Aku merangkul pinggang Maya dan tersenyum lembut.
“Tentu saja kita tetap pergi. Rizal sudah mengurus semuanya.”
Maya menatapku sejenak, seolah ingin memastikan tidak ada keraguan di wajahku. Setelah itu ia tersenyum puas dan menyandarkan kepala di bahuku.
“Bagus. Aku tidak mau liburan kita rusak hanya karena masalah di rumah.”
Kalimat itu terdengar dingin, tetapi saat itu aku tidak memedulikannya. Dalam pikiranku, Rina sedang berada di tangan dokter. Rizal juga ada di sana. Apa lagi yang bisa kulakukan? Aku bukan ahli bedah. Kehadiranku tidak akan mengubah hasil operasi.
Setidaknya, itulah alasan yang terus kuulang dalam hati agar rasa bersalah tidak sempat tumbuh.

Malam itu kami tetap terbang ke Bali. Di dalam pesawat, Rizal menelepon tiga kali. Aku mematikan suara ponsel dan memasukkannya ke dalam tas. Ketika kami tiba di vila Seminyak, pesan-pesannya memenuhi layar.
Operasi sedang berlangsung.
Infeksinya cukup parah.
Dokter membutuhkan data riwayat kesehatan Rina.
Bima, angkat teleponmu.
Aku hanya membalas satu kalimat.
Aku sedang mengurus penerbangan pulang. Kabari aku setelah operasi selesai.
Setelah mengirim pesan itu, aku memesan makan malam dan sebotol minuman mahal. Maya mengenakan gaun hitam yang kubelikan minggu lalu. Ia berdiri di dekat kolam renang vila, tersenyum sambil mengangkat gelas.
“Untuk sepuluh hari yang tidak akan kita lupakan.”
Aku membenturkan gelasku ke gelasnya.
“Untuk kita.”
Sekitar pukul dua dini hari, ponselku kembali bergetar.
Operasi selesai. Rina masih belum sadar. Kondisinya belum stabil.
Entah mengapa, dadaku terasa sesak. Aku membayangkan Rina terbaring sendirian di ruang perawatan, wajahnya pucat di bawah lampu rumah sakit. Aku teringat pagi sebelum berangkat. Ia sempat memegang perut sambil berdiri di dapur.
“Mas, sejak tadi malam perutku sakit sekali,” katanya.
Aku bahkan tidak menoleh dari layar ponsel.
“Minum obat saja. Aku sedang buru-buru.”
Ia masih menyiapkan kopi, melipat kemejaku, dan memasukkan dokumen perjalanan ke dalam tas. Sebelum aku keluar rumah, ia berkata pelan, “Jangan lupa kabari kalau sudah sampai Surabaya.”
Aku hanya mengangkat tangan tanpa berbalik.
Ingatan itu membuatku gelisah, tetapi Maya segera mengambil ponsel dari tanganku.
“Jangan merusak malam ini,” bisiknya. “Istrimu sudah selamat, kan?”
“Operasinya selesai.”
“Berarti semuanya baik-baik saja.”
Aku ingin mengatakan bahwa selesai dioperasi tidak berarti baik-baik saja. Namun aku memilih diam.
Keesokan paginya Rizal menelepon lagi. Kali ini aku mengangkatnya karena takut ia akan menghubungi kantor atau keluargaku.
“Bagaimana keadaan Rina?” tanyaku.
“Dia sudah sadar sebentar, tapi masih sangat lemah.”
Aku mengembuskan napas lega. “Syukurlah. Aku akan pulang setelah urusanku selesai.”
“Urusan apa yang lebih penting daripada istrimu yang hampir meninggal?”
Nada suara Rizal berubah tajam.
“Aku sedang bertemu klien besar. Kau tidak mengerti tanggung jawabku.”
“Aku tidak mengerti?” Ia tertawa pendek, tetapi tidak ada sedikit pun kegembiraan dalam tawanya. “Aku yang menandatangani persetujuan operasi. Aku yang mencari golongan darah ketika persediaan rumah sakit terbatas. Aku yang menelepon adiknya. Bahkan aku yang membawakan pakaian karena kau tidak bisa dihubungi.”
“Aku sudah bilang aku sulit mendapat penerbangan.”
“Dari Surabaya ke Jakarta? Selama dua hari?”
Aku terdiam.
Rizal melanjutkan, lebih pelan, “Rina tadi menanyakanmu. Aku tidak tahu harus menjawab apa.”
“Katakan aku sedang berusaha pulang.”
“Berapa lama lagi kau mau berbohong, Bima?”
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Apa maksudmu?”
Namun Rizal sudah menutup telepon.
Aku mulai curiga ia mengetahui sesuatu. Mungkin ia menelepon hotel di Surabaya dan mendapati namaku tidak pernah terdaftar. Mungkin salah satu kenalan melihatku di bandara bersama Maya.
Aku ingin segera pulang, tetapi Maya marah ketika mendengar rencanaku.
“Kita baru dua hari di sini,” katanya. “Kamu sudah berjanji sepuluh hari.”
“Rizal mulai curiga.”
“Biarkan saja. Dia bukan suamimu.”
Aku menatapnya. “Maksudmu?”
Maya menghela napas, lalu menggenggam kedua tanganku.
“Sayang, kamu selalu bilang tidak bahagia bersama Rina. Kamu bilang rumah itu terasa seperti penjara. Sekarang, ketika akhirnya kita punya waktu bersama, kamu justru terus memikirkan dia.”
“Aku hanya tidak mau kebohongan ini terbongkar.”
“Kalau terbongkar, ceraikan dia.”
Ia mengatakannya semudah meminta pelayan mengganti seprai.
Selama ini aku memang sering mengeluh tentang Rina. Aku mengatakan pernikahan kami hambar, bahwa ia tidak memahami ambisiku, bahwa hidup bersamanya terlalu biasa. Namun saat Maya meminta aku menceraikannya, tiba-tiba aku merasa tidak nyaman.
Rina bukan hanya istriku. Ia adalah orang yang menemaniku ketika aku belum memiliki apa-apa. Saat usahaku gagal tujuh tahun lalu, ia menjual perhiasan peninggalan ibunya untuk membayar utang. Ketika ayahku sakit, ia yang merawatnya. Bahkan rumah yang kami tempati dibeli dari uang warisan keluarganya, meski selama ini aku membiarkan semua orang mengira akulah yang membelinya.
Aku mencintai kenyamanan yang diberikan Rina, tetapi pada saat yang sama aku menginginkan kekaguman yang diberikan Maya.
Aku ingin memiliki keduanya.
Karena itulah aku tetap tinggal di Bali.
Hari ketiga, Rina dipindahkan dari ruang intensif ke kamar perawatan. Rizal mengabariku, tetapi aku hanya membalas dengan emotikon tangan berdoa.
Hari keempat, Rina menelepon langsung. Aku membiarkannya berdering sampai berhenti.
Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk.
Mas, aku hanya ingin mendengar suaramu.
Aku menatap pesan itu cukup lama, lalu menghapusnya agar Maya tidak melihat.
Hari kelima, kantor menghubungiku. Sekretarisku mengatakan ada dokumen penting yang perlu ditandatangani. Aku menjawab bahwa koneksi internet di tempat pertemuan sangat buruk.
Hari keenam, Rizal tidak lagi mengirim kabar.
Anehnya, keheningan itu justru membuatku lebih gelisah. Aku mencoba meneleponnya, tetapi tidak diangkat. Aku menghubungi Rina, namun ponselnya tidak aktif. Adik Rina juga tidak menjawab pesanku.
“Lihat?” kata Maya. “Mereka baik-baik saja. Kalau terjadi sesuatu, pasti mereka akan terus menghubungimu.”
Aku memercayai penjelasan itu karena aku ingin memercayainya.
Hari ketujuh, Maya mengajakku melihat sebuah apartemen di kawasan Kuta. Ia berkata tempat itu bisa menjadi investasi sekaligus tempat kami bertemu tanpa perlu menginap di hotel.
“Aku sudah menemukan unit yang bagus,” ujarnya. “Tinggal bayar uang muka.”
Jumlahnya tidak kecil. Aku sempat ragu, tetapi Maya memelukku dan berkata bahwa apartemen itu adalah bukti keseriusanku.
Aku akhirnya mentransfer uang dari rekening perusahaan yang selama ini kukelola. Aku berniat mengembalikannya sebelum audit bulanan. Tidak ada yang akan tahu.
Hari kedelapan, Maya mulai sering meninggalkan vila dengan alasan bertemu teman lamanya. Ia juga beberapa kali menolak ketika aku ingin melihat ponselnya.
Hari kesembilan, aku terbangun dan menemukan sisi ranjang kosong. Koper Maya juga tidak ada.
Di atas meja hanya tertinggal kartu akses vila dan secarik kertas.
Jangan mencariku. Aku butuh waktu untuk berpikir.
Aku meneleponnya berkali-kali, tetapi nomor itu sudah tidak aktif. Aku menghubungi agen apartemen dan baru mengetahui bahwa unit yang ditunjukkan Maya tidak pernah dijual. Pria yang mengaku sebagai agen ternyata bukan pegawai perusahaan properti tersebut.
Saat itulah aku sadar.
Aku bukan satu-satunya pembohong dalam hubungan kami.
Aku segera memeriksa rekening. Uang perusahaan yang kutransfer telah dipindahkan ke beberapa rekening lain. Lebih buruk lagi, ada transaksi tambahan menggunakan data kartu dan akses perbankanku.
Selama aku menikmati liburan, Maya telah memotret kata sandi, dokumen, dan token keamanan yang kusimpan sembarangan di tas.
Jumlah kerugiannya hampir mencapai dua miliar rupiah.
Aku pulang ke Jakarta pada hari kesepuluh dengan kepala dipenuhi ketakutan. Di sepanjang perjalanan dari bandara, aku mencoba menghubungi Rina dan Rizal, tetapi tidak ada jawaban.
Aku membayangkan berbagai kemungkinan. Mungkin Rina masih berada di rumah sakit. Mungkin ia marah, tetapi akan memaafkanku setelah aku menjelaskan semuanya. Selama dua belas tahun menikah, ia selalu mengalah. Ia mungkin menangis dan menuntut penjelasan, tetapi pada akhirnya aku yakin ia tidak akan meninggalkanku.
Ketika mobil berhenti di depan rumah, aku langsung merasa ada sesuatu yang salah.
Pagar terbuka lebar. Beberapa mobil terparkir di halaman. Dua orang petugas kepolisian berdiri di teras bersama seorang pria berjas yang kukenal sebagai pengacara keluarga Rina.
Di ruang tamu, koper-koperku tersusun rapi.
Rina duduk di sofa. Wajahnya masih pucat, tubuhnya terlihat lebih kurus, dan bekas infus masih tampak di tangannya. Namun sorot matanya tidak lagi sama. Tidak ada kelembutan yang biasanya menyambutku pulang.
Di sebelahnya duduk Rizal dan adik Rina.
Aku berhenti di ambang pintu.
“Rina…”
Ia menatapku tanpa berdiri.
“Perjalanan bisnisnya menyenangkan, Mas?”
Aku menelan ludah.
“Aku bisa menjelaskan.”
“Dari Surabaya atau dari Seminyak?”
Ruangan itu terasa berputar.
Rizal meletakkan beberapa lembar foto di atas meja. Foto-foto itu memperlihatkan aku dan Maya di bandara, restoran, serta vila. Rupanya salah satu kerabat Rina yang bekerja di Bali melihat kami dan mengirimkan foto kepada Rizal.
“Aku khilaf,” kataku cepat. “Tapi sekarang bukan waktunya membicarakan itu. Aku sedang terkena masalah besar. Aku ditipu Maya. Uang perusahaan dicuri.”
Rina mengangguk perlahan.
“Aku tahu.”
Aku menatapnya bingung.
Pria berjas itu membuka sebuah map. “Perusahaan sudah melaporkan transaksi ilegal tersebut. Akses rekening menggunakan identitas dan persetujuan digital atas nama Bapak. Polisi perlu meminta keterangan.”
“Aku korban!”
“Anda mungkin korban penipuan,” jawabnya tenang. “Namun uang yang digunakan adalah dana perusahaan. Pemindahan awal dilakukan sendiri oleh Anda.”
Aku memandang Rina dengan putus asa.
“Rin, tolong aku. Kita bisa menyelesaikan ini bersama.”
Untuk pertama kalinya, matanya berkaca-kaca.
“Ketika aku menahan sakit sendirian di dapur, aku masih memikirkan kopimu. Ketika dokter mengatakan operasinya berisiko, aku meminta Rizal meneleponmu karena aku takut tidak sempat bertemu denganmu lagi.”
Ia menarik napas pelan.
“Aku menunggumu sebelum masuk ruang operasi. Aku berpikir mungkin pintu akan terbuka dan kamu akan datang. Namun yang berdiri di sana justru Rizal, membawa surat persetujuan yang seharusnya ditandatangani suamiku.”
Aku mencoba mendekat, tetapi petugas menahanku.
“Rina, aku benar-benar menyesal.”
“Kamu menyesal karena meninggalkanku atau karena perempuan itu membawa uangmu?”
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada kemarahan apa pun.
Aku tidak mampu menjawab.
Rina mengambil sebuah amplop dari meja.
“Rumah ini milik keluargaku. Semua dokumennya masih atas namaku. Pengacara sudah mengajukan gugatan cerai. Barang-barangmu sudah dikemas.”
“Dua belas tahun pernikahan kita akan kamu buang begitu saja?”
Ia tersenyum getir.
“Bukan aku yang membuangnya. Kamu melakukannya sedikit demi sedikit setiap kali berbohong, setiap kali pulang larut malam, dan akhirnya ketika kamu memilih liburan saat aku berjuang mempertahankan hidup.”
Aku menatap Rizal dengan penuh kebencian.
“Ini pasti karena dia. Kau ingin menggantikanku, Zal?”
Rizal berdiri. Wajahnya menegang.
“Aku sudah menikah, Bima. Istriku bahkan ikut menjaga Rina di rumah sakit. Jangan gunakan pikiran kotormu untuk menilai semua orang.”
Aku terdiam.
Petugas kemudian memintaku ikut ke kantor untuk memberikan keterangan. Saat borgol tidak dipasang, aku sedikit lega, tetapi rasa malu tetap membakar wajahku ketika para tetangga melihat dari luar pagar.
Sebelum keluar, aku menoleh kepada Rina.
“Apakah tidak ada satu kesempatan pun?”
Rina menatapku lama.
“Ada.”
Harapan kecil muncul di dadaku.
“Kesempatan itu datang ketika aku meneleponmu sebelum operasi. Namun kamu menyerahkannya kepada orang lain, sama seperti kamu menyerahkan tanggung jawabmu sebagai suami.”
Aku dibawa pergi sore itu.
Beberapa bulan kemudian, Maya ditangkap di Surabaya saat mencoba menipu pengusaha lain dengan cara yang hampir sama. Sebagian uang perusahaan berhasil ditemukan, tetapi aku tetap kehilangan pekerjaanku dan harus menjalani proses hukum karena penyalahgunaan dana.
Rina pulih perlahan. Ia tidak kembali kepadaku.
Dari Rizal, aku mendengar bahwa Rina menjual rumah besar itu dan pindah ke tempat yang lebih sederhana dekat keluarganya. Sebagian uang penjualan ia gunakan untuk membangun layanan pendampingan bagi pasien yang harus menjalani operasi tanpa dukungan keluarga.
Namanya Rumah Teman Pulang.
Aku pernah berdiri dari kejauhan ketika tempat itu diresmikan. Rina tampak sehat, dikelilingi orang-orang yang benar-benar peduli kepadanya.
Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu yang terlambat kusadari.
Aku mengira Rina tidak akan pernah pergi karena ia terlalu mencintaiku. Padahal selama ini ia bertahan bukan karena lemah, melainkan karena menghormati janji pernikahan kami.
Dan ketika aku sendiri menghancurkan janji itu, ia tidak kehilangan seorang suami.
Akulah yang kehilangan satu-satunya rumah yang pernah benar-benar menerimaku pulang.
