Saat suamiku sedang mandi, aku tanpa sengaja melihat sebuah pesan di ponselnya.

Bagian 1: Topeng yang Mulai Retak

“Tentu saja tidak cukup, Mas,” suara manja Maya terdengar jelas di telingaku yang panas. “Lagi pula, besok kan acara penting Raka. Kita harus merayakannya malam ini.”

Aku mencengkeram kemudi mobil sewira-wiraan yang kuparkir di bawah bayangan pohon. Air mata yang sempat menggenang langsung mengering, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh.

Aditya Pratama. Pria yang kunikahi lima tahun lalu saat dia masih menjadi manajer kelas menengah di perusahaan keluargaku. Pria yang selalu bersikap lembut, penuh perhatian, dan bersumpah akan mencintaiku meski kami belum dikaruniai anak.

Ternyata, semua fasilitas mewah yang dia nikmati—mulai dari jabatan CEO di anak perusahaan keluargaku, Rolls-Royce edisi terbatas, hingga uang miliaran yang didonasikan ke sekolah itu—semuanya berasal dari rekeningku. Rekening seorang putri tunggal dari keluarga Wijaya, salah satu konglomerat terbesar di negeri ini.

Aku mengambil ponselku, memotret momen mereka yang sedang berpelukan mesra di teras vila, lalu mengirimkannya ke pengacara pribadi keluarga kami.

【Kumpulkan semua bukti aset yang dia alihkan. Besok pagi, aku ingin semua rekening operasionalnya dibekukan. Tanpa terkecuali.】

Aku memutar balik mobilku tanpa menyalakan lampu utama agar tidak ketahuan. Malam itu, aku tidur dengan tenang. Kemarahan tidak lagi membuatku menangis, melainkan membuatku berpikir jernih.

Bagian 2: Hari Pembukaan Sunshine Preschool

Keesokan paginya, matahari Jakarta Selatan bersinar terik. Di depan gerbang Sunshine Preschool, balon-balon berwarna-warni dan karpet merah telah digelar. Ini adalah sekolah elit tempat anak-anak dari kalangan atas menuntut ilmu.

Aku turun dari mobil Alphard hitamku, didampingi oleh dua asisten pribadi dan pengacara pribadiku, memegang sebuah map dokumen tebal. Aku sengaja mengenakan gaun formal berwarna hitam elegan dengan kacamata hitam, kontras dengan suasana sekolah yang ceria.

Saat aku melangkah masuk ke aula utama, aku langsung melihat mereka.

Aditya tampak sangat gagah dengan setelan jas mahal, sementara Maya Lestari mengenakan gaun desainer berwarna pastel, tampak anggun seperti seorang nyonya besar. Di antara mereka, seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun bernama Raka sedang menggandeng tangan Aditya dengan ceria.

“Selamat pagi, Pak Aditya, Ibu Maya, dan juga Raka tampan!” sapa kepala sekolah dengan senyum merekah lebar. “Terima kasih sekali lagi atas donasi taman bermain senilai 5 miliar rupiah dari keluarga Anda. Mari silakan duduk di kursi VIP terdepan.”

Aditya tersenyum bangga, menepuk dada bidangnya. “Sama-sama, Bu. Bagi saya, pendidikan dan kebahagiaan Raka adalah yang utama. Uang bukan masalah.”

“Oh ya? Uang siapa yang bukan masalah, Aditya?”

Suaraku yang tenang namun dingin memotong obrolan hangat mereka, bergema di seluruh penjuru aula yang mulai ramai oleh orang tua murid lainnya.

Bagian 3: Panggung Sandiwara yang Hancur

Aditya membeku. Dia membalikkan badannya dengan cepat, dan wajahnya langsung pucat pasi saat melihatku berdiri tegak dengan senyuman tipis di bibir.

“S-Sayang? Kenapa kamu ada di sini?” gagap Aditya, suaranya bergetar hebat.

Maya Lestari langsung melepaskan gandengan tangannya dari Aditya, wajahnya menyiratkan ketakutan, namun dia berusaha tetap tenang. “Ibu… Ibu Nyonya…”

“Ibu Maya, kenapa cemas begitu? Bukankah kemarin malam di vila ratusan miliar itu Anda begitu berani?” tanyaku sambil melangkah mendekat.

Kepala sekolah dan para orang tua murid lainnya mulai berbisik-bisik, menyadari ada drama besar yang sedang terjadi.

“Nila, tolong jangan bikin keributan di sini. Kita bicara di rumah, ya?” bisik Aditya setengah memohon, mencoba meraih tanganku.

