DI PERNIKAHAN IBUKU, SUAMI BARUNYA MENGUSIRKU KARENA AKU “HANYA ANAK DARI PERNIKAHAN PERTAMA

Aku tidak langsung menjawab. Dengan langkah tenang dan pasti, aku berjalan menuju ujung meja oval panjang, tempat kursi utama yang biasanya dikosongkan untuk menghormati mendiang Ayah berada.

“Satpam! Bagaimana bisa anak kecil ini masuk ke ruang direksi?” suara Renato meninggi, menggema di dalam ruangan yang kedap suara itu. Wajahnya yang semula rapi kini menegang, urat-urat di lehernya mulai bermunculan. “Maya, keluar dari sini sekarang! Ini bukan tempat untuk bermain-main. Jangan buat malu ibumu lagi!”

Beberapa direktur senior di dalam ruangan saling berpandangan. Sebagian dari mereka tampak bingung, namun beberapa orang tua yang mengenalku sejak kecil mulai menatapku dengan mata membelalak.

Aku menarik kursi utama itu, lalu duduk dengan santai. Map kulit tebal dari Pengacara Mercado kuletakkan di atas meja dengan ketukan yang pelan namun tegas.

“Tuan Renato Villanueva,” kataku, memutus keheningan dengan suara yang begitu tenang hingga membuat atmosfer ruangan mendadak mencekam. “Di rumah, Anda mungkin bisa mengatur ke mana saya harus pergi. Tapi di gedung San Aurelio Holdings ini… Anda tidak punya hak untuk mengusir saya.”

“Kau—” Renato hendak melangkah maju untuk menarikku, tetapi gerakannya terhenti saat Pengacara Mercado melangkah masuk dan berdiri tepat di belakang kursiku.

“Tuan Villanueva, harap jaga sikap Anda,” potong Pengacara Mercado dengan nada dingin yang penuh wibawa. “Anda sedang berbicara dengan pemilik saham terbesar kedua di perusahaan ini.”

Mendengar ucapan itu, ruang rapat langsung riuh oleh bisikan. Renato tertawa hambar, mencoba menutupi rasa gugup yang mulai merayap di wajahnya. “Saham? Jangan bercanda! Ayah anak ini sudah meninggal tiga tahun lalu. Semua asetnya—”

“Semua aset mendiang Tuan Gabriel San Aurelio yang berupa saham perusahaan tidak pernah jatuh ke tangan istrinya,” Pengacara Mercado membuka dokumen di atas meja dan membalikkan halamannya ke arah para direksi. “Sesuai klausul wasiat nomor empat, saham sebesar empat puluh persen dibekukan sementara hingga Nona Maya mencapai usia legal untuk menerimanya, atau… hingga sang ibu memutuskan untuk menikah lagi.”

Darah seolah surut dari wajah Renato. Dia menatap lembaran kertas berlogo resmi hukum itu, lalu menatapku dengan mata yang bergetar hebat.

“Tidak… tidak mungkin,” bisik Renato. “Evelyn bilang… Evelyn bilang dia yang mewarisi semuanya!”

“Ibu saya hanya mewarisi hak pakai atas beberapa fasilitas, itu pun dengan syarat dia tidak mengabaikan saya,” jawabku datar. Aku menopang dagu dengan kedua tangan, menatap Renato yang kini mulai berkeringat dingin. “Tiga hari lalu, Anda mengusir saya dari kehidupan kalian karena saya ‘hanya anak dari pernikahan pertama’. Anda lupa, pria dari pernikahan pertama itulah yang membangun tempat Anda mencari nafkah.”

Salah satu direktur senior, Tuan Almonte, tiba-tiba berdiri dan membungkuk hormat ke arahku. “Nona Maya… jadi ini benar-benar Anda? Kami sudah lama menunggu hari di mana keluarga San Aurelio kembali memimpin rapat ini.”

“Terima kasih, Tuan Almonte,” kataku sambil mengangguk sopan. Lalu, tatapanku kembali terkunci pada Renato yang kini bersandar pada meja, tubuhnya gemetar. “Agenda rapat hari ini adalah evaluasi kinerja departemen logistik dan konstruksi, bukan?”

Renato tidak bisa bersuara. Semua kesombongan yang dia pamerkan di ballroom hotel malam itu menguap tanpa bekas. Dia yang mengira telah berhasil naik kelas menjadi penguasa baru, kini tersadar bahwa dia hanyalah seorang karyawan di hadapan anak tiri yang dihujatnya.

“Berdasarkan laporan yang saya terima dari Pengacara Mercado,” aku membuka lembaran demi lembaran dokumen audit, “Departemen yang Anda pimpin mengalami penurunan efisiensi sebesar lima belas persen dalam dua kuartal terakhir. Ditambah lagi, ada beberapa kejanggalan dalam pemilihan vendor material.”

“Maya… maksudku, Nona Maya,” Renato mencoba mengubah suaranya menjadi selembut mungkin, persis seperti caranya merayu ibuku. “Ini pasti ada kesalahpahaman. Saya melakukan semuanya demi kemajuan perusahaan…”

“Di perusahaan ini, kita berbicara berdasarkan data, Tuan Villanueva, bukan retorika,” potongku tajam. “Mengingat kompetensi Anda yang meragukan, serta pelanggaran kode etik berat karena melakukan tindakan yang merugikan reputasi keluarga pendiri perusahaan… Saya, sebagai pemegang empat puluh persen saham, mengusulkan pencopotan jabatan Anda sebagai Kepala Departemen. Efektif mulai hari ini.”

“Saya setuju,” Tuan Almonte langsung mengangkat tangan.

“Saya juga setuju,” sahut direktur lainnya berturut-turut.

Renato ambruk ke kursinya. Dia menatapku dengan tatapan kosong, seolah tidak percaya bahwa dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, karier yang dia bangun bertahun-tahun hancur di tangan gadis yang dia sebut ‘sampah’.

“Anda punya waktu hingga jam lima sore untuk mengosongkan meja kerja Anda,” kataku sambil berdiri. “Dan satu hal lagi.”

Renato mendongak dengan sisa harapan di matanya.

“Rumah yang Anda dan ibu saya tempati saat ini… sertifikatnya sudah beralih atas nama saya semalam. Saya rasa, asrama yang Anda sarankan untuk saya tempo hari sangat cocok untuk tempat tinggal Anda yang baru setelah kehilangan pekerjaan ini.”

Aku mengambil map kulitku, lalu berjalan keluar dari ruang rapat tanpa menoleh lagi.

Saat aku berjalan di koridor gedung menuju lobi, ponselku bergetar hebat di dalam tas. Layarnya menyala, menampilkan nama Ibu. Aku membuka blokirnya sesaat sebelum rapat dimulai hanya untuk melihat apa yang akan dia lakukan.

Aku menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga.

“Maya! Apa yang kamu lakukan pada Renato?!” suara Ibu terdengar histeris, bercampur tangis. “Dia baru saja menelepon dan bilang dia dipecat! Dia bilang kamu yang melakukannya! Bagaimana bisa kamu sekejam ini pada suami baru ibumu?”

Aku menghentikan langkahku di depan pintu kaca besar yang menampilkan pemandangan kota Manila yang sibuk.

“Ibu,” kataku dengan suara yang teramat tenang. “Malam itu, saat dia mempermalukan aku di depan semua orang, Ibu ada di sana. Ibu melihatku terluka, tapi Ibu memilih untuk diam dan menyuruhku mengalah demi kebahagiaan Ibu.”

“Tapi dia suamiku sekarang, Maya! Kamu harus menghormatinya!”

“Dan aku adalah anak kandung Ibu. Anak dari pria yang memberikan semua kemewahan yang Ibu nikmati hari ini,” air mataku hampir menetes, namun buru-buru kuhapus. Aku harus kuat, seperti pesan Ayah. “Ibu takut sendirian, sampai-sampai Ibu rela membiarkan orang lain menginjak-injak darah daging Ibu sendiri.”

“Maya… tolonglah, kembalikan jabatan Renato. Kita bisa bicarakan ini baik-baik di rumah…” suara Ibu mulai memohon, menyadari posisinya yang kini berbalik.

“Rumah?” aku tersenyum getir. “Rumah itu milikku sekarang, Ibu. Aku memberikan waktu tiga hari bagi Ibu dan pria itu untuk mengemas barang-barang kalian dan pergi dari sana.”

“Maya! Kamu mengusir ibumu sendiri?!”

“Aku tidak mengusir Ibu,” kataku, meniru persis kalimat yang diucapkan Renato di malam pernikahan itu. “Aku hanya ingin memulai kehidupan baruku dengan benar. Ibu pasti mengerti bahwa aku juga butuh ketenangan tanpa gangguan dari kalian. Bukankah ini juga demi kebaikanku?”

Seketika, seberang telepon menjadi sunyi senyap. Ibu tampaknya teringat kembali pada momen di ballroom hotel, di mana dia membiarkan kalimat itu meluncur untuk mengusirku.

“Selamat tinggal, Ibu. Jaga dirimu baik-baik,” bisikku sebelum mematikan sambungan telepon dan memblokir nomornya untuk selamanya.

Aku melangkah keluar dari gedung San Aurelio Holdings. Angin Manila menyambut wajahku. Rasanya tidak ada lagi beban di pundakku. Aku menatap langit sore yang cerah, tahu bahwa mulai hari ini, aku tidak akan pernah lagi memohon pada siapa pun untuk diperlakukan dengan layak. Ayah telah melindungiku, dan kini, akulah yang memegang kendali atas takdirku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang