KAKAK PEREMPUANKU ADALAH CAMPUS QUEEN.

Dan kalimat pertamanya membuat seisi ruangan seketika membeku.

“Thanh, kenapa kamu masih di sini? Sup jamur yang kamu masak di rumah hampir dingin.”

Thiago berjalan melewati Kakakku, Lianne, seolah wanita yang dulunya disebut-sebut sebagai Campus Queen itu hanyalah udara kosong. Dia melangkah langsung ke arahku, melepaskan jasnya, lalu menyampirkannya ke bahuku dengan gerakan yang sangat alami dan penuh perhatian.

Wajah Ibu langsung memucat, sementara Lianne menatap tangan Thiago di bahuku dengan tatapan tidak percaya.

“Thiago… kamu…” Suara Lianne bergetar. “Kamu ke sini untuk menjemput Thanh? Bukan untuk merayakan kepulanganku?”

Thiago akhirnya membalikkan tubuhnya. Matanya yang biasanya dingin kini menatap Lianne tanpa ekspresi sedikit pun.

“Lianne Soriano. Selamat atas kepulanganmu,” ucapnya formal, sangat formal hingga menciptakan jarak yang begitu lebar di antara mereka. “Tapi maaf, aku ke sini hanya untuk menjemput istriku.”

2. Ledakan Rahasia Enam Tahun

Kata “istriku” menggema di ruang tamu yang mendadak sunyi senyap.

“Istri?!” Ibu berteriak, hampir kehilangan suaranya. “Thiago, apa yang kamu bicarakan? Siapa yang kamu sebut istri? Thanh? Anak ini? Jangan bercanda!”

“Saya tidak pernah bercanda tentang pernikahan, Tante,” jawab Thiago datar. Dia mengeluarkan sebuah dompet kartu dari saku celananya, mengambil selembar foto kecil yang selalu dia simpan, dan meletakkannya di atas meja marmer.

Itu adalah foto pernikahan kami enam tahun lalu. Sederhana, tanpa gaun mewah, hanya kami berdua di depan catatan sipil dengan senyum tipis di wajah Thiago dan wajah gugup di wajahku.

Lianne melangkah maju, meraih foto itu, dan seluruh tubuhnya mulai gemetar. “Enam tahun… Kalian menyembunyikannya selama enam tahun? Thiago, saat aku pergi ke luar negeri, kamu berjanji akan menungguku!”

“Aku tidak pernah berjanji,” potong Thiago kejam. “Kamu yang memilih pergi demi kariermu, dan kamu juga yang memintaku untuk tidak mencarimu. Hubungan kita sudah selesai tujuh tahun lalu.”

Ibu langsung menunjukku dengan jari gemetar. “Thanh! Kamu benar-benar tidak tahu diri! Kamu merebut pria yang dicintai kakakmu! Selama enam tahun kamu diam saja melihat kami merindukan Thiago untuk menjadi menantu keluarga ini, sementara kamu… kamu menyelinap ke tempat tidurnya?!”

Kata-kata Ibu sangat tajam, menusuk tepat di hatiku yang paling dalam. Selama dua puluh enam tahun hidupku, aku selalu menjadi nomor dua. Dan hari ini, di mata Ibu, aku tetaplah seorang pencuri.

Aku menarik napas dalam-dalam, menatap Ibu dengan ketenangan yang belum pernah kumiliki sebelumnya.

“Aku tidak merebut apa pun, Bu,” kataku lirih namun tegas. “Thiago yang melamarku. Dan selama enam tahun ini, aku tidak pernah meminta sepeser pun kemewahan dari keluarga ini menggunakan nama Thiago.”

3. Tiket Pesawat dan Keputusan Akhir

Malam itu, kami pulang ke apartemen dalam keheningan.

Di dalam mobil, Thiago mencoba menggenggam tanganku, tapi aku perlahan menariknya kembali. Pikiranku terngiang-ngiang pada ucapan Lianne di rumah tadi. “Thiago hanya menjadikanmu pelarian karena wajah kita mirip, Thanh! Kamu hanya versi diskon dariku!”

Apakah itu benar? Enam tahun pernikahan kami berjalan sangat datar. Thiago sangat perhatian, sangat bertanggung jawab, tapi dia jarang mengungkapkan perasaannya. Aku selalu merasa dia menikahiku hanya karena aku adalah pilihan paling aman untuk melupakan Lianne.

Sesampainya di apartemen, saat Thiago sedang membersihkan diri di kamar mandi, aku membuka laptopku.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, aku membuka situs maskapai penerbangan. Aku memesan satu tiket satu arah ke Paris, tempat cabang perusahaan tempatku bekerja menawarkan posisi manajer bulan lalu. Dulu aku menolaknya demi Thiago. Tapi sekarang… aku ingin keluar dari bayang-bayang ini.

Aku mencetak tiket itu, meletakkannya di atas meja kerja, bersama dengan selembar surat yang sudah kusiapkan sejak seminggu lalu: Surat Perjanjian Perceraian.

4. “Aku Pergi Duluan”

Keesokan harinya, seluruh grup alumni SMA dan media sosial gempar. Ibu dan Lianne tampaknya tidak bisa menerima kenyataan ini dan mulai menyebarkan cerita bahwa aku telah menjebak Thiago.

Ponselku terus berdering, tapi aku mengabaikannya. Aku mengemas satu koper kecil—hanya membawa barang-barang yang kubeli dengan uangku sendiri. Aku tidak mengambil satu pun perhiasan atau pakaian mewah yang pernah dibelikan Thiago.

Saat aku memakai sepatuku di dekat pintu, pintu apartemen tiba-tiba terbuka dengan kasar.

Thiago berdiri di sana dengan napas memburu. Kemejanya berantakan, matanya merah. Di tangannya, dia memegang surat perceraian dan tiket pesawat yang kutinggalkan di meja kerja.

“Apa-apaan ini, Thanh?!” suaranya meninggi, sebuah nada yang belum pernah kudengar selama enam tahun pernikahan kami. “Kamu mau pergi? Ke Paris? Tanpa mengatakan apa pun padaku?”

Aku menatap wajah tampan yang selalu kusukai itu untuk terakhir kalinya. Aku tersenyum tipis, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar.

“Lianne sudah kembali, Thiago. Semua orang menantikan kesempatan kedua kalian. Dan aku… aku lelah menjadi bayangan. Aku lelah menjadi versi diskon yang selalu dibanding-bandingkan.”

Aku melangkah melewatinya, memegang gagang koperku.

“Aku masih ada urusan di bandara, aku pergi duluan.”

5. Kebenaran yang Terlambat

Sebelum aku sempat melangkah keluar pintu koridor, Thiago mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat, menarikku masuk ke dalam pelukannya hingga koperku terjatuh ke lantai. Dia memelukku begitu erat, seolah-olah jika dia melepaskannya sedikit saja, aku akan menghilang selamanya.

“Lepaskan aku, Thiago… Pergi dan temui Lianne,” bisikku, air mataku akhirnya tumpah.

“Persetan dengan Lianne!” Thiago mengumpat kasar, tubuhnya gemetar di pelukanku. “Siapa yang peduli dengan dia? Siapa yang bilang kamu versi diskon?!”

Dia melepaskan pelukannya secara perlahan, memegang kedua bahuku, memaksa mataku untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang dipenuhi rasa takut yang amat sangat—takut kehilangan.

“Enam tahun lalu, malam sebelum aku melamarmu… kamu tahu di mana aku?” suara Thiago serak. “Aku ada di rooftop sekolah lama kita. Aku melihatmu menangis di sana karena ibumu membuang lukisanmu demi memuji permainan biola Lianne.”

Aku tertegun.

“Aku sudah memperhatikanmu jauh sebelum aku mengenal kakakmu, Thanh. Di ruang debat, di perpustakaan, di mana pun. Tapi kamu selalu bersembunyi di belakangnya. Aku mendekati Lianne dulu hanya agar aku bisa punya alasan untuk datang ke rumahmu, untuk bisa melihatmu dari dekat!”

Thiago mengepalkan tangannya, air mata mengalir di pipinya yang tegas.

“Saat Lianne memintaku putus dan pergi ke luar negeri, aku justru merasa bebas. Hari itu, saat aku bertanya ‘Menikah denganku?’ padamu, itu bukan karena aku menjadikanmu pelarian. Itu karena akhirnya… aku punya kesempatan untuk memilikimu seutuhnya tanpa ada kakakmu di antara kita.”

Dia merobek tiket pesawat ke Paris di depan mataku menjadi serpihan kecil.

“Enam tahun ini aku diam karena aku tahu kamu tidak suka publisitas, aku ingin melindungimu dari tekanan keluargamu. Tapi jika diamku membuatmu berpikir kamu adalah pengganti… maka hari ini, aku akan membuat seluruh dunia tahu siapa wanita yang sebenarnya aku gila-gilai.”

Thiago berlutut di depanku, menggenggam tanganku yang dingin, lalu mengecupnya dengan penuh penyesalan.

“Jangan pergi, Thanh. Tolong… jangan tinggalkan aku.”

Melihat pria yang selalu dipuja sebagai dewa yang dingin kini berlutut dan memohon di kakiku, aku sadar—selama ini aku tidak pernah berada di bawah bayang-bayang Lianne. Aku adalah satu-satunya cahaya yang dikejar oleh Thiago.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang