Aku menahan napas di balik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
Ponsel di genggamanku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Gian: “Lia, maaf ya, malam ini aku tiba-tiba ada meeting mendadak dengan klien luar kota. Kita undur lagi rayakan ulang tahunku, oke?”
Detik itu juga, sebuah realitas pahit menghantamku. Suara pria di luar sana memang bukan Gian. Tapi kalimat yang diucapkannya—“Aku juga sudah lama ingin putus”—ditujukan untuk pacar si wanita, bukan untukku.

Lalu, siapa pria yang sedang bermesraan dengan Chloe di kamar ini?
“Ah, sudahlah, jangan bahas pacarmu yang membosankan itu,” suara pria itu terdengar lagi, serak dan penuh gairah. “Ayo, Lucas sudah menyerahkan proyek besar ini padaku. Kita harus merayakannya.”
Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku mengenali suara itu. Itu suara Manager tiri dari departemen keuangan, partner kerja Gian. Dan yang lebih mengejutkan… ini bukan kamar yang dipesan Gian. Aku, sekali lagi, salah melihat nomor kamar karena terlalu gugup.
Aku terjebak di kamar rekan kerja yang sedang berselingkuh dengan sekretaris divisi lain.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang keras mengejutkan mereka berdua.
“Siapa sih?! Mengganggu saja!” gerutu si pria.
Dia membuka pintu, dan seketika suasana menjadi hening mencekam. Dari celah pintu kamar mandi, aku bisa melihat siluet tinggi besar yang sangat tidak asing berdiri di ambang pintu.
Itu Lucas. Bos besar kami.
7.
“T-Tuan Lucas? Kenapa Anda ada di sini?” suara manager itu bergetar hebat. Chloe bahkan langsung menjerit kecil dan bersembunyi di balik selimut.
Lucas berdiri di sana dengan setelan jas rapi, wajahnya sedingin es. Tatapannya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat pada pintu kamar mandi yang agak terbuka—tempatku bersembunyi.
“Kalian menggunakan fasilitas hotel perusahaan untuk urusan pribadi di jam kerja?” suara Lucas rendah, namun sanggup membuat bulu kuduk berdiri. “Besok pagi, surat pemecatan kalian akan ada di meja HRD.”
Tanpa menunggu penjelasan, Lucas berbalik dan pergi. Manager dan Chloe panik setengah mati, langsung merapikan pakaian mereka dan berlari keluar untuk mengejar Lucas, mencoba memohon ampun.
Kamar menjadi kosong. Aku keluar dari kamar mandi dengan tubuh gemetar, mengenakan gaun lace seksi yang tertutup coat panjangku. Aku benar-benar sial. Dua kali ke hotel, dua kali salah kamar, dan dua kali pula tertangkap oleh bos besar.
Aku berjalan gontai keluar kamar, berniat langsung pulang dan mengubur diriku di kasur. Namun saat aku melangkah ke lobi hotel yang sepi, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depanku.
Kaca mobil diturunkan. Lucas bersandar di kursi kemudi, menatapku datar.
“Masuk,” perintahnya singkat.
8.
Di dalam mobil, keheningan terasa begitu pekat hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.
“Pak Lucas… terima kasih yang tadi. Dan… maaf Anda harus melihat saya dalam situasi seperti ini lagi,” cicitku, benar-benar ingin menangis karena malu.
Lucas tetap fokus menyetir, namun sudut bibirnya berkedut tipis. “Setiap kali aku melihatmu di hotel, kamu selalu memakai pakaian yang kekurangan kain, Karyawan Lia.”
Wajahku langsung panas membara. “Ini… ini tidak seperti yang Anda pikirkan! Saya salah kamar lagi. Saya pikir itu kamar pacar saya…”
“Pacarmu yang mengirim pesan pembatalan karena ‘meeting mendadak’?” tanya Lucas sengaja.
Aku tersentak. “Bagaimana Anda tahu?”
“Karena malam ini tidak ada meeting perusahaan,” jawabnya tenang, menghentikan mobil di lampu merah lalu menoleh menatapku tajam. “Dan pacarmu… Gian, saat ini sedang berada di bar hotel seberang bersama wanita lain. Aku melihatnya sebelum ke sini.”
Bagai disambar petir, hatiku hancur berkeping-keping. Setahun ini aku menjaga diriku, mencoba menjadi pacar yang baik, tapi dia tidak hanya membohongiku, dia juga berselingkuh.
Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah juga. Aku menunduk, menangis tanpa suara.
Sebuah sapu tangan katun halus beraroma kayu disodorkan ke depanku.
“Jangan menangis untuk pria bodoh,” kata Lucas, suaranya melembut—nada suara yang belum pernah didengar oleh siapa pun di kantor.
9.
Mobil tidak berhenti di rumahku, melainkan di depan sebuah restoran privat yang sepi.
“Makan,” ujar Lucas saat kami turun. “Kamu butuh energi untuk memikirkan bagaimana cara membalas dendam besok.”
Malam itu, di hadapan CEO yang paling ditakuti di perusahaan, aku menumpahkan semua isi hatiku. Anehnya, Lucas menjadi pendengar yang sangat baik. Dia tidak memotong, tidak menghakimi, hanya menatapku dengan binar mata yang sulit diartikan.
“Lia,” panggilnya setelah aku agak tenang. “Mengapa malam pertama itu… kamu berani menciumku, tapi malam ini kamu tampak begitu ragu pada pacarmu?”
Pertanyaannya membuatku tersedak. “Itu… karena ruangan gelap, dan saya pikir Anda adalah…”
“Bukan itu jawabannya,” potong Lucas cepat. Dia memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangannya, mengikis jarak di antara kami. “Tubuh dan intuisimu tahu mana pria yang tulus, dan mana yang bajingan. Kamu tidak meragu bersamaku malam itu, karena jauh di dalam hatimu… kamu tahu aku tidak akan menyakitimu.”
Jantungku berdegup kencang, polanya jauh lebih tidak beraturan dibanding saat aku patah hati tadi.
“Besok, aku akan membantumu membereskan Gian,” lanjut Lucas dengan senyum misterius yang terlihat sangat tampan sekaligus berbahaya. “Sebagai gantinya… kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan di sofa kamarku waktu itu.”
