.”
“Benarkah?”
Sinta menyalakan layar besar di dinding. Sebuah rekaman kamera pengawas muncul. Dalam video itu, Ajeng terlihat memasuki ruang kerja Ardian pada malam hari, membuka laci, lalu memotret beberapa dokumen menggunakan ponselnya.
Wajah Ajeng seketika pucat.
“Itu bukan seperti yang terlihat.”
“Lalu seperti apa?” tanya Ardian tajam.
Ajeng mulai gemetar. “Saya hanya menjalankan perintah.”
“Perintah siapa?”
Sebelum Ajeng menjawab, ponsel Ardian berdering. Nama Riana muncul di layar. Ia segera mengangkatnya.
“Ma, sekarang bukan waktunya.”
Namun suara Riana terdengar panik dari seberang.
“Ardian, kamu harus datang ke bank sekarang! Rekening Mama diblokir. Rekening adik-adikmu juga tidak bisa dipakai. Apa yang sudah dilakukan istrimu?”
Semua orang di dalam ruangan mendengar teriakan itu.
Ardian menatap Sinta dengan tajam. “Kamu memblokir rekening mama?”
“Bukan aku. Bank melakukannya setelah menerima laporan transaksi mencurigakan.”
“Kamu sudah keterlaluan!”
Ardian mengangkat tangan seolah hendak menunjuk wajah Sinta, tetapi Hana berdiri di antara mereka.
“Jangan sentuh Mbak Sinta, Mas.”
“Kamu minggir! Kamu tidak tahu masalahnya.”
“Aku tahu lebih banyak daripada yang Mas kira.”
Hana mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah percakapan, lalu meletakkannya di meja. Di layar terlihat pesan-pesan dari Riana. Perempuan itu berulang kali menyuruh Hana memprovokasi Sinta, merebut perhatian Ardian, dan memastikan Sinta pergi dari rumah tanpa menuntut harta.
Dalam salah satu pesan, Riana bahkan menjanjikan sebuah apartemen jika Hana berhasil membuat Ardian menceraikan Sinta.
Ardian membaca pesan itu dengan napas memburu.
“Ini palsu.”
“Tidak, Mas,” kata Hana. “Mama sendiri yang mengirimkannya.”
“Kamu bekerja sama dengan Sinta untuk menjebakku?”
“Aku baru menceritakan semuanya tadi malam. Selama ini aku memang bodoh karena percaya kepada Mama. Dia bilang Mbak Sinta perempuan jahat yang hanya mengincar uangmu. Dia bilang kalau aku menikah denganmu, hidupku akan terjamin.”
Hana menelan ludah, lalu melanjutkan dengan suara bergetar.
“Tapi setelah aku masuk ke rumah itu, aku melihat sendiri siapa yang sebenarnya serakah. Bukan Mbak Sinta.”
Ajeng tiba-tiba menangis.
“Pak Ardian, saya juga disuruh Ibu Riana.”
Ardian berbalik cepat. “Apa maksudmu?”
“Ibu Riana meminta saya mendekati Bapak. Dia bilang kalau Bapak semakin membenci Bu Sinta, urusan pemindahan aset akan lebih mudah. Saya dibayar untuk mendapatkan tanda tangan Bapak di beberapa dokumen.”
“Bohong!”
Ajeng membuka tas dan mengeluarkan sebuah alat perekam kecil.
“Saya menyimpan semua percakapan karena takut dijadikan kambing hitam.”
Bima mengambil alat itu dan menghubungkannya ke laptop. Suara Riana segera terdengar memenuhi ruang rapat.
“Buat Ardian merasa dirinya hebat. Laki-laki seperti dia mudah dikendalikan kalau dipuji. Setelah dia menandatangani pengalihan aset, kamu akan mendapat bagianmu.”
Suasana mendadak sunyi.
Ardian berdiri kaku. Seolah-olah seluruh dunia yang ia percayai baru saja runtuh dalam hitungan detik. Ibunya, yang selalu ia bela, ternyata memanfaatkannya. Ajeng yang ia kira mencintainya hanya menjalankan perintah. Bahkan pernikahannya dengan Hana ternyata dirancang untuk menyingkirkan Sinta.
“Aku tidak percaya,” gumamnya.
“Mas tidak percaya karena selama ini Mas hanya mau mendengar hal-hal yang menyenangkan ego Mas,” kata Sinta. “Setiap kali aku mengingatkan, Mas menuduhku membenci keluarga Mas. Setiap kali aku meminta hakku, Mas menyebutku mata duitan.”
Ardian memandang Sinta dengan mata merah.
“Kamu seharusnya bicara baik-baik denganku.”
“Aku sudah melakukannya selama bertahun-tahun.”
“Kita bisa memperbaiki semuanya.”
Sinta tersenyum getir. “Kamu baru ingin memperbaiki keadaan setelah tahu perusahaan ini bisa lepas dari tanganmu.”
“Tidak, Sinta. Aku masih suamimu.”
“Suami tidak membiarkan istrinya kelaparan sementara keluarganya hidup mewah. Suami tidak membawa perempuan lain ke rumah untuk menghancurkan harga diri istrinya. Dan suami tidak menuduh istrinya menjual tubuh hanya karena melihatnya berbicara dengan laki-laki lain.”
Ardian mendekat, tetapi Sinta mundur satu langkah.
“Mulai hari ini, aku mengajukan gugatan cerai.”
Ucapan itu membuat Ardian kehilangan kata-kata.
Hana ikut mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.
“Aku juga akan pergi, Mas.”
“Kamu mau menceraikanku juga?”
Hana mengangguk. “Pernikahan kita dimulai dengan kebohongan. Aku tidak ingin menghabiskan hidup menjadi alat bagi siapa pun.”
“Kalian tidak bisa meninggalkan aku begitu saja.”
Sinta menatapnya untuk terakhir kali. “Kami tidak meninggalkanmu, Mas. Kamulah yang sudah lama meninggalkan kami.”
Beberapa minggu kemudian, hasil audit selesai. Ardian terbukti menandatangani sejumlah transaksi tanpa pemeriksaan yang layak, tetapi sebagian besar dana ternyata dikelola langsung oleh Riana dan ketiga putrinya melalui perusahaan fiktif. Kasus itu masuk ke ranah hukum. Beberapa aset mereka disita untuk mengembalikan kerugian perusahaan.
Ajeng menjadi saksi dan mengakui seluruh keterlibatannya. Ia dipecat, tetapi keterangannya membantu membuka aliran dana yang sebelumnya disembunyikan.
Sinta mengambil alih pengawasan perusahaan bersama komisaris baru. Ia tidak menutup usaha itu, karena ratusan pegawai bergantung padanya. Ia justru memperbaiki sistem keuangan, melunasi gaji yang sempat tertunda, dan membangun kembali kepercayaan para investor.
Hana kembali melanjutkan kuliahnya yang dulu terhenti. Untuk pertama kalinya, ia bekerja dan membayar kebutuhannya dengan uang sendiri. Hubungannya dengan Sinta tidak lagi seperti dua perempuan yang berebut seorang laki-laki, melainkan seperti dua orang yang pernah sama-sama terluka dan memilih untuk saling menguatkan.
Sementara itu, Ardian tinggal sendirian di rumah besar yang dulu selalu ramai oleh pertengkaran. Ibunya tidak lagi menelepon untuk menanyakan kabarnya. Riana hanya menghubunginya ketika membutuhkan pengacara atau uang jaminan.
Suatu sore, Ardian datang ke kantor membawa sebuah kotak makanan. Ia menunggu Sinta di lobi hampir dua jam.
Ketika Sinta akhirnya muncul, Ardian berdiri dengan gugup.
“Aku membawakan makanan kesukaanmu.”
Sinta melihat kotak itu, lalu menatap mantan suaminya.
“Dulu aku memasak untukmu setiap hari, tapi kamu tidak pernah bertanya apakah aku sudah makan.”
Ardian menundukkan kepala. “Aku menyesal.”
“Aku tahu.”
“Tidak bisakah kita memulai lagi?”
Sinta terdiam sejenak. Ardian mengangkat wajahnya dengan sedikit harapan.
Namun Sinta menggeleng.
“Memaafkan tidak selalu berarti kembali.”
Ia kemudian berjalan melewatinya menuju pintu keluar. Di sana, Hana telah menunggu sambil membawa dua gelas kopi. Keduanya pergi bersama tanpa menoleh lagi.
Ardian tetap berdiri di tengah lobi, memegang kotak makanan yang perlahan kehilangan kehangatannya. Pada akhirnya, ia baru memahami bahwa kekayaan terbesar yang pernah dimilikinya bukanlah perusahaan, rumah mewah, atau uang di rekening.
Melainkan dua perempuan yang pernah tulus berada di sisinya.
Dan karena kesombongannya sendiri, ia kehilangan keduanya tepat ketika ia merasa memiliki segalanya.
