IBU MERTUAKU TANPA HENTI MENGHINAKU DI HARI JADI PERNIKAHAN KAMI. 

Duniaku seakan runtuh mendengar kata-kata Marco. Jadi, semua cinta yang dia obral selama ini hanyalah palsu? Janji-janji manisnya menguap begitu saja demi selembar kertas investasi dari wanita bernama Isabelle itu.

Di sekelilingku, ratusan pasang mata menatapku dengan pandangan jijik, seolah-olah aku adalah hama yang tertangkap basah. Don Carlos, ayah mertuaku, justru tersenyum puas melihat anaknya memperlakukan aku seperti sampah. Tidak ada satu pun tangan yang terulur untuk membantuku berdiri. Tidak dari orang-orang terpandang ini, tidak juga dari pria yang kuharap menjadi ayah dari anakku.

Aku menyeka darah di sudut bibirku, lalu perlahan bangkit berdiri. Rasa sakit di pipiku tidak sebanding dengan rasa dingin yang tiba-tiba membeku di dalam hatiku. Cinta yang membutakanku selama tiga tahun ini lenyap seketika, digantikan oleh kesadaran yang sangat jernih.

Cukup. Sandiwara wanita desa yang malang ini sudah berakhir.

Aku mengambil ponselku dari dalam tas kecil yang terjatuh di lantai. Dengan tangan yang tenang—bukan karena takut, melainkan karena amarah yang terukur—aku mendial sebuah nomor yang sudah tiga tahun tidak pernah kuhubungi.

Telepon itu diangkat pada nada sambung pertama.

“Papa… aku butuh kamu. Jemput aku,” ucapku dengan suara bergetar, namun tegas.

Di seberang telepon, suara bariton yang sangat berkuasa terdengar panik namun langsung berubah menjadi dingin dan berbahaya. “Clara? Ada apa? Di mana kamu?!”

“Aku di Grand Ballroom Hotel Mulia. Marco baru saja menamparku di depan semua orang karena aku hamil.”

Hening sesaat di seberang sana. Keheningan yang mencekam. “Papa di sana dalam lima menit. Jangan gerak.”

PANGGUNG YANG BERBALIK

Di dalam ballroom, Marco mendengus remeh melihatku menelepon. “Telepon? Kamu telepon siapa? Ayahmu yang petani itu? Mau menyuruh dia membawa parang ke sini? Jangan membuat dirimu semakin memalukan, Clara! Angkat barang-barangmu dan pergi dari sini sebelum aku memanggil sekuriti!”

“Marco,” Don Carlos menimpali dengan nada merendahkan, “biarkan saja gelandangan ini pergi. Besok pengacara kita akan mengirimkan surat cerai. Kita tidak butuh benalu pengemis di keluarga kita.”

Aku tidak membalas. Aku hanya berdiri tegak, merapikan gaunku, dan menatap mereka berdua lurus-lurus. Tatapan mataku yang biasanya lembut kini berubah menjadi setajam silet. Perubahan ekspresiku rupanya membuat Marco sedikit salah tingkah, namun kesombongannya mengalahkan akal sehatnya.

Tepat lima menit kemudian, pintu ganda Grand Ballroom yang megah itu terbuka paksa secara dramatis.

Bukan hanya satu atau dua orang yang masuk, melainkan belasan pria berjas hitam dengan postur tegap—pasukan pengawal pribadi tingkat tinggi. Di tengah-tengah mereka, berjalan seorang pria paruh baya dengan setelan jas custom-made seharga miliaran rupiah. Wajahnya mengeras bagai batu karang, dan auranya begitu mengintimidasi hingga seluruh ruangan yang tadinya bising langsung sunyi senyap.

Dia adalah Arthur Alexander. Pemilik Alexander Group, konglomerat multinasional yang menguasai jalur logistik, perbankan, dan bahkan memegang setengah dari saham hotel tempat kami berada sekarang. Jika keluarga Marco adalah “raja real estat”, maka papaku adalah “pemilik tanah tempat kerajaan mereka berdiri”.

KEHANCURAN KELUARGA MARCO

Begitu melihat siapa yang datang, gelas anggur di tangan Don Carlos langsung jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai. Wajahnya memucat seketika, seputih kapas.

“T-Tuan… Tuan Alexander?” bisik Don Carlos dengan suara bergetar hebat. Dia segera berlari kecil mendekati Papaku, membungkuk hampir sembilan puluh derajat. “Sebuah kehormatan luar biasa Anda bersedia hadir di acara kami… Saya tidak tahu kalau—”

Papaku bahkan tidak melirik Don Carlos. Dia berjalan melewati pria tua itu seolah dia hanya seonggok angin lalu. Langkah kakinya yang mantap langsung menuju ke arahku.

Begitu melihat sudut bibirku yang pecah dan pipiku yang memerah, rahang Papaku mengeras. Matanya memancarkan kilat kemarahan yang bisa membakar seluruh gedung ini.

“Siapa yang melakukannya?” tanya Papa, suaranya pelan namun bergema dingin di seluruh ballroom.

Aku menunjuk ke arah Marco, yang kini berdiri mematung dengan lutut yang tampak bergetar. Dia mungkin bodoh, tapi dia tahu siapa Arthur Alexander—pria yang dalam satu petikan jari bisa menghancurkan bisnis keluarganya hingga ke akar-akarnya.

“M-Marco…?” Don Carlos menatap anaknya dengan pandangan ngeri, lalu menatap Papaku. “Tuan Alexander, ada kesalahpahaman… Wanita desa ini—”

“Wanita desa?!” potong Papa dengan bentakan yang menggelegar, membuat beberapa tamu wanita terpekik kaget. “Dia adalah Clara Alexander! Putri tunggal dan pewaris sah dari seluruh kekayaan Alexander Group!”

Kata-kata itu bagaikan bom atom yang meledak di tengah ruangan.

Marco melangkah mundur, matanya membelalak lebar seolah melihat hantu. “C-Clara… kamu… putri Arthur Alexander? T-tapi… rumah di desa itu…”

“Itu vila peristirahatan keluarga kami, Marco,” jawabku tenang, sambil berjalan mendekat ke arahnya. “Aku ingin mencari pria yang tulus mencintaiku tanpa melihat embel-embel namaku. Tapi ternyata, aku malah menemukan monster bermuka dua.”

Don Carlos langsung menjatuhkan dirinya berlutut di lantai, memegang ujung celana Papaku. “Tuan Alexander! Saya mohon maaf! Kami tidak tahu! Marco, cepat berlutut dan minta maaf pada istrimu! Cepat!”

Marco, yang beberapa menit lalu menampar dan menghinaku, kini ikut menjatuhkan lututnya. Air mata ketakutan mulai mengalir di pipinya. “Clara… maafkan aku… aku khilaf… aku mencintaimu, demi anak kita—”

“Jangan sebut anak ini dengan mulut kotor berselingkuhmu itu,” potongku dingin. “Kamu menamparku karena takut kehilangan investasi dari ayah Isabelle, kan? Kalau begitu, mari kita lihat seberapa kuat investasinya.”

Papa mengeluarkan ponselnya, menekan satu tombol pengeras suara, dan berbicara pada asisten pribadinya. “Batalkan semua kontrak kerja sama Alexander Group dengan perusahaan Don Carlos. Tarik semua saham kita di proyek mereka, dan telepon bank sentral untuk membekukan seluruh aset mereka untuk audit investigasi. Lakukan sekarang.”

“Baik, Tuan Alexander,” jawab suara di seberang telepon sebelum terputus.

AKHIR DARI SEBUAH SANDIWARA

Don Carlos berteriak histeris, menyadari bahwa dalam hitungan menit, kerajaan bisnis yang dia banggakan selama puluhan tahun telah runtuh total. Mereka kini bukan lagi miliarder; mereka adalah orang-orang yang terlilit utang tanpa akhir.

Marco mencoba meraih kakiku, menangis meraung-raung. “Clara, tolong… beri aku kesempatan kedua! Aku suamimu!”

Aku melangkah mundur, menghindari sentuhannya yang menjijikkan. Aku menatapnya dari atas dengan pandangan muak.

“Surat cerai akan dikirim besok pagi oleh pengacara keluargaku. Dan jangan pernah bermimpi untuk melihat anak ini,” kataku tegas.

Aku berbalik, menggandeng lengan Papaku yang kokoh. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku merasa bebas. Aku tidak lagi harus mengemis cinta pada orang yang tidak menghargaiku. Di dalam rahimku, ada kehidupan baru yang akan kubesarkan dengan kekuatan dan martabat penuh sebagai seorang Alexander.

Saat kami berjalan keluar dari ballroom, meninggalkan kekacauan dan tangisan penyesalan di belakang, aku tahu satu hal: mereka telah membangunkan singa yang salah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang