IBU SEORANG ART MENGGUNAKAN SUNTIKAN DARURAT TERAKHIRNYA UNTUK MENYELAMATKAN SEORANG KONGLOMERAT, TAPI SEGALANYA BERUBAH SAAT PUTRINYA JUSTRU DITUDUH HENDAK MEMBUNUH SANG MILIARDER!

Surti tidak tidur malam itu.

Setelah Tari dibawa polisi untuk dimintai keterangan, rumah keluarga Hartono terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Lampu-lampu di lorong tetap menyala, para pekerja berbisik dari kejauhan, dan setiap suara langkah membuat Surti menoleh cepat.

Ia masih memikirkan tatapan Bambang.

Jari di depan bibir.

Diam.

Bukan sekadar ancaman.

Itu adalah pesan bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya, Tari, atau bahkan Bambang sendiri.

Keesokan paginya, Surya Hartono sadar di ruang perawatan intensif sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan.

Dokter mengatakan kondisinya stabil, tetapi ia masih lemah.

Orang pertama yang diminta Surya untuk datang bukan Hendra.

Bukan pengacara keluarga.

Bukan Bambang.

Melainkan Surti.

Ketika Surti masuk, Surya sedang duduk setengah tegak di ranjang dengan selang infus di tangan.

Wajahnya masih pucat.

“Kamu yang menyelamatkan saya?”

Surti mengangguk pelan.

“Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”

Surya memandangnya cukup lama.

“Dan sekarang putrimu dituduh mencoba membunuh saya.”

Surti menahan napas.

“Saya melihat siapa yang memasukkan bubuk itu ke gelas.”

“Bambang?”

Surti terkejut.

“Anda tahu?”

Surya memejamkan mata sesaat.

“Saya sudah mencurigai sesuatu sejak beberapa minggu terakhir.”

“Kalau begitu kenapa Anda tetap minum?”

“Karena saya tidak menyangka mereka akan bergerak secepat itu.”

Surti menatapnya.

“Mereka?”

Surya membuka mata.

“Bambang bukan orang yang bisa merencanakan ini sendirian.”

Ruangan mendadak terasa dingin.

Surya kemudian meminta Surti menutup pintu.

“Ada alasan saya menolak pinjaman Tari beberapa hari lalu.”

Surti menegang.

“Jadi memang benar Tari pernah meminta pinjaman?”

“Ya.”

“Untuk apa?”

“Katanya untuk membeli alat suntik darurat baru untuk Anda dan membayar biaya kontrol.”

Surti menunduk.

Tari tidak pernah menceritakan itu kepadanya.

“Saya tidak menolak karena tidak mau membantu,” lanjut Surya.

“Saya ingin mentransfer langsung ke rumah sakit. Tapi Tari bilang tidak perlu.”

“Kenapa?”

“Karena dia malu.”

Surti merasa dadanya sesak.

Surya menatapnya.

“Bambang mendengar percakapan kami.”

Jadi itulah sebabnya ia tahu soal pertengkaran kecil tersebut.

Bahan yang sempurna untuk membangun motif palsu.

Surti segera menceritakan semua yang ia lihat sebelum Surya jatuh.

Mulai dari amplop putih.

Bubuk.

Minuman.

Sampai ancaman Bambang.

Surya diam cukup lama.

Lalu berkata, “Ada satu hal yang tidak masuk akal.”

“Apa?”

“Kalau mereka benar-benar ingin saya mati, kenapa menggunakan zat pemicu alergi?”

Surti mengerutkan kening.

“Karena mereka tahu alergi Anda?”

“Justru itu. Kondisi saya hanya diketahui sangat sedikit orang.”

“Siapa saja?”

“Dokter pribadi saya, almarhum istri saya dulu, Bambang, dan keluarga inti.”

Surti langsung memahami maksudnya.

“Berarti ada orang dekat Anda.”

Surya mengangguk.

“Kemungkinan besar.”

Ia kemudian mengambil ponselnya dan memperlihatkan satu dokumen.

Itu adalah draf perubahan kepemilikan saham Hartono Medika Group.

“Hari ketika saya diserang adalah hari terakhir sebelum saya menandatangani keputusan besar.”

Surti membaca sekilas.

Surya berencana memindahkan sebagian besar saham pengendali ke sebuah yayasan kesehatan.

Jika itu dilakukan, tidak seorang pun anggota keluarga bisa menjual aset utama perusahaan secara sepihak.

“Siapa yang paling dirugikan?”

Surti bertanya.

Surya menatapnya.

“Hendra.”

Sepupunya.

Pria yang namanya disebut Bambang saat membawa minuman.

Hendra selama ini mengelola jaringan rumah sakit di Surabaya dan Makassar.

Ia dikenal ambisius.

Dan sudah beberapa kali mendorong agar keluarga menjual sebagian saham kepada investor asing.

Surya selalu menolak.

“Kalau Anda meninggal sebelum dokumen itu ditandatangani?”

“Hendra menjadi kandidat terkuat untuk mengambil alih suara keluarga.”

Surti terdiam.

Tiba-tiba semuanya terlihat lebih jelas.

Namun satu masalah masih tersisa.

Tari.

Semua bukti digital masih mengarah kepadanya.

Surya memanggil kepala keamanan siber perusahaan, Dimas.

Dimas datang satu jam kemudian dengan laptop.

“Pak, akun Mbak Tari memang dipakai untuk menghapus rekaman,” katanya.

Surti langsung memotong.

“Tapi bukan Tari yang melakukannya.”

“Saya belum bilang itu dia.”

Dimas membuka log aktivitas.

“Akun itu masuk pukul 08.11 dari komputer kerja di ruang staf.”

“Komputer Tari?”

“Bukan.”

Dimas memperbesar data.

“Dari komputer di ruang administrasi kepala pelayan.”

Bambang.

Surti menggenggam ujung kursi.

“Jadi kita punya bukti?”

“Belum cukup. Karena siapa pun bisa memakai komputer itu.”

Surya berkata dingin, “Cari sidik perangkat, kamera lain, apa pun.”

Dimas mengangguk.

Lalu berhenti.

“Sebenarnya ada satu hal aneh.”

Ia membuka file baru.

“Rekaman CCTV koridor memang dihapus. Tapi sistem rumah punya backup otomatis ke server eksternal setiap enam jam.”

Surti menatapnya.

“Berarti masih ada salinannya?”

“Kalau server tidak disentuh.”

Dimas tersenyum tipis.

“Dan orang yang menghapus rekaman sepertinya tidak tahu soal backup kedua.”

Dua jam kemudian, mereka melihat rekaman itu.

Bambang memang muncul membawa nampan.

Namun yang paling mengejutkan justru terjadi tujuh menit sebelumnya.

Seorang pria mengenakan topi dan masker memasuki ruang pantry kecil.

Ia membuka sebuah laci.

Mengambil amplop.

Lalu menyerahkannya kepada Bambang.

Wajahnya nyaris tidak terlihat.

Namun ada satu hal yang sangat jelas.

Jam tangan di pergelangan tangannya.

Surya langsung membeku.

Surti menoleh.

“Anda mengenal jam itu?”

Surya tidak menjawab.

Ia memundurkan rekaman.

Memperbesar.

Jam tangan dengan tali hitam dan bezel perak.

Edisi terbatas.

Hanya dibuat seratus buah.

Surya pernah memberikan satu kepada seseorang saat ulang tahun perusahaan lima tahun lalu.

“Hendra,” katanya.

Surti menarik napas tajam.

Tetapi Surya menggeleng.

“Tidak.”

“Apa?”

“Saya memang memberi Hendra jam serupa.”

Ia memandang layar.

“Tapi jam yang ini bukan miliknya.”

“Bagaimana Anda tahu?”

Surya menunjuk bagian samping.

“Ada goresan kecil di dekat angka tiga.”

Tangannya mulai gemetar.

“Saya tahu karena saya sendiri yang membuat goresan itu.”

Surti terdiam.

“Jam itu milik siapa?”

Surya menatapnya.

“Putra saya.”

Nama itu muncul seperti petir.

Leon Hartono.

Putra tunggal Surya.

Usianya tiga puluh empat tahun.

Selama enam tahun terakhir, Leon tinggal di Singapura dan jarang pulang.

Hubungannya dengan Surya dingin sejak kematian Maya.

Leon selalu menyalahkan ayahnya karena terlalu sibuk bekerja saat ibunya sakit.

Tapi sepengetahuan semua orang, Leon masih berada di luar negeri.

“Mustahil,” gumam Surya.

Dimas segera memeriksa data penerbangan yang tersedia secara legal melalui laporan perjalanan perusahaan.

Leon memang terdaftar kembali ke Jakarta tiga hari sebelum kejadian.

Namun ia tidak pernah memberi tahu ayahnya.

Surya memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, wajah pria kaya itu terlihat benar-benar tua.

“Hubungi Leon.”

Telepon tidak aktif.

Malamnya, kabar lain datang.

Tari dibebaskan sementara karena belum ada bukti cukup untuk menahannya.

Begitu keluar, Tari langsung memeluk ibunya.

“Ibu, aku takut sekali.”

Surti mencium keningnya.

“Kamu tidak sendirian.”

Namun Surti belum menceritakan tentang Leon.

Ia tidak mau putrinya semakin takut.

Keesokan paginya, Surya kembali ke rumah dengan pengawalan.

Bambang sudah tidak ada.

Kamar stafnya kosong.

Sebagian pakaiannya hilang.

Ponselnya ditemukan di dalam laci.

Surya memerintahkan keamanan mencari semua kemungkinan akses keluar.

Kemudian mereka menemukan sesuatu di garasi belakang.

Sebuah mobil lama yang biasanya digunakan staf tampak bergeser dari posisi biasa.

Di bawah kursi pengemudi ada amplop berisi uang tunai.

Dua puluh juta rupiah.

Dan secarik kertas.

Pergi malam ini.

Jangan hubungi siapa pun.

Tidak ada nama.

Tapi pesan itu membuktikan satu hal.

Bambang memang dibayar.

Pertanyaannya, oleh siapa?

Sore harinya, Surti berjalan menuju dapur untuk membuat teh.

Ia berhenti ketika melihat satu sosok berdiri di halaman belakang.

Leon.

Pria itu kurus, tinggi, mengenakan kemeja gelap.

Wajahnya sangat mirip Surya saat muda.

Surti langsung mundur.

Leon melihatnya.

“Anda Ibu Surti?”

Surti tidak menjawab.

Leon masuk perlahan.

“Saya datang untuk bicara.”

“Dengan siapa?”

“Dengan Anda.”

“Kenapa saya?”

“Karena Anda melihat Bambang.”

Surti menegang.

Leon mengangkat kedua tangannya.

“Saya tidak akan menyakiti Anda.”

“Lalu kenapa Anda ada di rumah ini sebelum ayah Anda diracun?”

Leon terdiam.

Jadi ia tahu bahwa rekaman ditemukan.

“Itu bukan seperti yang Anda pikir.”

“Semua penjahat bilang begitu.”

Leon tersenyum getir.

“Saya tidak memasukkan zat itu ke minuman Ayah.”

“Tapi Anda memberikan sesuatu kepada Bambang.”

“Ya.”

Surti menatapnya.

“Apa?”

“Bukan racun.”

Leon menarik napas.

“Itu salinan hasil audit internal.”

Surti tidak mengerti.

Leon kemudian mengeluarkan flashdisk.

“Ayah saya selama bertahun-tahun percaya masalah utama keluarga adalah Hendra.”

“Bukankah memang dia?”

“Dia rakus, tapi bukan orang yang paling berbahaya.”

Leon menatap ke arah rumah.

“Ada orang lain yang mengalirkan uang perusahaan ke luar negeri lewat jaringan pemasok alat kesehatan palsu.”

Surti merasa perutnya mual.

“Siapa?”

Leon baru akan menjawab ketika suara langkah terdengar dari lorong.

Surya muncul.

“Leon.”

Mereka saling menatap.

Ayah dan anak.

Enam tahun dingin dan luka terlihat jelas di antara keduanya.

Surya berkata, “Kamu kembali tanpa memberi tahu saya.”

Leon tersenyum pahit.

“Kalau saya memberi tahu, saya tidak akan menemukan apa pun.”

“Kamu membayar Bambang?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kamu memberinya amplop?”

“Karena dia bilang mau membantu saya membongkar transaksi gelap.”

Surya mendengus.

“Dan kamu percaya?”

“Saya bodoh.”

Leon menyerahkan flashdisk.

“Bambang ternyata bermain di dua sisi.”

Surya mengambilnya.

Dimas langsung memeriksa isi.

Di dalamnya ada dokumen pengadaan.

Perusahaan cangkang.

Transfer berulang.

Semuanya mengarah ke satu orang.

Bukan Hendra.

Bukan Leon.

Melainkan Dr. Adrian Kusuma.

Dokter pribadi Surya.

Orang yang selama bertahun-tahun mengatur pemeriksaan kesehatannya.

Orang yang mengetahui alerginya secara detail.

Surya terduduk.

Surti langsung teringat daftar orang yang tahu kondisi medis Surya.

Dokter pribadi.

Adrian.

“Tapi kenapa?”

Tari bertanya.

Leon menjawab.

“Adrian punya saham tersembunyi di salah satu perusahaan pemasok. Hendra memang mendorong penjualan saham grup, tapi Adrian menggunakan jaringan itu untuk menggelapkan dana.”

Surya menatap Leon.

“Dan Bambang?”

“Dibayar untuk menanam bukti dan memberi zat pemicu alergi.”

“Kenapa akun Tari?”

“Karena dia target termudah.”

Tari menahan air mata.

Surti menggenggam tangannya.

Namun pertanyaan terakhir jauh lebih mengerikan.

“Kalau begitu Hendra tidak terlibat?”

Leon tidak langsung menjawab.

“Terlibat.”

Semua menoleh.

“Hendra tahu skema pengadaan palsu. Dia tidak menjalankannya, tapi dia tutup mata karena Adrian mendukung rencana penjualan saham.”

Jadi dua kejahatan saling bertemu.

Keserakahan Hendra.

Kecurangan Adrian.

Dan Bambang sebagai tangan yang menjalankan.

Polisi akhirnya menangkap Bambang dua hari kemudian di sebuah penginapan di Bogor.

Ia mengaku menerima uang dari Adrian.

Dengan imbalan pengurangan hukuman, Bambang menyerahkan seluruh percakapan mereka.

Adrian ditangkap saat hendak terbang ke Kuala Lumpur.

Hendra kemudian diperiksa karena keterlibatannya dalam manipulasi perusahaan.

Tari dinyatakan bersih dari semua tuduhan.

Beberapa minggu setelah kejadian, Surya mengundang Surti dan Tari ke ruang kerjanya.

Ruangan yang sama tempat ia hampir kehilangan nyawa.

Di atas meja ada sebuah kotak kecil.

Surya mendorongnya ke arah Surti.

“Ini untuk Anda.”

Surti membuka.

Di dalamnya terdapat dua alat suntik adrenalin darurat baru.

Bukan satu.

Dua.

Surti tersenyum.

“Pak Surya, saya tidak bisa menerima ini.”

“Anda sudah menggunakan satu-satunya milik Anda untuk saya.”

“Itu kewajiban manusia.”

Surya terdiam.

Lalu berkata, “Justru itu yang selama ini saya lupa.”

Ia menoleh kepada Tari.

“Saya juga minta maaf karena membiarkan sistem di rumah ini membuatmu terlihat bersalah hanya karena kamu pekerja.”

Tari menunduk.

Surya lalu menyodorkan sebuah map.

Itu bukan uang.

Bukan hadiah.

Melainkan surat penawaran resmi.

Tari mendapat posisi baru sebagai koordinator layanan rumah tangga untuk seluruh jaringan rumah singgah keluarga Hartono, dengan gaji dan perlindungan kerja jauh lebih baik.

Tari menatap ibunya, nyaris tidak percaya.

Namun Surti justru tertawa kecil.

“Jangan terima kalau kamu tidak mau.”

Surya tampak terkejut.

Surti melanjutkan.

“Kalau dia menerima, biarkan karena itu pilihannya. Bukan karena merasa berutang.”

Untuk pertama kalinya, Surya tertawa pelan.

“Baik.”

Leon yang berdiri dekat jendela ikut tersenyum.

Hubungannya dengan sang ayah belum sepenuhnya pulih.

Luka selama enam tahun tidak bisa hilang dalam semalam.

Namun mereka mulai bicara lagi.

Sedikit demi sedikit.

Beberapa bulan kemudian, Surya mengubah sistem di rumah sakit keluarganya.

Ia membuat dana bantuan kesehatan bagi pekerja tetap dan keluarga mereka.

Tidak ada lagi staf yang harus memohon pinjaman hanya untuk membeli obat darurat.

Pada hari peluncuran program tersebut, seorang wartawan bertanya kenapa Surya membuat kebijakan itu.

Ia tidak menjawab panjang.

Ia hanya melihat ke arah Surti yang duduk di barisan belakang.

“Karena suatu hari seseorang yang hampir tidak mengenal saya memberikan satu-satunya perlindungan medis yang dia miliki untuk menyelamatkan hidup saya.”

Surti tersenyum.

Tari menggenggam tangannya.

Surya lalu menambahkan,

“Dan saya belajar bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa besar rumahnya, jabatan di kartu namanya, atau jumlah uang di rekeningnya.”

Ia berhenti sejenak.

“Kadang, nilai seseorang terlihat dari apa yang dia lakukan ketika tidak ada jaminan bahwa kebaikannya akan dibalas.”

Di luar gedung, hujan turun perlahan.

Surti membuka tas kain lamanya.

Dua suntikan darurat tersimpan rapi di dalam.

Di sampingnya ada foto kecil dirinya dan Tari.

Surti tersenyum.

Hari itu ia tidak menyelamatkan seorang konglomerat karena berharap hidupnya akan berubah.

Ia hanya melihat seorang manusia yang sedang membutuhkan pertolongan.

Namun terkadang, satu keputusan kecil yang dilakukan dengan hati bersih memang mampu mengubah jauh lebih banyak daripada satu nyawa.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang