Rafael melangkah masuk dengan aura yang begitu menekan. Kamar kerja Pak Miguel yang luas mendadak terasa sempit. Matanya tertuju lurus padaku, mengabaikan keberadaan pamannya sendiri.
“Lia,” suaranya rendah, namun ada getaran kemarahan yang tertahan di sana. Dia melempar amplop putih itu ke atas meja kerja Pak Miguel, tepat di depan laptopku yang masih menampilkan kolom pencarian itu.
“Apa maksudnya ini?” tuntutnya.

Aku melirik amplop itu. Di sudut atas, tertulis namaku dengan rapi. Itu adalah surat pengunduran diri sekaligus permohonan mutasi ke kantor cabang Cebu yang kukirimkan ke HRD pagi ini. Aku sengaja melakukannya diam-diam, berencana memberi tahu keluargaku setelah semuanya selesai.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang kusembunyikan selama sepuluh tahun ini. “Itu surat resign-ku, Raf. Aku akan pindah ke Cebu.”
“Tanpa berdiskusi denganku? Kita baru saja bertunangan dua minggu lalu, Lia! Dan sekarang kamu mau pergi?” Suara Rafael meninggi.
“Rafael,” sela Pak Miguel dengan suara tegas, memperingatkan keponakannya agar menjaga sopan santun di ruangannya.
Namun Rafael tidak peduli. Dia menumpukan kedua tangannya di mejaku, memaksaku untuk menatap matanya yang berkilat frustrasi. “Kenapa? Karena pekerjaan? Atau karena hal lain? Kalau kamu tidak suka bekerja di sini, keluar saja. Kita tidak kekurangan uang. Tapi kenapa harus ke Cebu?”
Aku menatap pria di hadapanku. Pria yang ku puja dalam diam selama satu dekade. Pria yang membelikanku sandwich saat malam hari, namun juga pria yang menghapus air mata wanita lain di hari pertunangan kami.
“Ini bukan tentang pekerjaan, Rafael,” kataku, suaraku terdengar jauh lebih tenang dari yang kukira. “Ini tentang kita. Atau lebih tepatnya, tentang ketiadaan ‘kita’.”
Rafael mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu?”
Kenyataan yang Berhamburan
Aku berdiri, menutup laptopku perlahan. Aku tidak ingin menangis di depan Pak Miguel, dan aku tidak ingin terlihat lemah lagi.
“Kamu ingat malam saat kamu mabuk di kondominiummu?” tanyaku. “Malam ketika Andrea mengirimkan pesan bahwa dia masih mencintaimu?”
Ekspresi Rafael langsung berubah. Kilat amarah di matanya mendadak surut, digantikan oleh keterkejutan. “Kamu… membaca pesan itu?”
“Ya. Dan aku juga melihat video kalian,” lanjutku, senyum getir terukir di bibirku. “Lalu di hari pertunangan kita, aku melihatmu menghapus air matanya di ruang rias. Kalian terlihat begitu menderita karena harus terpisah oleh perjodohan ini.”
“Lia, itu tidak seperti yang kamu bayangkan—”
“Lalu seperti apa, Raf?” potongku tajam. “Kamu memakai inisial namanya di akun websitemu dengan angka 1314. Kamu menyimpan semua kenangan tentangnya. Kamu mengundangnya ke pertunangan kita hanya untuk menuntaskan janji masa lalu kalian. Kamu memperlakukanku dengan baik, aku tahu. Tapi bagimu, aku hanya kewajiban. Aku hanya opsi aman yang dipilihkan orang tuamu.”
Aku melepas cincin berlian yang melingkar di jari manisku. Logam mulia itu terasa begitu berat selama dua minggu ini, namun saat diletakkan di atas meja, bunyinya terdengar begitu sunyi.
“Sepuluh tahun aku mencintaimu dalam diam, Rafael. Aku tahu segala hal tentangmu. Tapi melihatmu bersamanya hari itu… membuatku sadar. Sepuluh tahunku tidak akan pernah bisa mengalahkan posisinya di hatimu.”
Pilihan untuk Pergi
Rafael menatap cincin di atas meja, lalu menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kepanikan yang jarang sekali terlihat di wajah seorang Rafael Monteverde.
“Lia… tolong jangan seperti ini. Aku mengakui Andrea adalah masa laluku, tapi pernikahan ini… aku serius ingin menjalaninya bersamamu. Aku mencoba, Lia.”
“Aku tidak mau menjadi seseorang yang membuatmu ‘harus mencoba’, Raf. Aku ingin dicintai dengan cuma-cuma, seperti kamu mencintai Andrea dulu,” kataku lirih.
Pak Miguel yang sejak tadi diam akhirnya berdiri. Dia menepuk pundak Rafael dengan tegas. “Biarkan dia pergi, Rafael. Kamu tidak bisa menahan seseorang di sisimu hanya untuk menjadi penawar lukamu. Itu egois.”
Rafael tidak menjawab. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Dia menatapku yang mulai merapikan barang-barangku ke dalam tas.
Saat aku berjalan melewati dirinya menuju pintu keluar, Rafael tidak menahanku. Dia hanya berdiri mematung, menatap kosong ke arah surat mutasiku dan cincin pertunangan yang berkilau di bawah lampu kantor.
Ketika pintu kaca itu tertutup di belakangku, aku mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, dadaku tidak terasa sesak lagi. Aku kehilangan Rafael, pria impianku. Namun di saat yang sama, aku akhirnya berhasil menemukan diriku sendiri.
