PRIA MISTERIUS LAKUKAN AKSI MENCURIGAKAN DI ATAS ATAP RUMAH SETIAP TENGAH MALAM, TETAPI SAAT POLISI DAN WARGA MENYERBU, RAHASIA BESAR DI ATAS YERO BIKIN SEMUA MENANGIS!

Petugas polisi yang berada paling depan mendadak berhenti bernapas selama beberapa detik.

Sorot senternya tidak menemukan linggis, karung hasil curian, atau alat untuk membobol rumah seperti yang dibayangkan warga.

Di atas atap rumah nomor 14 itu, Ruben sedang berlutut di antara tumpukan papan kayu, terpal tebal, beberapa batang besi, dan gulungan kabel. Kedua tangannya terangkat perlahan. Wajahnya pucat, tetapi bukan karena takut tertangkap.

Di belakang tubuhnya berdiri sesuatu yang membuat petugas itu kehilangan kata-kata.

Sebuah ruangan kecil.

Lebih tepatnya, sebuah kamar darurat yang dibangun di atas atap.

Dindingnya terbuat dari papan ringan yang dilapisi bahan peredam panas. Atapnya menggunakan lembaran transparan. Di dalamnya terdapat sebuah kasur kecil, kipas angin, lampu belajar, rak buku, dan beberapa pot tanaman.

Yang paling mengejutkan, di atas kasur itu duduk seorang anak perempuan.

Usianya mungkin sekitar sepuluh tahun.

Tubuhnya sangat kurus. Kepalanya tertutup kupluk rajut berwarna merah muda. Sebuah masker menutupi sebagian wajahnya, sementara selang kecil terhubung ke alat bantu pernapasan portabel di samping tempat tidur.

Anak itu menatap polisi dengan mata ketakutan.

“Ayah…”

Suaranya lemah.

Ruben langsung menoleh.

“Nggak apa-apa, Sayang. Ayah di sini.”

Petugas yang berada di tangga segera menurunkan senternya.

“Pak, di atas ada anak kecil!”

Suara gaduh dari bawah langsung berhenti.

Kapolsek mengerutkan kening.

“Anak kecil?”

“Iya, Pak. Sepertinya sedang sakit.”

Bu Nani yang sejak tadi berdiri paling depan mendadak terdiam.

Tiga petugas akhirnya naik ke atap. Setelah memastikan tidak ada ancaman, mereka meminta Ruben menjelaskan apa yang sebenarnya sedang dilakukannya setiap tengah malam.

Ruben tidak langsung menjawab.

Ia hanya menghampiri anak perempuan itu, membetulkan selimutnya, lalu memeriksa alat kecil di samping kasur.

“Namanya Keira,” katanya pelan. “Anak saya.”

Salah seorang polisi melihat sekeliling.

“Kenapa Bapak membangun kamar di atas atap tengah malam begini?”

Ruben menundukkan kepala.

“Karena cuma jam segini saya bisa mengerjakannya.”

“Maksudnya?”

Ruben menarik napas panjang.

“Saya kerja sebagai teknisi gedung dari pagi sampai malam. Saya baru sampai rumah sekitar jam sebelas. Setelah Keira tidur, saya naik ke sini.”

Ia menunjuk papan-papan yang belum terpasang.

“Saya sedang membuat tempat yang lebih nyaman untuk dia.”

Petugas itu masih belum memahami semuanya.

“Kenapa harus di atas atap?”

Ruben memandang putrinya.

“Karena dia sudah hampir satu tahun nggak bisa pergi ke mana-mana.”

Keira menderita penyakit serius yang membuat daya tahan tubuhnya sangat lemah. Dokter meminta keluarga menghindarkannya dari tempat ramai dan lingkungan yang berisiko membuat kondisinya memburuk.

Sebelum sakit, Keira adalah anak yang sangat aktif.

Ia suka taman.

Ia suka melihat langit.

Dan yang paling ia sukai adalah duduk di tempat terbuka sambil menggambar awan.

Tetapi sejak kondisinya memburuk, sebagian besar harinya dihabiskan di dalam kamar.

Keluarga Ruben pindah ke Tebet karena rumah lama mereka harus dijual untuk membantu membayar biaya pengobatan. Rumah nomor 14 adalah rumah kontrakan kecil yang sanggup mereka sewa.

Tidak ada halaman.

Tidak ada balkon.

Bahkan sinar matahari hanya masuk beberapa jam melalui jendela depan.

Suatu malam, Keira berkata kepada ayahnya, “Ayah, kalau Keira belum bisa pergi ke taman, boleh nggak tamannya yang datang ke rumah?”

Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepala Ruben.

Sejak itulah ia mulai membangun sebuah taman kecil di atas atap.

Besi panjang yang selama ini dianggap warga sebagai alat untuk membobol rumah ternyata adalah rangka pengaman.

Benda tebal yang dilihat Bu Nani malam itu adalah lapisan peredam panas.

Senter besar digunakan Ruben karena ia tidak berani memasang lampu terlalu terang dan mengganggu tetangga.

Sedangkan suara derak yang membuat warga ketakutan berasal dari papan pijakan sementara yang dipasang agar atap rumah tidak rusak.

“Kenapa Bapak nggak bilang ke warga?” tanya petugas.

Ruben tersenyum hambar.

“Saya baru pindah. Saya nggak kenal siapa-siapa.”

Ia berhenti sebentar.

“Lagipula saya pikir ini rumah saya sendiri. Selama saya nggak mengganggu orang, saya nggak perlu menjelaskan keadaan keluarga saya.”

Kalimat terakhir itu membuat suasana semakin sunyi.

Dari bawah, Bu Nani masih bisa mendengar sebagian percakapan.

Entah mengapa dadanya terasa sesak.

Namun rahasia sebenarnya belum selesai.

Seorang petugas memperhatikan puluhan pot kecil yang tersusun di sudut atap.

Di setiap pot terdapat label.

Untuk Keira.

Semangat, Keira.

Cepat sehat.

Ada pula beberapa gambar bunga buatan tangan.

“Ini siapa yang bikin?” tanya polisi.

Ruben tersenyum.

“Istri saya.”

“Beliau di bawah?”

Senyum Ruben perlahan menghilang.

“Nggak.”

Ia menatap langit Jakarta yang malam itu tertutup awan tipis.

“Istri saya meninggal delapan bulan lalu.”

Petugas itu terdiam.

Sebelum meninggal, istri Ruben bernama Maya.

Maya yang pertama kali merancang taman atap tersebut.

Ketika kondisi Keira mulai memburuk, Maya menggambar sebuah taman sederhana di buku catatan. Ada bangku kecil, bunga, lampu gantung, dan sebuah papan bertuliskan Taman Keira.

Namun Maya tidak pernah sempat mewujudkannya.

Delapan bulan lalu, ia mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.

Sejak hari itu Ruben membesarkan Keira seorang diri.

“Saya janji sama istri saya,” ucap Ruben dengan suara bergetar. “Saya akan menyelesaikan taman ini sebelum ulang tahun Keira.”

“Kapan ulang tahunnya?”

Ruben melihat kalender kecil yang tergantung di dinding kamar darurat.

“Besok.”

Petugas polisi itu menelan ludah.

Di bawah, kabar tentang apa yang ditemukan di atap mulai menyebar.

Kayu-kayu yang dibawa warga perlahan diturunkan.

Tidak ada lagi orang yang berteriak.

Bu Nani justru berdiri seperti orang kehilangan tenaga.

Beberapa menit kemudian, Kapolsek naik sendiri ke atap.

Ia memeriksa keadaan lalu berbicara cukup lama dengan Ruben.

“Pak Ruben, saya mengerti niat Bapak. Tapi struktur seperti ini tetap harus aman. Jangan sampai malah membahayakan anak Bapak atau tetangga.”

Ruben mengangguk.

“Saya mengerti, Pak.”

“Saya punya teman yang paham konstruksi ringan. Besok saya minta dia lihat.”

Ruben tampak terkejut.

“Pak…”

Kapolsek menepuk bahunya.

“Anggap saja pemeriksaan keamanan.”

Ketika polisi turun, warga otomatis memberi jalan.

Bu Nani menghampiri Kapolsek.

“Pak… benar anaknya sakit?”

Kapolsek menatapnya.

“Benar.”

Wajah Bu Nani langsung berubah.

Ia menoleh ke arah rumah Ruben.

Untuk pertama kalinya sejak Ruben pindah, ia sadar bahwa dirinya bahkan tidak pernah bertanya siapa nama anak yang tinggal di rumah sebelahnya.

Ia hanya sibuk mencari tahu mengapa tirai rumah itu selalu tertutup.

Malam itu warga kembali ke rumah masing-masing dalam keheningan.

Namun pukul enam pagi, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Ruben terjadi.

Ketika membuka pintu, ia menemukan Bu Nani berdiri membawa dua kantong besar.

Di belakangnya ada Pak RT dan beberapa warga.

Ruben spontan mundur.

“Ada apa?”

Bu Nani tidak berani menatap matanya.

“Saya mau minta maaf.”

Ruben diam.

“Saya yang mulai nuduh Bapak.”

Suara perempuan itu mengecil.

“Saya juga yang telepon Pak RT.”

Ia menyerahkan kantong yang dibawanya.

Di dalamnya terdapat beberapa lampu taman bertenaga surya dan perlengkapan berkebun.

“Saya nggak tahu apa ini berguna atau nggak.”

Ruben memandang benda-benda itu, lalu menatap Bu Nani.

Belum sempat ia menjawab, seorang warga lain maju membawa pot.

Yang lain membawa tanah tanaman.

Ada yang membawa papan kayu.

Ada pula tukang bangunan yang menawarkan diri memeriksa rangka.

Dalam waktu kurang dari satu jam, lorong sempit yang malam sebelumnya dipenuhi warga yang hendak menangkap Ruben berubah menjadi tempat orang bergotong royong.

Ruben berkali-kali mencoba menolak.

Namun Pak RT hanya berkata, “Kalau semalam kami bisa ramai-ramai datang buat nuduh, hari ini kami juga harus ramai-ramai datang buat memperbaiki kesalahan.”

Kalimat itu membuat Ruben akhirnya tidak mampu berkata apa-apa.

Pekerjaan berlangsung hingga sore.

Rangka diperkuat.

Papan pijakan diperbaiki.

Pot-pot bunga disusun di sepanjang sisi aman atap.

Lampu-lampu kecil dipasang.

Seorang warga bahkan membawa rumput sintetis yang tersisa dari renovasi rumahnya.

Menjelang matahari terbenam, taman kecil itu akhirnya selesai.

Namun saat semua orang hendak memanggil Keira, Ruben menerima telepon dari rumah sakit.

Wajahnya langsung berubah.

Ia berjalan menjauh.

“Ya, Dok?”

Semua warga diam.

Beberapa saat kemudian Ruben memejamkan mata.

Tangannya gemetar.

Dokter meminta Keira segera dibawa untuk pemeriksaan karena hasil tes terakhir menunjukkan kondisinya membutuhkan penanganan lanjutan.

Ruben memandang taman yang baru selesai.

Besok adalah ulang tahun Keira.

Ia tidak tahu kapan putrinya akan bisa pulang lagi.

Maka sebelum berangkat ke rumah sakit, Ruben menggendong Keira naik ke atap.

Ketika pintu kecil dibuka, Keira mematung.

Puluhan lampu mungil menyala.

Tanaman hijau memenuhi sudut-sudut atap.

Di tengah taman terdapat papan kayu.

TAMAN KEIRA

Di bawahnya tertulis sebuah kalimat.

Supaya langit selalu dekat denganmu.

Keira menutup mulutnya.

“Ayah…”

Ruben berlutut di depannya.

“Selamat ulang tahun lebih awal, Sayang.”

Keira melihat sekeliling.

Lalu matanya berhenti pada satu pot bunga kecil.

Di sana ada tulisan tangan yang sangat dikenalnya.

Untuk Keira, dari Ibu.

Anak itu langsung memeluk ayahnya.

Ruben yang selama berbulan-bulan berusaha terlihat kuat akhirnya menangis.

Warga yang menyaksikan dari tangga dan atap rumah masing-masing ikut terdiam. Beberapa mengusap mata.

Bu Nani menangis paling keras.

Namun Keira tiba-tiba melepaskan pelukannya.

Ia memandang Bu Nani.

“Tante…”

Bu Nani terkejut.

“Iya, Nak?”

Keira tersenyum kecil.

“Jangan nangis.”

Bu Nani justru semakin terisak.

Keira menunjuk bunga-bunga di sekelilingnya.

“Ibu bilang kalau ada orang salah, tapi dia mau memperbaikinya, berarti kita harus kasih dia kesempatan.”

Ruben menatap putrinya dengan terkejut.

Itu adalah kalimat yang sering diucapkan Maya.

Keira ternyata masih mengingatnya.

Malam itu Keira dibawa ke rumah sakit.

Taman di atas rumah nomor 14 kembali kosong.

Tetapi setiap malam, tidak ada lagi warga yang curiga ketika melihat Ruben naik ke atap.

Justru mereka bergantian membantu menyiram tanaman.

Tiga minggu kemudian, sebuah mobil berhenti di ujung lorong.

Ruben turun lebih dulu.

Kemudian ia membuka pintu belakang.

Keira keluar perlahan sambil mengenakan masker.

Bu Nani yang sedang menyapu halaman sampai menjatuhkan sapunya.

“Keira!”

Warga berhamburan keluar.

Keira belum sepenuhnya pulih, tetapi dokter mengizinkannya kembali ke rumah dengan pengawasan ketat.

Malam itu taman kecil di atas atap kembali menyala.

Tidak ada pesta besar.

Tidak ada musik keras.

Hanya beberapa keluarga yang duduk berjauhan sambil menikmati udara malam Jakarta.

Keira duduk di samping ayahnya dan menggambar.

Ia menggambar rumah-rumah yang berdempetan.

Di atas salah satu rumah terdapat taman kecil.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Keira menggambar banyak jembatan kecil yang menghubungkan satu atap dengan atap lainnya.

Ruben tertawa.

“Itu apa?”

“Jembatan.”

“Buat apa?”

“Supaya tetangga nggak cuma lihat rumah orang dari jauh.”

Ruben terdiam.

Keira melanjutkan menggambar.

“Kalau mau tahu sesuatu, datang dan tanya. Jangan langsung takut.”

Bu Nani yang duduk tidak jauh dari sana langsung menunduk malu.

Semua orang tertawa kecil.

Beberapa bulan kemudian, taman Keira menjadi tempat kecil yang paling disayangi warga lorong itu.

Anak-anak kadang datang untuk membaca. Orang dewasa membantu merawat tanaman. Pak RT membuat jadwal agar jumlah pengunjung tidak mengganggu kondisi Keira.

Tetapi ada satu benda yang tidak pernah dipindahkan.

Senter besar milik Ruben.

Senter yang dahulu dianggap sebagai alat seorang pencuri.

Ruben menggantungnya di dinding taman tepat di bawah foto Maya.

Suatu malam Bu Nani bertanya mengapa benda itu tetap disimpan.

Ruben memandang senter tersebut sambil tersenyum.

“Karena benda itu mengingatkan saya pada satu hal.”

“Apa?”

“Kadang-kadang kita menyorotkan cahaya kepada seseorang bukan untuk memahami dia, tapi untuk mencari kesalahannya.”

Bu Nani terdiam.

Ruben kemudian melihat rumah-rumah yang berimpitan di sepanjang lorong.

“Padahal kalau kita berani mendekat sedikit saja, mungkin yang kita temukan bukan orang jahat.”

Ia menatap Keira yang sedang tertidur di bangku taman.

“Mungkin kita cuma menemukan seseorang yang sedang berjuang sendirian.”

Sejak malam ketika polisi menyerbu rumah nomor 14 itu, warga Tebet tersebut tidak pernah lagi mendengar suara derak di atas atap dengan rasa takut.

Suara itu tetap ada sesekali.

Namun sekarang mereka tahu.

Itu bukan suara seorang pencuri yang sedang mencari jalan masuk ke rumah orang lain.

Itu adalah suara seorang ayah yang selama ini diam-diam sedang membangun sedikit langit untuk anaknya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang