“Siapa yang memberi izin padamu masuk ke ruangan ini?”
Suara itu terdengar tenang, tetapi cukup untuk membuat darah Arini seolah berhenti mengalir.
Ia berbalik perlahan.
Bima berdiri di ambang pintu dengan seragam dinas lengkap. Topinya berada di tangan kiri, sementara tangan kanannya masih menggenggam sarung tangan hitam. Wajahnya tetap keras, namun tatapannya tidak lagi sedingin biasanya. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap di sana. Keterkejutan. Kemarahan. Dan ketakutan yang berusaha ia sembunyikan.
Arini menatapnya dengan napas memburu.

“Jadi benar,” bisiknya. “Kamu sudah mengawasiku selama dua tahun.”
Bima menutup pintu di belakangnya.
Bunyi klik kunci terdengar jelas.
Arini refleks mundur hingga punggungnya menyentuh papan putih. Foto-foto dirinya bergetar karena gerakan itu.
“Buka pintunya,” kata Arini.
Bima tidak bergerak.
“Buka pintunya sekarang!”
“Aku tidak akan menyakitimu.”
“Lalu apa ini?” Arini menunjuk papan penuh foto dengan tangan gemetar. “Apa namanya kalau bukan kegilaan? Kamu memotretku diam-diam. Mengikuti aku ke pasar. Mengawasi rumah kontrakanku. Kamu tahu ke mana aku pergi, kapan aku menangis, bahkan mungkin kapan aku tidur.”
“Tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Arini tertawa pendek. Suaranya terdengar pecah.
“Semua laki-laki selalu mengatakan itu ketika kebusukan mereka terbongkar.”
Kalimat itu menghantam Bima lebih keras daripada bentakan.
Ia meletakkan topi dan sarung tangannya di atas meja. Lalu, tanpa mendekati Arini, ia menarik sebuah laci terkunci dan mengeluarkan map cokelat tua.
“Dua tahun lalu,” katanya pelan, “aku menerima laporan tentang penggelapan dana bantuan untuk keluarga prajurit yang gugur.”
Arini mengernyit.
“Apa hubungannya denganku?”
“Dana itu seharusnya diberikan kepada dua puluh tujuh keluarga. Sebagian besar uangnya hilang sebelum sampai kepada mereka.”
Bima meletakkan map di meja dan membukanya. Di dalamnya terdapat salinan mutasi rekening, foto-foto, serta beberapa lembar laporan dengan stempel resmi.
“Nama Yudha muncul dalam aliran uang itu.”
Arini menelan ludah.
“Yudha baru bekerja di koperasi satu tahun terakhir.”
“Benar. Tapi sebelum itu, ia menjadi perantara orang-orang yang mencuci uang lewat usaha kecil. Toko kelontong, warung makan, toko kue, termasuk usaha rumahan.”
Mata Arini membesar.
Bima menarik satu lembar dokumen dan mengangkatnya.
“Namamu digunakan untuk membuat rekening usaha palsu.”
Arini merasa lantai bergeser di bawah kakinya.
“Itu tidak mungkin.”
“Kamu pernah menandatangani formulir pinjaman usaha?”
Arini terdiam.
Ingatan lama muncul. Dua tahun lalu, Yudha pernah membawa setumpuk kertas dan mengatakan bahwa ia sedang membantu mengurus izin usaha kue agar Arini bisa mendapat bantuan modal. Saat itu Arini menandatangani semuanya tanpa membaca. Ia percaya pada suaminya.
Wajah Arini berubah pucat.
“Dia bilang itu untuk izin usaha.”
“Sebagian dokumen memang untuk izin usaha. Sisanya digunakan untuk membuka rekening dan perusahaan atas namamu.”
Arini mencengkeram ujung bajunya.
“Lalu kenapa kamu tidak menangkapnya sejak dulu?”
“Karena Yudha bukan orang utama.”
“Siapa?”
Bima tidak segera menjawab.
Ia memandang foto besar Arini yang tertempel di tengah papan. Tatapannya berubah muram.
“Kolonel Surya Atmaja.”
Nama itu terasa asing di telinga Arini.
“Aku tidak mengenalnya.”
“Tapi dia mengenalmu.”
Bima mengambil sebuah foto dari dalam map. Foto itu memperlihatkan seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di samping Yudha. Rambutnya sudah memutih, tetapi tubuhnya masih tegap. Senyumnya tipis dan tidak menyentuh matanya.
Arini menatap foto itu lama.
Kemudian tangannya mulai gemetar.
Ia pernah melihat laki-laki tersebut.
Bukan bersama Yudha.
Laki-laki itu pernah datang ke pasar subuh beberapa kali. Ia membeli kue dalam jumlah banyak, tetapi tidak pernah menawar. Ia selalu menatap Arini terlalu lama, lalu pergi tanpa banyak bicara.
“Dia pelanggan pasar,” kata Arini lirih.
“Dia bukan pelanggan.”
Bima melangkah mendekat, tetapi tetap menjaga jarak.
“Surya adalah mantan kepala logistik di kesatuan ayahku. Ia menghilang setelah kasus dana bantuan pertama kali tercium. Selama bertahun-tahun, ia menggunakan identitas orang lain dan jaringan sipil untuk menjalankan usahanya.”
“Ayahmu?”
“Letnan Jenderal Pradipta Mahendra.”
Arini pernah mendengar nama itu. Seorang perwira tinggi yang meninggal dalam kecelakaan helikopter hampir dua puluh tahun lalu.
Bima menatapnya dalam-dalam.
“Kecelakaan itu bukan kecelakaan.”
Ruangan mendadak terasa semakin dingin.
“Surya menukar daftar penumpang dan merusak sistem bahan bakar. Ayahku menemukan bukti bahwa ia menjual perlengkapan militer ke jaringan kriminal. Sebelum sempat menyerahkan bukti, ayahku tewas.”
Arini menggeleng perlahan.
“Aku tetap tidak mengerti kenapa fotoku ada di sini.”
“Karena ibumu pernah bekerja sebagai staf administrasi ayahku.”
Arini tidak bernapas selama beberapa detik.
“Ibuku hanya pegawai kantor biasa.”
“Namanya Sulastri Rahmawati.”
Bima mengucapkannya tanpa ragu.
Arini menatapnya seolah baru saja melihat hantu.
Ibunya meninggal ketika Arini berusia sepuluh tahun. Sepanjang hidup, Arini hanya tahu ibunya pernah bekerja di sebuah kantor pemerintah sebelum berhenti karena sakit.
“Dari mana kamu tahu nama ibuku?”
“Sebelum kecelakaan itu, ayahku menyerahkan salinan bukti kepada ibumu. Ia percaya ibumu karena hanya dia yang tidak terlibat dalam jaringan Surya.”
Arini merasakan tenggorokannya mengering.
“Buktinya ada padaku?”
“Itulah yang Surya pikirkan.”
Bima menunjuk foto-foto Arini.
“Aku mengawasimu bukan karena ingin membelimu. Aku mengawasimu karena Surya mulai mendekatimu dua tahun lalu. Aku perlu tahu apakah dia sudah menemukan sesuatu.”
Arini menatap foto laki-laki tua itu lagi. Sekarang ia mengingat senyum tipisnya. Tatapan tajamnya. Cara ia selalu bertanya tentang rumah lama milik ibunya.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
“Karena aku belum tahu apakah kamu terlibat atau hanya dijadikan umpan.”
Arini tersentak.
“Jadi selama dua tahun, kamu juga mencurigaiku?”
Bima tidak membantah.
Rasa sakit yang aneh menjalar di dada Arini. Ia bahkan tidak tahu mengapa kecurigaan laki-laki itu terasa lebih menyakitkan daripada seharusnya.
“Dan semalam?” tanyanya. “Koper dua ratus lima puluh juta itu juga bagian dari penyelidikanmu?”
“Tidak sepenuhnya.”
“Apa maksudmu?”
“Aku perlu memisahkanmu dari Yudha sebelum Surya bergerak. Aku tahu Yudha sedang terdesak utang dan akan menerima uang dari siapa pun. Aku menawarkan jalan keluar dan dia menjualmu tanpa berpikir.”
Arini menahan air mata.
“Lalu setelah dia menerima uangmu, apa rencanamu? Menjadikanku tahanan sampai kasus ini selesai?”
Bima mengepalkan rahangnya.
“Rencanaku adalah melindungimu.”
“Dengan memperlakukanku seperti barang?”
Bima terdiam.
Untuk pertama kali, wajah keras itu menunjukkan penyesalan yang nyata.
“Aku salah.”
Arini tidak pernah membayangkan seorang jenderal seperti Bima akan mengucapkan kalimat itu. Namun permintaan maaf tidak bisa menghapus penghinaan yang telah ia rasakan.
“Aku mau pergi.”
“Kamu belum aman.”
“Aku tidak peduli.”
“Surya sudah tahu kamu berada di rumah ini.”
Arini memandangnya tajam.
“Bagaimana?”
Bima mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah pesan. Hanya ada satu foto di layar.
Foto Arini sedang tidur di kamar Bima tadi malam.
Foto itu diambil dari luar jendela.
Di bawahnya terdapat tulisan singkat.
Serahkan barang milik Sulastri, atau perempuan itu akan mengulangi nasib ibunya.
Kaki Arini melemas.
“Ada orang di halaman rumahmu semalam?”
“Penjaga menemukan bekas sepatu di sisi timur. Tidak ada yang tertangkap kamera.”
“Bi Inah?”
“Sudah dipindahkan ke tempat aman.”
Arini memeluk tubuhnya sendiri.
“Barang apa yang mereka cari?”
“Itulah yang harus kita temukan.”
Bima mengeluarkan sebuah kantong plastik transparan. Di dalamnya terdapat liontin kecil berbentuk bunga melati.
Arini langsung mengenalinya.
“Itu milik ibuku.”
“Kamu memakainya saat pertama kali aku melihatmu di pasar. Beberapa minggu kemudian, liontin itu menghilang.”
“Yudha menjualnya,” jawab Arini pahit. “Dia bilang butuh uang untuk membayar cicilan motor.”
“Tidak. Liontin ini ditemukan di rumah Nia tadi pagi.”
Arini menatap benda itu dengan wajah kosong.
Bima membuka bagian belakang liontin dengan ujung kukunya. Di dalamnya tersembunyi benda kecil berwarna hitam, sebesar kuku jari.
“Sebuah penyimpan data.”
Arini hampir tidak percaya.
“Isinya?”
“Terenkripsi. Timku sedang membukanya.”
Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dari arah halaman depan.
Kaca jendela bergetar.
Bima langsung menarik Arini ke lantai dan menutupi tubuhnya dengan badannya sendiri. Beberapa detik kemudian, suara tembakan terdengar dari luar. Tidak banyak, tetapi cukup membuat suasana rumah berubah menjadi kekacauan.
“Jangan bergerak,” bisik Bima.
Ia mengambil pistol dari pinggangnya lalu menekan alat komunikasi di kerah.
“Status.”
Suara ajudannya terdengar putus-putus.
“Gerbang depan dihantam kendaraan, Jenderal. Tiga orang bersenjata masuk. Kami menahan mereka di taman timur.”
Bima menoleh kepada Arini.
“Kita keluar lewat jalur belakang.”
Mereka bergerak menuju rak buku. Bima menarik salah satu buku tebal, dan bagian rak itu bergeser, memperlihatkan lorong sempit di balik dinding.
Arini menatapnya tak percaya.
“Rumah macam apa ini?”
“Rumah orang yang punya banyak musuh.”
Mereka masuk ke lorong. Bima menutup pintu rahasia, lalu memimpin jalan menuruni tangga sempit. Cahaya lampu darurat berwarna redup menerangi dinding beton.
Di tengah perjalanan, ponsel Bima bergetar.
Sebuah pesan masuk dari tim teknis.
Berkas berhasil dibuka.
Bima menghentikan langkahnya dan membaca cepat. Wajahnya berubah.
“Ada apa?” tanya Arini.
Bima menyerahkan ponselnya.
Di layar terlihat daftar transaksi, nama-nama perwira, pejabat sipil, dan perusahaan fiktif. Namun di bagian paling bawah terdapat sebuah rekaman suara.
Bima menekan tombol putar.
Suara seorang perempuan memenuhi lorong.
Suara itu lembut, tetapi terdengar tergesa-gesa.
“Namaku Sulastri Rahmawati. Bila rekaman ini ditemukan, berarti Surya belum berhenti. Bukti transaksi sudah kusimpan dalam liontin milik putriku. Namun orang yang harus paling diwaspadai bukan Surya. Ia hanya menjalankan perintah.”
Rekaman terputus sebentar. Lalu suara Sulastri kembali terdengar.
“Orang yang memimpin semuanya adalah Pradipta Mahendra.”
Arini membeku.
Bima tidak bergerak sama sekali.
Nama itu adalah nama ayah Bima.
Rekaman berlanjut.
“Pradipta merencanakan kematiannya sendiri untuk menghapus jejak. Helikopter yang jatuh hanya membawa jasad pengganti. Jika putriku masih hidup, lindungi dia dari keluarga Mahendra.”
Ponsel di tangan Arini hampir jatuh.
Ia menatap Bima dengan ketakutan baru.
“Kamu bilang ayahmu tewas.”
“Aku melihat peti matinya,” jawab Bima lirih.
“Itu tidak membuktikan apa pun.”
Sebelum Bima sempat menjawab, terdengar suara tepuk tangan dari ujung lorong.
Perlahan. Teratur.
Seorang laki-laki tua muncul dari balik bayangan dengan pistol terarah kepada mereka.
Kolonel Surya.
“Luar biasa,” katanya sambil tersenyum. “Akhirnya anak-anak dari dua orang pengkhianat berkumpul di tempat yang sama.”
Bima berdiri di depan Arini.
“Turunkan senjatamu.”
Surya tertawa.
“Kau masih sama seperti ayahmu. Selalu percaya bahwa seragam membuatmu berhak memerintah.”
“Ayahku masih hidup?” tanya Bima.
Surya menatapnya dengan mata penuh ejekan.
“Lebih hidup daripada yang kau bayangkan.”
Arini merasakan tangan Bima menegang.
“Di mana dia?”
“Dekat sekali.”
Suara lain terdengar dari belakang Surya.
“Cukup.”
Seorang laki-laki berambut putih melangkah keluar dari kegelapan. Wajahnya tua, tetapi sorot matanya tajam dan berwibawa.
Bima menatapnya tanpa berkedip.
Wajah laki-laki itu sama dengan foto besar yang selama bertahun-tahun tergantung di ruang utama rumah.
Pradipta Mahendra.
Ayahnya.
“Bima,” katanya tenang. “Turunkan senjatamu dan serahkan perempuan itu.”
Bima tidak bergerak.
Pradipta tersenyum tipis.
“Kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik. Aku membesarkanmu untuk menemukan liontin itu. Sekarang semuanya selesai.”
Arini menatap Bima dengan napas tertahan. Ia tidak tahu apakah laki-laki itu akan memilih ayahnya atau dirinya.
Pradipta mengulurkan tangan.
“Serahkan dia.”
Bima perlahan menurunkan pistolnya.
Wajah Arini runtuh.
Namun pada detik berikutnya, Bima berbalik dan menembak lampu lorong.
Kegelapan menelan semuanya.
Bima menarik tangan Arini dan berlari. Suara tembakan meledak di belakang mereka. Peluru menghantam dinding beton, memercikkan serpihan ke udara.
Mereka mencapai pintu baja di ujung lorong. Bima memasukkan kode, mendorong Arini keluar, lalu menutup pintu tepat sebelum Surya menyusul.
Di luar terdapat garasi bawah tanah. Sebuah kendaraan taktis sudah menunggu dengan mesin menyala.
Ajudan Bima membuka pintu.
“Cepat, Jenderal!”
Mereka masuk. Kendaraan melaju menembus pintu belakang kompleks.
Arini duduk dengan tubuh gemetar. Tangannya masih menggenggam ponsel berisi rekaman ibunya.
Bima duduk di hadapannya. Ada goresan di pelipisnya, tetapi ia tampak tidak peduli.
“Kenapa?” tanya Arini pelan. “Kenapa kamu memilih menyelamatkanku?”
Bima menatapnya lama.
“Karena selama dua tahun aku mengawasimu, aku melihat seseorang yang tidak pernah menyerah meski hidup berkali-kali menghancurkannya.”
“Itu bukan jawaban.”
Bima menghela napas.
“Ayahku membesarkanku untuk menjadi senjata. Tapi kamu membuatku sadar bahwa aku masih bisa memilih menjadi manusia.”
Air mata Arini jatuh tanpa bisa ditahan.
Beberapa hari kemudian, bukti dalam liontin diserahkan kepada tim investigasi khusus. Nama-nama besar mulai ditangkap. Jaringan Pradipta terbongkar. Yudha dan Nia diamankan karena membantu menyembunyikan aliran uang.
Pradipta dan Surya melarikan diri, tetapi foto mereka tersebar ke seluruh negeri.
Arini diberi perlindungan khusus. Ia juga mendapat kembali hak atas usahanya yang selama ini dipakai sebagai kedok pencucian uang.
Suatu sore, saat Arini sedang menyusun kotak-kotak kue di dapur rumah aman, Bima datang tanpa seragam. Ia hanya mengenakan kemeja putih sederhana.
Ia meletakkan sebuah dokumen di meja.
“Apa ini?” tanya Arini.
“Surat pernyataan.”
Arini membacanya. Di dalamnya tertulis bahwa seluruh uang yang diberikan kepada Yudha dianggap sebagai barang bukti operasi, bukan pembayaran atas dirinya. Juga ada pernyataan bahwa Arini bebas pergi kapan saja dan tidak memiliki kewajiban apa pun terhadap Bima.
“Aku tidak pernah memiliki hak atas hidupmu,” kata Bima. “Dan aku tidak ingin kamu tinggal di sisiku karena merasa berutang.”
Arini menutup dokumen itu.
“Kalau aku pergi, apa yang akan kamu lakukan?”
“Mengejar ayahku.”
“Sendirian?”
“Seperti biasanya.”
Arini memandang laki-laki itu lama. Di balik tubuh tegap dan wajah dinginnya, ia akhirnya melihat seorang anak yang selama hidupnya dibesarkan oleh kebohongan.
“Aku belum memaafkanmu,” kata Arini.
“Aku tahu.”
“Aku juga belum percaya sepenuhnya.”
“Aku mengerti.”
“Tapi kamu boleh makan kue sebelum pergi.”
Bima menatap kotak kue di meja.
“Itu perintah?”
“Bukan. Pilihan.”
Untuk pertama kalinya, senyum kecil muncul di wajah Bima.
Ia duduk.
Arini menyodorkan sepiring kue hangat kepadanya. Di luar jendela, matahari mulai tenggelam, meninggalkan cahaya keemasan di langit Jakarta.
Mereka belum tahu bahwa di sebuah kota kecil ratusan kilometer dari sana, Pradipta sedang menonton siaran berita tentang terbongkarnya jaringan miliknya.
Di atas meja di depannya tergeletak sebuah foto lama.
Foto Sulastri menggendong Arini kecil.
Pradipta menyentuh wajah anak itu dengan ujung jarinya, lalu berbisik dengan suara penuh kepastian.
“Bima masih belum tahu.”
Ia membalik foto tersebut.
Di belakangnya tertulis sebuah kalimat dengan tinta yang mulai pudar.
Arini Mahendra, putri kandung Pradipta.
Laki-laki tua itu tersenyum.
Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
