Tiga jam setelah Baskara mengucapkan perintah itu, lorong rumah sakit masih terasa seperti ruang tanpa waktu.
Hujan belum berhenti. Sesekali kilatan petir memantul di kaca jendela, membuat bayangan Baskara terlihat seperti seseorang yang bahkan tidak ia kenali sendiri.
Bumi tertidur di sofa ruang tunggu VIP dengan tubuh meringkuk di balik selimut. Sebelum terlelap, anak itu berkali-kali menggenggam ujung kemeja Baskara, seolah takut pria itu akan pergi begitu saja.
Baskara tidak melepaskannya.

Pukul dua lewat tujuh belas menit, pintu ruang perawatan terbuka.
Seorang dokter keluar sambil melepas masker.
“Pak Baskara?”
Baskara langsung berdiri.
“Bagaimana ibu saya?”
“Kondisinya sudah stabil. Beliau mengalami kelelahan berat, dehidrasi, dan beberapa luka akibat benturan. Untung Bapak membawanya tepat waktu.”
Baskara mengembuskan napas panjang yang sedari tadi terasa tertahan di dadanya.
“Beliau sadar?”
“Sudah. Tapi masih lemah. Kami sarankan jangan terlalu banyak bertanya.”
Baskara mengangguk cepat.
Ia hendak masuk ketika ponselnya bergetar.
Nama Reno muncul di layar.
Baskara menjauh beberapa langkah sebelum mengangkatnya.
“Sudah ketemu?”
Suara Reno terdengar tegang.
“Sudah, Pak.”
“Siapa dia?”
Ada jeda beberapa detik.
“Namanya Adrian Pratama.”
Baskara mengernyit.
Nama itu tidak berarti apa-apa baginya.
“Dia tinggal di rumah kontrakan sekitar dua kilometer dari tempat Bapak menemukan Nyonya Besar. Kami menemukan dokumen sekolah Bumi di rumah itu.”
“Dari mana dia mendapatkan Bumi?”
“Itu masalahnya, Pak.”
Nada Reno berubah semakin berat.
“Di akta kelahiran Bumi, nama ayahnya tercantum Baskara Adinata.”
Tubuh Baskara membeku.
Koridor rumah sakit mendadak terasa terlalu sempit.
“Apa?”
“Saya sudah periksa dua kali. Nama ibu kandungnya Naya Prameswari. Nama ayah kandungnya Baskara Adinata.”
Jari-jari Baskara mencengkeram ponsel.
“Tanggal lahir?”
Reno menyebutkannya.
Baskara memejamkan mata.
Enam tahun lalu.
Beberapa bulan setelah ia dan Naya berpisah.
Sebelum kecelakaan pesawat yang diberitakan merenggut nyawa perempuan itu.
“Bawa Adrian ke sini,” ujar Baskara.
“Pak, ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Dia mencoba kabur. Tapi sebelum kami menangkapnya, dia sempat membakar beberapa dokumen.”
“Dokumen apa?”
“Kami belum tahu. Sebagian berhasil diselamatkan.”
Baskara menatap ke arah Bumi yang masih tertidur.
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, rasa takut yang sesungguhnya merayap ke dalam dirinya.
Bukan takut kehilangan bisnis.
Bukan takut kehilangan kekuasaan.
Melainkan takut pada kenyataan bahwa selama enam tahun, mungkin ada kehidupan yang seharusnya menjadi bagian dari dirinya, tetapi dirampas tanpa pernah ia ketahui.
Baskara masuk ke ruang perawatan ibunya.
Wanita tua itu tampak begitu rapuh di atas ranjang putih. Selang infus terpasang di tangannya. Ketika melihat Baskara masuk, matanya langsung berkaca-kaca.
“Ibu.”
Baskara duduk di sisi ranjang.
Wanita itu mengangkat tangan gemetar dan menyentuh pipi anaknya.
“Kara…”
Satu panggilan masa kecil itu membuat pertahanan Baskara runtuh.
“Kenapa Ibu pergi? Kenapa selama lima tahun tidak pernah menghubungi aku?”
Ibunya memalingkan wajah.
Baskara menelan emosi.
“Dan Bumi siapa?”
Air mata mengalir dari sudut mata wanita tua itu.
“Anakmu.”
Dua kata.
Hanya dua kata.
Namun dunia Baskara seakan berhenti berputar.
Ia sudah menduganya sejak melihat wajah Bumi yang bersih tadi.
Tetapi mendengar langsung dari ibunya tetap terasa seperti hantaman.
“Kenapa?” suara Baskara nyaris berbisik. “Kenapa aku tidak pernah diberi tahu?”
Ibunya terisak.
“Naya ingin memberitahumu.”
Baskara menatapnya.
“Dia tidak meninggal di kecelakaan pesawat itu, kan?”
Wanita itu menggeleng perlahan.
“Tidak.”
Napas Baskara tercekat.
Ibunya kemudian bercerita.
Enam tahun lalu, setelah hubungannya dengan Baskara berakhir akibat kesalahpahaman besar, Naya mengetahui dirinya hamil.
Ia mencoba menghubungi Baskara berkali-kali.
Namun semua pesan dan suratnya tidak pernah sampai.
Seseorang dari lingkungan keluarga Baskara sengaja memutus semua jalur komunikasi.
Tidak lama kemudian, Naya mengetahui ada ancaman terhadap dirinya.
Malam sebelum keberangkatan pesawat yang kemudian mengalami kecelakaan, ia membatalkan perjalanan tanpa memberi tahu siapa pun.
Namanya tetap tercatat dalam manifes awal, membuat semua orang mengira ia termasuk korban.
“Ibu menemukannya beberapa bulan kemudian,” kata wanita itu lirih. “Naya sudah melahirkan Bumi.”
“Kenapa Ibu menyembunyikannya dariku?”
“Karena Naya ketakutan. Ada seseorang yang terus mengawasinya. Dia bilang kalau kamu tahu keberadaan Bumi, orang itu juga akan tahu.”
“Siapa?”
Ibunya menutup mata.
Sebelum sempat menjawab, suara pintu terbuka terdengar.
Reno masuk.
Wajahnya pucat.
“Pak Baskara, Adrian sudah dibawa.”
Baskara menatap ibunya.
“Istirahatlah. Kali ini aku akan mencari jawabannya sendiri.”
Di ruangan kosong yang biasa digunakan keluarga pasien untuk rapat dengan dokter, Adrian duduk di kursi dengan dua pengawal berdiri di belakangnya.
Pria itu berusia sekitar empat puluh tahun. Wajahnya kusut, matanya merah, tetapi tidak terlihat seperti sosok ayah penyayang yang selama ini dibayangkan Baskara dari cerita Bumi.
Begitu Baskara masuk, Adrian tertawa kecil.
“Jadi akhirnya pangeran datang menjemput anaknya?”
Baskara berhenti di hadapannya.
“Di mana Naya?”
Senyum Adrian lenyap.
“Aku tidak tahu.”
Baskara menatapnya tanpa berkedip.
“Jangan membuatku bertanya dua kali.”
Adrian menelan ludah.
“Aku benar-benar tidak tahu.”
“Lalu bagaimana Bumi bisa hidup bersamamu?”
Adrian terdiam.
Reno meletakkan beberapa lembar dokumen yang berhasil diselamatkan dari api di atas meja.
Ada kuitansi.
Salinan rekening.
Beberapa surat.
Dan sebuah foto lama.
Dalam foto itu, Naya sedang menggendong bayi.
Di sampingnya berdiri ibu Baskara.
Adrian akhirnya bicara.
“Lima tahun lalu, seseorang membayarku untuk membawa Naya dan anaknya keluar Jakarta.”
“Siapa?”
“Aku cuma dapat perintah lewat orang lain.”
“Apa tugasmu?”
“Awalnya menjaga mereka.”
Adrian menunduk.
“Tapi uangnya terus dikurangi. Lalu orang yang membayar kami menghilang. Naya sakit. Dia menitipkan Bumi padaku sementara dia pergi mencari bantuan.”
“Kapan?”
“Empat tahun lalu.”
Baskara membeku.
“Dan dia tidak pernah kembali?”
Adrian menggeleng.
“Lalu ibuku?”
“Nyonya datang sekitar setahun setelah Naya menghilang. Dia menemukan kami. Sejak itu dia tinggal bersama Bumi.”
“Kenapa Ibu sampai dibuang ke tempat sampah?”
Adrian menatap lantai.
“Saya kehilangan pekerjaan. Banyak utang.”
“Itu bukan jawaban.”
“Saya marah.”
Untuk pertama kalinya, suara Adrian terdengar takut.
“Saya cuma…”
“Cukup.”
Baskara tidak meninggikan suara.
Namun satu kata itu membuat seluruh ruangan senyap.
“Aku tidak tertarik mendengar alasan orang dewasa yang melampiaskan kegagalannya kepada anak kecil dan orang tua.”
Adrian menggigit bibir.
Baskara hendak pergi ketika Reno tiba-tiba memanggilnya.
“Pak.”
Reno menunjukkan sebuah amplop yang tepinya terbakar.
“Ini ditemukan di bawah lemari.”
Di bagian depan amplop tertulis satu nama.
Baskara.
Tulisan tangan itu langsung ia kenali.
Tulisan Naya.
Tangannya gemetar ketika membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat surat yang sebagian ujungnya sudah hangus.
Kara,
Kalau surat ini akhirnya sampai kepadamu, mungkin aku gagal pulang sendiri.
Bumi adalah anakmu.
Aku tidak pernah berniat mengambilnya darimu.
Aku hanya ingin menjaganya sampai aku tahu siapa yang berusaha menyingkirkan kami.
Orang itu bukan musuh bisnismu.
Dia jauh lebih dekat.
Baskara membaca cepat sampai satu kalimat membuat wajahnya kehilangan warna.
Orang yang memblokir semua pesan dariku, menghapus rekaman telepon, dan memaksaku menghilang adalah orang yang selama ini kau percaya seperti keluarga sendiri.
Di bawahnya ada satu nama.
Reno Mahendra.
Baskara mengangkat kepala perlahan.
Reno berdiri hanya dua meter darinya.
Wajah asistennya berubah pucat.
“Pak, saya bisa jelaskan.”
Baskara tidak berkata apa-apa.
Reno mundur selangkah.
“Itu bukan seperti yang Bapak pikirkan.”
“Keluar,” ujar Baskara kepada kedua pengawalnya.
Mereka ragu.
“Pak?”
“Keluar.”
Pintu tertutup.
Kini tinggal Baskara, Reno, dan Adrian.
Reno menarik napas panjang.
“Saya tidak pernah ingin menyakiti Bumi.”
“Jadi benar?”
Reno menunduk.
“Ayah saya.”
Baskara mengernyit.
“Apa?”
“Ayah saya yang memerintahkan semuanya.”
Reno akhirnya mengaku bahwa ayahnya dahulu adalah direktur keuangan perusahaan keluarga Baskara.
Enam tahun lalu, pria itu menggelapkan dana dalam jumlah besar.
Naya tanpa sengaja mengetahuinya ketika membantu audit sebuah yayasan milik keluarga Baskara.
Jika Naya berhasil menemui Baskara, seluruh kejahatan itu akan terbongkar.
Karena itulah komunikasi mereka diputus.
Naya diteror hingga memilih menghilang demi melindungi bayi yang dikandungnya.
“Saya baru tahu semuanya dua tahun lalu,” ujar Reno. “Ayah saya sudah meninggal. Saya mencoba mencari Naya dan Bumi diam-diam.”
“Kenapa tidak memberitahuku?”
“Karena saya malu.”
Baskara tertawa hambar.
“Malu?”
“Saya takut Bapak menganggap saya sama seperti ayah saya.”
“Dan karena ketakutanmu, anakku hidup bertahun-tahun bersama pria seperti dia.”
Reno menunduk semakin dalam.
Tidak ada pembelaan.
Baskara menatap surat Naya kembali.
Ada tulisan kecil di bagian bawah.
Jika suatu hari kau menemukan Bumi, jangan ajarkan dia membenci siapa pun karena apa yang terjadi kepada kita. Aku ingin dia tumbuh menjadi lelaki baik, bukan lelaki yang hidup untuk membalas dendam.
Baskara memejamkan mata.
Amarah yang membara di dadanya mendadak beradu dengan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Rasa kehilangan.
Ia menghabiskan bertahun-tahun membenci Naya karena mengira perempuan itu pergi meninggalkannya.
Sementara Naya menghabiskan hidupnya melindungi anak mereka.
Pintu tiba-tiba terbuka sedikit.
Bumi berdiri di sana.
Entah sejak kapan anak itu terbangun.
“Om…”
Baskara segera berjongkok.
Bumi menatap semua orang dengan ketakutan.
“Nenek nyari Om.”
Baskara mengulurkan tangan.
Bumi sempat ragu, lalu berjalan mendekat.
Ketika tubuh kecil itu masuk ke pelukannya, Baskara merasakan sesuatu yang tidak pernah diberikan oleh seluruh kekayaan yang ia miliki.
Alasan untuk pulang.
Keesokan paginya, ibu Baskara akhirnya menceritakan bagian terakhir dari rahasia itu.
Naya masih hidup.
Empat tahun lalu, ia tidak menghilang.
Ia ditangkap polisi di kota lain akibat identitas palsu yang digunakan selama pelarian dan kemudian menjalani proses hukum panjang karena terlibat tanpa sengaja dalam jaringan pemalsuan dokumen yang membantunya bersembunyi.
Ibunya tidak pernah memberi tahu Baskara karena Naya sendiri meminta demikian.
“Naya bilang dia tidak mau kembali sebelum namanya benar-benar bersih,” ujar ibunya.
“Di mana dia sekarang?”
Wanita tua itu tersenyum lemah.
“Sudah bebas tiga hari lalu.”
Jantung Baskara berdegup keras.
“Di mana?”
Ibunya menoleh ke arah pintu.
Baskara mengikuti pandangannya.
Seorang perempuan berdiri di sana.
Tubuhnya jauh lebih kurus dari yang ia ingat. Rambutnya dipotong sebahu. Wajahnya terlihat lelah.
Namun mata itu tetap sama.
Mata yang selama lima tahun menghantuinya setiap malam.
“Naya…”
Perempuan itu tidak menjawab.
Tatapannya justru mencari seseorang.
Ketika melihat Bumi berdiri di dekat jendela sambil memegang kotak susu cokelat, kedua tangannya langsung menutup mulut.
“Bumi.”
Kotak susu itu jatuh.
Bumi mematung.
Beberapa detik kemudian, anak itu berlari.
“Ibu!”
Naya berlutut dan menangkap tubuh anaknya dalam pelukan.
Tangis yang selama bertahun-tahun tertahan pecah begitu saja.
Baskara berdiri beberapa langkah dari mereka.
Ia tidak mendekat.
Ia hanya menyaksikan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang selalu merasa mampu membeli apa pun akhirnya memahami bahwa waktu adalah satu-satunya kekayaan yang tidak pernah bisa dikembalikan.
Naya perlahan menatapnya.
“Kara.”
Baskara mengangguk.
Matanya memerah.
“Aku minta maaf.”
Naya menggeleng.
“Kita sama-sama kehilangan terlalu banyak waktu.”
Bumi menatap keduanya bergantian.
Lalu dengan kepolosannya, ia meraih tangan Baskara dan tangan Naya.
Ia menyatukan keduanya.
“Kalau Om Baskara ternyata Ayah Bumi…”
Bumi mendongak.
“… berarti sekarang Bumi boleh punya Ibu dan Ayah sekaligus?”
Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang langsung menjawab.
Baskara menunduk agar sejajar dengannya.
“Boleh.”
Suaranya bergetar.
“Kalau Bumi masih mau menerima Ayah yang datang terlambat.”
Bumi memeluk lehernya.
“Yang penting datang.”
Baskara memejamkan mata.
Di luar jendela rumah sakit, hujan malam telah berhenti.
Matahari pagi mulai menyelinap di antara gedung-gedung Jakarta.
Baskara datang ke gang gelap itu untuk menemukan ibunya.
Namun di antara tong sampah, hujan, dan seorang anak kecil berkaki telanjang, ia ternyata menemukan sesuatu yang jauh lebih besar.
Ia menemukan keluarganya kembali.
Dan untuk pertama kalinya, Baskara sadar bahwa rumah bukanlah gedung besar, nama keluarga, atau kekayaan yang diwariskan.
Rumah adalah orang-orang yang tetap kita cari, bahkan ketika dunia sudah membuat kita percaya bahwa mereka telah hilang.
