Namaku Rania. Usiaku dua puluh delapan tahun, dan selama tiga bulan terakhir aku hidup dengan sebuah rahasia yang perlahan menggerogoti keberanianku.
Aku mengidap kanker.
Dan Arman, pria yang sudah menemaniku selama lima tahun, tidak boleh mengetahuinya.
Setidaknya, itulah yang selalu kukatakan kepada diriku sendiri.
Ketika dokter pertama kali memberitahukan diagnosis itu, aku duduk membeku di ruang konsultasi. Suara pendingin ruangan terdengar lebih keras daripada suara dokter di hadapanku.
“Apakah saya bisa sembuh, Dok?”

Dokter menatap hasil pemeriksaan di tangannya.
“Kita akan melakukan yang terbaik. Tapi kamu harus mulai pengobatan secepatnya.”
Aku mengangguk, meski sebenarnya tidak benar benar mendengar kalimat setelahnya.
Di kepalaku hanya ada Arman.
Aku membayangkan rambutku rontok. Tubuhku semakin kurus. Wajahku pucat. Hari hariku dipenuhi rumah sakit, obat, pemeriksaan, dan ketidakpastian.
Lalu aku membayangkan Arman.
Lelaki yang pernah menemaniku semalaman ketika ayahku meninggal. Lelaki yang meminjamkan tabungan terakhirnya ketika aku kehilangan pekerjaan. Lelaki yang memelukku tanpa mengatakan apa apa ketika aku mengalami keguguran.
Justru karena terlalu mencintainya, aku takut kehilangan dia.
Malam setelah diagnosis, Arman datang membawa martabak kesukaanku.
“Kamu kelihatan capek.”
“Banyak kerjaan.”
“Kamu kan lagi nggak ada proyek besar.”
Aku tersentak.
Arman tertawa kecil.
“Kenapa tegang begitu? Aku cuma nanya.”
Aku memaksakan senyum.
“Ada freelance baru.”
Itulah kebohongan pertamaku.
Setelah itu, kebohongan menjadi bagian dari rutinitas.
Setiap jadwal rumah sakit kusebut pertemuan dengan klien.
Bekas infus kututupi dengan jam tangan.
Ketika mual, aku bilang maagku kambuh.
Ketika berat badanku turun, aku mengatakan sedang mengurangi karbohidrat.
Aku bahkan menyimpan obat obatan di dalam kotak sepatu lama di bagian paling atas lemari.
Arman tidak pernah memaksaku bicara.
Namun semakin lama, aku merasa tatapannya berubah.
Suatu malam, aku berdiri di kamar mandi sambil menatap beberapa helai rambut di telapak tanganku.
Aku tahu dokter sudah memperingatkan kemungkinan itu.
Tetapi mengetahui sesuatu akan terjadi dan melihatnya benar benar terjadi adalah dua hal berbeda.
Air mataku jatuh.
Aku buru buru menyalakan keran.
“Ran?”
Suara Arman terdengar dari balik pintu.
“Iya?”
“Kamu nangis?”
“Nggak.”
“Buka pintunya.”
“Aku lagi mandi.”
Hening.
Kemudian dia berkata pelan.
“Kalau suatu hari kamu merasa nggak sanggup menghadapi sesuatu sendirian, bilang sama aku.”
Tanganku sudah menyentuh gagang pintu.
Aku ingin membukanya.
Aku ingin memeluknya dan mengatakan semuanya.
Namun sebuah pikiran buruk muncul.
Bagaimana kalau setelah tahu, dia bertahan hanya karena kasihan?
Aku menarik tanganku.
“Aku baik baik aja.”
Beberapa detik kemudian terdengar langkah Arman menjauh.
Sejak malam itu, hubungan kami berubah.
Arman mulai sering pulang terlambat.
Dia menerima telepon di balkon.
Kadang ponselnya bergetar tengah malam.
Ketika kutanya, dia hanya mengatakan ada urusan kantor.
Sampai suatu malam aku melihat pesan dari seorang perempuan bernama Dinda.
Semua sudah siap, Mas. Besok kita ketemu dokter lagi. Jangan sampai Rania tahu dulu.
Aku seperti kehilangan napas.
Dinda.
Aku mengenalnya.
Dia bekerja di perusahaan yang sama dengan Arman. Cantik, ramah, dan selalu terlihat sempurna.
Aku tidak membaca percakapan mereka lebih jauh.
Aku tidak sanggup.
Dalam pikiranku, semuanya sudah jelas.
Dokter.
Rahasia.
Pertemuan diam diam.
Mungkin Dinda sedang hamil.
Pikiran itu menghantamku begitu keras sampai aku harus duduk.
Aku menatap Arman yang sedang tidur di sebelahku.
Aneh sekali.
Aku menyembunyikan kanker karena takut dia meninggalkanku, tetapi mungkin saat aku sibuk mempertahankan rahasia itu, dia sudah memilih orang lain.
Keesokan paginya aku membuat keputusan.
Aku akan pergi lebih dulu.
Setelah Arman berangkat kerja, aku membuka laptop dan mencari kamar kos dekat rumah sakit. Aku tidak membutuhkan tempat besar. Aku hanya membutuhkan ruang untuk menjalani pengobatan tanpa harus menjelaskan apa pun.
Sore harinya, Arman pulang membawa makanan.
“Kita bicara sebentar.”
Aku langsung tegang.
“Bicara apa?”
Dia menatapku.
“Kamu sebenarnya sakit apa?”
Darahku seperti berhenti mengalir.
“Aku nggak sakit.”
“Rania.”
“Aku cuma capek.”
“Jangan bohong.”
Aku berdiri.
“Kamu juga jangan bohong!”
Arman terkejut.
“Kenapa jadi aku?”
“Dinda siapa?”
Wajahnya berubah.
Saat itulah hatiku benar benar hancur.
“Kamu baca ponselku?”
“Jadi benar ada sesuatu?”
“Ada, tapi bukan seperti yang kamu pikir.”
“Semua orang yang selingkuh ngomong begitu.”
Arman mengusap wajahnya.
“Aku nggak selingkuh.”
“Terus dokter apa yang kalian temui?”
Dia terdiam.
“Jawab!”
“Aku belum bisa.”
Aku tertawa pahit.
“Bagus.”
Aku masuk kamar dan mengambil tas.
Arman mengejarku.
“Mau ke mana?”
“Tempat yang nggak bikin aku merasa bodoh.”
Dia memegang pergelangan tanganku.
“Rania, tunggu.”
Aku menarik tanganku.
“Kalau kamu memang mau sama Dinda, bilang. Jangan menunggu sampai aku makin hancur.”
Wajah Arman tiba tiba terlihat sangat sedih.
“Aku nggak pernah mau meninggalkan kamu.”
“Tapi kamu menyembunyikan sesuatu.”
“Kamu juga.”
Aku membeku.
Kami saling menatap.
Untuk sesaat aku merasa dia sudah tahu.
Namun Arman hanya berkata, “Besok jam sepuluh datang ke rumah sakit tempat kamu biasa pergi.”
Jantungku berdetak keras.
“Apa?”
“Datang saja.”
“Kamu tahu rumah sakit itu?”
Dia tidak menjawab.
Aku semakin panik.
“Arman, kamu tahu apa?”
“Besok.”
Aku pergi malam itu dan menginap di rumah seorang teman.
Aku tidak tidur sama sekali.
Pagi harinya tubuhku terasa lebih lemah dari biasanya, tetapi aku tetap pergi karena kebetulan memang ada jadwal pemeriksaan.
Ketika taksi berhenti di depan rumah sakit, jam menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh.
Aku turun.
Baru beberapa langkah, pandanganku berkunang kunang.
Aku mendengar seseorang memanggil namaku.
Lalu lantai seolah bergerak mendekati wajahku.
Semuanya gelap.
Ketika sadar, aku berada di sebuah kamar rumah sakit.
Ada infus di tanganku.
Aku mencoba bangun.
Seorang perawat langsung menghampiri.
“Jangan dulu, Mbak Rania.”
“Saya kenapa?”
“Tekanan darah turun. Untung langsung ditangani.”
Aku melihat jam.
Hampir pukul sebelas.
“Ponsel saya mana?”
Perawat itu justru tersenyum.
“Pacarnya Mbak sudah datang.”
Dadaku langsung sesak.
“Arman?”
Pintu terbuka.
Arman masuk.
Matanya merah dan wajahnya terlihat seperti seseorang yang tidak tidur semalaman.
Aku memalingkan wajah.
“Pergi.”
Dia tidak pergi.
Sebaliknya, dia duduk di samping ranjang.
“Aku sudah tahu.”
Aku menatapnya.
“Tahu apa?”
“Kanker kamu.”
Aku tidak bisa bergerak.
Arman mengeluarkan sebuah amplop dari tas.
Itu hasil pemeriksaanku.
“Kamu dapat dari mana?”
“Dua setengah bulan lalu kamu meninggalkan ini di mobil.”
Air mataku langsung mengalir.
“Kenapa kamu diam?”
“Karena aku menunggu kamu percaya sama aku.”
“Aku takut.”
“Aku tahu.”
“Nggak. Kamu nggak tahu.”
Suaraku pecah.
“Aku takut kamu lihat aku berubah. Aku takut kamu capek. Aku takut suatu hari kamu sadar bahwa hidup akan lebih gampang kalau bersama perempuan lain.”
Arman menundukkan kepala.
Ketika kembali menatapku, matanya basah.
“Jadi selama ini kamu pikir aku cuma mencintai kamu kalau kamu sehat?”
Aku tidak menjawab.
Dia menggenggam tanganku.
“Ran, waktu kamu keguguran, siapa yang bilang aku gagal jadi pasangan?”
Aku menatapnya.
“Aku.”
“Dan siapa yang marah karena kamu ngomong begitu?”
“Kamu.”
“Kenapa sekarang kamu melakukan hal yang sama?”
Aku menangis.
“Karena kanker beda.”
“Buat aku nggak.”
Aku menggeleng.
“Kamu nggak tahu seberapa buruk nanti.”
“Benar.”
Arman mengangguk.
“Aku nggak tahu. Tapi aku sudah tahu satu hal sejak dua bulan lalu.”
“Apa?”
“Aku tetap mau ada di sana.”
Aku teringat Dinda.
“Terus Dinda?”
Arman mengembuskan napas.
“Dinda kakaknya pasien kanker yang dulu dirawat di sini. Dia yang bantu aku mencari second opinion, komunitas pasien, dan informasi pengobatan.”
Aku terdiam.
“Dokter yang kalian temui?”
“Dokter onkologi lain.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin tahu pilihan yang kita punya.”
Kita.
Satu kata itu membuat pertahananku runtuh.
“Tapi kenapa bilang jangan sampai aku tahu?”
Arman tersenyum tipis.
“Karena ada sesuatu yang aku siapkan.”
Dia berdiri.
“Mau lihat?”
Aku belum sempat menjawab ketika pintu dibuka.
Perawat membantuku duduk di kursi roda.
Arman mendorongku keluar.
Ketika kami memasuki lorong onkologi, aku langsung terdiam.
Dinding yang biasanya putih kini dipenuhi ratusan kertas kecil.
Ada foto.
Ada tulisan tangan.
Ada gambar sederhana.
Di ujung lorong berdiri ibuku, kakakku, teman teman dekatku, beberapa rekan kerja lama, Dinda bersama suaminya, dokter, perawat, bahkan pasien yang pernah duduk bersamaku di ruang tunggu.
Ibuku langsung menangis ketika melihatku.
Aku menoleh kepada Arman.
“Kamu ngapain?”
“Karena kamu terlalu takut menjadi beban, aku ingin menunjukkan berapa banyak orang yang justru ingin membantu membawa beban itu.”
Tanganku menutup mulut.
Arman mengambil satu kertas dari dinding.
Tulisan ibuku.
Pulanglah setiap kali kamu lelah. Rumah tidak pernah menanyakan seberapa kuat kamu hari ini.
Kertas berikutnya dari kakakku.
Kalau rambutmu habis, aku siap botak bareng. Tapi jangan suruh aku bikin alis karena aku nggak bisa.
Aku tertawa di tengah tangis.
Kemudian Arman menunjukkan sebuah papan kecil.
Di sana terdapat daftar jadwal.
Antar Rania ke rumah sakit.
Temani pemeriksaan.
Bawa makanan.
Jaga malam jika diperlukan.
Nama nama sudah tertulis di setiap kolom.
Aku memandang semuanya.
“Kalian serius?”
Dinda tersenyum.
“Serius. Bahkan jadwalnya rebutan.”
Beberapa orang tertawa.
Aku menangis semakin keras.
Arman berjongkok di depanku.
“Aku tahu kamu nggak mau dikasihani.”
Aku mengangguk.
“Ini bukan kasihan.”
Dia menunjuk semua orang di lorong.
“Ini orang orang yang memilih tetap ada.”
Kemudian dia mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Semua orang mendadak diam.
Aku menatapnya tajam.
“Arman, jangan macam macam.”
Dia tertawa.
“Bukan cincin.”
Kotak itu dibuka.
Di dalamnya ada sebuah kunci.
“Kunci apa?”
“Apartemen kecil lima menit dari rumah sakit.”
Aku melongo.
“Aku pindahkan sebagian barang kemarin. Makanya kamu lihat pakaian aku hilang.”
Aku menutup wajah.
Ternyata semua hal yang selama ini kupakai untuk membuktikan bahwa Arman akan meninggalkanku justru adalah bukti bahwa dia sedang berusaha tinggal lebih dekat.
“Kenapa melakukan sebanyak ini?”
Arman menatapku lama.
“Karena lima tahun lalu aku bilang sesuatu.”
Aku langsung tahu.
Kalau kamu jatuh, aku yang mengangkatmu.
Arman tersenyum.
“Tapi ternyata aku salah.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
“Aku nggak selalu cukup kuat untuk mengangkat kamu sendirian.”
Dia melihat orang orang di sekitar kami.
“Makanya aku minta bantuan.”
Bahkan dokter yang berdiri di dekat pintu terlihat mengusap matanya.
Hari itu menjadi pertama kalinya aku berhenti menyembunyikan ketakutanku.
Aku mengatakan kepada ibu bahwa aku takut mati.
Aku mengatakan kepada kakakku bahwa aku takut kehilangan rambut.
Aku mengatakan kepada Arman bahwa ketakutan terbesarku bukan rasa sakit, tetapi ditinggalkan.
Tidak ada yang menjanjikan semuanya akan baik baik saja.
Anehnya, justru itu yang membuatku merasa lebih tenang.
Aku melanjutkan pengobatan.
Hari hari berikutnya tidak selalu indah.
Ada pagi ketika aku tidak sanggup bangun.
Ada malam ketika aku menangis karena tubuhku terasa asing.
Ada hari ketika Arman dan aku bertengkar karena dia terlalu cerewet soal makanan.
Ada juga hari ketika kami tertawa di ruang tunggu hanya karena dia salah memakai penutup sepatu rumah sakit.
Enam bulan kemudian, dokter memanggil kami.
Hasil pemeriksaan menunjukkan respons pengobatanku baik.
Bukan akhir perjalanan.
Belum.
Tetapi untuk pertama kalinya, ada kabar yang membuat kami bisa bernapas sedikit lebih lega.
Saat keluar dari ruang dokter, aku melihat seorang gadis muda duduk sendirian di lorong.
Dia memegang amplop pemeriksaan sambil menangis.
Aku mengenali tatapan itu.
Tatapan yang sama seperti milikku berbulan bulan lalu.
Aku duduk di sebelahnya.
“Baru dapat hasil?”
Dia mengangguk.
“Jangan bilang siapa siapa, Kak.”
Aku terdiam.
“Kenapa?”
“Aku takut mereka sedih.”
Kalimat itu menusukku.
Aku mengambil ponsel dan menunjukkan foto lorong penuh kertas yang dibuat Arman.
“Dulu aku juga berpikir begitu.”
“Terus?”
“Aku menyembunyikannya tiga bulan.”
“Berhasil?”
Aku tersenyum kecil.
“Nggak.”
Dia menatapku.
“Kenapa?”
Aku memandang Arman yang sedang menunggu beberapa meter dari kami.
“Karena ternyata orang yang benar benar mencintai kita bukan cuma ingin hadir saat kita bahagia.”
Aku berdiri.
Sebelum pergi, aku memberikan nomor komunitas pasien yang pernah diberikan Dinda kepadaku.
Malam itu, di apartemen kecil dekat rumah sakit, aku menemukan sebuah kardus yang belum pernah kubuka.
Di dalamnya terdapat semua kertas pesan dari lorong onkologi.
Di bagian paling bawah ada satu amplop dengan tulisan Arman.
Untuk Rania, kalau suatu hari kamu menemukan ini.
Aku membukanya.
Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.
Aku membacanya perlahan.
Rania, kalau kamu membaca surat ini, mungkin kamu akhirnya tahu bahwa aku mengetahui penyakitmu jauh lebih awal daripada yang kamu kira.
Aku sempat marah.
Bukan karena kamu sakit.
Aku marah karena kamu mengira cinta kita begitu rapuh sampai sebuah diagnosis bisa menghancurkannya.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi satu tahun, lima tahun, atau dua puluh tahun lagi.
Aku cuma tahu aku tidak ingin menghabiskan waktu yang kita punya dengan ketakutan terhadap sesuatu yang belum terjadi.
Kalau kamu jatuh, aku akan mencoba mengangkatmu.
Kalau aku tidak kuat, kita panggil orang lain.
Kalau semuanya terasa terlalu berat, kita duduk dulu.
Tapi jangan pernah lagi menghilang sendirian hanya karena kamu takut menjadi beban.
Aku membaca surat itu dua kali.
Kemudian tiga kali.
Arman keluar dari kamar mandi dan melihatku menangis.
“Ketemu juga?”
Aku memukul lengannya dengan kertas itu.
“Kenapa baru sekarang?”
“Karena dulu kamu belum siap membacanya.”
Aku menatapnya.
“Sekarang?”
Dia duduk di sebelahku.
“Sekarang kamu sudah tahu bahwa minta bantuan bukan berarti kalah.”
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
Malam itu aku akhirnya memahami sesuatu.
Selama tiga bulan, aku mengira rahasia terbesar dalam hubungan kami adalah kankerku.
Ternyata bukan.
Rahasia terbesar adalah kenyataan bahwa Arman sudah mengetahuinya dan tetap bangun setiap pagi memilihku seperti biasa.
Penyakit memang bisa mengubah tubuh.
Bisa mengubah rencana.
Bisa membuat masa depan terasa menakutkan.
Tetapi ketakutan sering kali melakukan sesuatu yang lebih kejam.
Ia membuat kita meninggalkan orang lain dalam pikiran kita sebelum mereka benar benar pergi.
Aku pernah menyembunyikan kanker karena takut kehilangan Arman.
Pada akhirnya, aku justru menemukan sesuatu yang jauh lebih penting daripada kepastian bahwa dia tidak akan meninggalkanku.
Aku menemukan keberanian untuk membiarkan diriku dicintai ketika aku sedang tidak kuat, tidak cantik, tidak baik baik saja, dan tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Dan sejak hari itu, setiap kali aku memasuki ruang onkologi, aku tidak lagi mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku harus kuat.
Aku hanya mengatakan satu hal.
Hari ini aku tidak sendirian.
Dan ternyata, untuk terus berjalan, kadang itu sudah lebih dari cukup.
