Kasta Tertinggi: Saat Sang Jenderal Meminjamkan Pangkatnya

Aku menatap lengan kekar berbalut seragam dinas upacara itu dengan ragu. Jantungku bertalu begitu kencang hingga rasanya mau copot. Namun, saat melihat sorot mata Mayjen Baskara yang begitu tenang dan penuh keyakinan, perlahan aku menyambut lengan itu. Jemariku bertumpu di sana, merasakan wibawa mutlak yang memancar dari sang Jenderal.

“Tegakkan kepalamu, Gendis,” bisik Baskara tanpa menoleh, suaranya berat dan menenangkan. “Mulai detik ini, kamu adalah tamu kehormatan tertinggi di markas ini.”

Pintu aula VIP terbuka lebar. Begitu langkah kaki kami memasuki area transisi menuju tenda utama, bisik-bisik yang tadinya memenuhi lapangan mendadak senyap. Semua mata tertuju pada kami. Para perwira menengah yang tadinya mengobrol langsung mengambil posisi siap sempurna dan memberikan hormat tegak seketika saat melihat dua bintang di pundak Baskara. Namun, pandangan mereka tak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang teramat sangat ketika melihat sosok wanita anggun berbalut kebaya beludru mewah yang berjalan di sisinya.

Kami berjalan perlahan menyusuri karpet merah menuju deretan kursi paling depan—area khusus Pangdam dan jajaran petinggi inti.

Dari kejauhan, aku bisa melihat sosok Pandu. Ia sedang membetulkan posisi lencana barunya di dada, didampingi oleh Siska yang terus tersenyum lebar sambil memamerkan tas barunya kepada istri kapten di sebelahnya. Saat langkah kaki kami semakin dekat, Pandu secara refleks berbalik untuk memberikan hormat kepada sang Jenderal.

Namun, tepat saat matanya beralih dari wajah Baskara ke wajahku, gerakannya membeku seketika.

Tangannya yang baru terangkat setengah di udara tertahan. Matanya membelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka. Seluruh darah di wajahnya seolah tersedot habis, menyisakan wajah pucat pasi seperti melihat hantu. Siska, yang menyadari perubahan suaminya, ikut menoleh. Detik itu juga, kipas yang dipegangnya terjatuh ke lantai. Ia menatapku dari ujung sanggul hingga ujung jarik sutraku dengan tatapan tidak percaya sekaligus ngeri.

“G-Gendis…?” lirih Pandu, nyaris tak terdengar di antara riuh rendah musik korps musik militer.

Baskara tidak menghentikan langkahnya, terus membimbingku melewati mereka seolah-olah mereka hanya butiran debu yang tak sengaja terlewati. Kami duduk di kursi baris pertama. Aku ditempatkan tepat di sebelah kursi utama Pangdam.

Upacara kenaikan pangkat pun dimulai. Selama prosesi berlangsung, aku bisa merasakan sepasang mata dari barisan belakang terus menusuk punggungku. Pandu tidak lagi fokus pada jalannya upacara. Beberapa kali ajudan di sebelahnya harus menyenggol lengannya karena posisinya yang tidak sempurna. Lelaki yang semalam mencaciku sebagai “beban karier” dan “guru desa kusam” itu kini gemetar di tempatnya berdiri.

Begitu prosesi utama selesai dan memasuki sesi ramah tamah, Baskara menoleh ke arahku. Ia memberikan isyarat halus dengan anggukan kepalanya kepada sang ajudan.

“Letnan, bawa kardusnya ke mari,” perintah Baskara tenang.

Ajudan berbaret hijau itu dengan sigap membawa kardus bekas yang pinggirannya sobek itu ke hadapan kami. Kontras yang luar biasa—sebuah kardus lusuh di atas meja berlapis kain sutra VIP.

“Sekarang, Gendis. Selesaikan urusanmu. Saya akan mengawalmu dari belakang,” ucap Baskara dengan senyum tipis yang dingin.

Aku berdiri. Dengan anggun, aku melangkah menghampiri kerumunan perwira muda tempat Pandu dan Siska berada. Beberapa istri perwira tinggi berbisik-bisik, mengira aku adalah putri dari salah satu kolega sang Jenderal.

“Lettu Pandu,” suaraku memecah obrolan mereka.

Pandu tersentak, berbalik dengan kaku. Di sampingnya, Siska mencoba memberanikan diri, meskipun tangannya yang memegang selendang tampak gemetar.

“Gendis… apa-apaan ini? Kenapa kamu bisa berpakaian seperti ini? Dan kenapa kamu bersama Bapak Pangdam?!” bisik Pandu dengan nada panik yang ditahan, matanya melirik liar ke kanan dan kiri, takut atasannya mendengar.

“Aku hanya ingin mengembalikan barang-barangmu, Pandu,” ucapku tenang, senyum manis tersungging di bibirku. Aku memberi isyarat kepada ajudan untuk meletakkan kardus lusuh itu tepat di depan kaki Pandu dan Siska.

BRAK.

Suara kardus itu mendarat cukup keras, menarik perhatian para perwira di sekitar mereka.

“Ini adalah seluruh barang yang kamu beli dengan uangku saat kamu masih merangkak di akademi. Baju-baju sipilmu, jam tangan KW yang selalu kamu banggakan dulu, dan… surat perjanjian utang ibumu pada keluargaku yang belum lunas,” kataku dengan suara yang cukup jelas untuk didengar oleh orang-orang di sekitar kami.

Wajah Pandu memerah padam karena malu. “Gendis, tutup mulutmu! Ini markas militer, jangan bikin malu aku di sini!” bentaknya tertahan.

Siska ikut menimpali dengan suara bergetar, “Kamu… kamu pasti menggoda Bapak Pangdam, kan?! Dasar perempuan kampung tidak tahu diri—”

“Jaga bicaramu, Nyai!” sebuah suara bariton yang menggelegar memotong kalimat Siska.

Mayjen Baskara sudah berdiri tepat di belakangku. Auranya yang begitu mengintimidasi membuat Siska langsung menutup mulutnya rapat-rapat, wajahnya memucat ketakutan. Pandu langsung mengambil posisi siap dan memberi hormat dengan tangan gemetar hebat.

“Siap, Jenderal!” suara Pandu serak.

Baskara menatap Pandu dengan pandangan menghina. “Lettu Pandu. Saya mendengar dari beberapa sumber bahwa kamu mencoret nama wanita ini dari daftar calon istri perwira karena menganggap statusnya sebagai guru desa merendahkan martabatmu?”

“Si-siap, Jenderal… saya… kami tidak cocok,” jawab Pandu terbata-bata, keringat dingin bercucuran dari pelipisnya.

Baskara terkekeh, suara kekehan yang terdengar sangat mengerikan di telinga Pandu. “Tidak cocok? Kamu tahu siapa wanita yang kamu sebut ‘guru desa kusam’ ini? Dia adalah putri tunggal dari almarhum Mayor (Anumerta) Sugeng, mentor saya saat saya masih bertugas di Timor-Timur. Wanita ini menghibahkan tanah keluarganya untuk dibangun sekolah bagi anak-anak prajurit di Sukamaju.”

Aku tertegun. Aku memang pernah bercerita pada Pak Baskara dua tahun lalu tentang mendiang ayahku yang seorang tentara biasa, tapi aku tidak pernah tahu bahwa ayahku adalah mentor dari seorang calon Jenderal.

Baskara melangkah satu langkah lebih maju, menatap langsung ke dalam mata Pandu yang ketakutan. “Kamu merasa pangkat balok duamu sudah cukup tinggi untuk menginjak harga diri putri seorang pahlawan? Kamu naik pangkat karena performa, tapi moralmu minus, Letnan. Institusi ini tidak butuh perwira yang melupakan budi dan khianat pada wanita yang mendukungnya dari bawah.”

Baskara kemudian menoleh ke arah Komandan Batalyon Pandu yang kebetulan berada di dekat sana. “Kolonel, evaluasi kembali penempatan Lettu Pandu. Perwira dengan karakter seperti ini tidak layak mendapatkan posisi strategis. Pindahkan dia ke pos perbatasan luar minggu depan.”

Mendengar hal itu, lutut Pandu lemas. Pindah ke perbatasan luar berarti kariernya yang baru saja merangkak naik akan meredup dan terisolasi. Siska bahkan hampir pingsan, menyadari bahwa impiannya menjadi nyonya besar di ibu kota hancur lebur dalam sekejap.

“Siap, laksanakan Jenderal!” jawab sang Kolonel tegas.

Pandu menatapku dengan mata memohon, “Gendis… tolong aku… maafkan aku, Gendis. Aku khilaf semalam…”

Aku menatapnya dengan pandangan kosong. Rasa sakit yang semalam mencabik-cabik dadaku mendadak hilang, digantikan oleh rasa hambar. Lelaki di hadapanku ini tampak begitu kecil dan menyedihkan.

“Semoga sukses di tempat tugas yang baru, Lettu Pandu,” ucapku datar, lalu berbalik memunggungi mereka berdua.

Baskara kembali menawarkan lengannya padaku, kali ini dengan senyum yang tulus dan hangat. “Mari, Gendis. Upacara sudah selesai. Saya antar kamu pulang dengan mobil dinas.”

Aku menyambut lengannya dengan mantap. Kami berjalan meninggalkan lapangan upacara, melewati Pandu dan Siska yang kini hanya bisa mematung meratapi kehancuran yang mereka ciptakan sendiri karena kesombongan mereka. Hari ini, di markas ini, aku tidak hanya mengambil kembali harga diriku, tapi aku juga belajar bahwa roda kehidupan berputar dengan cara yang sangat luar biasa.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang