“Mbak pucat banget,” suara Naya terdengar prihatin, tapi sudut bi birnya berkedut menahan senyum mengejek. Ia melangkah lebih dekat hingga bahu kami nyaris bersen tuhan. “Kalau sudah merasa nggak waras, mending Mbak tanda tangan saja surat kuasa yang diminta Mas Bas. Biar Mbak bisa istirahat tenang di… ru mah sa kit khusus.”

Jeritan Naya masih menggema ketika dokter keluarga tiba dua puluh menit kemudian. Dokter Armand, pria berusia hampir enam puluh tahun yang sudah lama menangani keluarga Baskara, langsung memeriksa pergelangan kaki Naya di ruang tengah.

Aku duduk di sudut sofa dengan tubuh meringkuk, memeluk lutut seperti anak kecil yang ketakutan. Sesekali aku menggigit kuku, lalu menoleh cepat setiap kali Baskara melirik ke arahku.

Dokter Armand mengernyit setelah meraba bagian yang bengkak.

“Sepertinya bukan sekadar terkilir,” katanya. “Ada kemungkinan retak. Sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit untuk rontgen.”

Naya merintih dan menggenggam tangan Baskara erat-erat.

“Mas, aku takut.”

Baskara mengusap rambutnya penuh kasih. Pemandangan itu dulu mungkin akan menghancurkan hatiku. Namun sekarang, yang kurasakan hanya rasa jijik.

Aku sudah terlalu lama menjadi istri yang patuh.

Terlalu lama percaya pada suami yang setiap malam mencampurkan obat ke dalam minumanku, kemudian menyebut rasa pusing dan halusinasiku sebagai bukti bahwa aku mulai kehilangan kewarasan.

Semua itu dilakukan hanya agar aku mau menyerahkan surat kuasa atas perusahaan warisan ayahku.

“Aku ikut ke rumah sakit,” kataku pelan.

Baskara langsung menoleh. “Kamu tetap di rumah.”

“Tapi aku merasa bersalah.”

“Kondisimu tidak stabil, Aira.”

Aku menunduk, lalu mengangguk patuh. “Baik, Mas.”

Sebelum pergi, Baskara berbisik kepada dokter Armand di dekat pintu. Suaranya pelan, tapi aku masih bisa menangkap beberapa kata.

“Besok datang lagi. Kita harus segera mengurus surat rekomendasi.”

Dokter Armand tampak ragu. “Saya belum bisa menyimpulkan apa pun tanpa pemeriksaan menyeluruh.”

“Dok, saya hidup bersamanya setiap hari. Saya tahu kondisi istri saya.”

“Diagnosis gangguan mental bukan sesuatu yang bisa dibuat hanya berdasarkan cerita keluarga.”

Wajah Baskara menegang. Namun sebelum ia sempat membalas, Naya menjerit kesakitan dari kursi roda. Baskara akhirnya mendorongnya keluar tanpa melanjutkan perdebatan.

Begitu suara mobil menjauh, aku berdiri tegak.

Tubuhku tidak lagi gemetar.

Napas yang tadi kubuat tersengal kini kembali tenang.

Aku berjalan menuju cermin besar di dekat tangga, lalu memperbaiki rambutku yang kusut. Di pantulan kaca, wajahku memang terlihat pucat. Namun mataku tidak menunjukkan kegilaan.

Mataku menunjukkan seseorang yang akhirnya terbangun.

“Apa mereka sudah pergi, Mbak?”

Suara pelan terdengar dari balik pintu dapur.

Mira, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini selama enam tahun, keluar sambil membawa ponsel. Wajahnya pucat, tangannya gemetar.

“Sudah direkam?” tanyaku.

Mira mengangguk. “Semuanya. Dari saat Mbak Naya sengaja menjatuhkan diri sampai dia mengaku ingin membuat Mbak masuk rumah sakit khusus.”

Aku menerima ponsel itu dan memutar rekamannya.

Gambar di layar memang sedikit miring karena diambil dari celah pintu, tetapi suara Naya terdengar sangat jelas.

Ia mengancamku.

Ia mengaku Baskara membenciku.

Ia juga terlihat sengaja menarik ujung pakaianku sebelum menjatuhkan tubuhnya ke tangga.

Aku tersenyum tipis.

“Bagus.”

Mira menelan ludah. “Tapi soal kakinya…”

“Aku tidak mematahkannya.”

Mira menatapku tidak percaya.

“Aku hanya menekan bagian yang sudah terkilir ketika dia jatuh. Suara retakan tadi berasal dari gelang kayu yang kusembunyikan di telapak tangan.”

Aku membuka kepalan tanganku. Di dalamnya terdapat potongan kecil gelang kayu yang sudah patah.

Mata Mira membesar.

“Bengkaknya memang asli,” lanjutku. “Tapi itu akibat ulahnya sendiri. Dia terlalu bersemangat menjatuhkan diri.”

Mira mengembuskan napas lega, walau ketakutan masih terlihat di wajahnya.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Kirim videonya ke alamat surel yang kuberikan kemarin. Jangan gunakan jaringan internet rumah ini.”

Mira mengangguk cepat.

“Dan setelah itu, pergi ke rumah kakakmu. Jangan kembali sebelum aku menghubungimu.”

“Tapi Mbak sendirian di sini.”

“Aku tidak sendirian.”

Aku menatap kamera kecil yang tersembunyi di atas rak buku.

Sejak tiga hari lalu, rumah itu sudah dipenuhi perangkat perekam yang dipasang oleh penyelidik swasta. Baskara tidak tahu bahwa beberapa stafnya sendiri mulai mencurigai perubahan perilakunya.

Ia juga tidak tahu bahwa aku telah berhenti meminum obat yang diberikannya selama dua minggu terakhir.

Setiap malam aku hanya berpura-pura menelan pil itu, lalu menyimpannya di bawah lidah sebelum membuangnya ke toilet.

Semua berawal ketika aku menemukan satu pil tertinggal di dalam saku jas Baskara.

Aku membawanya diam-diam ke laboratorium.

Hasilnya membuat darahku membeku.

Obat itu adalah sedatif keras yang bisa menyebabkan kebingungan, hilang ingatan, perubahan emosi, dan halusinasi jika dikonsumsi dalam dosis tinggi.

Sejak saat itu, aku berhenti menjadi korban.

Aku mulai menjadi pemain.

Malam harinya, Baskara pulang sendirian.

Naya harus dirawat karena mengalami retak ringan di pergelangan kakinya. Tidak berbahaya, tetapi cukup menyakitkan untuk membuatnya tidak bisa berjalan normal selama beberapa minggu.

Baskara menemukan aku duduk di ruang makan, menatap semangkuk sup yang sudah dingin.

“Kamu belum tidur?”

“Aku menunggumu.”

Ia menarik kursi di hadapanku. Wajahnya lelah, tetapi sorot matanya tetap penuh perhitungan.

“Aira, apa kamu ingat kejadian siang tadi?”

Aku menggenggam sendok erat-erat. “Sedikit.”

“Kamu mendorong Naya.”

“Aku tidak ingat.”

“Kamu juga melukai kakinya.”

Aku menggeleng cepat. “Tidak. Aku tidak mungkin melakukan itu.”

Baskara menghela napas seperti seseorang yang sangat sabar menghadapi anak kecil.

“Mas tidak menyalahkanmu. Kamu sedang sakit.”

Air mataku mulai jatuh. “Aku sakit apa?”

Baskara menggeser kursinya lebih dekat, kemudian menggenggam tanganku.

“Kamu mengalami gangguan delusi. Dokter bilang kondisimu bisa berbahaya bagi dirimu sendiri dan orang lain.”

Padahal dokter Armand tidak pernah mengatakan itu.

Aku menatapnya dengan bibir bergetar.

“Apakah aku harus masuk rumah sakit?”

“Untuk sementara.”

“Berapa lama?”

“Tidak tahu. Mungkin beberapa bulan.”

Aku melepaskan tanganku perlahan. “Lalu perusahaan Ayah bagaimana?”

Baskara menatapku tajam sesaat, tetapi segera memasang wajah penuh kasih.

“Itulah sebabnya Mas menyiapkan surat kuasa. Mas hanya ingin menjaga asetmu sampai kamu sembuh.”

“Kalau aku menandatangani, Mas akan tetap mencintaiku?”

Pertanyaan itu membuatnya diam.

Kemudian ia tersenyum.

“Tentu saja.”

Kebohongan paling kejam selalu diucapkan dengan suara paling lembut.

Aku berdiri, lalu berjalan menuju lemari kecil di dekat dapur. Dari dalam laci, aku mengambil map cokelat yang sejak pagi sengaja kuletakkan di sana.

“Suratnya yang ini?”

Wajah Baskara berubah cerah.

“Iya.”

Ia mengambil pulpen dari sakunya. Tangannya hampir gemetar karena terlalu bersemangat.

Aku membuka halaman terakhir dan meletakkan ujung pulpen di atas garis tanda tangan.

Namun sebelum tinta menyentuh kertas, aku menatapnya.

“Mas.”

“Ya?”

“Kalau aku masuk rumah sakit, Naya akan tinggal di sini?”

Baskara tertawa kecil, terdengar canggung. “Kenapa membicarakan Naya?”

“Karena dia hamil anakmu.”

Pulpen di tanganku berhenti.

Wajah Baskara membeku.

Beberapa detik, ruang makan itu sangat sunyi hingga bunyi jarum jam terdengar seperti pukulan.

“Apa yang kamu katakan?”

Aku mengangkat kepala.

Tidak ada air mata lagi.

Tidak ada tangan gemetar.

Tidak ada tatapan kosong.

“Hamil delapan minggu,” kataku tenang. “Dia memeriksakan kandungannya di klinik swasta di Jakarta Selatan. Menggunakan nama palsu, tapi nomor teleponnya tetap sama.”

Baskara berdiri begitu cepat hingga kursinya jatuh.

“Kamu menguntitnya?”

“Bukan aku. Penyelidik yang kusewa.”

Wajah Baskara kehilangan warna.

Aku mengambil ponsel dari saku dan menekan layar. Suara rekaman percakapan terdengar dari pengeras suara.

Suara Baskara.

Suara Naya.

Mereka sedang membicarakan rencana memasukkanku ke rumah sakit jiwa, mengambil alih perusahaan, menjual beberapa aset, lalu pindah ke Singapura setelah anak mereka lahir.

Baskara menatap ponsel itu seperti melihat bom.

“Kamu menjebak aku.”

“Tidak. Aku hanya berhenti menutup mata.”

Ia mencoba merebut ponselku, tetapi pintu utama mendadak terbuka.

Dua polisi masuk bersama pengacaraku, Pak Rendra, dan dokter Armand.

Baskara mundur beberapa langkah.

“Apa-apaan ini?”

Pak Rendra meletakkan sebuah map di meja.

“Surat perintah pemeriksaan, laporan dugaan pemberian obat tanpa persetujuan, pemalsuan dokumen medis, percobaan pengambilalihan aset, dan penipuan.”

Baskara menatap dokter Armand. “Dok, jelaskan kepada mereka bahwa istri saya tidak waras.”

Dokter Armand memandangnya dengan kecewa.

“Saya tidak pernah mendiagnosis Ibu Aira mengalami gangguan jiwa.”

“Tapi Anda mengatakan…”

“Saya mengatakan perlu pemeriksaan menyeluruh. Anda justru menekan saya untuk membuat surat rekomendasi tanpa prosedur.”

Baskara mengepalkan tangan.

Kemudian matanya jatuh pada surat kuasa di meja.

Dengan gerakan cepat, ia meraih map itu dan mencoba merobeknya.

Pak Rendra tidak mencegah.

“Kertas itu palsu,” katanya santai. “Dokumen aslinya sudah diamankan.”

Baskara menatapku penuh kebencian.

“Kamu pikir ini selesai? Perusahaan itu juga milikku. Aku suamimu.”

“Tidak lagi.”

Aku mengeluarkan amplop putih dari bawah taplak meja.

“Gugatan cerai sudah didaftarkan pagi tadi.”

Baskara tertawa pendek, terdengar nyaris putus asa.

“Kamu tidak akan bisa mengusirku begitu saja.”

Aku menatapnya lurus.

“Rumah ini bukan milikku.”

Ia terdiam, lalu tersenyum sinis. “Nah. Akhirnya kamu mengaku.”

“Rumah ini milik ibuku.”

Senyumnya menghilang.

“Ibu membelinya sebelum kami menikah dan menyewakannya kepadaku melalui perusahaan keluarga. Namamu tidak pernah tercatat di mana pun.”

Pintu kembali terbuka.

Ibuku masuk dengan langkah tenang, mengenakan setelan sederhana berwarna gelap. Di belakangnya berdiri dua petugas keamanan perusahaan.

Selama ini Baskara mengira ibuku tidak lagi peduli pada bisnis keluarga karena memilih tinggal di Yogyakarta. Padahal diam-diam, Ibu masih memegang saham pengendali terbesar.

“Aku membiarkanmu tinggal di sini karena Aira mencintaimu,” kata Ibu. “Sekarang cinta itu sudah habis. Jadi, kamu juga harus pergi.”

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Baskara terlihat benar-benar takut.

Ia memandangku lama, seolah mencoba mencari sisa perempuan lemah yang dulu selalu memaafkannya.

Perempuan itu sudah tidak ada.

Polisi membawanya pergi malam itu.

Naya ditangkap dua hari kemudian setelah keluar dari rumah sakit. Ia mencoba menyalahkan Baskara, lalu mengaku hanya korban bujuk rayu. Namun rekaman percakapan, transfer uang, dan pesan-pesannya membuktikan bahwa dialah yang pertama kali mengusulkan penggunaan obat untuk membuatku terlihat tidak stabil.

Enam bulan berlalu.

Proses hukum masih berjalan, tetapi hidupku perlahan kembali normal.

Aku kembali memimpin perusahaan ayahku. Untuk pertama kalinya, aku duduk di kursi direktur tanpa merasa menjadi bayangan siapa pun.

Suatu sore, Pak Rendra datang membawa sebuah amplop.

“Surat dari Baskara,” katanya.

Aku tidak membukanya.

Aku langsung memasukkannya ke mesin penghancur kertas.

Pak Rendra tersenyum kecil. “Tidak penasaran?”

“Tidak.”

“Katanya dia ingin meminta maaf.”

“Orang seperti Baskara tidak menyesal karena sudah menyakiti orang lain. Dia hanya menyesal karena gagal.”

Malam itu, aku pulang ke rumah baru bersama Ibu. Rumah lama sudah dijual, bukan karena aku takut pada kenangannya, tetapi karena aku tidak ingin hidup di tempat yang dibangun dari kebohongan.

Sebelum tidur, aku berdiri di depan cermin.

Wajahku masih sama.

Namun perempuan di dalam pantulan itu bukan lagi Aira yang mudah dipatahkan.

Aku teringat ucapan Naya di tangga.

Orang gila tidak bisa dimintai pertanggungjawaban.

Aku tersenyum tipis.

Mereka benar dalam satu hal.

Aku memang pernah menjadi gila.

Gila karena terlalu mencintai.

Gila karena terlalu percaya.

Gila karena mengira pengkhianatan bisa disembuhkan dengan kesabaran.

Namun saat kewarasanku kembali, aku tidak menghancurkan mereka dengan kekerasan.

Aku hanya membuka pintu, menyalakan lampu, lalu membiarkan seluruh kebusukan mereka terlihat jelas.

Karena terkadang, balas dendam terbaik bukanlah membuat musuh menderita.

Melainkan berdiri tegak di hadapan mereka dan membuktikan bahwa semua usaha mereka untuk menghancurkanmu telah gagal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang