Di tengah hiruk-pikuk jam makan siang, kantin utama Universitas Nusa Bangsa mendadak terasa sunyi. Beberapa mahasiswa yang semula sibuk mengobrol mulai menyadari bahwa pria sederhana yang berdiri di depan mereka sama sekali tidak menunjukkan kepanikan ketika dua petugas keamanan mendekat. Sebaliknya, wajahnya tetap tenang, bahkan ketika berkas hibah senilai delapan puluh lima miliar rupiah tergeletak di lantai dan sebagian halamannya terlipat akibat terinjak sepatu.
Maya memungut berkas itu dengan tangan gemetar.
“Papa… kita pulang saja.”
Fransiskus hanya mengangguk pelan.

“Sebentar.”
Dua petugas keamanan menghampiri.
“Pak, kami mendapat laporan bahwa Bapak membuat keributan.”
Fransiskus tersenyum tipis.
“Apakah kalian melihat saya berteriak?”
Kedua petugas saling berpandangan.
“Tidak.”
“Apakah saya menyentuh siapa pun?”
“Tidak.”
“Lalu keributan apa yang saya buat?”
Sebelum mereka sempat menjawab, salah satu mahasiswa berteriak dari belakang.
“Yang bikin keributan justru Bu Rina!”
Suara itu disambut mahasiswa lain.
“Iya! Kami lihat semuanya!”
“Beliau yang buka tas orang tanpa izin!”
“Dokumennya juga dilempar!”
Bu Rina langsung membentak.
“Kalian jangan ikut campur!”
Namun kali ini tidak ada seorang pun yang mundur.
Selama bertahun-tahun mahasiswa hanya memilih diam. Mereka takut nilai praktik dipersulit, takut dikenai sanksi, atau takut dicap pembuat masalah. Tetapi melihat Maya diperlakukan seperti itu membuat banyak orang merasa batas kesabaran mereka telah habis.
Seorang mahasiswi berkacamata mengangkat ponselnya.
“Semuanya sudah saya rekam.”
Wajah Bu Rina mulai berubah.
“Rekam apa?”
“Sejak Ibu menarik nampan makanan sampai membuka tas Bapak ini.”
Untuk pertama kalinya, senyum percaya diri Bu Rina menghilang.
Sementara itu, di gedung rektorat yang berjarak sekitar tiga ratus meter dari kantin, ponsel Rektor Universitas Nusa Bangsa berbunyi.
Pesan yang masuk berasal dari Direktur Hukum Yayasan Koba.
“Hibah delapan puluh lima miliar rupiah resmi dibekukan sesuai instruksi Bapak Fransiskus Koba. Seluruh proses penandatanganan kerja sama dihentikan sampai pemberitahuan berikutnya.”
Rektor, Prof. Arman Wiranata, seketika berdiri dari kursinya.
“Apa?”
Sekretarisnya terkejut.
“Ada apa, Pak?”
Prof. Arman membaca ulang pesan itu berkali-kali.
Pagi tadi ia baru saja mengadakan rapat mengenai pembangunan rumah sakit pendidikan yang seluruh pendanaan utamanya berasal dari Yayasan Koba.
Jika hibah itu dibatalkan, proyek yang sudah dirancang hampir dua tahun akan langsung berhenti.
Ia segera menghubungi nomor Fransiskus.
Tidak diangkat.
Ia mencoba lagi.
Tetap tidak dijawab.
Lima menit kemudian, sebuah pesan singkat masuk.
“Saya sedang berada di kantin utama.”
Prof. Arman langsung berlari keluar ruangan.
Di kantin, Bu Rina masih berdiri dengan tangan terlipat.
“Pak, jangan percaya omongan mahasiswa. Mereka sering membela teman sendiri.”
Fransiskus tidak menjawab.
Ia hanya memandang Maya.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”
Maya menunduk.
“Aku tidak mau Papa datang dan semua orang bilang aku memakai nama Papa.”
“Sudah berapa lama?”
“Hampir satu semester.”
Fransiskus menarik napas panjang.
“Setiap hari?”
Maya mengangguk pelan.
“Bukan cuma aku.”
“Ada banyak mahasiswa lain.”
Ia melirik ke arah antrean belakang.
Di sana masih berdiri beberapa mahasiswa yang memegang kartu beasiswa.
Sebagian memakai pakaian yang mulai pudar.
Sebagian lagi membawa botol minum yang sudah kusam.
Mereka terbiasa berdiri di Jalur C.
Mereka terbiasa menerima nasi dingin.
Mereka terbiasa diam.
Seorang mahasiswa asal Papua memberanikan diri melangkah maju.
“Pak…”
Fransiskus menoleh.
“Saya Daniel.”
“Saya juga sering dipindahkan ke Jalur C.”
“Katanya supaya mahasiswa lain tidak merasa terganggu.”
Seorang mahasiswi dari Flores ikut maju.
“Saya pernah disuruh makan di luar karena kulit saya dianggap terlalu kotor setelah praktik lapangan.”
Mahasiswa lain mulai berbicara bergantian.
“Saya pernah tidak diberi lauk.”
“Saya pernah dipanggil anak kampung.”
“Saya pernah disuruh antre paling belakang walaupun datang duluan.”
Semakin lama semakin banyak suara bermunculan.
Bu Rina mulai kehilangan kendali.
“Itu semua bohong!”
Tetapi puluhan mahasiswa justru mengangkat tangan.
“Saya saksi.”
“Saya juga.”
“Saya juga.”
Tidak lama kemudian, Prof. Arman tiba di kantin dengan napas memburu.
Begitu melihat Fransiskus, wajahnya langsung pucat.
“Pak Fransiskus…”
Seluruh kantin mendadak hening.
Bu Rina mengernyit.
“Pak Rektor kenal orang ini?”
Prof. Arman menoleh perlahan.
“Kenal?”
Beliau mendekati Fransiskus lalu membungkukkan badan dengan hormat.
“Beliau adalah pendiri Yayasan Koba.”
“Beliau juga donatur terbesar pembangunan rumah sakit pendidikan kita.”
Suasana seketika membeku.
Wajah Bu Rina kehilangan warna.
“Tidak… tidak mungkin…”
Prof. Arman memandang dokumen yang berada di tangan Maya.
“Apakah… hibahnya benar-benar dibekukan?”
Fransiskus menjawab tenang.
“Saya datang hari ini sebagai ayah.”
“Bukan sebagai donatur.”
“Saya berharap melihat putri saya menikmati makan siang.”
“Yang saya temukan justru sistem yang memperlakukan mahasiswa berdasarkan warna kulit dan latar belakang ekonomi.”
Prof. Arman memejamkan mata beberapa detik.
Ia sadar masalah ini jauh lebih besar daripada sekadar kehilangan dana.
“Pak Fransiskus…”
“Saya mohon kesempatan.”
“Saya akan menyelidiki semuanya.”
Fransiskus mengangguk.
“Saya juga menginginkan itu.”
“Tetapi penyelidikannya harus independen.”
“Saya tidak ingin satu orang dijadikan kambing hitam.”
“Kalau budaya ini sudah berlangsung lama, berarti masalahnya ada pada sistem.”
Kalimat itu menghantam semua orang yang mendengarnya.
Sore harinya, video kejadian di kantin mulai beredar di media sosial.
Dalam hitungan jam, jutaan orang menontonnya.
Tagar tentang Jalur C menjadi perbincangan nasional.
Mantan mahasiswa mulai mengirim kesaksian.
Ada yang mengaku pernah mengalami perlakuan serupa lima tahun lalu.
Ada pula mantan pegawai kantin yang mengirim surat anonim.
Dalam surat itu dijelaskan bahwa pembagian jalur makan memang dibuat agar mahasiswa “premium” tidak bercampur dengan mahasiswa beasiswa demi menjaga citra kampus.
Ketika surat itu dipublikasikan, Prof. Arman langsung membentuk tim investigasi eksternal.
Hasilnya mengejutkan.
Selama hampir empat tahun, kebijakan diskriminatif itu memang benar-benar ada.
Bukan hanya di kantin.
Beberapa fasilitas kampus diam-diam membedakan perlakuan terhadap mahasiswa penerima beasiswa.
Semua dilakukan tanpa persetujuan resmi pimpinan universitas.
Bu Rina bukan pencetusnya.
Ia hanyalah orang yang menjalankan aturan dengan cara paling kasar.
Beberapa pejabat administrasi yang selama ini bersembunyi di balik meja akhirnya ikut diperiksa.
Sebulan kemudian, rapat senat universitas digelar secara terbuka.
Prof. Arman berdiri di podium.
“Hari ini kami meminta maaf kepada seluruh mahasiswa.”
“Tidak ada pendidikan yang layak disebut bermartabat jika masih membedakan manusia berdasarkan asal-usul.”
Seluruh kebijakan diskriminatif dihapus.
Kantin dirombak total.
Tidak ada lagi jalur khusus.
Harga makanan diturunkan.
Mahasiswa penerima beasiswa memperoleh kualitas makanan yang sama dengan mahasiswa lainnya.
Yang mengejutkan, Yayasan Koba belum juga mencairkan hibah.
Banyak media mulai bertanya apakah Fransiskus benar-benar membatalkan bantuannya.
Ia hanya menjawab singkat.
“Saya tidak pernah memberi donasi untuk membangun gedung.”
“Saya memberi donasi untuk membangun manusia.”
Dua bulan kemudian, Prof. Arman kembali menemui Fransiskus.
Ia membawa satu map tipis.
“Pak, ini laporan lengkap hasil reformasi kampus.”
“Tidak ada satu pun kebijakan yang kami sembunyikan.”
Fransiskus membacanya selama hampir satu jam.
Sesekali ia bertanya.
Tidak sekali pun ia membahas uang.
Setelah selesai, ia tersenyum.
“Laporan ini belum sempurna.”
Prof. Arman menunduk.
“Saya tahu.”
“Tetapi untuk pertama kalinya saya melihat kampus ini berani mengakui kesalahannya.”
Fransiskus mengeluarkan ponselnya.
Ia membuka percakapan dengan direktur hukumnya.
Pesan berikutnya hanya terdiri dari satu kalimat.
“Lanjutkan hibah dengan tambahan program beasiswa kepemimpinan.”
Prof. Arman terdiam.
“Tambahan?”
Fransiskus mengangguk.
“Lima belas miliar rupiah lagi.”
“Tetapi bukan untuk bangunan.”
“Gunakan untuk melatih dosen, pegawai, dan seluruh staf tentang etika, pelayanan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.”
Prof. Arman menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.
“Saya kira Bapak akan menghukum kami.”
Fransiskus tersenyum hangat.
“Menghukum jauh lebih mudah daripada memperbaiki.”
“Saya kehilangan adik karena sistem kesehatan yang gagal.”
“Saya tidak ingin ada anak lain kehilangan masa depan karena sistem pendidikan yang gagal.”
Di hari pertama kantin baru dibuka, Maya kembali mengambil nampan makan siangnya.
Ia mengantre bersama semua mahasiswa tanpa perbedaan.
Di belakangnya berdiri Daniel.
Di depannya mahasiswi yang dulu pernah diam kini tersenyum ramah.
Di dinding kantin tergantung sebuah kalimat sederhana yang diusulkan langsung oleh Fransiskus.
“Di tempat ini, setiap orang datang untuk belajar. Tidak ada yang lebih tinggi daripada martabat manusia.”
Tak seorang pun menuliskan nama Fransiskus di bawah kalimat itu.
Ia memang tidak menginginkannya.
Baginya, warisan terbesar bukanlah gedung yang megah atau angka miliaran rupiah, melainkan keberanian satu kampus untuk akhirnya memperlakukan setiap mahasiswa sebagai manusia yang setara.
