MALU PUNYA IBU PETANI, PRIA INI MENGAKU YATIM PIATU DEMI MENIKAHI ANNAK KAYA! SAAT TANAH IBUNYA DIJUAL 18 MILIAR, IA BERLUTUT MEMOHON AMPIUN!

Pria itu adalah Pak Baskoro, seorang pengusaha tambang nikel dan properti nasional yang namanya sering menghiasi halaman utama surat kabar ekonomi. Dengan senyum ramah yang menyembunyikan ketegasan seorang pebisnis ulung, ia mendekati Ibu Ratna dan menjelaskan maksud kedatangannya. Ternyata, bukit berbatu di belakang rumah dan seluruh hamparan tanah di Desa Sukamaju telah ditetapkan sebagai jalur utama proyek pembangunan kawasan industri strategis nasional yang bekerja sama dengan investor asing. Pemerintah daerah memang berencana melelang lahan-lahan tersebut secara terbuka, namun Pak Baskoro secara pribadi memegang hak prioritas atas tanah ulayat dan kepemilikan privat di kawasan itu.

Mata Pak Baskoro menangkap kesedihan yang mendalam di wajah renta Ibu Ratna. Setelah memeriksa sertifikat tua yang digenggam erat oleh wanita paruh baya itu, Pak Baskoro justru menawarkan harga penolakan pertama yang mencengangkan. Ia tidak hanya melunasi utang administrasi sebesar sembilan puluh enam juta rupiah yang menjerat Ibu Ratna, tetapi juga menawarkan pembelian langsung seluas dua belas hektar tanah tersebut dengan nilai fantastis, yaitu delapan belas miliar rupiah. Angka itu jauh melampaui bayangan siapapun di desa terpencil itu, cukup untuk mengubah nasib keturunan Ibu Ratna hingga tujuh turunan. Dengan tangan yang gemetar hebat, Ibu Ratna menandatangani dokumen pelepasan hak di atas meja kayu sederhana di teras rumahnya, sementara Pak Baskoro berjanji seluruh dana akan cair dalam waktu tiga hari kerja langsung ke rekening bank atas nama Ibu Ratna.

Berita tentang penjualan tanah senilai delapan belas miliar rupiah itu menyebar bagaikan api dalam sekam di seluruh penjuru Desa Sukamaju. Para tetangga yang dulu sering membantu kini datang silih berganti mengucapkan selamat, sementara Rian yang berada nun jauh di Surabaya akhirnya mendengar kabar burung tersebut dari seorang kerabat jauh. Panik bercampur ambisi liar menguasai benak Rian. Angka delapan belas miliar rupiah adalah pintu gerbang emas untuk mengamankan posisinya secara permanen di keluarga besar Pak Surya. Tanpa membuang waktu, Rian meninggalkan kantor mewahnya, menyewa mobil mewah, dan memaksa Nadia untuk segera mengikutinya pulang ke Wonogiri dengan alasan rindu pada sang ibu yang mendadak jatuh sakit.

Tiga hari kemudian, Rian dan Nadia tiba di halaman rumah panggung Ibu Ratna. Suasana telah berubah drastis; beberapa mobil mewah tampak terparkir di tanah lapang, dan para pekerja proyek mulai memasang patok pembatas di kejauhan. Rian keluar dari mobil dengan senyum paling manis yang bisa ia tampilkan, merangkul pinggang Nadia yang tampak kebingungan melihat kesederhanaan tempat itu. Ketika melihat Ibu Ratna duduk di ruang tamu beralaskan tikar pandan, Rian langsung berlari kecil dan berlutut di pangkuan ibunya, mencium punggung tangan wanita tua itu dengan air mata buatan yang sangat meyakinkan.

Ibu, maafkan Rian, anakmu yang durhaka ini, rintih Rian dengan suara bergetar yang dibuat-buat, sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh Nadia dan para tetangga yang menyaksikan dari luar. Kemarin Rian khilaf karena beban pekerjaan di Surabaya begitu berat, tapi sumpah demi Tuhan, Rian tidak pernah melupakan Ibu sedetik pun di dalam doa Rian.

Nadia yang berdiri di belakang ikut mendekat, merasa terharu melihat keakraban suami masa depannya dengan sang ibu mertua yang diklaim sebagai wanita sederhana berhati malaikat. Nadia bahkan membungkuk hormat dan mencium tangan Ibu Ratna, memuji betapa tabahnya wanita tua itu membesarkan Rian seorang diri. Ibu Ratna hanya menatap kedua anak muda di hadapannya dengan tatapan kosong yang menyimpan ribuan luka lama. Tidak ada amarah yang meledak-ledak, tidak ada bentakan, melainkan ketenangan yang justru membuat bulu kuduk merinding.

Ibu Ratna perlahan menarik tangannya dari genggaman Rian. Ia berdiri dengan bantuan tongkat kayu kesayangannya, lalu melangkah ke dalam kamar untuk mengambil sebuah amplop cokelat tebal berisi salinan dokumen transaksi dari bank. Dengan tangan gemetar menahan haru, Rian mengira amplop itu adalah kunci pembuka brankas harta karun delapan belas miliar rupiah yang akan segera menjadi miliknya untuk modal membangun perusahaan konstruksi bersama Pak Surya. Rian sudah membayangkan bagaimana ia akan membeli rumah megah di kawasan elit Menteng dan membuang jauh-jauh masa lalunya yang dianggap memalukan.

Namun, saat Rian merobek amplop tersebut dan membaca lembar demi lembar isinya, warna muka Rian mendadak pucat pasi bagaikan mayat hidup. Keringat dingin bercucuran membasahi kemeja bermereknya. Lembaran pertama bukanlah surat pembagian warisan, melainkan akta hibah sah dan surat keputusan notaris yang menyatakan bahwa seluruh uang hasil penjualan tanah senilai delapan belas miliar rupiah telah dialihkan secara penuh kepada yayasan sosial pembangunan desa, balai pengobatan gratis, serta dana abadi pendidikan anak-anak kurang mampu di seluruh Kabupaten Wonogiri. Di lembar terakhir, terdapat catatan tangan Ibu Ratna yang ditandatangani di hadapan saksi hukum.

Rian menjerit histeris sambil membaca angka-angka nol yang kini tak lagi menjadi miliknya. Ia menatap ibunya dengan mata melotot penuh kebencian yang tak lagi bisa ia sembunyikan di depan Nadia. Apa-apaan ini, Ibu? Teriak Rian dengan nada tinggi yang mencabik kesunyian rumah panggung itu. Uang itu milik kita! Itu tanah kakekku! Kenapa Ibu memberikan semuanya kepada orang lain dan membiarkan anak kandungmu kelaparan di atas tumpukan emas?

Nadia terperanjat mundur, menatap Rian dengan tatapan jijik dan tidak percaya. Nadia baru sadar bahwa pria yang selama ini mengaku sebagai anak yatim piatu dari keluarga terpandang ternyata adalah seorang pembohong besar yang tega menolak dan menghina ibu kandungnya sendiri demi mengejar harta dan status sosial. Nadia melangkah mendekati Ibu Ratna, meminta maaf dengan tulus atas kelakuan bejat pria di sampingnya, lalu melepaskan cincin pertunangan dari jari manisnya dan melemparkannya tepat ke dada Rian.

Dengan berlinang air mata penyesalan yang terlambat, Rian kembali menjatuhkan dirinya ke lantai, bersimpuh di kaki Ibu Ratna sambil memeluk lutut wanita tua itu dengan erangan putus asa. Ibu, mohon ampunilah Rian, Ibu… Rian salah, Rian mengaku dosa, ampunilah anakmu ini, rintih Rian sambil mencium ujung sandal jepit yang dipakai ibunya, persis seperti sandal jepit yang dulu ia hina di trotoar Surabaya.

Ibu Ratna menunduk menatap putranya yang kini kehilangan segalanya, baik martabat, kekasih, maupun harta yang diidam-idamkannya. Dengan lembut namun penuh ketegasan, Ibu Ratna melepaskan tangan Rian dari lututnya. Dulu, saat Ibu berdiri di trotoar Surabaya membawa tas kain berisi jagung rebus dan kerinduan seorang ibu, kamu menguburku hidup-hidup demi kehormatan palsu, ucap Ibu Ratna dengan suara parau namun sarat wibawa. Hari ini, kamu sendiri yang menggali kuburan untuk keserakahanmu sendiri. Pulanglah, Rian, belajarlah menjadi manusia sebelum menjadi anak.

Rian terduduk lemas di lantai kayu yang dingin, dikelilingi oleh tatapan sinis para tetangga dan kepergian Nadia yang berlari menuju mobil untuk meninggalkan tempat terkutuk itu. Di luar, matahari sore mulai tenggelam di balik bukit Wonogiri, menyisakan keheningan abadi di antara sisa-sisa penyesalan yang takkan pernah bisa ditebus oleh waktu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang