Setiap Jam Tujuh Pagi Ibu Mertuaku Pasti Teriak Di Depan Pintu Kontrakan Sambil Bawa Tas Kresek Katanya Aku Di Rumah Sendirian Jangan Lupa Kunci Rapat-Rapat Padahal Di Luar Banyak Tetangga Nongkrong Dan Buluku Merinding Tahu Maksud Aslinya Karena Aku Lagi Hamil Besar Tinggal Di Lantai Satu Dekat Pos Satpam

Suara tarikan napas Mas Hendra terdengar berat meski jaraknya agak jauh dari posisi Dinda bersembunyi di balik warung kelontong langganan warga sekitar. Melalui layar ponsel yang tersambung lewat panggilan video, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana mertuaku, Bu Sri, langsung menyerahkan tas selempang hitam yang selama ini dia peluk erat ke tangan Mas Hendra. Di balik layar, genggamanku pada ponsel semakin erat hingga buku-buku jariku memutih. Jadi, tas itu bukan berisi uang lima puluh juta seperti dugaanku, melainkan dokumen penting atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya yang sengaja mereka rahasiakan rapat-rapat dari Bayu.

Dinda memperbesar sedikit kameranya tanpa bersuara. Di trotoar perumahan elit Tambun itu, Mas Hendra membuka ritsleting tas tersebut dan mengeluarkan setumpuk kertas putih berlogo pengacara serta beberapa lembar materai. Bu Sri tampak mengangguk-angguk penuh semangat sambil menunjuk ke arah kertas tersebut, seolah sedang memberikan instruksi detail tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Aku menyimak setiap gerak-gerik mereka dengan jantung yang berdegup kencang. Hamil besar membuat emosiku mudah tersulut, tapi kali ini rasa takut justru bergeser menjadi amarah yang mendidih di dada. Mereka benar-benar merencanakan sesuatu di belakang Bayu, memanfaatkan kepolosan suami dan kepeduliannya sebagai anak bungsu untuk kepentingan busuk keluarga mereka sendiri.

Tanpa membuang waktu, aku meminta Dinda untuk segera pulang dan tidak perlu mengikuti mereka lebih jauh demi keselamatan adikku itu. Aku tahu aku tidak bisa tinggal diam menunggu bencana datang menghampiri rumah tanggaku. Malam harinya, ketika Bayu pulang kerja, wajahnya tampak lelah namun sorot matanya menyiratkan ketegasan yang luar biasa. Dia langsung melempar tas kerjanya ke sofa, memelukku erat-erat sambil mengelus perutku yang kini sudah membuncit besar, seolah ingin memastikan bahwa aku dan calon anak kami baik-baik saja setelah pertengkaran di grup WhatsApp keluarga siang tadi.

Bayu, suamiku, adalah tipe pria lurus yang sangat mencintai keluarganya namun memiliki prinsip moral yang sangat tinggi. Dia tidak suka kecurangan, dan itulah alasan kenapa dia begitu terpukul saat tahu ibunya sendiri tega memfitnahku di depan umum. Aku memutuskan untuk tidak langsung menceritakan penemuan Dinda hari itu. Aku ingin menunggu waktu yang tepat, saat semua bukti terkumpul lengkap dan tidak ada lagi celah bagi mereka untuk mengelak atau memutarbalikkan fakta. Selama tiga hari berikutnya, Bu Sri tetap menjalankan rutinitas paginya dengan meneriakkan kalimat provokatif di depan pintu kontrakanku. Namun, nadanya kini sedikit berbeda, lebih ketus dan terdengar seperti orang yang sedang menahan amarah yang luar biasa karena rencana mereka terhambat oleh kewaspadaan tetangga sekitar.

Puncak dari sandiwara ini terjadi pada hari Jumat sore, saat Bayu izin pulang lebih cepat karena kantornya meliburkan karyawan lebih awal menjelang akhir pekan. Biasanya, Bayu baru sampai rumah jam tujuh malam, tapi jam empat sore dia sudah memarkirkan motornya di depan teras. Kebetulan sekali, saat itu Bu Sri sedang berada di ruang tamu, sedang merapikan pakaian di dalam koper kecilnya sambil mengomel pelan karena merasa tidak betah tinggal di lingkungan yang menurutnya tidak menghormatinya. Mendengar suara motor Bayu, Bu Sri langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi sosok ibu yang teraniaya, lengkap dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca.

Bayu masuk ke dalam rumah dengan wajah datar. Dia menatap ibunya yang sedang duduk di sofa ruang tamu, lalu menatapku yang sedang berdiri di dekat dapur sambil membawa segelas air hangat. Tanpa basa-basi, Bayu meletakkan amplop cokelat besar di atas meja makan. Amplop itu persis seperti yang kulihat lewat video call Dinda di tangan Mas Hendra beberapa hari lalu.

Ibu, ini apa? tanya Bayu dengan suara rendah namun bergetar menahan amarah.

Bu Sri terperanjat kaget. Dia sama sekali tidak menyangka Bayu akan pulang secepat ini dan langsung menemukan amplop yang sengaja disembunyikan di bawah tumpukan baju di dalam kamar tamu. Wajah Bu Sri mendadak pucat pasi, kehilangan kata-kata untuk beberapa detik sebelum akhirnya dia mulai memasang akting menangis sesenggukan.

Itu… itu semua demi kebaikanmu, Bay! Istrimu ini tidak becus mengurus rumah tangga! Dia cuma anak SMK dari keluarga biasa yang tidak tahu adat! Mas Hendramu sudah carikan gadis yang selevel, anak seorang juragan tanah di Karawang, yang siap mendampingimu naik jabatan! Teriak Bu Sri sambil meraung-raung dramatis, berusaha menarik simpati anak bungsunya.

Aku hanya bisa tersenyum sinis. Jadi ini alasan sebenarnya di balik semua drama teriakan pagi hari dan fitnah keji itu. Mereka ingin menyingkirkanku agar Bayu bisa menikah lagi dengan wanita pilihan keluarga Mas Hendra yang dianggap lebih berderajat, demi melanggengkan ambisi keluarga mereka yang haus harta dan status sosial. Bayu menatap ibunya dengan tatapan yang menyiratkan kekecewaan yang sangat mendalam. Selama bertahun-tahun, Bayu selalu merasa bersalah karena dititipkan sejak kecil dan tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya. Dia selalu berusaha berbakti, mengirim uang setiap bulan, dan menuruti kemauan mereka sebisa mungkin. Tapi hari ini, batas kesabaran suamiku telah habis.

Ibu pikir pernikahan itu mainan? Jawab Bayu dengan nada dingin yang membuat seluruh ruangan terasa mencekam. Bayu menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya yang nyaris meledak. Selama ini Bayu diam bukan karena bodoh, Bu. Bayu tahu bagaimana Ibu dan Mas Hendra memperlakukan Rani di belakang Bayu. Rani hamil anak Bayu, dia merawat rumah ini, dia tidak pernah mengeluh meskipun tahu masakan yang Ibu buat untuknya sangat tidak layak, sementara Ibu sibuk memikirkan cara bagaimana membuang istri Bayu dari rumah ini!

Mendengar pengakuan Bayu, Bu Sri terdiam seribu bahasa. Dia menyadari bahwa selama ini anak bungsunya itu jauh lebih cerdas dan tahu banyak hal daripada yang mereka duga. Bayu tidak naif; dia hanya memilih diam demi menghormati orang tua, sampai akhirnya batas kewajaran itu dilanggar terlalu jauh. Tanpa menunggu lama, Bayu berdiri, mengambil koper kecil milik ibunya, lalu menyeretnya ke luar rumah tepat saat beberapa tetangga mulai keluar sore untuk sekadar duduk-duduk di teras.

Bu, kemasi barang-barang Ibu sekarang. Bayu sudah pesan taksi online di depan. Pulanglah ke rumah Mas Hendra di Tambun, atau kembali ke Brebes. Mulai hari ini, anggap saja Bayu sudah menunaikan semua kewajiban anak pada orang tuanya, tapi jangan pernah injakkan kaki lagi di rumah tangga kami, ucap Bayu dengan suara tegas yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh para tetangga yang mulai berkerumun di depan pagar.

Bu Sri histeris. Dia memukul-mukul lantai teras sambil mencak-mencak, meneriakkan berbagai kata-kata kasar kepadaku dan Bayu. Namun, warga komplek yang sudah hafal dengan tabiat buruknya selama sebulan terakhir sama sekali tidak ada yang mendekat untuk membela. Bu RT Yanti bahkan hanya menggelengkan kepala sambil melipat tangan di dada, menyaksikan bagaimana mertuaku itu terseret oleh ulahnya sendiri akibat keserakahan dan ambisi buta keluarganya. Tak lama kemudian, mobil taksi online yang dipesan Bayu tiba di depan gerbang. Dengan terpaksa dan menanggung malu yang luar biasa akibat sorotan mata seluruh tetangga, Bu Sri memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi mobil, meninggalkan rumah kami untuk selamanya dengan membawa segudang penyesalan yang terlambat.

Suasana kembali sunyi setelah taksi itu berlalu meninggalkan debu tipis di jalanan aspal komplek. Bayu menutup pintu pagar rumah, menguncinya rapat-rapat dengan kunci ganda, lalu berjalan masuk ke dalam ruang tamu dengan langkah gontai. Dia langsung memelukku erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku sambil terisak pelan. Beban berat yang selama ini dipikulnya akhirnya terlepas bersamaan dengan kepergian sang ibu. Aku membelai rambutnya dengan penuh kelembutan, merasakan kehangatan dan ketulusan yang kini benar-benar utuh menjadi milik kami berdua. Rumah subsidi tipe 36 di Bekasi Timur itu kembali tenang, tanpa ada lagi teriakan pagi hari yang penuh jebakan, melainkan kedamaian sejati yang menyambut kelahiran buah hati kami yang sebentar lagi akan tiba ke dunia.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang