AKU MENJUAL IKAN ASIN SENDIRIAN DI PASAR PINGGIR LAUT DEMI MEMBESARKAN ANAK PEREMPUANKU…

Berikut adalah kelanjutan dari cerita tersebut:

“Veronica, ingatkah kamu dengan bayi perempuan yang kamu buang di dermaga Navotas dua puluh lima tahun lalu demi mengejar harta warisan keluarga Castillo?”

Suaraku yang serak namun lantang bergema di seluruh aula megah itu. Keheningan mencekam langsung menyelimuti ruangan. Alunan musik klasik terhenti seketika.

Wajah Veronica Castillo memucat, sekujur tubuhnya gemetar hebat di atas lantai marmer. Suaminya, Richard Castillo, hanya bisa menunduk pasrah, tidak berani menatap mataku.

“Ma… apa maksudnya ini?” bisik Angela, suaranya bergetar hebat. Pegangannya di tanganku melemas.

Aku menatap Angela dengan tatapan penuh luka sekaligus kasih sayang yang mendalam. “Angela… kamu bukan anak kandungku. Dua puluh lima tahun lalu, saat badai besar, aku menemukanmu menangis di dalam kardus di pinggir dermaga tempat suamiku biasa menyandarkan kapal. Di lehermu ada gelang emas ini, bertuliskan namamu, dan di bawah bantalmu ada akta kelahiran asli yang disembunyikan oleh ibumu ini.”

Aku menoleh kembali ke arah Veronica yang kini mulai terisak.

“Dia membuangmu karena hukum warisan keluarga Castillo saat itu hanya mengakui anak laki-laki sebagai penerus takhta bisnis mereka. Demi status, demi menjadi nyonya besar di resort Cebu dan hotel Makati, dia membuang darah dagingnya sendiri dan berpura-pura mengadopsi anak laki-laki—yang sekarang menjadi calon suamimu!”

Mendengar hal itu, seluruh tamu undangan berbisik heboh. Pengantin pria, anak laki-laki keluarga Castillo, melangkah mundur dengan wajah syok. “Mami… jadi aku bukan anak kandungmu? Dan Angela… Angela adalah kakak kandungku?!”

“Maafkan aku, Angela… Maafkan Mami…” ratap Veronica sambil bersujud di dekat gaun pengantin Angela. “Kami baru tahu beberapa bulan lalu kalau kamu adalah anak yang kami buang setelah kami menyewa detektif. Kami sengaja mendekatimu, menjebakmu dalam lingkaran kami agar kamu bisa kembali ke keluarga ini tanpa merusak reputasi kami di masa lalu!”

Angela menutup mulutnya, air matanya tumpah ruah. Dia menatap wanita kaya raya yang berlutut di kakinya, lalu beralih menatapku—wanita tua berbau ikan asin yang baru saja dia usir karena dianggap memalukan.

“Jadi…” Angela terbata-bata, “Mami Castillo menyetujui pernikahan ini… bukan karena menyukaiku? Tapi karena ingin memanfaatkan aku demi menutupi dosa masa lalu? Dan… dan dia adalah adik kandungku?”

“Benar,” kataku tenang, sambil meletakkan kotak besi itu di atas meja altar pernikahan. “Aku datang ke sini bukan untuk mengemis makanan atau memamerkan diri sebagai ibumu. Aku datang untuk memberikan kebenaran yang hakiki sebagai hadiah pernikahanmu.”

Aku melangkah mendekati Angela, menghapus air matanya dengan tanganku yang kasar dan kapalan akibat puluhan tahun memotong ikan.

“Angela, anakku… Ibu jualan ikan asin di pasar Navotas, bau ini melekat di kulit Ibu, tapi Ibu tidak pernah sekalipun membuangmu demi uang. Ibu berutang ke sana kemari agar kamu bisa kuliah di UP Diliman dengan kepala tegak. Ibu rela dihina ‘perempuan bau ikan’ asalkan kamu tidak pernah kelaparan.”

Angela langsung luruh ke lantai. Dia memeluk kakiku dengan erat, menangis sejadi-jadinya, mengabaikan gaun pengantinya yang mahal kini terkena debu lantai.

“Ma… maafkan Angela, Ma! Angela buta… Angela bodoh! Angela malu karena bau ikan, padahal bau itulah yang memberi Angela hidup! Tolong maafkan Angela, Ma…” tangisnya histeris, penuh penyesalan yang mendalam.

Keluarga Castillo tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pernikahan megah itu hancur berantakan. Kebohongan moral dan skandal besar mereka kini telanjang di depan seluruh kolega bisnis terkaya di Filipina.

Aku menegakkan tubuhku, menatap Veronica dan Richard yang masih berlutut.

“Kalian boleh memiliki seluruh resort di Cebu dan hotel di Makati. Tapi kalian tidak akan pernah pantas menjadi orang tua dari anak yang kubesarkan dengan keringat dan air mata yang halal.”

Aku melepaskan pelukan Angela dengan lembut, lalu berbalik arah.

“Pernikahan ini batal karena hukum, dan hubungan ini selesai. Angela… keputusan ada di tanganmu. Jika kamu merindukan bau ikan asin yang menghidupimu, rumah Ibu di Navotas selalu terbuka untukmu.”

Dengan langkah tegap dan kepala terangkat tinggi, aku berjalan keluar dari hotel bintang enam itu. Di belakangku, terdengar teriakan Angela yang berlari mengejarku, meninggalkan kemewahan palsu dan memilih kembali ke pelukan ibu yang sesungguhnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang