DIASUS MENCURI JAM MEWAH DAN DIUSIR DARI MANSION, WANITA INI DIKEJAR DUA ANAK KEMBAR BERBAJU TERCEDERA KACA. TERNYATA PELAKU ASLINYA ORANG TERDEKAT!

Ucapan Rehan membuat suasana di tepi jalan itu seolah berhenti bergerak.

Hendra yang tadi masih menggenggam ponselnya kini berdiri kaku. Wajahnya yang semula merah karena marah perlahan kehilangan warna. Tatapannya berpindah dari Rehan ke Rian, lalu ke Maya yang masih terduduk di trotoar.

“Apa yang kalian bilang?” tanyanya pelan.

Rian mengusap air mata dengan punggung tangannya.

“Kami lihat Tante Siska masuk kamar Ibu Maya tadi siang. Dia bawa sesuatu yang mengilap. Setelah itu dia keluar sambil senyum.”

Rehan mengangguk cepat.

“Terus malam kemarin Tante Siska bilang sama seseorang di telepon, kalau setelah menikah sama Papa, kami akan dikirim ke sekolah jauh. Katanya Papa terlalu sayang sama kami dan itu bikin semuanya susah.”

Hendra menatap anak-anaknya lama.

“Lalu kenapa kalian tidak bilang dari tadi?”

Rian menunduk.

“Tante Siska bilang kalau kami cerita, Ibu Maya akan dipenjara.”

Kalimat itu menghantam Hendra lebih keras daripada tamparan.

Maya berdiri perlahan. Ia tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk membela diri. Ia justru berlutut di depan Rehan dan memeriksa telapak tangannya.

“Kita harus ke rumah sakit sekarang.”

Hendra akhirnya tersadar.

Ia segera mengangkat Rehan, sementara Maya menggandeng Rian menuju mobil.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit terdekat, tidak ada seorang pun berbicara.

Hendra duduk di depan, kedua tangannya mencengkeram setir. Berkali-kali ia menatap kaca spion.

Di kursi belakang, Rian menyandarkan kepala di bahu Maya, sementara Rehan terus menggenggam ujung seragamnya.

Maya tahu Hendra sedang diliputi rasa bersalah, tetapi ia belum siap memberinya pengampunan.

Tiga tahun bekerja di rumah itu telah membuat Maya mengenal Hendra cukup baik. Pria itu bukan ayah yang buruk. Ia hanya terlalu terbiasa mengambil keputusan cepat dan menganggap kekuasaan dapat menggantikan kepercayaan.

Setelah kondisi kedua anak diperiksa dan luka mereka ditangani, Hendra berdiri di lorong rumah sakit dengan wajah tegang.

“Saya mau pulang,” katanya.

Maya mengangkat wajah.

“Untuk apa?”

“Memeriksa semuanya.”

Maya diam.

Hendra menatapnya.

“Kalau cerita anak-anak benar, saya harus tahu seberapa jauh Siska melakukan ini.”

“Dan kalau mereka salah?”

Hendra terdiam.

Maya tersenyum pahit.

“Anda sudah menghukum saya sebelum memeriksa apa pun. Jangan ulangi hal yang sama kepada orang lain.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Hendra menundukkan kepala.

“Benar.”

Mereka kembali ke mansion hampir pukul sembilan malam.

Gerbang rumah masih terbuka.

Siska ternyata belum pergi. Ia duduk di ruang keluarga sambil menelepon seseorang, tetapi buru-buru memutus sambungan saat melihat Hendra masuk bersama Maya dan anak-anak.

“Kamu membawa dia kembali?” tanyanya.

Nada suaranya langsung meninggi.

Hendra tidak menjawab.

Ia hanya berjalan menuju ruang kerja.

“Siska, ikut saya.”

Ada sesuatu dalam suara Hendra yang membuat perempuan itu mulai gelisah.

Maya membawa Rian dan Rehan ke sofa. Kedua anak itu masih ketakutan.

Tidak lama kemudian, Hendra memanggil kepala keamanan rumah.

“Pak Darma, saya ingin rekaman CCTV tiga hari terakhir.”

Wajah Siska berubah.

“CCTV? Bukankah kamera di lorong kamar staf rusak?”

Pak Darma terlihat bingung.

“Yang di lorong memang mati, Bu. Tapi kamera taman belakang dan area tangga masih aktif.”

Hendra menoleh perlahan kepada Siska.

“Kenapa kamu tahu kamera lorong rusak?”

Siska terdiam.

“Aku… hanya pernah dengar staf membicarakannya.”

Pak Darma membuka laptop.

Rekaman demi rekaman diputar.

Pada pukul dua lewat tujuh belas siang, terlihat Siska berjalan menuju kamar Maya.

Tidak ada kamera di dalam kamar itu, tetapi tiga menit kemudian Siska keluar.

Di tangannya tidak terlihat apa pun.

Hendra menyilangkan tangan.

“Belum membuktikan apa-apa.”

Siska menghela napas lega.

Namun Pak Darma tiba-tiba berkata, “Tunggu, Pak.”

Ia memundurkan rekaman dari kamera tangga.

Gambar diperbesar.

Sebelum memasuki lorong kamar staf, Siska terlihat mengambil sebuah kotak kecil dari saku tasnya.

Hendra langsung mengenalinya.

Kotak jam tangannya.

Siska berdiri.

“Itu bukan apa-apa. Gambar CCTV buram!”

“Kalau begitu kita buka rekaman lain.”

Pak Darma mengganti layar.

Kamera taman belakang menunjukkan Rian dan Rehan sedang bermain dekat jendela kamar Maya beberapa jam sebelumnya.

Siska terlihat masuk ke kamar.

Beberapa menit kemudian, kedua anak itu mengintip dari luar.

Maya menatap Rian.

“Jadi kalian benar-benar melihatnya?”

Rian mengangguk.

Hendra menutup mata sejenak.

Tetapi masalah ternyata belum selesai.

Pak Darma tiba-tiba menghentikan rekaman pada satu bagian lain.

“Pak, ini agak aneh.”

Ia menunjukkan rekaman tengah malam dua hari sebelumnya.

Siska terlihat turun ke ruang kerja Hendra.

Lima belas menit kemudian, ia keluar membawa beberapa map.

Hendra langsung berdiri.

“Apa itu?”

Siska mulai panik.

“Hendra, kamu terlalu jauh!”

Namun Hendra sudah berlari menuju ruang kerjanya.

Brankas kecil di balik lemari ternyata terbuka.

Beberapa dokumen penting hilang.

Termasuk salinan surat kepemilikan saham rumah sakit, dokumen tanah, dan satu dokumen yang membuat wajah Hendra langsung pucat.

Surat wasiat.

Siska berjalan mundur.

“Semua ini bisa dijelaskan.”

Hendra menatapnya.

“Silakan.”

Siska menarik napas panjang.

“Aku hanya ingin memastikan masa depan kita.”

“Masuk ke brankas saya tanpa izin?”

“Kita akan menikah!”

“Belum.”

Siska menggertakkan gigi.

“Aku sudah menunggu dua tahun, Hendra. Dua tahun aku harus berpura-pura sayang pada dua anak yang bahkan tidak pernah menganggapku keluarga.”

Rian dan Rehan yang berdiri di ambang pintu mendengar semuanya.

Maya segera memeluk mereka.

Hendra menatap Siska seperti melihat orang asing.

“Saya kira kamu memahami mereka.”

Siska tertawa pendek.

“Memahami? Mereka bahkan masih memanggil pengasuh dengan sebutan ibu. Kamu tahu betapa memalukannya itu?”

Wajah Maya mengeras.

“Jangan libatkan anak-anak.”

Siska menoleh kepadanya.

“Ini semua karena kamu. Kalau kamu tidak ada, mereka pasti lebih dekat padaku.”

“Tidak,” suara Hendra terdengar rendah.

Siska membeku.

Hendra melangkah mendekat.

“Mereka tidak dekat denganmu karena mereka tahu siapa kamu jauh sebelum saya menyadarinya.”

Siska mulai kehilangan kendali.

“Jadi sekarang kamu percaya pembantu itu dibanding calon istrimu sendiri?”

Hendra menjawab tanpa ragu.

“Saya percaya bukti.”

Ia kemudian menghubungi polisi.

Kali ini bukan untuk Maya.

Sekitar empat puluh menit kemudian, dua petugas datang.

Setelah melihat rekaman kamera keamanan dan mendengar kesaksian anak-anak, polisi memeriksa kamar Siska.

Mereka menemukan lebih dari sekadar dokumen.

Di dalam koper tersembunyi di bawah tempat tidur terdapat beberapa perhiasan milik keluarga Hendra, uang tunai dalam jumlah besar, serta fotokopi sejumlah dokumen perusahaan.

Namun temuan yang paling mengejutkan justru ada di dalam ponsel cadangan milik Siska.

Di sana terdapat percakapan dengan seorang pria bernama Armand.

Hendra mengenali nama itu.

Armand adalah salah satu direktur keuangan di jaringan rumah sakitnya.

Pesan-pesan mereka menunjukkan rencana yang telah berlangsung berbulan-bulan.

Siska berencana menikah dengan Hendra, perlahan mengambil akses terhadap aset keluarga, lalu bekerja sama dengan Armand memindahkan sebagian kepemilikan perusahaan melalui transaksi fiktif.

Maya hanyalah satu masalah kecil dalam rencana itu.

Karena kedua anak terlalu percaya kepada Maya, Siska takut Maya akan menyadari perubahan perilakunya.

Maka Maya harus disingkirkan.

Tuduhan pencurian adalah cara tercepat.

Hendra membaca pesan terakhir dengan tangan bergetar.

Singkirkan pengasuh itu dulu. Setelah dia pergi, anak-anak bisa kita atur.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, Maya melihat ketakutan nyata di mata Hendra.

Bukan ketakutan kehilangan uang.

Melainkan ketakutan menyadari betapa dekatnya ia dengan bencana.

Siska dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sebelum keluar, ia sempat menatap Maya.

“Jangan merasa menang.”

Maya menjawab tenang.

“Saya tidak sedang bertanding.”

Siska terdiam.

“Saya hanya menjaga dua anak yang mempercayai saya.”

Pintu akhirnya tertutup.

Mansion besar itu menjadi sunyi.

Namun keheningan kali ini terasa berbeda.

Bukan keheningan mewah yang dingin.

Melainkan keheningan setelah badai.

Hendra berjalan ke ruang keluarga.

Maya sedang membantu Rian dan Rehan minum obat.

Ia berdiri beberapa langkah dari mereka.

“Maya.”

Perempuan itu tidak menoleh.

“Saya minta maaf.”

Maya berhenti.

Hendra melanjutkan.

“Saya tidak punya alasan untuk apa yang saya lakukan. Saya mempermalukan kamu. Saya mendorong kamu. Saya menuduh tanpa bukti.”

Maya akhirnya menatapnya.

“Benar.”

Hendra terlihat terkejut karena Maya tidak langsung memaafkannya.

“Saya tahu.”

“Tidak,” kata Maya. “Anda belum tahu.”

Ia berdiri.

“Anda kehilangan beberapa jam karena dibohongi. Saya kehilangan harga diri saya di depan seluruh staf setelah bekerja di rumah ini selama tiga tahun.”

Hendra tidak membantah.

“Anda pikir karena Anda pemilik rumah sakit, Anda selalu tahu bagaimana mengambil keputusan. Tapi malam ini anak-anak Anda hampir kehilangan nyawa karena satu keputusan Anda yang terburu-buru.”

Hendra menunduk.

Rian menggenggam tangan Maya.

“Jangan pergi lagi.”

Maya menatap anak itu.

Hatinya terasa seperti ditarik dari dua arah.

Ia menyayangi Rian dan Rehan seperti keluarga sendiri.

Tetapi ia juga tahu bahwa kembali seolah tidak pernah terjadi apa-apa berarti mengkhianati dirinya sendiri.

Malam itu Maya memilih tidur di kamar tamu hanya untuk memastikan kedua anak tenang.

Keesokan paginya, ia tetap mengemasi barang-barangnya.

Hendra menunggunya di ruang tamu.

“Saya tidak akan menahanmu.”

Maya mengangguk.

“Terima kasih.”

“Tapi saya ingin menawarkan sesuatu.”

Maya berhenti.

“Saya tahu uang tidak bisa memperbaiki semuanya.”

Hendra meletakkan sebuah map di meja.

“Ini bukan pesangon.”

Maya membuka map itu.

Di dalamnya terdapat dokumen sebuah rumah kecil di Depok dan surat penawaran pekerjaan sebagai koordinator pengasuh anak di yayasan keluarga Hendra.

Maya langsung menutup map.

“Saya tidak mau dibayar untuk memaafkan.”

“Ini bukan bayaran.”

Hendra menarik napas.

“Selama ini istri saya, almarhumah Nila, selalu ingin membuat yayasan untuk anak-anak pasien dari keluarga tidak mampu. Saya terus menunda karena sibuk.”

Maya terdiam.

“Saya ingin meneruskannya. Dan saya ingin kamu memimpin programnya.”

Maya menatap Hendra lama.

“Kenapa saya?”

Hendra melirik Rian dan Rehan.

“Karena tiga tahun terakhir saya pikir saya membayar kamu untuk menjaga anak-anak saya. Ternyata justru kamu yang mengajari rumah ini bagaimana menjadi keluarga.”

Maya tidak langsung menerima.

Ia meminta waktu.

Dua bulan kemudian, sebuah pusat pendampingan keluarga pasien resmi dibuka tidak jauh dari salah satu rumah sakit milik Hendra.

Namanya Rumah Nila.

Maya menjadi koordinator pertamanya.

Ia tidak lagi tinggal di mansion.

Namun setiap akhir pekan, Rian dan Rehan selalu datang.

Mereka membantu membagikan buku gambar kepada anak-anak yang menunggu orang tuanya menjalani perawatan.

Hendra juga berubah.

Ia mulai mengurangi jam kerja dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak-anaknya.

Pada suatu sore, ketika Maya sedang merapikan ruang bermain, Rian datang membawa sebuah kotak kecil.

“Ibu Maya.”

Maya menoleh.

“Apa?”

Rian membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat jam tangan yang dulu menjadi awal semua masalah.

Maya langsung mengernyit.

“Kenapa benda itu ada di sini?”

Hendra berdiri di belakang Rian.

“Saya menjual hampir semua jam mewah saya.”

Maya terkejut.

“Lalu ini?”

“Yang satu ini saya simpan.”

Hendra mengambil jam tersebut lalu meletakkannya di meja.

“Bukan karena harganya.”

Ia tersenyum tipis.

“Tapi sebagai pengingat bahwa benda paling mahal di rumah saya hampir membuat saya kehilangan orang-orang yang jauh lebih berharga.”

Maya tersenyum kecil.

Rehan berlari masuk membawa gambar keluarga.

Di atas kertas itu ada empat orang.

Hendra.

Rian.

Rehan.

Dan Maya.

Maya menatap gambar itu cukup lama.

“Kenapa saya ada di sini?”

Rehan menjawab seolah pertanyaan itu sangat aneh.

“Karena keluarga bukan cuma orang yang tinggal serumah.”

Maya tidak mampu menjawab.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Tiga tahun sebelumnya ia datang ke mansion itu hanya membawa satu koper tua dan niat mencari pekerjaan.

Pada hari ia diusir, ia mengira seluruh hidupnya runtuh.

Ternyata hari itu bukan akhir.

Hari itu justru membongkar siapa yang benar-benar datang untuk mengambil keuntungan dan siapa yang bertahan karena kasih sayang.

Dan sejak saat itu, setiap kali Hendra melihat jam tangan mahal yang tersimpan di lemari kantornya, ia selalu mengingat satu hal.

Pengkhianatan paling berbahaya sering datang dari orang yang terlihat paling dekat.

Namun keselamatan terkadang justru datang dari seseorang yang selama ini dianggap hanya sebagai orang kecil di sudut rumah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang