PAGI SETELAH PERNIKAHAN, IBU MERTUAKU MEMINTA KARTU ATM-KU

Dokumen tersebut adalah Sertifikat Hak Milik (SHM) atas tanah dan bangunan rumah mewah yang sedang kami tempati saat ini.

Di bawah nama Micaela Santos, tertera stempel resmi negara dan tanda tangan pejabat yang sah. Rumah yang selama ini dibanggakan oleh keluarga Adrian, rumah yang mereka tempati dengan angkuh dan mereka jadikan tempat untuk mengancamku, ternyata dibeli secara tunai oleh ayahku satu bulan sebelum pernikahan kami sebagai hadiah pernikahan untukku—atas namaku sendiri.

Pak Ernesto yang tadinya berdiri tegak seperti raja, perlahan-lahan mundur selangkah. Matanya terbelalak menatap lembaran kertas di tangan Pak Ramos. Bu Lorna yang tadinya begitu garang, mendadak membisu dengan mulut setengah terbuka.

“Mica… apa artinya ini?” suara Adrian bergetar, memecah keheningan yang mencekam. Dia menatapku, lalu menatap ayahku yang berdiri dengan wibawa seorang pengusaha besar di ambang pintu.

Ayahku, Ramon Santos, melangkah maju. Sepatunya ketukan di lantai marmer terdengar begitu mengintimidasi. Beliau bahkan tidak melirik Adrian, melainkan langsung menatap Pak Ernesto dan Bu Lorna.

“Artinya,” suara Ayah terdengar berat dan tenang, namun sarat akan ancaman, “rumah yang kalian tempati ini adalah milik putriku. Sejak awal, saya tahu Adrian tidak akan mampu membelikan Mica rumah sebesar ini dengan gajinya. Jadi, saya menyediakannya. Namun, saya tidak pernah menyangka bahwa fasilitas yang saya berikan untuk kenyamanan putri saya, justru kalian gunakan sebagai alat untuk menindasnya.”

“T-tapi… Adrian bilang ini rumah dinas dari perusahaannya yang bisa dicicil untuk kepemilikan!” Bu Lorna terbata-bata, wajahnya pucat pasi. Dia menatap Adrian dengan pandangan menuntut penjelasan.

Aku mendengus remeh. Aku menatap Adrian yang kini menunduk dalam-dalam, telapak tangannya basah oleh keringat dingin. “Rumah dinas? Adrian, jadi itu kebohongan yang kau katakan pada orang tuamu agar kau terlihat hebat di depan mereka?”

Adrian diam seribu bahasa. Pria yang malam sebelumnya berjanji akan menjadi tamengku, pria yang beberapa menit lalu menyerahkan kartu ATM-nya tanpa perlawanan, kini mendadak lumpuh kata-kata. Janji-janjinya di depan keluargaku menguap bagai asap.

Pak Ramos, pengacara kami, membenarkan letak kacamata dan mengeluarkan selembar dokumen lain dari amplop cokelat tersebut.

“Berdasarkan dokumen kepemilikan sah dan perintah dari pemilik rumah, Nona Micaela Santos,” Pak Ramos berbicara dengan nada formal yang dingin, “Keluarga Del Rosario tidak memiliki hak hukum apa pun atas properti ini. Mengingat adanya tindakan intimidasi dan ketidaknyamanan yang dialami oleh klien kami pada pagi pertama setelah pernikahan, kami berhak meminta siapa pun yang tidak berkepentingan untuk mengosongkan rumah ini.”

“Mengosongkan rumah?!” Pak Ernesto tersentak. Keangkuhannya runtuh seketika. “Kami ini mertuanya! Kami orang tua Adrian!”

“Dan saya adalah ayah Micaela!” potong Ayahku dengan tegas. “Saya tidak membesarkan putri saya dengan kemewahan dan pendidikan terbaik hanya untuk dijadikan pelayan dan diperas oleh keluarga yang bahkan tidak tahu cara menghormati orang lain!”

Aku berjalan mendekati meja makan, menatap kartu ATM Adrian yang masih tergeletak di dekat piring Pak Ernesto. Aku mengambil kartu itu, lalu melemparnya tepat di depan dada Adrian. Kartu itu jatuh ke lantai.

“Ambil kartu ATM-mu, Adrian. Simpan baik-baik uangmu untuk menyewa kontrakan baru untuk orang tuamu,” kataku, dingin tanpa emosi. “Sebab pagi ini, aturan di rumah ini berubah. Dan aturannya adalah: kalian semua harus keluar dari rumahku.”

“Mica, tolong…” Adrian akhirnya bersuara, suaranya parau, nyaris menangis. Dia mencoba meraih tanganku. “Aku minta maaf. Aku hanya… aku tidak tahu Ayah dan Ibu akan bersikap seperti ini. Aku terlalu takut pada Ayahku sejak kecil. Tolong jangan lakukan ini, kita baru saja menikah kemarin…”

Aku menarik tanganku sebelum dia sempat menyentuhnya. Aku menatapnya dengan rasa kecewa yang teramat dalam.

“Ayahku benar, Adrian. Lelaki yang tidak bisa berkata ‘tidak’ pada orang tuanya, tidak akan pernah bisa membelaku. Kamu melihat ibumu meminta ATM-ku, kamu mendengar ayahmu mengancam akan mengusirku, dan apa yang kamu lakukan? Kamu diam dan memintaku untuk tidak membesarkan masalah,” aku menggelengkan kepala. “Pernikahan kita bahkan belum genap 24 jam, tapi topeng kalian sudah terbuka.”

Bu Lorna tiba-tiba bersujud di dekat meja, menangis histeris. “Mica, maafkan Ibu, Nak… Ibu khilaf. Ibu tidak tahu kalau rumah ini milikmu. Tolong jangan usir kami, kami tidak punya tempat tinggal lain di kota ini…”

Pemandangan itu sungguh ironis. Beberapa menit yang lalu dia bertingkah seperti ratu yang kejam, kini dia mengemis di lantai rumahku.

Aku menoleh ke arah Pak Ramos. “Pak Ramos, tolong bantu mereka mengemas barang-barangnya. Saya beri waktu dua jam. Jika dalam dua jam mereka masih ada di sini, hubungi keamanan kompleks untuk mengeluarkan mereka secara paksa.”

“Baik, Nona Micaela,” jawab Pak Ramos sigap.

Ayahku berjalan mendekatiku, merangkul pundakku dengan hangat. “Kau melakukan hal yang benar, Nak. Jangan pernah biarkan hargadirimu diinjak-injak.”

Aku menatap Adrian untuk terakhir kalinya. Dia berdiri mematung di antara ibunya yang menangis dan ayahnya yang syok, menyadari bahwa kepengecutannya telah menghancurkan pernikahan dan masa depannya dalam sekejap.

Pagi itu, di rumahku sendiri, aku tidak hanya mengusir orang-orang yang berniat memanfaatkan kesetiaanku, tetapi aku juga mengusir ilusi tentang seorang suami yang kupikir bisa melindungiku. Aku kehilangan seorang suami, tetapi aku menyelamatkan diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang