Mikaela melangkah keluar dari lift dengan senyum kemenangan yang amat memuakkan. Di tangannya, ponsel dalam mode loudspeaker itu memperdengarkan suara seorang pria—suara yang sangat kukenal sebagai Alejandro Soriano, kakak laki-laki Mikaela yang terkenal kejam dan menguasai bisnis keluarga mereka.
“Lihat ini, Kak,” cibir Mikaela, matanya berkilat mengejekku. “Perempuan kampung dari Tondo ini mencoba memeras suamiku dengan surat pembatalan nikah. Dia pikir dia bisa menakut-nakuti keluarga Soriano.”

Rafael membeku. Wajahnya yang semula pucat kini berubah seputih kapas. “Mika… matikan teleponnya. Kita bicarakan ini di dalam,” bisik Rafael, suaranya bergetar hebat.
“Kenapa harus di dalam, Sayang? Biar Kak Alejandro tahu kalau mantan tetanggamu ini punya niat buruk!” Mikaela tertawa, merasa berada di atas angin. “Dia sengaja membuat drama di pemakaman ibunya hanya untuk menarik perhatianmu!”
Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan ketenangan yang aneh mengalir di dadaku. Kesedihan atas kepergian ibuku kini telah bermutasi menjadi kekuatan yang dingin.
Aku menatap Mikaela, lalu beralih ke ponsel di tangannya.
“Atty. Alejandro Soriano,” kataku dengan suara lantang dan jernih, memastikan pria di seberang telepon mendengarnya dengan jelas. “Saya sarankan Anda tidak mematikan sambungan ini. Karena apa yang akan saya katakan adalah alasan mengapa ayah Anda, mantan Senator Soriano, tewas tragis dalam tabrak lari tujuh tahun lalu.”
Suasana di lorong condo itu mendadak hening seketika. Suara bising dari telepon langsung terputus dari sisi Alejandro, digantikan oleh suara napas yang berat.
“Lia… aku mohon, jangan…” Rafael berlutut di depanku, air matanya menetes ke lantai. Dia mencengkeram ujung celanaku, memohon seperti anjing yang ketakutan.
Mikaela kebingungan, senyumnya perlahan luntur. “Raf? Kenapa kamu berlutut? Apa-apaan ini?!”
Rahasia Tujuh Tahun yang Berdarah
Aku mundur satu langkah, melepaskan cengkeraman tangan Rafael. Aku membuka tablet kerja yang ada di dalam tas tas ku, menampilkan sebuah berkas digital yang selama tujuh tahun ini kukunci rapat dalam drive rahasia.
“Mikaela,” kataku sambil menatapnya datar. “Kamu memamerkan Rafael di media sosial sebagai ‘pria yang menyelamatkanmu’ dari dominasi kakakmu. Kamu pikir 999 mawar merah itu adalah simbol kemenanganmu atas diriku?”
Aku menunjukkan layar tablet ke depan wajahnya.
Laporan Investigasi Kepolisian — Kasus Tabrak Lari Tagaytay, Juni 2019.
Korban: Senator Gabriel Soriano (Tewas di tempat).
Tersangka: Buronan tidak dikenal.
“Tujuh tahun lalu, malam setelah ayahku mengamuk di rumah, Rafael melarikan diri dengan mobil curian dalam keadaan panik dan menabrak seorang pria tua di pinggir jalan Tagaytay. Pria itu adalah ayahmu,” ucapku, setiap kata keluar seperti belati.
Mikaela menggelengkan kepala, wajahnya mulai kehilangan warna. “Enggak… itu nggak mungkin. Malam itu Raf bersamaku…”
“Malam itu dia belum mengenalmu!” potongku tajam. “Dia kembali ke Tondo dengan mobil yang ringsek dan darah di bumpernya. Akulah—mahasiswi hukum semester akhir saat itu—yang menyembunyikan mobil itu di gudang pamanku. Akulah yang menghapus rekaman CCTV di sekitar rute pelariannya. Dan akulah yang menyusun alibi palsu bersamanya.”
Aku menatap Rafael yang kini menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya di lantai.
“Kami menyebutnya hutang nyawa. Dia menyelamatkan ibuku dari amukan ayahku, dan aku menyelamatkannya dari hukuman penjara seumur hidup atas kematian Senator Soriano.”
Plot Twist: Sang ‘Penyelamat’ yang Sebenarnya
Mikaela mundur hingga punggungnya membentur dinding lift. “Kalau dia yang membunuh Ayah… kenapa dia mendekatiku? Kenapa dia menikahiku?!”
Aku tersenyum sinis. “Karena dia pengecut. Tiga tahun lalu, saat kakakmu Alejandro mulai membuka kembali kasus ini, Rafael panik. Dia sengaja mendekatimu, berpura-pura menjadi pria pelindung yang naif, agar dia bisa masuk ke dalam keluargamu. Menikahimu adalah tameng terbaiknya. Jika kebenaran terungkap, Alejandro tidak akan bisa menghancurkan Rafael tanpa menghancurkan nama baikmu yang sudah telanjur menikahinya.”
Dari loudspeaker ponsel Mikaela, suara Alejandro terdengar menggelegar, dipenuhi kemarahan yang mengerikan.
“Mikaela! Bawa pria keparat itu ke kantor sekarang! Jangan biarkan dia lepas!”
Mikaela menjatuhkan ponselnya ke lantai. Dia menatap Rafael dengan tatapan jijik dan ngeri, menyadari bahwa pria yang dia pamerkan sebagai ‘pemenang’ dan ‘suami idaman’ ternyata adalah monster yang merenggut nyawa ayahnya.
“Dan satu lagi, Rafael,” aku berbisik, membungkuk di dekat telinganya. “Surat pembatalan nikah (annulment) itu? Itu bukan untuk menyelamatkanmu. Itu untuk memastikan bahwa saat Alejandro menjebloskanmu ke penjara, tidak ada satu sen pun dari aset ataupun hak paten riset milikku—yang sempat kau salah gunakan atas namamu—yang bisa kau sentuh untuk membayar pengacara.”
Aku menegakkan tubuh, menarik koperku, dan melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka, melewati Mikaela yang mulai histeris memukuli dada Rafael.
Babak Baru di Cebu
Tiga hari kemudian, aku berdiri di dek kapal feri, menatap Pelabuhan Manila yang perlahan menjauh. Angin laut menerpa wajahku, membawa pergi sisa-sisa rasa sakit dan bau mawar merah yang sempat menodai pemakaman ibuku.
Ponselku bergetar. Sebuah berita daring muncul di layar:
BREAKING NEWS: Menantu Keluarga Konglomerat Soriano Ditangkap Atas Kasus Tabrak Lari Senator Tujuh Tahun Lalu; Diduga Ada Keterlibatan Sindikat Pemalsuan Dokumen Riset.
Aku mematikan ponsel, mencabut kartu SIM-nya, dan melemparkannya ke dalam hamparan laut biru.
Aku menyentuh kalung perak peninggalan ibuku yang melingkar di leher. Di tempat yang baru, di Cebu, aku tidak akan lagi menjadi bayang-bayang seorang pria pengecut. Aku adalah Atty. Lia Dela Cruz, dan aku baru saja memenangkan sidang paling penting dalam hidupku: sidang pembebasan diriku sendiri.