Aku menepis tangannya dengan kasar. “Rumah? Rumah yang mana? Rumah yang kubeli dengan uangku, atau vila mewah yang kamu beli secara ilegal atas nama selingkuhanmu ini menggunakan dana perusahaan keluargaku?!”

Mendengar kata-kata ‘dana perusahaan’, wajah Maya langsung memucat.

Aku memberi isyarat kepada pengacaraku. Dia maju dan menyerahkan beberapa dokumen ke hadapan Aditya dan kepala sekolah.

“Berdasarkan bukti audit internal PT Wijaya Megah Group sub-sektor finansial, Saudara Aditya Pratama telah melakukan penggelapan dana sebesar 15 miliar rupiah selama satu tahun terakhir. Dan donasi sebesar 5 miliar untuk sekolah ini…” Pengacaraku menjeda kalimatnya, menatap kepala sekolah. “…bersumber dari rekening yang telah dibekukan karena kasus hukum pidana.”

Senyum di wajah kepala sekolah langsung lenyap. “Apa?! Jadi uang donasi ini uang haram?”

“Nila! Kamu keterlaluan! Aku ini suamimu!” teriak Aditya, mulai kehilangan kendali karena harga dirinya diinjak-injak di depan umum. “Aku melakukan ini karena kamu mandul! Kamu tidak bisa memberiku anak! Sedangkan Maya, dia memberiku Raka, penerus darahku!”

Bagian 4: Kebenaran yang Menyakitkan

Mendengar ucapan Aditya, aku tidak marah. Aku justru tertawa kecil, tawa yang penuh dengan rasa kasihan.

“Penerus darahmu?” Aku mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam tas, melemparkannya tepat ke dada Aditya hingga lembarannya berhamburan di lantai karpet merah.

Itu adalah dokumen laporan medis rahasia yang baru dikirimkan oleh asistenku subuh tadi, lengkap dengan hasil tes DNA.

“Tiga tahun lalu, saat kita melakukan pemeriksaan kesuburan secara berkala, hasil laboratorium menunjukkan bahwa kamu yang memiliki masalah kesuburan absolut, Aditya. Aku menyembunyikan dokumen itu dan mengatakan akulah yang bermasalah demi menjaga harga dirimu sebagai seorang pria!”

Aditya berlutut, memungut kertas-kertas itu dengan tangan gemetar. Matanya terbelalak membaca hasil tes DNA antara dirinya dan Raka.

Hasil: 0% Kemiripan Genetika (Bukan Anak Kandung).

“T-Tidak… ini tidak mungkin! Maya, katakan padaku ini bohong!” teriak Aditya histeris sambil menatap Maya.

Maya Lestari sudah menangis ketakutan, melangkah mundur perlahan. “Mas… maafkan aku… waktu itu aku terdesak… mantan pacarku…”

Semua orang di aula tersebut menonton dengan tatapan jijik. Pria yang baru saja menyombongkan diri sebagai donatur miliaran rupiah ternyata hanyalah seorang pencuri dana perusahaan, yang ditipu pula oleh selingkuhannya sendiri menggunakan anak haram dari pria lain.

Bagian Final: Akhir yang Adil

Dua petugas kepolisian yang sudah kuhubungi sebelumnya masuk ke dalam aula, berjalan tegap ke arah Aditya dan Maya Lestari.

“Saudara Aditya Pratama dan Saudari Maya Lestari, Anda berdua ditahan atas dugaan penggelapan dana, pencucian uang, dan pemalsuan dokumen aset perusahaan,” ujar petugas kepolisian sambil memasangkan borgol besi di tangan mereka yang gemetar.

Aditya memandangku dengan mata memerah, air matanya menetes meratapi kehancurannya yang instan. “Nila… tolong aku… aku khilaf… aku masih mencintaimu, Nila!”

Aku membalikkan badanku, tidak sudi melihat wajahnya lagi.

“Rolls-Royce yang kamu kendarai tadi pagi sudah disita oleh pihak leasing karena ditarik kembali oleh pemilik sahnya—yaitu aku. Vila mewah itu akan segera dilelang minggu depan. Nikmati sisa hidupmu di balik jeruji besi, Aditya,” ucapku dingin tanpa menoleh kembali.

Aku melangkah keluar dari Sunshine Preschool dengan kepala tegak. Udara pagi Jakarta terasa jauh lebih bersih dan lega dari sebelumnya. Lembaran lama yang penuh kepalsuan telah selesai kubakar, dan lembaran baru yang lebih cerah siap kunikmati sendiri sebagai wanita yang mandiri dan berkuasa.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang