Hamil enam bulan, menolak bangun dari tempat tidur…

…membuka pintu kamar dengan pelan, namun getaran kemarahan yang tertahan membuat engselnya berdecit pelan.

Di dalam, ruangan itu begitu sunyi. Tirai beludru tebal masih tertutup rapat, hanya menyisakan berkas cahaya tipis yang menembus kegelapan. Dan di sana, di tengah ranjang king-size, Valeria berbaring menyamping. Selimut sutra tebal membungkus tubuhnya hingga ke leher, menyembunyikan perutnya yang kini membuncit enam bulan.

“Valeria,” suara Alejandro berat, bergema di ruangan yang luas itu.

Valeria menegang. Alejandro bisa melihat bahu istrinya bergetar di balik selimut, namun wanita itu tidak berbalik.

“Alejandro… tolong. Aku hanya ingin tidur,” bisik Valeria, suaranya parau, seolah dia telah menghabiskan malam dengan menangis.

Kemarahan Alejandro yang dipicu oleh foto dari Marcela membakar akal sehatnya. Pria yang terbiasa mengendalikan segalanya ini merasa dicurangi di rumahnya sendiri. Dengan langkah besar, dia mendekati ranjang.

“Tidur? Tiga hari, Valeria? Seluruh pelayan berbisik. Ibuku dan Marcela mempertanyakan kewarasanku karena membiarkanmu seperti ini!” Alejandro berdiri di sisi ranjang, napasnya memburu. “Dan sekarang… foto ini.” Dia melemparkan ponselnya ke atas kasur. Foto siluet pria misterius di taman belakang.

Valeria melirik ponsel itu, dan wajahnya mendadak pucat pasi. Ketakutan murni terpancar dari matanya yang sembab. “Ini… ini tidak seperti yang mereka katakan, Alejandro. Demi Tuhan, jangan percaya mereka!”

“Lalu apa? Katakan padaku! Buka selimutmu dan tatap mataku saat bicara!” bentak Alejandro, kehilangan kesabaran yang selama ini dia jaga.

“Jangan! Tolong, jangan lihat aku!” Valeria menjerit, mencengkeram ujung selimut dengan jemarinya yang memutih.

Namun, Alejandro sudah tidak bisa dibendung. Sebagai pria yang membangun kerajaannya dari nol, dia tidak akan membiarkan rahasia apa pun hidup di bawah atapnya. Dengan satu sentakan kasar, Alejandro menarik selimut itu hingga terlepas sepenuhnya.

Rahasia di Balik Selimut

Ruangan itu mendadak sepi. Waktu seolah berhenti bertiup.

Alejandro membeku. Tangannya yang memegang selimut gemetar, dan kemarahan yang tadinya membakar dadanya langsung padam, digantikan oleh rasa ngeri dan syok yang luar biasa.

Valeria tidak mengenakan gaun tidur sutra mewahnya. Dia hanya mengenakan pakaian longgar yang compang-camping, dan di balik kain yang tersingkap, kedua pergelangan kaki dan tangannya dipenuhi memar kebiruan yang mengerikan. Lebih parah lagi, di kulit perutnya yang membuncit—tempat anak mereka dikandung—terdapat bekas cengkeraman tangan yang memerah dan luka goresan yang mulai mengering.

Di samping tubuhnya, tergeletak sebuah alat perekam suara kecil yang hancur terinjak, bersama dengan selembar surat perjanjian aborsi paksa yang sudah robek sebagian.

“Apa… apa ini?” suara Alejandro tercekat di tenggorokan. “Siapa yang melakukan ini padamu, Valeria?!”

Valeria langsung meringkuk, memeluk perutnya erat-erat, menangis histeris. “Mereka ingin membunuh anak kita, Alejandro… Mereka bilang anak dari wanita miskin sepertiku tidak berhak mewarisi nama Santos…”

Plot Busuk Keluarga Santos

Sambil menangis sesenggukan, Valeria akhirnya menumpahkan semua kebenaran yang selama ini dia kubur sendirian.

Pria dalam foto yang dikirim Marcela bukanlah selingkuhan. Pria itu adalah dr. Sergio, dokter kandungan pribadi keluarga Santos yang disuap oleh Doña Ester dan Marcela. Dua malam lalu, pria itu diselundupkan masuk ke dalam mansion melalui pintu belakang taman.

Tujuan mereka? Menyuntikkan zat yang akan memicu keguguran “alami” pada Valeria, lalu menuduh Valeria mengalami depresi dan tidak kompeten menjadi seorang ibu, sehingga Alejandro punya alasan untuk menceraikannya.

“Malam itu… ibumu dan Marcela memegangi tangan dan kakiku di kamar bawah tanah saat dokter itu mencoba menyuntikku,” tangis Valeria pecah, tubuhnya berguncang hebat. “Aku berjuang, Alejandro. Aku menggigit tangan dokter itu dan berhasil merebut alat perekam yang sempat kugunakan untuk menjebak mereka. Aku melarikan diri ke kamar ini dan mengunci pintu. Aku sangat takut… mereka mengancam akan membunuh ibuku di kampung halaman jika aku bicara padamu.”

Valeria menolak bangun dari tempat tidur bukan karena malas atau berselingkuh. Dia mengunci diri untuk melindungi bayi di dalam perutnya dari racun dan kekejaman keluarga Santos yang memantau setiap langkahnya melalui kamera pengawas rumah.

Pembalasan Sang Miliarder

Mendengar setiap kata dari mulut istrinya, darah Alejandro berdesir dingin. Pria yang biasanya tenang kini berubah menjadi monster yang mengerikan. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Keluarga yang selalu dia agungkan, ibu yang dia hormati, dan saudari yang dia manjakan… ternyata adalah ular berbisa yang mencoba membunuh darah dagingnya sendiri.

Dia berlutut di tepi ranjang, air mata penyesalan menetes dari matanya saat dia mengecup dahi Valeria dengan lembut.

“Maafkan aku… Maafkan aku karena buta selama ini,” bisik Alejandro, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan. “Demi anak kita, demi setiap memar di tubuhmu… mereka akan membayar ini dengan harga yang sangat mahal.”

Alejandro berdiri. Dia mengambil ponselnya, memanggil kepala keamanan pribadinya—bukan keamanan mansion yang dikendalikan ibunya, melainkan tim paramiliter pribadi yang biasa mengawal bisnis internasionalnya.

“Bawa tim medis terbaik ke kamar utama sekarang. Dan instruksikan seluruh tim: kunci semua pintu keluar mansion. Tidak ada satu pun anggota keluarga Santos yang boleh meninggalkan tempat ini,” perintah Alejandro dingin.

Konfrontasi di Ruang Utama

Sepuluh menit kemudian, Alejandro berjalan menuruni tangga melingkar mansion dengan langkah yang terdengar seperti lonceng kematian.

Di ruang tengah, Doña Ester sedang menyesap teh paginya dengan anggun, sementara Marcela sibuk memeriksa kuku-kukunya sambil tersenyum sinis melihat kakaknya turun.

“Bagaimana, Alejandro? Apakah wanita jalang itu sudah mengaku?” tanya Marcela dengan nada meremehkan. “Kuharap kamu segera mengusirnya.”

Doña Ester menimpali dengan suara tenang yang manipulatif, “Sudah Ibu katakan sejak awal, Alejandro. Wanita dari kelas bawah tidak akan pernah memiliki kesetiaan. Dia hanya menginginkan uangmu.”

Alejandro berhenti di ujung tangga. Dia tidak berteriak. Dia hanya menatap mereka dengan tatapan kosong, tatapan yang biasa dia gunakan sebelum menghancurkan sebuah perusahaan saingan hingga bangkrut total.

Di belakang Alejandro, pintu masuk mansion mendadak didobrak terbuka. Belasan pria berjas hitam dengan senjata laras panjang masuk dan mengepung ruangan, membuat Doña Ester tersedak tehnya dan Marcela menjerit ketakutan.

“Alejandro! Apa-apaan ini?! Kenapa pengawalmu bersikap kurang ajar di rumah ini?!” bentak Doña Ester, mencoba mempertahankan otoritasnya.

Alejandro berjalan mendekati ibunya, lalu melempar sebuah map hitam ke atas meja kaca hingga berdentang keras.

  • “Di dalam map itu ada bukti aliran dana dari rekening pribadi Ibu dan Marcela ke rekening Dr. Sergio senilai lima miliar rupiah,” kata Alejandro, suaranya begitu tenang namun mematikan.
  • “Juga ada rekaman CCTV dari kamera rahasia yang kupasang di koridor bawah tanah dua malam lalu. Aku tahu segalanya.”

Wajah Doña Ester mendadak kehilangan seluruh warnanya. Dia mundur selangkah, bibirnya bergetar. “Alejandro… Ibu melakukan ini demi kebaikanmu… demi kemurnian nama keluarga kita…”

“Nama keluarga kita?” Alejandro tertawa sumir, tawa yang membuat merinding siapa pun yang mendengarnya. “Mulai detik ini, nama Santos adalah milikku, milik Valeria, dan milik anak kami. Kalian berdua? Kalian bukan lagi keluargaku.”

Marcela mulai menangis histeris. “Kak! Kamu tidak bisa melakukan ini pada ibu dan adikmu sendiri!”

“Aku bisa, Marcela. Dan aku akan melakukan lebih dari ini,” ujar Alejandro dingin. “Seluruh aset, saham, dan fasilitas atas nama kalian berdua di Santos Group telah kubekukan per menit ini. Rumah ini? Rumah ini atas namaku. Kalian punya waktu satu jam untuk mengemas baju kalian sebelum polisi datang menjemput kalian atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana dan penganiayaan berat.”

“Kamu tidak akan berani memenjarakan ibumu sendiri, Alejandro! Skandal ini akan menghancurkan saham perusahaanmu!” teriak Doña Ester, mencoba mengancam.

Alejandro berbalik, bersiap kembali ke atas untuk menemani istrinya yang sedang ditangani oleh dokter kepercayaannya sendiri. Sebelum melangkah, dia menoleh sedikit tanpa memandang mata ibunya.

“Ibu lupa satu hal,” ucap Alejandro datar. “Aku tidak pernah peduli pada uang jika seseorang berani menyentuh apa yang menjadi milikku. Selamat menikmati sisa hidup kalian di balik jeruji besi.”

Alejandro melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan jeritan histeris dari dua wanita yang selama ini mengira kekayaan bisa membeli segalanya, bahkan nyawa manusia. Di atas, di dalam kamar yang hangat, dia akan memulai segalanya dari awal—menjaga Valeria dan calon penerus sejatinya yang baru saja lolos dari maut.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang