“Mau ke mana, Mas? Kok sudah rapi?” tanyaku sambil menggosok loyang kue yang sudah lama berdebu.

Malam itu aku pulang ke rumah bukan sebagai istri yang patah hati, melainkan sebagai seseorang yang akhirnya sadar bahwa dirinya sedang perlahan-lahan dihapus dari keluarganya sendiri.

Lampu ruang tamu masih menyala. Piring makan siang belum sempat kubereskan. Di meja kecil dekat televisi tergeletak foto kami bertiga saat Alina baru berusia empat tahun. Waktu itu Mas Arya belum punya jabatan, belum punya mobil dinas, bahkan untuk membeli susu Alina kami sering menghitung sisa uang receh di dalam kaleng biskuit.

Aku memandangi foto itu cukup lama.

Lelaki yang berdiri di sampingku dalam foto tersebut tersenyum lebar sambil merangkul bahuku. Wajahnya kurus, kemejanya murah, tetapi tatapannya hangat.

Entah sejak kapan lelaki itu menghilang.

Aku masuk ke kamar dan mengambil sebuah koper kecil dari atas lemari.

Bukan untuk pergi malam itu.

Belum.

Aku hanya mengeluarkan semua dokumen penting milikku, akta kelahiran Alina, buku nikah, sertifikat rumah, buku tabungan, serta kuitansi pembayaran cicilan rumah selama bertahun-tahun.

Saat membuka map biru berisi dokumen rumah, aku terdiam.

Nama pemilik rumah itu adalah namaku.

Arena Prameswari.

Aku hampir lupa.

Delapan tahun lalu, rumah sederhana ini kubeli dari hasil tabunganku menjual kue, ditambah uang warisan kecil dari almarhum ayah. Mas Arya hanya membantu beberapa cicilan pada tahun-tahun terakhir.

Selama ini ia selalu berkata kepada orang-orang bahwa rumah ini adalah hasil kerja kerasnya.

Aku membiarkannya.

Dulu aku berpikir, untuk apa mempermasalahkan milik siapa? Kami suami istri.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku merasa bersyukur ayah bersikeras menuliskan rumah itu atas namaku.

Suara motor terdengar hampir pukul sebelas.

Aku buru-buru menyimpan dokumen tersebut.

Pintu depan terbuka.

Alina masuk lebih dulu membawa dua kantong belanja.

“Bunda belum tidur?”

Aku menatap putriku. Gaun kuningnya masih sama, tetapi kini di rambutnya terpasang jepit berbentuk kupu-kupu yang belum pernah kulihat.

“Belum.”

Mas Arya masuk beberapa detik kemudian.

“Kamu jadi ke pasar?” tanyanya seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku menatap wajahnya.

Aku kagum karena ia bisa berbohong setenang itu.

“Nggak jadi.”

“Kenapa?”

“Capek.”

Ia mengangguk singkat, lalu meletakkan sebuah kotak di meja.

“Nih, oleh-oleh. Tadi sekalian beli.”

Aku tersenyum tipis.

“Terima kasih.”

Alina tiba-tiba menyentuh jepit rambutnya.

“Bunda, bagus nggak?”

“Bagus. Siapa yang kasih?”

Wajah Alina langsung berubah.

Ia melirik ayahnya.

Mas Arya menjawab cepat, “Beli sendiri tadi.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Begitu.”

Malam itu aku tidak bertanya tentang wanita tersebut.

Aku tidak menangis.

Aku bahkan membuatkan Mas Arya teh seperti biasa.

Sikapku rupanya membuatnya semakin yakin bahwa aku tidak tahu apa-apa.

Tiga hari kemudian, aku menemukan jawaban yang lebih menyakitkan daripada perselingkuhan biasa.

Ponsel Mas Arya tertinggal di kamar mandi ketika sebuah pesan masuk.

Nama pengirimnya tertulis Bu Keisha.

Aku tidak berniat membukanya sampai layar menampilkan sebagian isi pesan.

Aku masih memikirkan ucapan Alina. Apa benar Arena sudah meninggal lima tahun lalu?

Tubuhku mendadak dingin.

Tanganku bergerak tanpa sadar.

Aku membuka percakapan mereka.

Pesan-pesan itu membuat kakiku kehilangan tenaga.

Mas Arya tidak pernah mengatakan bahwa ia sudah menikah.

Kepada Keisha, ia mengaku sebagai duda.

Ia mengatakan istrinya meninggal lima tahun lalu karena sakit.

Lebih kejam lagi, ia menggunakan kisah hidupku sebagai cerita tentang perjuangannya menjadi ayah tunggal.

Ia menceritakan bagaimana dirinya membesarkan Alina sendirian sambil bekerja dari bawah hingga menjadi manajer.

Aku membaca pesan demi pesan dengan napas memburu.

Keisha rupanya adalah direktur di perusahaan tempat Mas Arya bekerja sekaligus anak pemilik grup bisnis tersebut.

Hubungan mereka sudah berlangsung hampir enam bulan.

Namun dari percakapan itu, Keisha berkali-kali menolak ketika Mas Arya mengajaknya membicarakan pernikahan.

Aku terus menggulir layar hingga menemukan foto yang membuatku terpaku.

Foto bunga origami Alina.

Di bawahnya terdapat pesan Mas Arya.

Alina sudah sayang sekali sama kamu. Dia bilang ingin punya Mama seperti kamu.

Balasan Keisha justru terasa aneh.

Arya, kadang aku merasa kamu terlalu memaksa Alina mendekat denganku. Aku tidak mau anakmu merasa harus menggantikan ibunya.

Mas Arya membalas.

Dia bahkan sudah hampir lupa wajah ibunya.

Air mataku akhirnya jatuh.

Bukan karena Keisha.

Bukan karena Mas Arya.

Kalimat itulah yang menghancurkanku.

Anak yang setiap pagi kusisir rambutnya.

Anak yang saat demam tidur di dadaku.

Anak yang biaya sekolahnya sebagian besar berasal dari loyang-loyang kue yang kubuat hingga tengah malam.

Ayahnya mengatakan bahwa ia hampir lupa wajahku.

Aku memotret seluruh percakapan dengan ponselku sendiri.

Kemudian aku meletakkan ponsel Mas Arya tepat seperti semula.

Hari-hari berikutnya aku berperilaku normal.

Aku memasak.

Mencuci baju.

Membuat kue.

Bahkan ketika Alina mulai semakin sering menyebut Tante Keisha, aku hanya mendengarkan.

Sampai suatu sore, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.

Mobil yang sama.

Keisha turun sendirian.

Aku sedang menata brownies ketika ia mengetuk pintu.

Kami saling menatap cukup lama.

“Bu Arena?”

Aku mengangguk.

“Silakan masuk.”

Ia terlihat canggung.

Berbeda sekali dari wanita anggun yang kulihat beberapa hari lalu.

Begitu duduk, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya membuatku terkejut.

“Saya minta maaf.”

Aku diam.

Keisha menunduk.

“Saya baru memastikan semuanya pagi ini. Saya memang sudah curiga sejak melihat Ibu di dekat supermarket.”

“Kenapa waktu itu Anda diam?”

“Karena saya tidak tahu siapa Ibu. Arya mengatakan wanita yang memperhatikan kami adalah mantan pengasuh Alina yang terlalu terikat secara emosional dengan anak itu.”

Aku tertawa kecil.

Entah kenapa, kebohongan itu sudah tidak mampu membuatku menangis lagi.

“Pengasuh?”

Keisha mengangguk dengan wajah pucat.

“Kemarin saya meminta bagian HR memeriksa ulang data keluarga Arya. Di sana masih tercatat status menikah. Saya lalu mencari alamat ini.”

Ia mengeluarkan sebuah amplop.

“Dan saya menemukan ini.”

Di dalamnya terdapat salinan sejumlah dokumen.

Salah satunya pengajuan pinjaman perusahaan senilai ratusan juta rupiah.

Mas Arya mencantumkan rumah kami sebagai aset yang akan digunakan untuk jaminan tambahan.

Tanganku langsung mengepal.

“Dia tidak punya hak atas rumah ini.”

“Saya tahu. Sertifikatnya atas nama Ibu.”

Keisha menatapku serius.

“Itulah sebabnya saya datang sebelum prosesnya berjalan.”

Aku akhirnya memahami semuanya.

Ini bukan hanya tentang wanita lain.

Mas Arya sedang membangun kehidupan baru dengan menggunakan semua yang selama ini kubangun bersamanya.

Jabatan baru.

Hubungan dengan anak pemilik perusahaan.

Rumah yang ingin dijadikan modal.

Bahkan anak kami digunakan untuk membuat cerita duda penyayangnya terlihat sempurna.

“Kenapa Anda membantu saya?” tanyaku.

Keisha tersenyum pahit.

“Karena ibu saya pernah berada di posisi Ibu.”

Ia berdiri.

“Saya tidak ingin menjadi perempuan yang mengulangi luka yang sama kepada perempuan lain.”

Sebelum pergi, ia mengatakan satu hal.

“Dua minggu lagi perusahaan mengadakan makan malam tahunan. Arya berencana memperkenalkan saya secara resmi kepada beberapa kolega. Saya rasa dia berharap ayah saya juga akan menganggap hubungan kami serius.”

Aku menatapnya.

Keisha melanjutkan pelan.

“Saya akan datang. Tetapi bukan sebagai orang yang dia harapkan.”

Dua minggu kemudian, Mas Arya berdiri di depan lemari mengenakan setelan terbaiknya.

“Mas ada acara kantor malam ini.”

Aku sedang mengemas pesanan nastar.

“Oh.”

Ia menatapku melalui cermin.

“Arena.”

“Hm?”

“Kamu nggak penasaran sekarang Mas sudah jadi apa di kantor?”

Aku tersenyum.

“Manajer, kan?”

Ada kebanggaan di wajahnya.

“Bukan cuma itu. Ada kemungkinan Mas segera naik lagi.”

“Selamat.”

Ia terlihat sedikit kecewa karena aku tidak menunjukkan kekaguman.

Sebelum pergi, ia berkata, “Kalau nanti hidup kita berubah, kamu harus belajar menyesuaikan diri. Jangan terus-terusan jualan kue begini.”

Aku mengangguk.

“Tenang saja, Mas. Setelah malam ini memang banyak yang akan berubah.”

Ia tidak memahami maksudku.

Hotel tempat acara berlangsung sangat mewah.

Aku datang sekitar satu jam setelah Mas Arya berangkat.

Bukan dengan daster.

Bukan dengan celemek penuh tepung.

Aku mengenakan setelan sederhana berwarna krem yang kubeli dari uang hasil penjualan kue. Rambutku disanggul rapi.

Aku tidak datang untuk merebut siapa pun.

Aku datang untuk mengambil kembali namaku.

Keisha sudah menungguku di lobi.

Ketika kami masuk ke ballroom bersama, wajah Mas Arya langsung berubah.

Tangannya yang sedang memegang gelas berhenti di udara.

“Arena?”

Beberapa orang menoleh.

Keisha berjalan mendekati ayahnya, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun.

“Papa, ada seseorang yang harus Papa kenal.”

Mas Arya buru-buru menghampiri kami.

“Bu Keisha, ini salah paham.”

Aku mengeluarkan buku nikah dari tas.

“Apa yang salah paham, Mas?”

Wajahnya memucat.

Suasana ballroom mendadak sunyi.

Aku menatap orang-orang di sekelilingnya.

“Nama saya Arena Prameswari. Saya istri sah Arya. Masih hidup. Belum pernah bercerai. Dan tidak pernah meninggalkan anak kami.”

Mas Arya menarik lenganku.

“Jangan bikin keributan!”

Aku melepaskan tangannya.

“Aku tidak membuat keributan. Aku hanya menghidupkan kembali orang yang sudah kamu bunuh dalam ceritamu.”

Keisha menyerahkan berkas kepada ayahnya.

“Selain itu, Papa perlu melihat pengajuan pinjaman Arya. Ada dugaan penggunaan aset yang bukan miliknya.”

Mas Arya mendadak kehilangan seluruh keberaniannya.

“Pak, saya bisa jelaskan.”

Ayah Keisha hanya menatapnya dingin.

“Besok jelaskan kepada audit internal.”

Malam itu Mas Arya pulang ke rumah hampir pukul dua pagi.

Ia marah.

Ia membanting pintu.

“Kamu puas sekarang?! Karier Mas hancur!”

Aku sedang duduk di meja makan.

Di depanku sudah ada beberapa lembar kertas.

“Kariermu tidak dihancurkan olehku.”

Aku mendorong kertas itu ke arahnya.

“Kebohonganmu sendiri yang menghancurkannya.”

Ia membaca bagian atas dokumen tersebut.

Gugatan perceraian.

Mas Arya langsung terdiam.

“Arena, jangan bodoh. Kita punya Alina.”

Aku menatapnya.

“Baru sekarang kamu ingat kita punya anak?”

Pagi berikutnya Alina menangis ketika mengetahui ayahnya akan pergi dari rumah.

Namun yang tidak kuduga, ia justru berlari memelukku.

“Bunda jangan pergi.”

Aku membeku.

“Bunda nggak pergi.”

Alina menangis semakin keras.

“Ayah bilang kalau Bunda nanti sibuk jualan, Bunda bakal pergi dan ninggalin Alina. Ayah bilang Tante Keisha bisa jadi Mama baru supaya Alina nggak sendirian.”

Saat itulah kemarahanku kepada putriku runtuh.

Alina bukan anak yang berhenti mencintaiku.

Ia hanya anak sembilan tahun yang berkali-kali diberi cerita sampai akhirnya percaya bahwa ibunya sendiri akan meninggalkannya.

Aku memeluknya erat.

“Bunda mungkin capek. Bunda mungkin bau tepung. Tapi Bunda tidak pernah malu jadi ibumu.”

Alina menangis di dadaku.

“Maaf, Bunda.”

Beberapa bulan kemudian, perceraian kami selesai.

Mas Arya kehilangan jabatan manajerialnya setelah audit menemukan sejumlah pelanggaran lain. Ia tetap memiliki hak bertemu Alina, tetapi kehidupan yang pernah ia banggakan berubah drastis.

Aku tidak merayakan kejatuhannya.

Aku terlalu sibuk membangun hidupku sendiri.

Pesanan kue yang dulu dianggap memalukan justru berkembang. Keisha memperkenalkanku kepada pengelola beberapa kafe milik grup keluarganya, tetapi aku menolak bantuan uang.

“Aku mau kerja sama kalau produknya memang layak,” kataku.

Keisha tersenyum.

“Itulah alasan saya menawarkannya.”

Setahun kemudian, dapur kecil di rumah berubah menjadi usaha dengan delapan pegawai.

Pada hari pembukaan toko pertamaku, Alina berdiri di dekat pintu mengenakan celemek kecil bertuliskan Arena Bakery.

Seorang teman sekolahnya datang bersama ibunya.

“Alina, ini toko mamamu?”

Aku sempat menahan napas.

Dulu pertanyaan semacam itu mungkin akan membuat Alina malu.

Namun putriku justru mengangkat dagunya dengan bangga.

“Iya. Mama aku yang punya.”

Ia berlari menghampiriku, lalu memeluk pinggangku.

“Mama aku bikin semuanya dari nol.”

Aku menatap wajahnya.

Tidak ada gaun mahal.

Tidak ada mobil mewah.

Tidak ada jabatan besar.

Hanya aroma mentega, tepung, dan kue yang baru keluar dari oven.

Hal-hal yang dulu dianggap memalukan.

Aku tersenyum sambil mencium keningnya.

Pada akhirnya, ternyata aku memang benar.

Aku ingin melihat siapa yang paling tidak siap kehilanganku.

Namun aku keliru tentang satu hal.

Orang itu bukan Mas Arya.

Bukan Alina.

Orang yang paling tidak siap kehilanganku adalah diriku sendiri.

Dan ketika akhirnya aku memilih menyelamatkan diriku, aku justru menemukan kembali anakku, harga diriku, dan kehidupan yang selama bertahun-tahun hampir kubiarkan hilang demi mempertahankan seseorang yang bahkan sudah menghapus namaku dari ceritanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang