Tubuhku mendadak dingin membeku karena syok.
Di dalam mangkuk itu bukan makanan yang layak disantap seorang ibu yang baru melahirkan. Nasi yang sudah menguning karena semalaman dibiarkan di rice cooker bercampur kuah encer, kepala ikan yang tinggal separuh dagingnya, serta tulang-tulang bekas yang jelas sudah dimakan orang lain. Bau asamnya langsung menusuk hidung.
“Ayu… ini apa?”
Tanganku gemetar. Suaraku terdengar asing bahkan di telingaku sendiri.
Ayu buru-buru menunduk. Air matanya menetes ke meja tanpa suara.
“Maaf, Mas…”
“Maaf? Siapa yang nyuruh kamu makan beginian?”

Ia menggigit bibirnya begitu keras hingga hampir berdarah. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Bayi kami menangis pelan dari kamar, tetapi tak satu pun dari kami bergerak.
“Aku nggak lapar kok, Mas.”
“Kamu bohong.”
Aku memegang kedua bahunya.
“Jawab aku.”
Ayu akhirnya mengangkat wajah. Matanya sembab, pipinya semakin tirus dibandingkan seminggu lalu.
“Ibu bilang makanan bergizi mahal. Katanya lebih baik uangnya ditabung buat masa depan bayi.”
Aku terdiam.
“Setiap hari Ibu masak ikan atau ayam. Tapi… itu buat Ibu. Aku dikasih nasi sisa. Kadang tempe yang sudah dingin. Kalau masih lapar, Ibu bilang makan saja sisa yang ada.”
Dadaku sesak.
“Sejak kapan?”
Ayu tidak berani menatapku.
“Sejak Mas mulai kerja lagi setelah cuti.”
Aku mundur selangkah.
Selama dua bulan terakhir, setiap awal bulan aku selalu mentransfer enam juta rupiah kepada ibuku. Aku bahkan berkali-kali berkata, “Bu, jangan pelit sama Ayu. Dia baru melahirkan. Kasih makanan yang bagus.”
Setiap kali kutanya lewat telepon, ibuku selalu menjawab dengan bangga.
“Ayu makannya banyak. Tiap hari ikan, ayam, buah, susu. Tenang saja.”
Bahkan beliau sering mengirim foto meja makan yang penuh lauk.
Kini aku sadar.
Tidak pernah sekali pun ada Ayu di foto itu.
Aku menarik napas panjang.
“Lalu uang enam juta itu dipakai buat apa?”
Ayu menggeleng.
“Aku nggak tahu.”
Saat itulah suara pagar depan berbunyi.
Ibuku pulang.
Beliau masuk sambil membawa tas belanja dan masih mengenakan pakaian olahraga.
“Wah, Budi sudah pulang? Cepat juga hari ini.”
Beliau berhenti ketika melihat mangkuk di tanganku.
Wajahnya berubah sesaat, tetapi langsung kembali tersenyum.
“Oh, itu? Ayu memang suka nasi dingin dari dulu.”
Aku memandang ibuku tanpa berkedip.
“Benarkah?”
“Iya.”
“Berarti kepala ikan bekas ini juga makanan favorit Ayu?”
Senyumnya perlahan menghilang.
“Itu kan masih bisa dimakan.”
Aku mengangkat mangkuk itu tinggi-tinggi.
“Ini yang Ibu kasih ke menantu Ibu setiap hari?”
Ibuku mulai kesal.
“Jangan dibesar-besarkan. Zaman dulu ibu melahirkan juga makan seadanya.”
“Tapi saya kasih enam juta setiap bulan.”
“Itu kan biaya listrik, air, gas, popok, sabun, segala macam.”
Aku langsung membuka kulkas.
Isinya penuh.
Ada daging sapi segar, udang, ayam fillet, buah impor, yogurt, bahkan kue mahal.
Aku menoleh perlahan.
“Ini semua buat siapa?”
Ibuku menjawab tanpa rasa bersalah.
“Ya buat kita.”
“Kita?”
“Ibu juga tinggal di rumah ini.”
Aku membuka freezer.
Di dalamnya ada beberapa kotak daging premium yang bahkan belum pernah kubeli untuk keluargaku.
Aku semakin bingung.
Lalu mataku menangkap beberapa kantong belanja dari butik terkenal yang masih tergeletak di ruang tamu.
“Ibu belanja?”
“Sesekali.”
“Pakai uang siapa?”
Ibuku tidak menjawab.
Aku segera membuka aplikasi mobile banking.
Transfer enam juta selama dua bulan terakhir memang sudah masuk ke rekening beliau.
Namun entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar uang belanja.
Malam itu setelah ibuku masuk kamar dengan wajah kesal, aku duduk bersama Ayu.
“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”
Ayu tersenyum tipis.
“Aku nggak mau Mas kepikiran di kantor.”
“Kenapa kamu tahan?”
“Aku pikir Ibu cuma butuh waktu buat menerima aku.”
Kalimat itu terasa seperti pisau.
Ayu selama ini bukan hanya menahan lapar.
Ia sedang berusaha diterima sebagai keluarga.
Keesokan paginya aku sengaja berpamitan seperti biasa.
“Ibu, saya berangkat kerja.”
“Iya.”
Namun sepuluh menit kemudian aku kembali diam-diam melalui pintu samping.
Aku memasang kamera kecil yang kupesan semalam di ruang makan dan dapur.
Aku juga sengaja mematikan suara notifikasi agar tidak ketahuan.
Hari pertama.
Aku melihat semuanya dari layar ponsel di mobil.
Begitu aku dianggap sudah pergi, ibuku langsung mengeluarkan ayam goreng, sayur, buah, dan sup hangat.
Beliau makan sendirian.
Ketika Ayu keluar sambil menggendong bayi, ibuku hanya menunjuk rice cooker.
“Nasi masih ada.”
“Lauknya, Bu?”
“Itu tempe kemarin.”
“Tapi sudah basi…”
“Kalau pilih-pilih, ya nggak usah makan.”
Tanganku mengepal.
Hari kedua bahkan lebih parah.
Ibuku menerima dua orang teman arisannya.
Di depan mereka, beliau berkata sambil tertawa.
“Menantu sekarang manja. Baru lahiran sedikit sudah minta makan enak.”
Semua tertawa.
Padahal saat itu Ayu sedang mencuci piring di dapur dengan wajah pucat.
Hari ketiga.
Aku melihat sesuatu yang membuat darahku mendidih.
Seorang kurir datang membawa paket.
Isinya gelang emas.
Aku langsung mengecek rekening.
Enam juta yang kukirim ternyata hampir seluruhnya dipakai membeli barang-barang pribadi.
Malam itu aku tidak langsung marah.
Aku justru menelepon pamanku, adik kandung ibuku.
“Om, besok bisa datang ke rumah?”
“Ada apa?”
“Saya mau membahas sesuatu.”
Keesokan harinya seluruh keluarga berkumpul.
Ada paman, bibi, sepupuku, bahkan tetangga dekat yang selama ini sering mendengar cerita ibuku tentang betapa baiknya beliau merawat Ayu.
Ibuku tampak bangga.
“Mau syukuran ya?”
Aku mengangguk pelan.
“Kurang lebih begitu.”
Aku menyalakan televisi.
Video dari kamera tersembunyi mulai diputar.
Ruangan langsung sunyi.
Semua orang menyaksikan bagaimana Ayu diberi nasi basi.
Bagaimana ibuku memakan lauk mewah sendirian.
Bagaimana beliau menghina menantunya di depan teman-temannya.
Bagaimana uang yang kukirim dipakai membeli emas dan tas.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Wajah ibuku perlahan memucat.
“Ini… ini cuma salah paham.”
Aku menatap beliau.
“Salah paham selama dua bulan?”
Beliau mulai menangis.
“Ibu capek.”
“Itu alasan memperlakukan istri saya seperti ini?”
Pamanku berdiri.
“Kak, kamu keterlaluan.”
Tetangga yang hadir ikut menggeleng.
“Saya kira Mbak benar-benar merawat Ayu.”
Ibuku terduduk lemas.
Untuk pertama kalinya sejak kecil, aku melihat beliau tidak punya jawaban.
Aku menarik napas panjang.
“Mulai hari ini Ayu dan bayi ikut saya pindah.”
Ibuku langsung panik.
“Kamu mau ninggalin Ibu?”
“Saya tetap anak Ibu.”
“Lalu siapa yang merawat Ibu?”
Aku diam cukup lama.
Kalimat berikutnya terasa berat keluar dari mulutku.
“Selama ini saya mengirim uang karena percaya Ibu sedang merawat keluarga kecil saya.”
“Tapi ternyata yang harus dirawat justru istri saya.”
Hari itu aku membawa Ayu ke rumah kontrakan kecil yang sudah kusiapkan diam-diam.
Rumahnya sederhana.
Namun sore itu Ayu makan semangkuk sup ayam hangat sambil tersenyum.
Senyum yang sudah lama tidak kulihat.
Berbulan-bulan kemudian kondisi Ayu perlahan membaik.
Berat badannya naik.
Produksi ASI kembali lancar.
Bayi kami tumbuh sehat.
Aku tetap mengirim uang kepada ibuku, tetapi jumlahnya jauh lebih kecil dan langsung kubayarkan untuk kebutuhan tertentu seperti listrik dan obat-obatan, bukan lagi dalam bentuk uang bebas.
Awalnya beliau marah.
Tidak mau menerima teleponku.
Bahkan menyebarkan cerita bahwa aku durhaka.
Namun suatu hari aku menerima telepon dari pamanku.
“Budi, ibumu masuk rumah sakit.”
Aku segera datang.
Di ruang rawat, ibuku tampak jauh lebih tua.
Beliau menggenggam tanganku erat.
“Budi…”
“Iya, Bu.”
“Ibu salah.”
Aku tidak menjawab.
“Ibu iri.”
Aku menatap beliau.
“Iri?”
“Waktu kamu kecil, hidup kita susah. Ibu nggak pernah merasakan dimanja suami. Saat melihat kamu begitu perhatian pada Ayu, hati Ibu malah dipenuhi rasa iri. Ibu pikir kalau Ayu sedikit menderita, semuanya akan terasa adil.”
Aku menutup mata.
Pengakuan itu lebih menyakitkan daripada semua kebohongan sebelumnya.
“Ibu minta maaf.”
Beberapa hari kemudian, atas permintaan beliau sendiri, Ayu datang menjenguk.
Begitu melihat menantunya, ibuku langsung menangis.
Beliau berusaha bangun lalu menggenggam tangan Ayu.
“Maafkan Ibu.”
Ayu ikut menangis.
“Saya sudah memaafkan sejak lama, Bu.”
“Tapi kenapa kamu diam saja waktu disakiti?”
Ayu tersenyum lembut.
“Saya berharap suatu hari Ibu melihat saya sebagai anak, bukan orang asing.”
Ruangan kembali sunyi.
Ibuku menangis lebih keras daripada sebelumnya.
Sejak hari itu hubungan mereka memang tidak langsung sempurna.
Kepercayaan yang rusak tidak bisa pulih dalam semalam.
Namun perlahan-lahan, setiap akhir pekan kami datang berkunjung.
Ibuku mulai memasak sendiri untuk Ayu.
Bukan karena ingin menebus kesalahan dengan makanan, melainkan karena akhirnya beliau memahami bahwa kasih sayang tidak pernah diukur dari kata-kata, melainkan dari apa yang benar-benar diberikan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Dan setiap kali aku melihat Ayu menikmati semangkuk makanan hangat sambil memangku anak kami, aku selalu teringat mangkuk nasi basi yang pernah membuatku merasa gagal sebagai seorang suami.
Hari itu aku belajar satu hal yang tidak akan pernah kulupakan.
Kepercayaan adalah hadiah yang sangat mahal. Memberikannya kepada keluarga adalah hal yang wajar, tetapi mempertahankannya berarti tetap berani membuka mata terhadap kenyataan, sekalipun kenyataan itu datang dari orang yang paling kita hormati.
