SETIAP TEPAT PUKUL TIGA PAGI, PUTRAKU SELALU MASUK KE KAMAR MANDI DAN MENYALAKAN AIR SANGAT LAMA. AKU MENGIRA IA HANYA MENGALAMI INSOMNIA. NAMUN SAAT MENGINTIP DARI CELAH PINTU, YANG BERUSAHA IA GOSOK MATI-MATIAN DARI TANGANNYA MEMBUATKU TAK BERANI MEMANGGIL NAMANYA SENDIRI…

Namaku Rania.

Aku seorang janda.

Suamiku meninggal lima tahun lalu karena kecelakaan kerja, dan sejak hari itu hidupku seperti kehilangan separuh suara. Rumah kami tetap berdiri di pinggiran Depok, meja makan masih di tempat yang sama, foto keluarga masih tergantung di dinding ruang tamu, tetapi rasanya semuanya berubah.

Satu-satunya alasan aku terus bangun setiap pagi adalah Dimas.

Putraku.

Usianya baru enam belas tahun.

Ia anak yang selama ini membuatku hampir tidak pernah dipanggil ke sekolah karena masalah. Nilainya bagus, tidak pernah merokok, tidak suka keluyuran, dan selalu mengabari kalau pulang terlambat karena tugas kelompok.

Kalau tetangga berkata aku beruntung memiliki anak seperti Dimas, aku selalu tersenyum.

Aku percaya mereka benar.

Sampai kebiasaan aneh itu muncul.

Awalnya hanya sekali.

Lalu dua kali.

Kemudian hampir setiap malam.

Tepat pukul tiga pagi, suara shower dari kamar mandi membangunkanku.

Dimas masuk, mengunci pintu, lalu membiarkan air mengalir hampir setengah jam.

Saat keluar, wajahnya pucat. Matanya merah. Tangannya selalu basah dan kadang terlihat lecet karena terlalu lama terkena air.

Aku pernah bertanya, “Kenapa mandi jam segini?”

Ia tersenyum tipis.

“Biar gampang tidur lagi, Bu.”

Aku ingin percaya.

Tetapi seorang ibu selalu tahu saat anaknya sedang menyembunyikan sesuatu.

Malam ketujuh, aku sengaja tidak tidur.

Pukul 02.59, pintu kamar Dimas terbuka.

Ia berjalan pelan menuju kamar mandi.

Aku mengikutinya tanpa suara.

Dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna, aku melihatnya berdiri di depan wastafel.

Ia menggosok kedua tangannya dengan sabun.

Berkali-kali.

Semakin keras.

Sampai kulitnya memerah.

“Hilang,” bisiknya.

“Tolong hilang.”

Air mata menetes dari wajahnya.

Aku hampir membuka pintu ketika tiba-tiba ia berkata lirih, “Aku tidak sengaja.”

Aku membeku.

“Aku benar-benar tidak sengaja.”

Malam itu aku tidak berani memanggil namanya.

Paginya, saat Dimas berangkat sekolah, aku memeriksa kamarnya.

Tidak ada sesuatu yang mencurigakan sampai aku membuka tempat sampah kecil di bawah meja belajar.

Di dalamnya terdapat enam pasang sarung tangan lateks.

Sebagian robek.

Pada salah satunya terdapat bercak merah kecokelatan yang sudah kering.

Tanganku gemetar.

Aku membungkusnya dan membawanya ke laboratorium swasta dengan alasan perlu memastikan apakah bercak itu darah manusia atau bukan.

Dua hari kemudian jawabannya membuat lututku lemas.

Darah manusia.

Aku tidak langsung menuduh Dimas.

Aku memilih mengikutinya.

Sepulang sekolah, ia tidak pulang.

Ia naik angkot, turun di dekat sebuah klinik tua di kawasan Beji, lalu berjalan menuju gang sempit di belakang deretan ruko.

Aku menjaga jarak.

Dimas berhenti di depan sebuah rumah kontrakan sederhana bercat putih kusam.

Pintu dibuka seorang gadis seumurannya.

Rambutnya pendek sebahu. Wajahnya pucat.

Begitu melihat Dimas, gadis itu langsung berkata, “Kamu bawa lagi?”

Dimas mengangguk.

Ia mengeluarkan sesuatu dari tas sekolah.

Kotak obat.

Aku semakin takut.

Dimas masuk.

Aku menunggu hampir empat puluh menit sampai akhirnya pintu terbuka.

Gadis itu mengantar Dimas keluar.

“Kalau begini terus, mamamu pasti tahu,” katanya.

Dimas menunduk.

“Yang penting jangan sampai polisi tahu dulu.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

Polisi?

Aku pulang lebih dulu.

Sore itu Dimas tiba seperti biasa, meletakkan tas dan mencium tanganku.

“Aku pulang, Bu.”

Aku menatapnya lama.

“Dari mana?”

Ia terdiam sepersekian detik.

“Perpustakaan.”

Aku hanya mengangguk.

Malam itu aku sama sekali tidak tidur.

Keesokan harinya aku kembali mengikuti Dimas.

Kali ini ia tidak menuju rumah kontrakan.

Ia pergi ke sebuah bangunan kosong di belakang lapangan futsal.

Di sana sudah ada tiga anak lain.

Dua laki-laki dan seorang perempuan.

Mereka semua masih mengenakan seragam sekolah.

Aku bersembunyi di balik warung yang tutup.

Salah satu anak laki-laki berkata dengan nada tegang, “Kita nggak bisa diam terus. Pak Arman sudah mulai curiga.”

Nama itu terasa familier.

Pak Arman adalah guru olahraga di sekolah Dimas.

Aku pernah bertemu dengannya saat pembagian rapor.

Dimas berkata, “Kalau kita bicara sekarang tanpa bukti, siapa yang bakal percaya?”

Gadis yang kulihat kemarin menyela, “Aku masih punya rekamannya.”

Anak lain langsung panik.

“Jangan dibuka di sini.”

Aku tidak tahan lagi.

Aku melangkah keluar.

“Dimas.”

Keempat anak itu membeku.

Wajah Dimas langsung kehilangan warna.

“Ibu?”

Aku menatapnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Dimas berdiri seolah tubuhnya terlalu berat.

“Bu, aku bisa jelaskan.”

“Sekarang.”

Ia melihat teman-temannya.

Gadis berambut pendek itu akhirnya berkata, “Lebih baik tante tahu.”

Namanya Naya.

Ia satu sekolah dengan Dimas, tetapi berbeda kelas.

Dua minggu sebelumnya, setelah latihan untuk acara sekolah, Naya kembali ke ruang penyimpanan alat olahraga karena ponselnya tertinggal.

Di sana ia mendengar seseorang bertengkar.

Pak Arman sedang memarahi Raka, salah satu siswa kelas dua belas yang selama beberapa bulan terakhir sering dipaksa mengerjakan pekerjaan pribadi untuknya.

Menurut Naya, Pak Arman menyalahgunakan posisinya untuk menekan beberapa siswa agar memberikan uang dengan ancaman akan membuat masalah pada nilai dan kegiatan sekolah mereka.

Naya diam-diam merekam percakapan itu.

Namun Pak Arman memergokinya.

Naya panik dan berlari.

Dimas, yang kebetulan masih berada di sekolah, mendengar suara ribut dan mencoba membantu.

“Terus darah itu dari siapa?” tanyaku.

Semua terdiam.

Dimas menatap lantai.

“Dari Pak Arman.”

Jantungku berdebar.

Dimas buru-buru melanjutkan.

“Bukan seperti yang Ibu pikirkan.”

Saat mencoba mengambil ponsel Naya, Pak Arman terpeleset di tangga belakang gudang.

Tangannya terkena pecahan kaca dari bingkai pengumuman yang jatuh.

Tidak ada luka serius.

Namun darah cukup banyak mengotori lantai dan tangan Dimas yang mencoba menolongnya.

Pak Arman menolak dibawa ke UKS.

Ia justru mengancam mereka.

“Kalau satu kata saja keluar dari mulut kalian, kalian semua akan saya buat terlihat sebagai pelakunya.”

Karena ketakutan, Dimas membantu membersihkan darah.

Sarung tangan lateks yang kutemukan berasal dari kotak P3K sekolah.

“Lalu kenapa kamu cuci tangan setiap malam?” tanyaku.

Dimas menatap kedua telapak tangannya.

“Karena setiap kali aku tidur, aku ingat darah di tangan aku.”

Suaranya pecah.

“Aku tahu aku nggak melakukan apa-apa, Bu. Tapi rasanya seperti aku ikut bersalah karena diam.”

Hatiku langsung hancur.

Anak yang selama ini kukira menyimpan rahasia kejahatan ternyata sedang memikul ketakutan sendirian.

Aku memeluknya.

Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, Dimas menangis di bahuku.

Namun masalahnya belum selesai.

“Rekamannya masih ada?” tanyaku.

Naya mengangguk.

“Masih.”

“Kalau begitu kita tidak akan diam.”

Malam itu kami menemui orang tua Naya dan dua siswa lainnya.

Awalnya mereka takut.

Salah satu ayah bahkan berkata sebaiknya masalah tersebut tidak diperbesar karena mereka khawatir anaknya akan dikeluarkan dari sekolah.

Aku memahami ketakutan itu.

Tetapi aku juga tahu diam hanya membuat anak-anak ini semakin takut.

Kami akhirnya sepakat membuat laporan resmi kepada pihak sekolah disertai rekaman, pesan ancaman, dan kesaksian beberapa siswa.

Keesokan harinya kepala sekolah memanggil kami.

Pak Arman juga hadir.

Begitu melihat Dimas, wajahnya langsung berubah.

“Ini fitnah,” katanya.

Kepala sekolah memutar rekaman suara.

Ruangan mendadak sunyi.

Suara Pak Arman terdengar jelas.

Ancaman.

Permintaan uang.

Tekanan terhadap siswa.

Pak Arman tetap menyangkal.

“Itu rekaman yang sudah dipotong.”

Namun Naya kemudian mengeluarkan bukti lain.

Sebuah video.

Aku sendiri baru tahu ia memilikinya.

Video itu berasal dari kamera ponsel yang tidak sengaja terus merekam saat Naya berlari.

Beberapa bagian memang gelap, tetapi suara dan percakapannya jelas.

Termasuk bagian saat Pak Arman terluka karena terpeleset sendiri.

Dimas sama sekali tidak menyentuhnya.

Wajah Pak Arman berubah pucat.

Pihak sekolah kemudian menghubungi dinas terkait dan meminta pendampingan hukum.

Dalam beberapa hari, semakin banyak siswa mulai berani bicara.

Ternyata masalahnya jauh lebih besar dari yang kami bayangkan.

Pak Arman bukan hanya menekan satu atau dua anak.

Ia sudah melakukan hal serupa selama hampir dua tahun.

Beberapa siswa diam karena takut.

Sebagian bahkan menyalahkan diri mereka sendiri.

Setelah proses pemeriksaan berjalan, Pak Arman dinonaktifkan dari sekolah.

Dimas perlahan kembali seperti dulu.

Tetapi setiap pukul tiga pagi, aku masih sering terbangun.

Bukan karena suara shower.

Karena kebiasaanku sendiri.

Aku akan berjalan ke kamar Dimas hanya untuk memastikan ia tidur dengan tenang.

Suatu malam, sekitar tiga minggu setelah semuanya terbongkar, aku melihat pintu kamarnya terbuka.

Dimas duduk di ruang makan.

Ada dua cangkir cokelat hangat di meja.

“Kok belum tidur?” tanyaku.

Ia mendorong satu cangkir ke arahku.

“Buat Ibu.”

Aku duduk.

Beberapa saat kami hanya mendengar suara kipas angin dan kendaraan dari jalan depan.

Kemudian Dimas berkata, “Bu.”

“Hmm?”

“Waktu Ayah meninggal, Ibu pernah bilang kalau orang yang takut bukan berarti pengecut.”

Aku mengingatnya.

“Yang pengecut itu orang yang tahu sesuatu salah tapi memilih membiarkannya karena lebih nyaman.”

Dimas mengangguk.

“Aku hampir jadi orang seperti itu.”

Aku menggenggam tangannya.

“Tidak.”

Ia menatapku.

“Kamu anak enam belas tahun yang ketakutan dan tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa.”

Mata Dimas berkaca-kaca.

“Aku takut Ibu kecewa.”

Aku tersenyum pahit.

“Yang membuat Ibu sedih bukan karena kamu takut.”

Aku menatap tangannya yang kini sudah tidak merah lagi.

“Yang membuat Ibu sedih karena kamu pikir kamu harus menghadapi semuanya sendirian.”

Dimas menunduk.

Lalu untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, ia tersenyum benar-benar lega.

Beberapa bulan kemudian, kehidupan kembali berjalan normal.

Naya pindah kelas dan mulai aktif di organisasi siswa yang fokus pada keamanan dan pendampingan teman sebaya.

Dimas bahkan ikut bergabung.

Aku pikir cerita itu selesai di sana.

Sampai suatu sore aku menerima sebuah amplop tanpa nama pengirim.

Di dalamnya hanya terdapat sebuah foto lama.

Foto suamiku.

Ayah Dimas.

Ia sedang berdiri di depan pabrik tempat ia bekerja sebelum meninggal.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan.

Rania, suamimu dulu juga pernah melaporkan atasannya karena memaksa pekerja diam tentang pelanggaran keselamatan. Ia tahu risikonya, tapi tetap bicara.

Tanganku gemetar.

Selama lima tahun aku percaya suamiku hanya korban kecelakaan kerja biasa.

Aku tidak tahu bahwa beberapa minggu sebelum meninggal, ia pernah menjadi orang yang pertama berani melaporkan prosedur keselamatan yang berbahaya.

Aku menunjukkan foto itu kepada Dimas.

Ia membacanya berkali-kali.

Kemudian menatapku.

“Ayah juga takut?”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

“Pasti.”

“Terus kenapa dia tetap bicara?”

Aku menggenggam tangannya.

“Mungkin karena keberanian bukan berarti tidak takut.”

Aku memandang foto suamiku.

“Keberanian adalah ketika kita tahu kita takut, tetapi tetap memilih melakukan hal yang benar.”

Dimas diam.

Lalu ia menatap kedua tangannya.

Tangan yang selama berminggu-minggu ia gosok seolah menyimpan kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Kali ini ia tidak mencucinya.

Ia justru menggenggam tanganku lebih erat.

Dan sejak malam itu, pukul tiga pagi tidak pernah lagi terdengar suara air dari kamar mandi.

Rumah kami kembali sunyi.

Tetapi bukan sunyi yang menakutkan.

Melainkan sunyi milik dua orang yang akhirnya memahami bahwa beberapa noda tidak pernah benar-benar berada di tangan kita.

Kadang noda itu hanya tinggal di pikiran karena ketakutan.

Dan satu-satunya cara membersihkannya bukan dengan sabun.

Melainkan dengan keberanian untuk mengatakan kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang